Jumat, 16 Maret 2001

Jumat, Maret 16, 2001
2010 ; Satu persatu negara eropa digilir oleh krisis. Spanyol yang merupakan ekonomi ke lima terbesar di Europa Union dilanda krisis hebat dalam 2010. Sebelumnya Yunani, Irlandia, Portugal dihantam krisis dan kemungkinan berikutnya Belgia. Utang,bailout skala besar dikucurkan oleh negara untuk sektor swasta dengan mengorbankan anggaran publik, membuktikan satu hal bahwa kapitalisme neoliberalisme telah kehilangan kredibilitasnya .
Ekonomi mengalami stagnasi yang mendalam, ekonomi Spanyol bergerak kearah pertumbuhan negatif,  tumbuh 0,1 persen pada kuartal pertama tahun 2010 dan 0,2 persen di kwartal kedua tetapi kemudian terhenti dengan nol pertumbuhan pada kwartal ketiga. Keadaan keseluruhan negara di Eropa menggambarkan keadaan yang sama dan semakin memburuk.
Defisit anggaran negara terus membengkak yang memaksa negara-negara tersebut memangkas seluruh anggaran publik, kesehatan, jaminan hari tua, jaminan orang cacat, dan lain sebagainya. Menteri Keuangan Belgia Didier Reynders, akhir pekan (4/12), menyebut dana penyelamatan tetap Uni Eropa harus lebih besar dari yang tersedia saat ini, senilai 750 miliar euro atau setara USD 989 miliar (kontan, 12/2010).

Akibatnya kantor-kantor pemerintahan dan parlemen selalu diserbu oleh ratusan ribu domonstran, mereka yang berasal dari kaum buruh, pengangguran dan para pensiunan. Mereka menolak cara-cara pemerintah yang terus mensubsidi para pengusaha pada satu sisi sementara memotong anggaran publik pada sisi yang lain. Demostrasi besar sepanjang tahun 2010 di Eropa selalu berakhir dengan kerusuhan.
Upaya mengatasi krisis dengan melakukan berbagai perundingan internasional gagal meraih konsensus yang diharapkan. Pertemuan G8, G20, ASEM, WTO, pertemuan perubahan iklim UNFCCC, diselenggarakan untuk membuka lebar jalan investasi luar negeri, liberalisasi perdagangan  dan deregulasi keuangan.  Namun seluruh perundingan seperti serimonial semata dan tidak dapat meraih konsensus dikarenakan benturan kepentingan yang semakin kencang akibat perlawanan China, India, Brasil yang menolak dikorbankan sebagai tumbal krisis.

Hingga saat ini krisis Eropa dan  AS menunjukkan gejala semakin parah. Tingkat pengangguran di AS berkisar antara 9-10 %.  Pada Oktober lalu, tingkat pengangguran Eropa mencapai 10,1 persen. Menurut Eurostat, angka ini merupakan level tertinggi sejak Juli 1998. Data yang sama menunjukkan, jumlah warga Eropa yang tidak memiliki pekerjaan naik 80.000 orang pada Oktober menjadi 15,95 juta orang. Sementara itu, di 27 negara Uni Eropa, kenaikannya mencapai 84.000 menjadi 23,15 juta orang (kompas, 12/2010). Upaya pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja dengan membantu pemilik modal  besar ternyata menuai kegagalan.

Padahal hingga saat ini negara eropa telah menyalurkan dana sangat besar untuk bailout sektor swasta. Irlandia memutuskan untuk menyelamatkan Anglo Irish Bank dengan bailout hingga 34,3 miliar euro atau setara dengan USD 46,6 miliar. Gelontoran dana untuk menyelamatkan bank itu harus ditebus dengan lobang besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Irlandia hingga 32% pada tahun 2010.

Namun dana-dana bailout tidak digunakan untuk memulihkan ekonomi, investasi dan kesempatan kerja. Para pemilik modal di negara-negara maju justru melarikan uangnya ke negara-negara berkembang dan masuk sebagai uang panas ke  dalam bursa-bursa keuangan di seluruh dunia. Mengapa demikian ? ini dikarenakan dunia mengalami krisis overproduksi, overinvestment akan tetapi underconsumtion. Atau secara sederhana merupakan kadaan berlimpahnya barang dan jasa namun sebagian besar rakyat tidak punya daya beli. Hal itulah yang menyebabkan terjadinya perang  mata uang (currency war) dikarena pemilik modal lebih memilih pasar keuangan, melakukan spekulasi dan perdagangan aset derivatif lainnya.

Sistem kapitalisme berada pada puncak krisis.  Kekacauan ekonomi tidak hanya akan terjadi di negara-negara maju, namun juga negara-negara berkembang yang berada dalam sistem  kapitalisme. Krisis ini akan memicu semakin ganasnya eksploitasi ekonomi terhadap kaum buruh, tani dan masyarakat miskin khususnya di negara-negara berkembang dan negara miskin. Jika tidak segera merubah haluan, maka seluruh negara yang berada dalam mata rantai sistem kapitalisme global akan ikut ambruk dalam krisis yang sama. 

Sumber : Institute for Global Justice 
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar anda