Notification

×

Kategori Berita

Tags

Iklan

Rantai Makanan dan Siklus Energi Ekosistem Mangrove di Karawang

Senin, 27 Desember 2010 | Desember 27, 2010 WIB Last Updated 2012-01-08T03:20:21Z
Bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia hutan mangrove sering disamakan dengan hutan bakau. Persepsi ini bagi sebagian orang mungkin bisa dibenarkan, namun sebenarnya adalah salah besar. Hal ini didasarkan bahwa bakau adalah hanya salah satu jenis dari tanaman mangrove dari family Rhizophoraceae. Jadi sebaiknya penggunaan hutan bakau lebih baik dihindari. Hutan mangrove sampai dengan saat ini masih lebih banyak dimanfaatkan sebagai penghasil kayu baik untuk kebutuhan bahan baku chip, memenuhi kebutuhan bahan baku arang, tiang pancang dan sebagainya. Selain itu lahan dari hutan mangrove saat ini telah banyak dikonversi baik untuk kebutuhan lahan budidaya (tambak,sawah, dll.) maupun untuk perumahan, pelabuhan maupun industri.Hal ini bisa terjadi karena kurangnya pemahaman dari masyarakat maupun pihak pengembang dan pemegang kebijakan tentang fungsi lain dari hutan mangrove.

Ekosistem mangrove juga merupakan daerah asuhan, berkembang biak, dan mencarimakan berbagai jenis ikan dan udang. Oleh karena itu keberadaan ekosistem mangrovesangat penting dalam menjaga kelestarian stok perikanan. Ekosistem mangrove jugaberperan untuk menjaga stabilitas garis pantai.

Luas hutan mangrove yang berada di wilayah Provinsi Jawa Barat (Wilayah BPDASCitarum-Ciliwung) terdapat di Pantai Utara Jawa Barat yaitu dalam kawasan hutanmeliputi 2 KPH (Bogor dan Purwakarta), dan di luar kawasan hutan meliputi 5 Kabupatenyaitu, (Kabupaten Serang, Kabupaten Tanggerang, Kabupaten Bekasi, KabupatenKarawang dan Kabupaten Subang) dengan luas keseluruhan adalah 35.560,10 Ha. (BPDAS Citarum-Ciliwung, 2005).

Ekosistem mangrove di jalur pantai Utara Jawa Barat wilayah BP-DAS Citarum-Ciliwung, sebagian besar (25.226,10 Ha) berbentuk kawasan hutan dan sebagian yanglain (10.334 Ha) berupa lahan milik masyarakat dan lahan lainnya yang digunakan untukareal pemukiman.
Luas Kawasan Hutan Mangrove Perum Perhutani Unit III Jawa Barat
Wilayah BP-DAS Citarum-Ciliwung.
noBPH/BKPHLUAS HUTAN (Ha)
1Bogor
-Tanjung Kaeang10.481,5
-Tangerang1.647,10
Jumlah12.128,25
2.Pruwakarta
-Cikiong7.823,45
-Ciasem/Pamanukan5.274,40
Jumlah13.097,85
JUMLAH25.226,10
Sumber: BPDAS Citarum-Ciliwung, 2005

Berdasarkan hasil analisis citra Landsat tahun 2005/2006 luas hutan mangrove diKabupaten Karawang adalah 407,58 ha, tersebar di Kecamatan Cibuaya 18,34 ha, diKecamatan Cilamaya 2,15 ha, Kecamatan Tempuran 18,70 ha dan Kecamatan Tirtajayaseluas 58,387. Dengan jumlah di dalam kawasan seluas 154,30 dan di Luar kawasanseluas 253,30 ha.Karakteristik Ekologi hutan mangrove di kabupaten Karawang tergolong miskinjenis, dengan jenis yang ada yaitu Avicenia sp (Api-api), Xylocarpus granatum (Bogem),Bruguiera gymnoriza (Tancang) dan Rhizophora sp (Bakau kacang).Tingkat kekayaanjenis cukup baik untuk tingkat semai, keanekaragaman jenis rendah dan nilai kemerataanjuga rendah. Kondisi ini menybabkan karakteristik Ekologi tidak stabil dan tertekan.Namun dari jenis dominan tampak bahwa jenis yang ada adalah jenis primer.

Tingkat kerusakan menunjukan sebagiaan kecil rusak hingga rusak berat, pada daerah yang lebih luas. Berdasarkan analisis citra Satelit Landsat dan SIG, diketahui luas tingkat kerusakan hutan mangrove di Kabupaten Karawang, selengkapnya diperlihatkan pada Tabel 8. berikut:
Tabel . Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Berdasarkan Survey Lapang
LokasiPenilaianTipe Penutupan dan Penggunaan LahanJumlah PohonPer HektarJumlah Permudaan Per HektarLebar Jalur Hijau MangroveTingkat AbrasiNilai
Muara LamaPengamatanTambak Tumpangsari342892838610-20m300
Skor31551
Muara BaruPengamatanTambak Tumpangsari2705833105710-20m300
Skor31551
SukakeretaPengamatanTambak Tumpangsari257678535410-20m300
Skor31551
Sumber:PT.Wana Cipta Lestari

Tabel diatas memperlihatkan bahwa tingkat kerusakan hutan mangrove di KabupatenKarawang termasuk kategori rusak. Tampaknya faktor konversi hutan mangrove untukperikanan dengan areal tambak terbuka dapat menjadi faktor utama dalam menentukankerusakan hutan mangrove tersebut.
Rantai Makanan Ekosistem Mangrove






Bagan Alir Rantai Makanan di Ekosistem Mangrove Kab. Karawang JAWA BARAT


Sumber utama detritus adalah hasil penguraian guguran daun mangrove yang jatuh ke perairan oleh bakteri dan fungi (Romimohtarto dan Juwana 1999). Rantai makanan detritus dimulai dari proses penghancuran luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus. Hancuran bahan organik (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi cacing, crustacea, moluska, dan hewan lainnya (Nontji, 1993). Setyawan dkk (2002) menyatakan nutrien di dalam ekosistem mangrove dapat juga berasal dari luar ekosistem, dari sungai atau laut. Lalu ditambahkan oleh Romimohtarto dan Juwana (1999) yang menyatakan bahwa bakteri dan fungi tadi dimakan oleh sebagian protozoa dan avertebrata. Kemudian protozoa dan avertebrata dimakan oleh karnivor sedang, yang selanjutnya dimakan oleh karnivor tingkat tinggi.Pada umumnya fauna yang hidup di hutan bakau adalah serangga, crustaceae, mollusca, ikan, burung reptile dan mamalia. Untuk reptilia mungkin pada kasus ini tidak ada meskipun kemungkinan terdapat reptile di hutan bakau ini.

Hutan bakau di daerah karawang sebagian besar banyak yang telah beralih fungsi dan di konversi umenjadi lahan budidaya ikan maka akan terjadi pemutusan rantai makanan yang mengandalkan nutrient yang ada di pohon mangrove tersebut. Penjelasannya seperti ini, kita sama-sama mengetauhi bahwa rantai makanan yang terjadi di hutan mangrove/bakau tersebut memiliki tipe rantai makanan detritus, rantai makanan ini sumber utamanya dari hasil penguraian guguran daun dan ranting yang dihancurkan oleh bakteri dan fungi sehingga menhasilkan detritus, hancuran detrirus ini menghasilkan nutrient yang sangat penting bagi cacing, mollusca, crustaceae dan hewan lainnya. Dengan rantai tersebut apabila hutan bakau ini di ubah menjadi lahan budidaya maka, cacing, crustacean, mollusca dan hewan lainnya tidak mendapatkan nutrient yang cukup utuk perkembangan kehidupannya. Bakteri dan fungi akan dimakan oleh sebagian protozoa dan avertebrata, kemudian  protozoa dan avertrtebrata akan dimakan oleh karnivora sedang yang selanjutnya di makan oleh karnivora tingkat tinggi, Juwana (1999). Menyimak pernyataan tersebut bahwa fungi dan bakteri yang tadi nya hidup untuk menguraikan dedaunan bakau/mangrove yang sudah jatuh dan seperti itu kehidupannya maka bakteri dan fungi tersebut akan berkurang meskipun tidak semua jenis bakteri dan fungi itu berkurang. Mungkin untuk selanjutnya tidak ada yang berubah karena protozoa dan avertebrata memakan baketri dan fungi yang kita tahu bahwa lahan tersebut tinggal beberappa jenis bakteri dan fungi.
BAGAN ALIR SIKLUS ENERGI DI EKOSISTEM MANGROVE KAB.KARAWANG JABAR 

Sumber energinya yaitu matahari, dan seperti yang telah di jelaskan di rantai energi di hutan bakau yang memanfaatkan sumber energy tersebut tidak hanya hutan bakau saja, akan tetapi fitoplankton yang ada akan memanfaatkannya dalam proses Fotosintesis yang akan mengahisilkan Oksigen dan Energi yang kemudian akan dimanfaatkan untuk mahluk hidup lainnya. Bagi crustacean dan mollusca serta hewan akuatik lainnya akan lebih memanfaatkan fitoplankton ini sebagai sumber gizi bagi tubuhnya karena untuk mendapat nutrient yang baik dari penguraian detritus . Untuk ikan-ikan besar dan burung-burung pemakan ikan kecil akan memakan ikan-ikan kecil , setelah hewan-hewan mati maka akan diuraikan oleh pengurai dan dihasilkan detritus yang akan dimanfaatkan fitoplankton sebagai sumber energinya.
Ditulis Oleh : Sandra Kirana
×