Notification

×

Kategori Berita

Tags

Iklan

Sosialisme Demokratik: Alternatif bagi Kapitalisme Global

Sabtu, 14 Mei 2011 | Mei 14, 2011 WIB Last Updated 2012-01-08T04:05:51Z
1989 Tembok Berlin runtuh. Jutaan jiwa menghirup lega udara kebebasan yang terkekang selama puluhan tahun. Angin perubahan bertiup bagai badai melanda penjuru Eropa Timur. Rakyat di negara-negara Cekoslowakia, Hongaria, Polandia dan Rumania berontak menentang kediktatoran. Di Cekoslowakia, tokoh reformis Vaclav Havel memenangkan dukungan rakyat untuk sebuah perubahan, meskipun dilanda perpecahan antara Ceko dan Slowakia. Sementara di Rumania, perubahan itu berhasil diperjuangkan dengan tumbal puluhan ribu nyawa melayang di ujung senjata Tentara Merah, akhirnya disudahi dengan tumbangnya Nicholai Ceaucescu.

Dan akhirnya di induk rejim diktator Tirai Besi, Uni Soviet, bayangan "kematian sosialisme" muncul di depan mata. Satu per satu republik-republik Baltik dan Asia Tengah menyatakan berpisah, dan pupus sudah episode kediktatoran komunis Uni Soviet. Mikhail Gorbachev, dengan gagasan glasnot dan perestroika-nya, tak mampu menahan euforia massa untuk menuntut dipulihkannya demokrasi. Rusia membuang baju komunisnya dan berpaling ke Barat, membuka perekonomiannya bagi pasar bebas. Di negeri tetangganya, sekaligus rival ideologis, Cina, perlawanan mahasiswa menuntut demokrasi berakhir tragis dengan terjadinya Tragedi Tiananmen.

Dunia bersorak atas kembalinya demokrasi. Kebebasan menemukan jalannya meskipun dipasung belenggu kediktatoran. "Sejarah sudah berakhir," tulis Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History and the Last Man. "Dunia akan mengikuti rel peradaban Barat yaitu liberalisme dan kapitalisme." Para cendekiawan mengamini kalimat tersebut, berpijak dari trauma kediktatoran proletariat yang "gagal" mewujudkan cita-cita sosialisme: membangun masyarakat tanpa kelas. Kapitalisme ternyata lebih tangguh. Tawaran kenikmatan kapitalisme lebih memukau ketimbang janji-janji keadilan sosial dalam sosialisme.

Sosialisme sudah Mati?
Arief Budiman, dalam wawancara dengan majalah mahasiswa UGM Balairung, mengatakan bahwa runtuhnya Uni Soviet bukan berarti matinya ide-ide sosialisme. Sebagai kediktatoran penguasa, sosialisme memang kalah. Dan yang harus dicermati adalah dinamika dalam tubuh sosialisme sendiri, karena sejak awal lahirnya ide-ide sosialisme pada abad ke-19, sosialisme sudah bertabur banyak aliran. Mulai dari yang utopis, evolutif, revolusioner, oportunis, ultrakiri hingga kaum anarkis yang menolak total segala bentuk kediktatoran termasuk Negara.

Lalu yang mana yang diwakili oleh Eropa Timur, Uni Soviet, Cina, Korea Utara dan Vietnam? Mana pula yang diwakili oleh Kuba? Atau barangkali Indonesia dengan Marhaenisme-nya, Nasser dengan sosialisme Arab-nya, atau Muammar Qaddhafi? Semua topeng sosialisme yang dikenakan para penguasa rata-rata hanya tipuan belaka. Di dalamnya bersembunyi oportunisme golongan yang berkepentingan terhadap tampuk kekuasaan. Uni Soviet adalah contoh riil. Revolusi Oktober 1917 yang berhasil menggulingkan pemerintahan hasil revolusi Maret 1917 ditelikung oleh Stalin, dan roh sosialisme pun padam. Stalin, meninggalkan jejak revolusioner kaum Bolshevik, memilih membangun "sosialisme dalam satu negeri" yang pada hakikatnya adalah sebuah KAPITALISME NEGARA. Kemenangan partai proletariat Bolshevik tidak diikuti dengan penguatan Dewan-dewan Rakyat (Soviet-soviet) yang sudah terbentuk, tetapi malah dengan mesin Negara (aparat birokrasi, polisi rahasia dan tentara), organisasi-organisasi rakyat itu dibekukan. Segala hak-hak demokratik dipasung. Negara memaksakan kolektivisasi pertanian tanpa memperhitungkan watak petani yang berbeda dengan watak buruh. Partai komunis menjelma menjadi lembaga Negara yang menguasai industri, pertanian dan segala sektor kehidupan rakyat.

Gerakan-gerakan kiri di Eropa yang semula bersemangat dengan kemenangan Revolusi Rusia 1917 akhirnya terpecah-belah. Stalin, dengan organisasi Komunis Internasional (Comintern)-nya, mendikte partai-partai komunis di seluruh dunia untuk mengikuti garis Moskow. Akibatnya, kemenangan di depan mata untuk revolusi sosialis di Eropa gagal total menjelang berakhirnya Perang Dunia Kedua. Di Italia, partai komunis (PCI) berkolaborasi dengan Sekutu dan elemen-elemen konservatif (sesuai instruksi Comintern) dan membubarkan komite-komite aksi perlawanan bersenjata yang terbangun di Italia Utara. Di Prancis, gerilya partai komunis (populer dengan nama gerakan Ressistance, di mana Francois Mitterand pernah menjadi anggotanya) dilibas oleh tentara Sekutu dari arah Normandia. Di Cina, ribuan kader-kader terbaik partai komunis PKC tewas dibantai oleh partai nasionalis Kuomintang di bawah kepemimpinan Chiang Kaishek. Di Indonesia, hasilnya adalah petualangan PKI di Madiun yang berakibat fatal bagi pergerakan rakyat Indonesia dalam menuntaskan revolusi nasional-demokratik melawan neo-kolonialisme.

Tampak jelas bahwa sosialisme yang ditampilkan oleh Uni Soviet, Cina dan sebagainya, termasuk Comintern, bukanlah cermin sosialisme yang sebenarnya. Tudingan bahwa kediktatoran sosialis tersebut tidak lain hanyalah KAPITALISME NEGARA terlihat jelas ketika Uni Soviet runtuh. Dengan cepat, para pejabat partai-partai komunis di Eropa mengubah nama partainya dan meninggalkan ideologi sosialis, berubah menjadi pro-kapitalis. Mereka hanya menikmati kekuasaan birokratik dan militer dengan bersembunyi di balik ideologi sosialisme, menumpuk kekayaan bagi kroni-kroni pejabat partai.

Dan kapitalisme pun berjaya! Ketakutan terhadap pecahnya Perang Dunia Ketiga antara dua kekuatan adidaya sirna. Peta politik internasional berubah drastis. Kekuatan modal merajalela ke penjuru dunia, memporak-porandakan batas-batas negara. Globalisasi menjadi kata kunci selama dasawarsa ’90-an. Tidak ada pidato-pidato maupun obrolan tak resmi yang tidak diselipi kata-kata "globalisasi". Hambatan ideologis sudah sirna, kini lembaga-lembaga donor internasional bebas mengulurkan bantuan utang ke berbagai negara. Ketakutan terhadap bahaya komunis sudah lenyap. Pola globalisasi modal tidak perlu didukung dengan membiayai rejim-rejim diktator. 1990, rejim apartheid di Afrika Selatan runtuh. 1997, Mobutu Sese Seko di Zaire jatuh. 1998, Soeharto tumbang. Jaringan modal internasional menggurita dengan tangan-tangannya berupa lembaga-lembaga IMF, WTO, Bank Dunia dan sebagainya.

Lalu ke mana arah gerakan sosialis? Banyak kalangan pesimis terhadap ide-ide sosialisme. Sejak awal, sudah muncul kritik-kritik baik dari kaum sosialis sendiri maupun di luar mereka. Pesona Mazhab Frankfurt mencetuskan gerakan Kiri Baru yang populer di Amerika Serikat pada dasawarsa ’60-an, meskipun ditentang sendiri oleh sesepuh-sesepuh mereka. Kecewa dengan kegagalan revolusi selama ’60-an, ide-ide pos-strukturalis dan pos-modernis menyebar, memunculkan gerakan-gerakan ekologis dan feminis yang menyatakan bahwa perjuangan kelas sudah tidak relevan lagi. Di tubuh sosialis, anggapan berakhirnya perjuangan kelas dipopulerkan oleh partai-partai demokratik sosial yang banyak meraih kemenangan di Eropa pada ’90-an, seperti Partai Buruh Inggris (Tony Blair), Partai Sosial Demokrat Jerman (Gerhard Schoreder) dan Partai Sosialis Prancis (Lionel Jospin).

Sementara itu, kalangan sosialis yang tetap bertahan dengan gagasan "perjuangan kelas" melihat fenomena globalisasi modal sebagai bentuk baru kapitalisme dalam upaya penyempurnaan diri. Setelah gagal dengan eksperimen kolonialisme (penjajahan), ditandai dengan keberhasilan gerakan-gerakan nasionalis pasca-Perang Dunia Kedua, kapitalisme mengubah taktiknya menjadi imperialisme (penguasaan ekonomi). Setelah sempat goyah akibat Revolusi 1917 dan dua kali perang dunia, kapitalisme berhasil lolos dari keruntuhan dengan mengikuti resep Keynesian, di mana liberalisme kemudian dibendung oleh intervensi Negara. Lahirlah konsep "negara kesejahteraan" (welfare state) sebagai konsesi dari kalangan liberal untuk mencegah kemenangan revolusi sosialis. Pecahnya gelombang demokratisasi era ’70-an (di Eropa Selatan) dan ’80-an (di Amerika Latin) melemahkan institusi Negara, dan kaum liberal kembali kepada rumusan ekonomi klasik. Paham neo-klasik sering pula disebut neo-liberalisme, di mana Negara kembali dipinggirkan dari arena pasar bebas.

Solidaritas Internasional Melawan Kapitalisme Global
Arus deras neoliberalisme membangkitkan gagasan untuk membangun solidaritas internasional di antara gerakan-gerakan kiri sedunia. Jaringan komunikasi dan transportasi memudahkan gagasan tersebut bersemi. Aksi anti-kapitalisme di Seattle, Desember 1999 dalam menentang pertemuan WTO segera terekspos ke seluruh dunia. "The whole world is watching!" seru para demonstran di Seattle, mengingatkan pada aksi besar-besaran menentang Perang Vietnam. Aksi di Seattle tidak hanya dilakukan oleh aktivis-aktivis sosialis dan serikat buruh, tetapi juga organisasi pecinta lingkungan hidup yang menuding perusahaan-perusahaan transnasional bertanggung jawab atas rusaknya lingkungan hidup, termasuk punahnya speises penyu laut. Tahun 2000, kembali pertemuan WEF (Forum Ekonomi Dunia) di Davos, Swiss, diwarnai dengan unjuk rasa ribuan orang menentang globalisasi modal. Di Bangkok, pertemuan UNCTAD diprotes oleh para pengunjuk rasa menolak keberadaan IMF yang dituduh telah memiskinkan rakyat negara-negara berkembang di Dunia Ketiga.

Mengapa KAPITALISME ditentang? Mari kita cermati fakta-fakta berikut. Para ahli lingkungan hidup mencatat bahwa abad ini adalah abad terpanas dalam 600 tahun terakhir, dengan tahun-tahun terpanas adalah 1990, 1995 dan 1997. Efek rumah kaca mengancam penduduk tepi pantai karena air laut akan naik 15 hingga 90 sentimeter sampai tahun 2100. Hutan-hutan dunia makin menipis, sementara gurun pasir bertambah luas. Milyaran ton tanah subur terbawa air dan terbuang percuma ke laut. Spesies-spesies langka satu per satu punah. Perairan dan udara tercemar. Lapisan ozon berlubang dan pemanasan global mengancam kehidupan di bumi. Perusakan lingkungan bukan hanya mengancam generasi mendatang, tetapi juga saat ini mengancam kehidupan manusia di seluruh belahan dunia. Di Amerika Serikat, lebih dari 1 milyar kilogram senyawa beracun dilepaskan ke udara setiap tahunnya. Lebih dari setengah penduduk AS tinggal di daerah-daerah yang tingkat pencemarannya melebihi standar pemerintah. Sungai-sungai di Australia telah tercemar pestisida, yang menyebabkan matinya ikan-ikan dan bagi manusia bisa menyebabkan kanker.

Bahaya pencemaran akan berkali-kali lipat lebih buruk terjadi di Dunia Ketiga. Hampir 30% penduduk Dunia Ketiga tidak mendapat akses terhadap air bersih untuk minum. Negara-negara maju mengekspor krisis lingkungan di negaranya dengan mengirim sampah beracun dan merelokasi industri-industri yang merusak lingkungan ke Afrika, Asia dan Amerika Latin. Di Mexico City, satu dari seratus bayi lahir dalam keadaan cacat mental akibat pencemaran timbal di atmosfer. Perusahaan-perusahaan transnasional mengoperasikan pabrik-pabrik yang membuang polutan beracun dan mengeksploitasi buruh-buruh murah Meksiko.

Sejumlah pakar lingkungan menuding OVERPOPULASI sebagai biang kerusakan lingkungan (ingat teori Malthus tentang "deret hitung" produksi makanan dan "deret ukur" ledakan penduduk). Tetapi fakta sesungguhnya: dunia selalu memproduksi makanan dalam jumlah lebih dari cukup untuk dikonsumsi dunia, dan teknologi untuk menangani pencemaran sudah tersedia. Masalahnya: teknologi itu akan DIGUNAKAN, atau DISALAHGUNAKAN. Perusakan lingkungan adalah dampak dari sistem ekonomi kapitalisme, di mana produksi semata-mata untuk memperbesar keuntungan, tanpa mengingat efeknya bagi lingkungan dan manusia. Membuat instalasi pengolah limbah dianggap membebani ongkos produksi. Di Eropa, teknologi untuk mencegah emisi sulfur dioksida (penyebab utama hujan asam) sudah tersedia, tetapi toh pusat-pusat pembangkit panas dan tanur tinggi di sana tetap melepas jutaan ton sulfur dioksida ke udara setiap tahunnya.

Kapitalisme tidak saja merusak lingkungan, tetapi juga telah membunuh jutaan anak-anak di Brazil karena penyakit dan kelaparan. Tahun 1995, Dunia Ketiga menerima $59 juta bantuan resmi, dan pada saat yang sama $230 juta lari dari Dunia Ketiga ke negara-negara maju dalam bentuk pembayaran utang. Teknologi dan dana untuk industrialisasi di Dunia Ketiga dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan transnasional. Di setiap negara, kapitalisme menciptakan PENGANGGURAN STRUKTURAL. Pengangguran terjadi di mana-mana, padahal banyak lapangan kerja yang bisa diciptakan. Tetapi mengapa ada sektor informal memadati kota-kota, gelandangan dan pengamen di perempatan jalan, pengemis dan pelacur? Karena kapitalis selalu menjaga kapasitas produksi hanya 50-75% supaya produk yang dihasilkan tetap langka dan harga bisa tetap tinggi. KAPITALISME MENCIPTAKAN PENGANGGURAN, agar upah buruh dapat dipertahankan tetap rendah, sehingga buruh-buruh yang protes menuntut kenaikan upah dapat segera digantikan oleh antrean panjang para penganggur pencari kerja. Kapitalisme tidak hanya MENINDAS BURUH, tetapi juga menciptakan PERANG di mana-mana. Untuk menjaga sumber-sumber minyak di Timur Tengah, AS melancarkan perang melawan Irak dan mengembargo Irak, sehingga terjadi bahaya kelaparan. Selama Perang Vietnam, AS menjatuhkan 150 kilogram bahan peledak untuk setiap orang di Vietnam setiap tahunnya, membunuh hampir satu juta penduduk. Dunia menghabiskan dua juta dolar tiap menit untuk kepentingan militer, sementara setiap menit 30 orang anak-anak mati karena kelaparan atau penyakit! Pasca-Perang Dingin, AS menganggarkan $25 juta per tahun untuk kesehatan, atau hanya 3% dari $800 milyar yang dikeluarkan untuk keperluan militer…!!!

Jawabannya: Sosialisme Demokratik
Stalinisme yang anti-demokrasi dan demokrasi sosial (social democracy atau sos-dem Eropa) yang anti-revolusi sama-sama telah gagal menjawab problem sosial akibat kapitalisme global. Stalinisme runtuh dari dalam oleh perlawanan rakyat tehadap kediktatoran birokrasi Partai Komunis (KAPITALISME NEGARA). Sementara itu partai-partai demokratik sosial di Eropa dan belahan bumi lainnya terbawa arus kapitalisme global, bersekongkol dengan kaum liberal dan konservatif dalam menegakkan tatanan globalisasi modal dan menindas kaum buruh di negara-negara maju dan rakyat Dunia Ketiga. Belajar dari kegagalan Stalinisme dan demokrasi sosial, tersisa sebuah alternatif: SOSIALISME DEMOKRATIK. Mengapa tetap sosialisme, dan mengapa harus demokratik? Apakah itu hanya sebuah tawaran kompromis akibat trauma kediktatoran Stalinis?

Kapitalisme, dengan berbagai variannya: merkantilisme, kolonialisme, fasisme, negara kesejahteraan, imperialisme dan militerisme, sama saja, semuanya bertanggung jawab atas ketimpangan sosial yang di tiap negara dan menciptakan jurang kemiskinan antara negara-negara maju dan negara-negara miskin. Pemikiran-pemikiran klasik Marxisme telah menganalisis struktur penindasan dalam sebuah negara, antara kelas penguasa (borjuis) dan kelas tertindas (proletar), di mana institusi Negara (dengan aparat birokrasi dan militernya) dijadikan alat bagi kapitalis untuk melestarikan penindasan terhadap kelas pekerja. Antonio Gramsci menambahkan konsep "hegemoni", yaitu upaya kapitalis untuk mencegah bangkitnya kesadaran kelas di kalangan pekerja dengan menggunakan institusi-institusi budaya (pendidikan, media massa, seni, dan agama).

Globalisasi modal meluaskan pasar ke seluruh dunia dan menyisakan kemiskinan di Dunia Ketiga. Para pemikir Marxis dari Amerika Latin menganalisis secara kelas, bagaimana struktur ketergantungan antara negara berkembang dengan negara maju tercipta. Dunia Ketiga, belum sepenuhnya lepas dari belenggu sistem ekonomi pra-kapitalis. Kapitalisme yang datang dalam bentuk merkantilisme dan kolonialisme memanfaatkan struktur sosial feodalisme, di mana bangsawan-bangsawan setempat dijadikan agen kapitalisme perkebunan dan sarana dukungan rakyat terjajah. Kolonialisme tidak pernah berniat melakukan transfer teknologi ke negara-negara terjajah: hanya dijadikan sumber bahan mentah, sumber tenaga kerja dan pasar produk industri.

Represivitas kolonialisme (dengan kekuatan militernya) membangkitkan perlawanan rakyat. Perang-perang kolonial terjadi di semua negeri terjajah. Puncak dari perlawanan rakyat adalah proklamasi kemerdekaan, yang gelombang awalnya terjadi pasca-Perang Dunia Kedua, diikuti dengan tuntutan dekolonisasi oleh PBB. Kuatnya sentimen nasionalisme memberi angin bagi penguasa-penguasa populis (misal: Soekarno, Nasser, Mossadeq di Iran dan Zulfikar Ali Bhutto di Pakistan), yang dengan kebijakan nasionalisasinya mengancam modal asing. Melalui kudeta militer dengan dukungan kaum konservatif, kapitalis internasional berhasil memaksakan liberalisasi pasar. Rejim militer berkuasa dalam jangka sangat panjang (Soeharto, Husni Mubarok, Syah Reza Pahlevi, Zia Ul Haq di Pakistan dan Augusto Pinochet di Cile).

Kolonialisme berubah menjadi imperialisme, di mana kapitalis internasional memanfaatkan lembaga-lembaga donor dan penguasa militer untuk mengamankan modal di negara-negara berkembang. Kapitalisme memang sangat fleksibel, ia bisa mendukung rejim diktator maupun rejim demokratik, asalkan bersedia mengamankan modalnya. Maka ketika represivitas rejim militer memuncak, gelombang perlawanan rakyat pun bangkit. Rakyat menuntut ditegakkannya demokrasi.

Sintesisnya adalah menegakkan tatanan SOSIALISME, sebagai antitesis terhadap KAPITALISME, tetapi dengan diawali perjuangan DEMOKRASI (antitesis kediktatoran penguasa). Sosialisme adalah sistem perekonomian yang menempatkan kepentingan manusia di atas kepentingan modal. Jika dalam kapitalisme, segelintir manusia menentukan mayoritas manusia lainnya berdasarkan penguasaan atas alat-alat produksi, sosialisme menginginkan agar setiap orang mendapat akses, sehingga lenyap kesenjangan kaya-miskin, adanya pengangguran, peperangan, penindasan, dan perusakan lingkungan hidup. Sosialisme tidak sekadar memanusiawikan wajah kapitalisme, tetapi sekaligus menghancurkan inti ketidakmanusiawian kapitalisme, yaitu MONOPOLI HAK MILIK PRIBADI ATAS ALAT-ALAT PRODUKSI.
Sosialisme demokratik mencita-citakan ditegakkannya demokrasi dan keadilan sosial. Sosialisme demokratik tidak ingin mengulangi oportunisme Stalinis dengan memaksakan sosialisme dalam waktu singkat. Tetapi sosialisme demokratik juga tidak ingin membebek kepada permainan demokrasi-nya kapitalis yang plintat-plintut. Demokrasi di tangan kapitalisme hanya sebuah sandiwara prosedural belaka: pemilihan umum, parlemen, kebebasan berserikat, kebebasan pers. Tapi di sisi lain kapitalisme tidak mentoleransi gerakan massa yang berkesadaran sejati, yang menuntut demokrasi sejati, bukan demokrasi prosedural. Kapitalis menggunakan polisi dan militer untuk membubarkan aksi-aksi massa.

Secara kelembagaan, sosialisme demokratik menginginkan terbentuknya struktur politik baru yang lebih menjamin proses-proses demokrasi sejati, yaitu melalui mekanisme Dewan-dewan Rakyat. Dewan Rakyat adalah perencana (legislatif) sekaligus pelaksana (eksekutif), dengan kontrol langsung oleh massa. Kegiatan sosial ekonomi direncanakan dan dilaksanakan oleh Dewan-dewan Rakyat hingga ke tingkat kampung (komune-komune), sehingga aspirasi demokrasi tidak mungkin dapat dimanipulasi. Kontrol massa menghilangkan timbulnya korupsi dan birokrasi yang berbelit. Sosialisme demokratik menentang oportunisme demokrasi sosial (social democracy) – alias sos-dem borjuis – yang membius kaum buruh untuk bersekongkol dengan kapitalis.

Perjuangan untuk terciptanya tatanan sosialisme demokratik tidak mungkin dilakukan semata-mata lewat prosedur demokrasi parlementarian, tetapi mesti menggunakan jalur ekstra-parlementer, lewat gerakan-gerakan massa. Pelajaran dari revolusi demokratik, di mana gerakan massa berhasil memaksakan perubahan terhadap rejim otoriter, maka sebuah revolusi sosialis pun hanya bisa ditempuh melalui aksi-aksi massa dalam jumlah besar.

Sosialisme Demokratik dan Gerakan-gerakan Sosial Lainnya
Sosialisme demokratik tidak semata-mata berurusan dengan persoalan ekonomi, tetapi juga menginginkan dihapuskannya berbagai bentuk diskriminasi. Karena itu isu-isu feminis, suku pedalaman dan lingkungan hidup pun menjadi isu-isu sosialisme demokratik. Penindasan terhadap perempuan adalah bagian dari sistem ekonomi kapitalis. Memanfaatkan budaya patriarki, kapitalisme mengeksploitasi perempuan, ditindas hak-hak reproduksinya, dan dijadikan objek penawaran komoditas. Kapitalisme juga bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan hidup, karena lebih mengutamakan profit daripada pelestarian lingkungan. Kapitalisme melestarikan diskriminasi rasial dan primordial. Sampai 1990, di Afrika Selatan yang kaya barang tambang, pekerja kulit hitam diupah lebih rendah daripada pekerja kulit putih dan kulit berwarna, sehingga memecah-belah kaum buruh berdasarkan ras.

Sosialisme demokratik memberikan perspektif kelas bagi gerakan-gerakan sosial agar tidak terjebak ke dalam cara pandang borjuis. Sosialisme demokratik memandang pembebasan kaum perempuan dari diskriminasi hanya mungkin dilakukan dengan merombak hubungan sosial kapitalisme, tidak semata-mata berjuang demi kaum perempuan saja. Penghancuran sistem kapitalisme juga berarti dilenyapkannya ideologi rasisme dan primordialisme. Sosialisme demokratik menentang ideologi globalisme (dianut oleh pendukung kapitalisme), dan sebaliknya mempopulerkan internasionalisme (sekaligus memblejeti paham nasionalisme sempit). Sosialisme demokratik menyatukan umat manusia tanpa pandang jenis kelamin, ras, agama, bangsa dan orientasi seksual.

Program Sosialisme Demokratik
Sosialisme demokratik (sosdem) mencita-citakan terbentuknya masyarakat yang demokratis dan berkeadilan sosial. Untuk itu, dalam bidang politik sosdem menjamin kebebasan berorganisasi dan berdemonstrasi, kebebasan pers dan kebebasan berpendapat. Di bidang ekonomi, sosdem berorientasi kepada rakyat pekerja dengan meningkatkan kesejahteraan buruh, melaksanakan reformasi agraria di pedesaan, memberi kebebasan berusaha bagi sektor informal, mendorong terbentuknya koperasi sebagai alternatif bagi perusahaan kapitalis dan menerapkan pajak progresif bagi pengusaha berat.

Di bidang sosial budaya, sosdem menjamin kebebasan memeluk agama dan mengekspresikan keyakinannya, menjamin kebebasan berkreasi bagi seniman, mengusahakan pendidikan murah dan merata kepada seluruh rakyat, menghapus diskriminasi SARA dan diskriminasi terhadap kaum perempuan dan kaum homoseksual, melakukan rehabilitasi terhadap pelacur dan korban narkoba kemudian disalurkan ke lapangan kerja yang manusiawi, memberikan tunjangan untuk anak-anak, ibu hamil-menyusui dan pensiunan, menghapus eksploitasi terhadap anak-anak, menjamin keragaman budaya masyarakat dan mencegah perusakan lingkungan hidup.

Sebagai fase transisi menuju masyarakat sosialis sepenuhnya, sosdem mendorong kaum buruh menjadi pelopor untuk merombak total hubungan-hubungan sosial kapitalisme, mengikis habis kapitalisme hingga ke mentalitas masyarakat.

sumber : Rumah Kiri

×