Senin, 16 Mei 2011

Senin, Mei 16, 2011
Secara umum akan ditemukan analisa yang sama mengenai ketidak adilan terhadap perempuan yakni kapitalisme yang memelihara baik patriarkal. Tak ada satu pun pengecualian bagi perempuan desa. Dalam hiruk pikuk sosial, kita tidak dapat menarik kesimpulan tunggal jika ketersingkiran perempuan dalam keluarga lebih dilatari oleh sempitnya ruang gerak perempuan untuk andil dalam kancah tanggung jawab ekonomi keluarga dan lengkapnya fakta pemberi nafkah itu dilazimkan oleh seorang suami. Dalam beberapa kasus keluarga, memang banyak terdapat istri/perempuan yang memiliki dominasi atas keputusan-keputusan dalam keluarga. Posisi istri yang demikian itu biasanya karena dia cenderung dominan secara ekonomi atas suaminya (ketimpangan pendapatan). Namun lebih dari 20 dari 90 % nya adalah dominasi suami. Benarkah demikian? Kita lihat. Sekuat apapun tulang punggung perempuan/istri, toh banyak di contohkan kebebasan penuh laki-laki dalam melakuan kejahatan poligami di hadapan sosial seakan tanpa batas. Sebuah kejahatan nyata yang nyaris menanggalkan perhatian dan kritik justru dibenarkan dibanyak sisi. Belum lagi kenyataan-kenyataan kodrati seperti melahirkan dan mengurus anak yang disadari atau pun tidak disadari menyertai kelemahan-kelemahan perempuan. Dengan demikian jelas bahwa dominasi perempuan/istri dalam rumah tangga hanya sebagian kecil prosentase saja.

Lalu apa penyebab pokok lemahnya perempuan dan bagaimana membangun keadilan dalam rumah tangga?
Sangat mudah untuk mengatakan penyebab paling dasar atas lemahnya posisi perempuan yakni ideologi kapitalisme. Dan sungguh terasa sulit, tak dapat diprediksi berapa tahun kedepan keadilan terhadap perempuan bisa tercipta. Yang pasti keadilan terhadap perempuan dalam rumah tangga tak akan pernah digapai dengan cara kesepakatan semata yang justru bagi suami hanya membelenggu kaki dan tangannya. Mengapa demikian? Karena dalam setiap kepala kaum adam terisi oleh satu watak dasar ketidak puasan manusia. Surat nikah yang merupakan ikrar kasih sayang keduanya dan atas nama tuhan, kini, suami/laki-laki telah menginjak-injaknya. Masihkah terdapat harapan bagi kaum perempuan untuk mendapatkan keadilan dalam rumah t angganya? Atau memang perempuan mesti memilih tidak untuk melembagakan cintanya dalam perkawinan borjuis yang berlaku saat ini?
Mungkin banyak diantara kaum laki-laki yang mengutuk tulisan ini. Dan bahkan bisa jadi kaum hawa sendiri menilai terlalu berlebihan tulisan ini. Karena kaum hawa berkemampuan menambatkankan jiwanya terhadap laki-laki tercintanya dan kebahagiaan mereka bisa raih dalam mahligai rumah tangga. Kalau pun tidak, agama menjadi akhir dari perang sabil dengan segala tuntunannya. Surga jaminan bagi keikhlasan perempuan.

Benar. Surga adalah harapan dan mimpinya setiap insan. Pelaku kejahatan korupsi sekali pun kedepan akan melakukan taubat nasuhi demi surga. Pelaku kejahatan poligami pun ingin masuk surga tapi tanpa perlu taubat. Adakah yang akan menyangkal jika surga yang belum pasti masih harus melihat statistik perbandingan antara pahala dan dosa, sementara kebahagiaan duniawi tanpa poligami diraihnya? Tentu semua hawa tak akan menyangkalnya. Tinggal bagaimana mengubah pandangan yang selama ini pasrah, inferioritas dan kebekuan menjadi gelora perjuangan hidup di dunia dan masa depan surga.

Jika bereferensi kepada al-qur’an tentang inti kejahatan kapitalisme, Surat al Humazah ayat 1-4 berbunyi “Celakalah, azablah untuk tiap-tiap orang pengumpat dan pencela. Yang menumpuk-numpuk harta benda dan menghitung-hitungnya. Ia mengira, bahwa hartanya itu akan mengekalkannya (buat hidup di dunia). Tidak, sekali-kali tidak, sesungguhnya dia akan ditempatkan ke dalam neraka (hutamah)”.

Saat perempuan lebih pasrah dan nrimo dipoligami dengan alasan dalil, sementara Allah mengutuk keras perbuatan kapitalisme namun kaum hawa enggan melawan perbuatan jahat tersebut.
Kapitalismelah yang telah membunuh keadilan kolektif dalam lembaga rumah tangga. Kekuasaan kapitalisme seakan melebihi kekuasaan tuhan. Subhanallah.

Baiklah, penulis hanya ingin menjelaskan lebih lanjut keadilan-keadilan kolektif tak saja dalam rumah tangga melainkan secara sosial. Sebagaimana yang penulis sampaikan diatas, keadilan rumah tangga, keadilan sosial dapat diwujudkan apabila hadir kedialan-keadilan produksi. Begitu jauh ibu-ibu tani di desa terlempar dari keadialan kolektif. Jika pernyataan moderat bahwa poligami dan ketidak adilan lain dalam keluarga merupakan sebuah nasib, penulis masih akan mengamini pernyataan tersebut. Namun penulis juga ingin sekali lagi menelaah QS 13:11 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang ada pada diri mereka ” .
Bagaimana kemudian solusi konkrit bagi keadialan terhadap perempuan dalam hubungan kolektif di desa?

Mengutip lagi sebuah ayat “Bertolong-tolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah , kepada Allah, karena sesungguhnya Allah sangat berat siksanya” (QS. Al-Maidah: 2)
Tiada satu pun kehendak-kehendak tuhan hadirnya ketidak adilan di muka bumi. Dan khalifah lah yang ditegaskannya.

Jika ditelusuri ketidak adilan di desa karena terjadinya gap antara pemilik alat produksi dengan tenaga produktifnya. Dalam hal ini adalah kepemilikan tanah. Mirip dengan yang terjadi di perkotaan dimana konsentrasi alat produksi berada di tangan pemodal/kapitalis maka tenaga buruh yang sejatinya penggerak produksi berarti juga penentu bagi nilai lebih dan keuntungan pengusaha, jauh dari keadilan produksi. Baik hubungan produksi di desa (sawah) maupun di kota (pabrik/industri) mayoritas kaum perempuan memiliki peran yang sama dalam kerja produksi dengan laki-laki namun saat masuk di wilayah domestik hampir semua pekerjaan itu tertumpuk di pundak istri. Mulai dari masak, cuci piring/pakaian, ngepel dsb. Laki-laki bak seorang raja dan perempuan menjadi babu, hingga datangnya malam istri harus selalu siap meladeni keinginan seksual suami. sehingga hanya mereka berdua dan tuhan saja yang tahu tentang ketidakadilan berikutnya dalam hubungan suami istri.

Sekilas memang tak nampak ketidakadilan-ketidakadilan secara sistemik dari semua hal yang terjadi, penyebabnya adalah kapitalisme yang urusannya hanya sebatas pengakumulasian modal dan penumpuk-numpukkan harta. Namun sistem patriarki sesungguhnya menjadi bagian dari kontradiksi internal kapitalisme. Pun, kapitalisme saat ini berdiri tegak di atas basis feodalisme dengan carut marutnya sistem keagrariaan dan kepemilikan tanah. Yang, secara sistemik pula kapitalisme mengatagonistikan antar tenaga-tenaga produktif; antara perempuan dengan laki-laki, antara buruh dengan petani dan seterusnya agar kapitalisme absen dari tuduhan sumber dari segala sumber kejahatan. Dan kapitalisme tetap langgeng menguasai dunia

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda