Kamis, 02 Desember 2010

Kamis, Desember 02, 2010

BAB 15 

PERMESINAN DAN INDUSTRI MODERN

Masuknya permesinan ke dalam proses produksi menandai tahap industri modern. Bahasan Marx terhadap permesinan mengandung dua tema. Pertama, permesinan menggantikan para pekerja dan sekaligus memungkinkan wanita dan kanak-kanak masuk ke angkatan kerja. Permintaan akan tenaga kerja berkurang, sedang angkatan kerja maningkat. Cadangan tenaga kerja yang menganggur senantiasa diperbaharui. Kekuatan berunding para pekerja amat merosot. Kedua, sebagai pemantapan kecendrungan itu, mekanisasi mengakhiri pemusnahan keterampilan pekerja bebas (merdeka) dan menundukan mereka kepada kekuasaan kapital. Permesinan yang prinsipnya dapat meringankan kerja, malah mengintensifkan kerja.

Seksi 1
PERKEMBANGAN PERMESINAN

Suatu mesin menggeser pekerja yang tadainya mengunakan sebuah perkakas. Ia sekarang diganti oleh sejumlah perkakas yang sama bekerja mekanis dengan sebuah tenaga penggerak (hal. 376). Perkakas lama diambil dari tangan pekerja yang tidak lagi memerlukan keterampilan manual berspesialisasi, sebagai karakterisasitahap manufaktur. Keterbatasan yang disebabkan kemampuan manusia tak berlaku lagi; “seluruh proses kerja diteliti….tanpa peduli pada bagaimna tangan manusia melaksanakannya….dan persoalan-persoalan dipecahkan dengan bantuan mesin,kimia dan sebagainya”. (hal.380).
Marx membedakan antara “kerjasama” mesin sejenis yang dijalankan oleh sebuah tenaga penggerak (yang analog dengan kerjasama sederhana para pekerja [manusia]) dengan sebuah sistem yang terdiri dari serangkaian mesin-mesin terperinci (analog dengan pembagian kerja manufaktur pekerja-pekerja terperinci). Dari kedua bentuk kerjasama itu Marx membangun suatu gambar angan-angan “suatu mekanik raksasa yang tubuhnya dipenuhi pabrik-pabrik dengan suatu tenaga malaikat….menggerakkan orgasn yang tak terhitung jumlahnya, dengan cepat dan dashyatnya” (hal.381-382).
Mekanisasi tidak dapat dipahami sebagai penemuan-penemuan yang sendiri-sendiri di industri tertentu. “Suatu perubahan radikal…. Di salah satu industri melibatkan perubahan sejenisnya di lingkungan lain” (hal 381-2). Kemajuan besar di satu tingkat hanya akan berhasil manakala tingkat lain yang berhubungan dengannya juga maju. Manfaat penuh suatu mekanisasi tidak akan menguntungkan, sampai mesin-mesin itu sendiri di buat o9leh mesin. “Revolusi Industri” (Marxz tidak menggunakan istilah ini disini, tapi di tempat lain) adalah sebuah proses tunggal yang kait-mengait di zamannya Marx. Ia dilukiskan Marx dengan kekaguman yang tak dapat salah. Marx tidak menentang teknologiatau mesin, tapi ia jijik melihat dampak-dampak sistem kapitalis.

Seksi 2
NILAI YANG DIPINDAHKAN MESIN KE PRODUK

Marx telah menguaraikan pertama-tama perihal produksi nilai pakai. Sekarang ia samapi pada produksi nilai dan nilai lebih. Mesin yang tahan lama hanya memindahkan sebagian dari nilainya ke dalam produk. Mesin punya nilai yang sangat tinggi kebanding perkakas lain yang sederhana pada periode terdahulu. Ia begitu produktifnya sehingga nilainya ia pindahkan ke dalam setiap unit produk, sehingga biaya per unit menjadi lebih rendah. Penghematan kerja lamngsung menjadi lebih besar. Dan niolai setiap unit produk turun, sehingga ratio alat-alat produksdi dan tenaga kerja (c/v) jadi naik. Hal ini akan dikembangkan Marx kemudian.
Marx kemudian menguraikan betapa penggunaan lebih banyak teknik-teknik yang dimekanisasi, mengurangi pekerjaan, membuat para pekerja menganggur dan menjadi penyebab apa yang sekarang dinamakan ‘pengangguran teknologi”. Sebuah mesin hanya akan dipakai apabila ia menghemat upah dengan menukar pekerja langsung terlibat dalam produksi. Di pihak lain, dalam pembuatan mesin, pekerjaan juga diciptakan. Mekanisasi menjadi sangat berharga (bagi sang kapitalis), jika ia berarti penghematan atas upah, masa pakai mesin, dan pembuatannya. Semua penghematan terpusat pada upah langsung. Tetapi sebagian nilai mesin merupakan nilai lebih ketika pembuatan mesin (industri pemakai mesin dianggap membayar mesin pada nilainya). Kelanjutannnya, lebih banyak pekerjaan yang ditiadakan pada industri pemakai mesin daripada yang diciptakan mesin itu sendiri ketika dibuat di mana-mana. (Akumulasi dan ekspansi ekonomi menandingi keadaan itu dengan terciptsanya permintaan ekstra terhadedap tenaga kerja dan ini akan dibahas pada bagian 7).
Semakin tinggi gaji-upah, semakin banyak rangsang untuk menggunakan mesin untuk menggunakan mesin pengganti kerja langsung (direct labour). Dimana upah rendah, permesinan mungkin tidak terpakai, karena upah rendah tidak mempermurah permesiana. Disini berarti bahwa upah rendah mengandung banyak nilai lebih.

Seksi 3
DAMPAK TERDEKAT DARI PERMESINAN ATAS PEKERJA

Kebanyakan usaha kerajinan tangan memerlukan kekuatan fisik tertentu; sedang mesin tidak. Mekanisasi memungkinkan wanita dan kanak-kanak dipekerjakan mengganti (atau dan sebagai) pekerja lelaki dewasa. Ini memurunkan nilai tenaga kerja. Nilai tenaga kerja ditentukan oleh komoditi yang diperlukan untuk mereproduksi keluarga klas pekerja. Jika lebih banyak anggota keluarga yang bekerja , biaya untuk mereproduksi tenaga kerja, akan terbagi pada lebih banyak pekerja. Masing-masing mereka dapat dibayar lebih trendah (kurang). Karena upah rendah, wanita dan kanak-kanak harus bekerja, agar keluarga dapat bertahan.
Marx berlanjut dengan catatan-caatatan tentang dampak yang mencemaskan dipekerjakaqnnya wanita dan kanak-kanak beserta keluarga mereka. Ia tidak menentang dipekerjakannya wanita dan kanak-kanak. Ia memikirkan pendidikan kanak-kanak seharusnya merupakan kombinasi edari pengalaman praktis dan kerja produktif. Ia menantang dipaksanya wanita dan kanak-kanak (juga orang dewasa) menderita syarat-syarat kehidupan di pabrik-pabrik kapitalis masa itu.
Dengan dikenalnya permesiana, hari kerja malah memanjang. Suatu paradoks dalam teknik penghematan kerja. Kaum kapitalis itu ingin agar penggunaan mesin-mesin mahal semaksimal mungkin dalam jam kerjanya. Ia ingin memperoleh laba sebanyak-banyaknya sebelum mesin itu digusur oleh yang lebih baik dan baru, karena persaingan. Dampak demikian oleh Marx dinamakan “moral depreciation”-depresiasi atau penyusutan moral—(istilaqh modern “obsolescent—usang). Kaum kapitalis dapat memaksakan perpanjangan jam kerja lebih lanjut, karena pengantian kerja dan pekerja diperpesat oleh persaingan untuk mendapatkan kerja, di tengah-tengah pengerjaan tenaga wanita dan kanak-kanak mematahkan perlawanan organisasi-organisasi pengrajin yang tradisional.
Sekali hari kerja diperpendek melaui undang-undang (lihat Bab 10) terjadilah intensifikasi kerja melaui percepatan kerja oleh mesin. Setiap pekerja mengawasi lebih banyak mesin. Intensifikasi kerja adalah sama dengan perpanjangan hari kerja, karena lebih banyak kerja aktual yang diperbuat pada waktu bersamaqan. Penyadapan nilai lebih mutlak (kerja lebih banyak) mengatasi nilai lebih relatif (produktivitas lebih tinggi).

Seksi 4
PABRIK

Pabrik yang dimekaniswasi dapat dilihat dari dua segi dan cara. Pertama, dari sudut “kerjasama dari banyaknya perintah kerja kepada para pekerja”. Kledua, sebagai suatu “otomatisasi besar-besaran…..yang tunduk pada tenaga penggerak yang mengatur dirinya sendiri” (hal 418-9, catatan Marx tentang Ure). Yang pertama berlaku di pabrik yang sudah dimekanisasi pada umumnya. yang kedua, kepada permesinan yang digunakan sebagai kapital. Denganpembedaan ini Marx kembali ke tema lanjutan lainnya; subordinasi progressif para pekerja yang membarengi setiap peningkatan kekuatan produktif tenaga kerja.
Mekanisasi menghancurkan hierarki skill yang karakteristik bagi manufaktur. Dan pengurangan mayoritas besar pekerja menjadi mesin berotak yang kini menjalankan pabrik.
Penghancuran ketrampilan (skill) dibarengi dengan penghancuran kemerdekaan 9kebebasan). Pada waktu bersamaan, pabrik menguras dan melelahkan jaringan syaraf secara luar biasa, meniadakan gerakan otot yang bersegi banyak dan menyita setiap atom kebebasan, baik secara intelektual maupun fisik. Itu berlangsung melaui pengotomatisasian perkakas kerja….dalam bentuk kapital, kerja mati yang dominan, dan pompa-pompa mengeringkan kehidupan tenaga kerja. Pemisahan kekuatan produktif intelektual dari kerja manual…pada akhirnya telah melengkapi” (hal 422-3). Dakwaan Marx akhirnya lengkap dengan sekedar rujukan pada syarat-syarat materiil di pabrik-pabrik yang demnikian mengerikan. Tapi sertangan-serangan Marx terutama disusun atas nama kebebasan manusia.

Seksi 5
PERGULATAN antara MANUSIA PEKERJA dan MESIN
Ada konflik klas sepanjang sejarah kapitalisme. Tetapi hanya sesudah mesin diperkenalkan, kaum pekerja mengalihakan kemarahannya pada perkakas-perkakas produksi. Marx meninjau secara singkat sejarah perusakan mesin (Gerakan Luddite dan sebagainya), sebelum menjelaskan sebab-sebabnya. Dalam periode manufaktur, kerja, pada umummnya jarang. Peningkatan produktivitas biasanya tidak mengncam pekerjaan. Diperkenalkannya mesin, sebaliknya, menyebabkan pengangguran, merusak skill dan berbuat sebagai alat perusak perlawanan pekerja terhadap perpanjangan jam kerja. Tidak mengherankan kalu para pekerja membalas.

Seksi 6
TEORI GANTI RUGI sebagai PERHATIAN terhadap PEKERJA YANG DIGANTIKAN MESIN

Beberapa pakar ekonomi telah menjawab kritik yang ditujukan kepada mekanisasi. Argumentasinya ialah, setiap orang yang kehilangan pekerjaan yang disebabkan langsung oleh mesin, akan mendapat imbalan melaui penciptaan sejumlah lapangan kerja yang sama di industri lain. Alasan yang dikemukakan Marx atas hal itu, sekarang tidak akan disokong oleh seorangpun. Tetapi beberapa hal penting yang dikemukakan Marx, baiki diketahui. Sebuah masalah pokok yang telah dibahas ialah, sejumlah pekerjaan tercipta ketikaorang membuat mesin. Tetapi ketika mesin dipakai oleh industri,sejumlah pekerjaan hilang. Penantang-penantang Marx membenarkan keterangan itu. Benar memang,, sejumlah sarana mata pencaharian tetap tersedia seperti sebelumnya. Namun ini bukan masalahnya. Sebab, pekerja yang menganggur, tidak mendapat upah untuk kehidupan mereka.
Pada suatu ekonomi yang sedang tumbuh, pekerjaan baru selalu saja bisa diperoleh. Tetapi masalahnya ialah, mekanisasi pada dirinya sendiri, mengurangi pekerjaan. Komposisi pekerjaan juga berubah. Pembagian kerja sosial meluas, tapi peningkatan laba, mendorong adanya suatu pelayaanan yang meluas (ciri menonjol Victoria-Inggris) dan industri yang melayani kemewahan orang-orang kaya juga meluas.

Seksi 7
PABRIK dengan SISTEM MENJIJIKKAN dan MENARIK PEKERJA

Industri modern tidaklah mengganti bentuk-bentuk kerja lembur malam yang sudah tua itu. Dengan melemparkan para pekerja keluar dari pekerjaannya, menghancurkan skill dan meningkatkan ketidakamanan, ia bahkan cenderung memperpanjang jam kerja dan mendesak turunnya upah. Industri kerajinan tangan dan domestik, menarik keuntungan dari keadaan itu. Ketika tahap-tahap tertentu produksi dimeaknisasi , kegiatan kerajinan tangan baru, melonjak naik dan kegiatan-kegiatan lama berkembang meluas memenuhi kebutuhan taraf produksi yang meningkat tinggi. Sehingga untuk suatu masa, kerajinan tangan menjadi semacam kegiatan tambahan bagi sistem pabrik. Industri domestik, dimana kerja dilakukan di rumah-rumah seringkali menjadi pemandangan eksploitasi yang lebih mengerikan kebandingyang terdapat di pabrik-pabrik. Marx memformulasikan keadaan yang mencemaskan itu. Suatu perdagangan yang “penuh keringat”.
Marx sangat memahami sejenis keseimbangan mekanisme pada waktu orang bekerja. Walaupun tidak secara khusus menonjolkannnya. Mekanisasi mendesak upah pada turun. Upah rendah itu memperlambat perluasan mekanisasi, karena ia disaingi oleh kerajinan tangan (kerjatangan). UNDANG-Undang Pabrik, yang membatasi pemerasan, mendorong maju mekanisasi.

Seksi 9
UNDANG-UNDANG PABRIK, PENDIDIKAN DAN KESEHATAN serta KETENTUAN SEJENIS. Perluasannya di Inggris.

Isi Seksi 9 ini sangat baik. Yang paling menarik di sini anjuran-anjuran Marx tentang pendidikan. Sesudah itu terdapat himpunan Marx tentang berbagai praktek pemerasan dan penindasan yang diungkapkan sebuah Komisi.

Seksi 10
INDUSTRI MODERN dan PERTANIAN
Seksi pendek ini menggoda karena ia kembali kepada trema-tema Marx yang lain, yaitu, pemisahan kota dan desa yang sekaligus “merusak kesehatan pekerja kota dan kehidupan intelektual pekerja pedesaan secara serentak (hal. 505). Marx menyerukan adanya “serikat sekerja pertanian dan industri” tanpa memasuki hal-hal detail. Ia juga menuduh pertanian kapitalis merusak sumber daya abdi dari kesuburan tanah.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar anda