Kamis, 02 Desember 2010

Kamis, Desember 02, 2010
pergilah ke rakyat,,tinggallah bersama mereka
cintailah mereka,,mulailah dengan yang mereka tahu,,bangunlah dengan yang mereka miliki,,namun pemimpin yang baik ketika kerja telah selesai dan tugas telah dilaksanakan
rakyat akan berkata: “kamilah yang mengerjakannya”.
(Lao Tse)

I. Apa dan Mengapa Pengorganisiran

Kata pengorganisiran kadang-kadang membuat kita bingung, apa sebenarnya yang kita maksudkan dengan pengorganisiran. Kebanyakan orang menganggap bahwa pengorganisiran adalah kerja seorang individu untuk membuat sebuah organisasi yang tidak baik dan tidak berjalan, menjadi baik dan bisa berjalan secara disiplin. Ada juga yang melihat bahwa pengorganisiran adalah memberi kursus-kursus politik kepada rakyat, dan setelah itu pergi meninggalkan rakyat tersebut, seperti yang selama ini dilakukan oleh LSM. Sebagian yang lain juga menganggap bahwa pengorganisiran adalah bagaimana mengajak rakyat untuk turun ke jalan-jalan melakukan demonstrasi menuntut keadilan sosial misalnya.

Sebenarnya pengertian yang benar tentang pengorganisiran itu apa sih? Pengorganisiran adalah sebuah kerja politik untuk memberikan kesadaran politik kepada rakyat tentang persoalan apa yang dia hadapi. Kalau dia sudah sadar tentang persoalan yang dia hadapi, maka tugas pengorganisiran adalah memberikan kesadaran tentang penyebab utama dari persoalan yang dia hadapi. Katakanlah dalam melihat kemiskinan, banyak rakyat yang sadar akan kemiskinannya, tapi banyak juga rakyat yang melihat bahwa kemiskinan yang dia hadapi disebabkan oleh takdir Tuhan, atau nasib. Tugas pengorganisiran adalah memberikan kesadaran bahwa rakyat menjadi miskin, bukan karena takdir Tuhan, tetapi karena penguasa yang tidak pernah memberikan pelayanan berupa lapangan kerja ke rakyat.

Bila dia sudah sadar tentang penyebab persoalan yang dia hadapi, maka tugas pengorganisiran selanjutnya adalah memberikan penyadaran tentang bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. Sampai di sini, tugas pengorganisiran adalah adalah menyadarkan rakyat tentang pentingnya membentuk organisasi, dan berjuang merubah nasib secara bersama-sama, tentu menggunakan organisasi. Sekaligus secara jangka panjang kita juga harus memberikan kesadaran tentang sistem yang ideal yang dapat menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Katakanlah tentang sistem demokrasi kerkayatan, harus ada penjelasan tentang maksud dari sistem tersebut
Artinya pengoraganisiran yang kita maksudkan di sini, tidak terbatas semata ketika persoalan rakyat yang dihadapi oleh sekelompok rakyat terselesaikan. Harus ada kesadaran yang kita suntikkkan ke rakyat, bahwa tanpa merubah aturan atau sistem yang lebih besar, persoalan tersebut bisa saja muncul kembali. Bahkan harus mengajak mereka untuk juga ikut memperjuangkan nasib orang lain.
 

II. Bagaimana Melakukan Pengorganisiran?

Untuk mencapai hasil yang maksimal, organiser (orang yang mengorgnisir harus menguasai berbagai teknik pengorganisiran). Tanpa keahlian atau profesionalitas dalam mengorganisir, cukup sulit bagi kita untuk mewujudkan cita-cita pengorganisiran. Karena itu, berikut akan dijelaskan sepuluh teknik pengorganisiran.

Langkah Pertama: Integrasi (Penyatuan)

Langkah pertama dan utama dalam pengorganisiran rakyat adalah integrasi atau menyatu dengan rakyat miskin atau masyarakat yang mengalami persoalan sosial. “Organiser” (organisasi atau individu yang melakukan penyadaran politik ke rakyat untuk melakukan perlawanan politik terhadap berbagai problem struktural yang dihadapi secara terpimpin dan terorganisir) harus berusaha melebur dirinya dalam masyarakat yang miskin untuk mengetahui budaya, ekonomi, pemimpin, sejarah, irama dan gaya kehidupan dari masyarakat tersebut. Mereka mengunjungi orang-orang, terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan kecil, mengambil bagian dalam kegiatan mereka (umpamanya menumbuk padi), ikut terlibat dalam diskusi-diskusi kelompok tidak resmi, tinggal bersama mereka dan merasakan apa yang mereka makan, apa yang jadi hiburan mereka dan ikut dalam pertemuan-pertemuan mereka.

Ini bukanlah hal yang gampang. Ujar seorang organiser, “Selama empat bulan saya tidak mampu merasakan makanan mereka atau baunya. Lalu saya mulai menyesuaikan diri dan mata saya terbuka. Saya melihat keadaan yang sebenarnya dari pergumulan mereka bagaimana rasanya menjadi miskin yang dari hari ke hari berjuang untuk hidup, dan apa artinya memperjuangkan tanah dan kemenangan-kemenangan yang mereka peroleh dan frustasi-frustasi mereka seperti yang mereka sendiri lihat. Saya melihat kehidupan kaum miskin seperti apa yang mereka sendiri lihat, sejauh yang bisa dilakukan oleh orang luar. Saya belajar mempergunakan bahasa mereka yang sederhana. Saya mempelajari sampai yang terkecil dari kehidupan mereka yang menyebabkan persoalannya menjadi hidup”.
Dalam proses integrasi ini, beberapa hal akan dialami oleh seorang organiser:

Ia harus mulai menghargai rakyat dan melihat aspek pembebasan dari budaya mereka yang mampu memberikan mereka kekuatan berjuangan. Apa yang dinamakan “kebudayaan bisu” (culture of silence) cuma abstraksi dari para sosiolog. Kaum miskin sesungguhnya ulet, tekun dan penuh dengan itikad baik. Mereka juga memiliki seluruh kelemahan seperti manusia yang lain.

Organiser harus melihat bagaimana analisa sosial yang mungkin ia lakukan mengenai situasi nasional, bisa menyatu dalam kehidupan rakyat. Ia harus bisa melihat seberapa jauh analisa sosial tersebut benar atau tidak. Ia harus bisa belajar dari kenyataan bahwa juga analisa sosial cuma sebuah abstraksi (gambaran besar). Kenyataan jauh lebih padat dan rumit.

Ia harus berusaha melihat atau merasakan tindakan Allah diantara mereka yang miskin, lantaran kaum miskin mendapat tempat istimewa dalam pekerjaan Allah masa kini, sesuai dengan ajaran agama.
Pada akhirnya ia harus bisa diterima sebagai warga dari masyarakat tersebut.
Akhirnya nilai-nilai serta gaya hidup sang organiser harus berubah. Ia harus menjadi lebih berpengertian dan toleran, lebih penuh penyerahan diri, lebih realistis dan menjadi miskin sebisanya.
Untuk berintegrasi dengan baik, para organiser sedikitnya pada permulaan latihan, mereka harus hidup dilingkungan masyarakat desa atau kota yang miskin selama enam bulan di rumah yang biasa dan makan apa yang dimakan oleh rakyat miskin. Integrasi memberikan jaminan bahwa keprihatinan seseorang untuk merubah sebuah masyarakat, sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat mengenai sebuah perubahan dan bukan menurut contoh-contoh teoritis atau ideologi (paham) atau agama. Integrasi merupakan dasar dari langkah-langkah yang lain. Jikalau para organiser tidak menyatu dengan rakyat, mereka tidak akan pernah mempelajari dimensi yang sesungguhnya dari persoalan rakyat atau bagaimana merangsang mereka untuk berubah.

Langkah Kedua: Penyelidikan Sosial

Penyidikan sosial adalah sebuah proses yang sistematis mencari masalah-masalah, di sekitar masyarakat yang diorganisir. Sang organiser larut dalam masyarakat, mencari permasalahan-permasalahan yang sangat dirasakan rakyat untuk diperkembangkan sehingga mereka mau bertindak.

Ia mencari soal-soal yang kongkrit, seperti masalah air dan kakus yang memang merupakan masalah obyektif (yang tak pelak lagi untuk rakyat setempat maupun pendatang) dan yang dirasakan sebagai masalah oleh rakyat. Kedua hal ini tidak selamanya sama.

Bagaimana melakukan penyidikan sosial? Secara umum, ada tiga cara: Yang pertama, mempelajari catatan dan laporan yang membicaraka masalah rakyat. Cara kedua, adalah belajar dari rakyat itu sendiri bagaimana mereka merasakan sebuah permasalahan, bagaimana mereka melihat rincian sebuah permasalahan, komplikasi (kaitan) serta maknanya. Cara yang ketiga adalah mempelajari sebuah permasalahan sebagaimana yang ditentukan oleh bangunan kekuasaan dari masyarakat tersebut, seperti mempelajari bagaimana para pimpinan masyarakat terikat pada sebuah permasalahan.

Misalnya, tukang riba: seorang organisir bisa membaca seberapa jauh urusan lintah darat ini merupakan hal yang umum dalam sebuah daerah kumuh. Ia bisa melihat sendiri dan mempelajari dari rakyat bagaimana urusan ini adalah hal yang umum dan lajim dan betapa berartinya riba bagi penduduk. Ia juga bisa melihat bagaimana kegiatan ini bisa membantu beberapa kebutuhan tertentu dari rakyat yang justru tidak dilayani oleh pemerintah atau lembaga lainnya dan bagaimana para pemimpin setempat seringkali justru bertindak sebagai lintah darat utama. Keterangan yang terakhir ini memberikan peringatan bagi si oraganisir bahwa tidakan melawan tukan riba akan memperoleh perlawanan dari pemimpin masyarakat dan kawan-kawannya.

Di daerah Bicol, Filipina, rakyat menolak mendukung sebuah rencana menanam pipa-pipa bensin ke bawah tanah, biarpun pipa itu mudah terbakar. Kanapa? Ternyata banyak oeang termasuk pemipimpin masyarakat mencuri minyak dari pipa itu. Di Bombay, air selok jalan dipergunakan untuk membuat minuman keras gelap yang dikendalikan oleh kelompok penjahat. Adalah salah dan berbahaya, untuk berpikir bahwa memberisihkan selokan ini adalah sekedar masalah kebersihan semata.

 

Langkah Ketiga: Program Percobaan Sementara

Organisir tidak boleh mempunyai gagasan yang sudah direka sebelumnya tentang masalah apa yang dianggap benar untuk digarap. Ia senantiasa harus waspada dan berusaha menemukan tahapan-tahapan dasar dari kerumitan dalam permasalahan. Dan akhirnya, ia harus betapun memilih salah satu saja persoalan yang ditangani (ini yang kita sebut sebagai prioritas). Beberapa organisir terus menerus mempelajari permasalahan-permasalah dan tidak pernah menangani sebuah persoalanpun. Pada beberapa titik, kita harus memulai dan percaya bahwa sebagai akibat dari aksi, kita akan memperoleh informasi lebih lanjut. Persoalan yang harus ditanggulangi haruslah:
Mempengaruhi banyak orang atau yang dialami oleh bagian besar massa rakyat di daerah pengorgansiran. Merupakan hal pokok dalam pengorganisiran untuk melibatkan jumlah orang yang banyak.

Orang-orang harus cukup terlibat dengan persoalan yang diajukan, misalnya mereka harus mengajukan keberatan atas persoalan tersebut dalam beberapa hal kepada organisir, atau memberikan pertanda bahwa persoalan tersebut mengganggu mereka.
Haruslah sesuatu yang bisa dimenangkan, yaitu bahwa rakyat harus memiliki peluang untuk memperoleh apa yang mereka inginkan secepatnya. Pada pihak lain, ia tidak boleh menjadi perjuangan yang sia-sia, seperti misalnya rencana untuk menghapuskan perusahan-perusahan multinasional.

Tindakan yang diambil atas sebuah persoalan harus bisa menarik minat orang lain untuk ikut bergabung. Sekutu sangat diperlukan pada setiap tahapan kerja organisir.
Jikalau mungkin, persoalan dipilih yang menarik dan dramatis. Hal ini bisa mencipatakan daya tarik yang lebih luas dalam pengorganisiran.

Persoalan yang dipilih harus bisa berkembang ke persoalan yang lebih jauh lagi, misalnya seorang organisir harus bisa melihat bahwa aksi mengenai air kran akan berkembang menjadi kelompok pemakai kecil yang kemudian akan melawan pimpinan tradisional mereka yang jadi boneka penguasa. Dan bahkan pada jangka panjang isu tersebut akan meningkat menjadi isu politik yang bersifat nasional.

Langkah Keempat: Landasan Kerja

Landasan kerja berarti berjalan berkeliling dan menggerakan rakyat berdasarkan hubungan orang perorang untuk melakukan sesuatu terhadap pesoalan air kran atau persoalan apa saja yang dipilih. Paling bagus jika menggunakan selebaran. Cara ini yang kita disebut agitasi. Agitasi adalah menjelaskan ke rakyat untuk tentang akar permasalahan yang dia hadapi, sekaligus mengajak dia untuk terlibat dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi. Berbagai segi dari rangsangan (motivasi) atau agitasi ini yang bisa dipergunakan adalah kepentingan pribadi, moralitas, hak-hak, kehormatan atau rasa malu dan amarah. Sebagai contoh:
  1. Secara ekonomis jauh lebih baik anda memperoleh air kran umum. Uang yang lebih bisa dipakai untuk membeli beras.
  2. Kau membayar pajak. Adalah hakmu untuk memperoleh air.
  3. Ini memang hak anda. Hukum mengatakan anda harus memperoleh air kran.
  4. Tuhan menghendaki anda berjuang untuk memperolehnya. Adalah kenginan Tuhan bahwa anda memenuhi kebutuhan keluaga anda dengan layak, terutama anak-anak anda yang butuh mandi dan minum..
  5. Anda itu manusia atau kambing?
  6. Pemerintah membuatnya (air kran) untuk orang kaya? Kenapa tidak untuk anda juga?
  7. Pemerintah tidak menghormati hak anda. Itulah sebabnya anda tidak diberi air kran.
  8. Kaum perempuan banting tulang untuk memperoleh air. Kalau kalian memang laki-laki, seharusnya kalian melakukan sesuatu.
Ketika berkeliling, para organiser harus juga mulai membicarakan tentang sebuah pertemuan umum di mana lebih banyak orang akan hadir untuk pembahasan dan aksi lebih lanjut. Mereka, misalnya dapat menganjurkan sebuah pertemuan yang akan membahas kemungkinan rakyat beramai-ramai ke balai kota untuk menuntut air kran. Dengan orang-orang yang ia temui, seorang organisier hendaknya membahas pendapat yang setuju dan tidak terhadap aksi ini. Ia harus mampu membuat orang-orang mau melakukan sesuatu, dan bersiap-siap menghadiri sebuah pertemuan pada waktu tertentu, serta menyepakati bentuk-bentuk kegiatan tertentu.

Terkadang dalam usaha agitasi, kita mempergunakan pokok-pokok yang akrab dengan budaya dan agama dalam masyarakat tersebut. Kita tidak boleh mempergunakan apa saja dari budaya dan agama dalam hal agitasi ini yang kita sendiri tidak yakini atau hormati, sedikitnya pada tingkat yang lebih dalam. Kita harus percaya bahwa tak ada satupun dalam kebudayaan yang memang benar-benar baik, yang dengan begitu bertentangan dengan rakyat. Kalau kita tidak percaya pada hal-hal yang kita pergunakan dalam agitasi kita, berarti kita memanipulasi rakyat dan seakan-akan telah melakukan hal-hal yang suci ini adalah puncak dari keangkuhan.

Langkah Kelima: Rapat Dan Diskusi

Pada rapat umum rakyat mengesahkan secara bersama-sama apa yang sudah mereka putuskan sendiri-sendiri secara perseorangan. Sampai kini segala sesuatu masih bersifat perseorangan. Pertemuan memberikan rasa kekuatan dan kepercayaan bersama-sama. Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Mereka belajar satu sama lain mengenai keyakinan dan motivasi. Seperti orang-orang Kristen melakukan kesaksian pribadi. Pertemuan tersebut juga merinci kapan pergi ke balai kota, berapa banyak yang ikut. Rencana di sini juga membuat pembagian tugas, seperti misalnya siapa membuat poster, siapa mengurus ijin, siapa yang menjadi notulensi. Gerakan haruslah direncanakan secara terinci.

Bilamana landasan kerja digarap baik, pertemuan akan berjalan lancar. Sebagai contoh, ada seseorang berbicara dalam pertemuan tersebut. “Kenapa kita tidak menuntut kepala desa menyelesaikan persoalan ini”, maka orang-orang yang hadir dalam pertemuan akan menjawab: TIDAK, karena kita telah memutuskan menangani sendiri persoalan ini. Kepala Desa sudah diberi waktu bertahun-tahun untuk melakukan sesuatu. Seandainya polisi atau aparat keamanan datang, maka rakyat bisa mempertahan hak mereka mengadakan pertemuan semacm itu.

Langkah Keenam: Bermain Peran

Bermain peran berarti memerankan suatu pertemuan yang mungkin terjadi antara pimpinan rakyat dan wakil pemerintah. Para pemimpin memerankan peranan mereka sendiri sementara beberapa orang bertindak seakan orang pemerintah, lalu menjawab sebagaimana yang mereka pikirkan, bagaimana orang pemerintah akan menjawab. Ini merupakan cara melatih orang-orang untuk bersiap-siap menghadapi apa yang bakal terjadi dan melengkapi diri mereka. Permainan ini akan lucu dan sangat menyenangkan bagamana rakyat miskin meniru tingkah laku mereka yang berkuasa. Permainan peran merupakan metode memperkembangkan suatu kesadaran/naluri bereaksi langsung di tempat. Organiser bisa melibatkan diri dengan memberikan petunjuk-petunjuk dari waktu ke waktu.

Keuntungan utama dari bermain peran dibandingkan dengan metode persiapan yang lain ialah, karena sifatnya sendiri, metode ini melibatkan emosi rakyat seperti juga pemikiran mereka, dan mereka bisa melibatkan diri dengan penuh semangat. Tidak begitu sukar melakukannya, jadi bisa merupakan cara yang menyenangkan untuk meninjau persoalan dan aspek-aspek permasalahan.
Bermain peran memungkinkan terciptanya suasana perlawanan yang rakyat harus dibiasakan merasakannya.

Langkah Ketujuh: Mobilisasi Atau Aksi Massa

Mobilisasi atau aksi merupakan pengalaman sesungguhnya dari rakyat menghadapi yang berkuasa dan merupakan penampilan yang sunggguh-sungguh dari kekuatan rakyat.
Bentuk perlawanan dari mobilisasi amat dibutuhkan. Rasa percaya diri dan harga diri rakyat terbenam dalam penindasan yang berabad-abad. Perlawanan atau konfrontasi merupakan cara yang baik untuk menerobos keadaaan ini. Argumentasi yang baik secara menakjubkan bisa membangun rasa persamaan hak dan rakyat.
Bentuk-bentuk aksi yang bagaimana? Beberapa hal yang menarik dari berorganisasi terletak pada taktik ini. Taktik haruslah berada di dalam jangkauan pengalaman rakyat, tetapi diluar pengalaman penguasa.
Sebuah pabrik di India mencemarkan sebuah lingkungan, misalnya rakyat memutuskan mendatangi pejabat yang bertanggung jawab sehari-hari dengan membawakan kantong-kantong kotoran pabrik yang mencemarkan rumah mereka dan meletakkan di atasa mejanya.

Langkah Kedelapan: Evaluasi

Sesudah aksi, rakyat berkumpul dan membuat penilaian apa yang terjadi baik atau buruk. Ini sesungguhnya merupakan peninjauan atas langkah-langkah 1-7.
Aksi merupakan bahan mentah untuk penilaian. Beberapa dari pertanyaan yang harus dijawab, adalah:
Apakah persiapan kita cukup matang? Apakah kita bertemu dengan orang yang tepat? Apakah kita memiliki ijin yang diperlukan untuk bergerak? Apakah kita tepat pada waktunya? Apakah gerakan kita tertib? Apakah pimpinan kita siap untuk berbicara? Apakah tuntutan kita jelas dan masuk akal (bisakah dipenuhi secara wajar?). Apakah kita cukup memiliki orang-orang? Apakah kita menilai kekuatan kita secara berlebihan?
Apa yang kita pelajari? Apakah kita pelajari segala sesuatu tentang bagaimana sistem yang ada bekerja? Tentang nilai kekuatan rakyat? Tentang kelemahan kita sendiri?

Langkah Kesembilan: Refleksi

Secara teoritis, refleksi bisa merupakan bagian dari evaluasi, tetapi dalam pelaksanaannya adalah lebih baik dipisahkan, karena menyangkut keprihatinan-keprihatinan yang sedang berlangsung secara lebih dalam dan mungkin memerlukan suasana yang lebih tenang. Refleksi merupakan saat untuk melihat nilai-nilai positif yang sedang kita upayakan dibangun dalam organisasi. Ia bersangkut-paut dengan soal pengorbanan, pembangunan masyarakat, peranan pemimpin dan kekuasaan, harkat kemerdekaan dan demokrasi. Seringkali sangat berguna bila mempergunakan kitab-kitab suci dari berbagai agama yang berbeda dalam diskusi-diskusi ini.

Ini juga merupakan waktu mengadakan analisa sosial apa pun yang mungkin diperlukan rakyat untuk mengerti pengalaman yang baru mereka lewati. Analisa sosila haruslah didasarkan pada pengalaman rakyat dalam menjawab pertanyaan mereka. Adalah penting bahwa sang organiser bisa mempergunakan metode tanya jawab (pedagogi kaum tertindas) untuk mengelakkan persamaannya dengan cara cuci otak.

Sebagai contoh, sang organiser bisa bertanya kepada rakyat, kenapa pejabat pemerintah begitu sombong. Jawaban rakyat mungkin akan merupakan sesuatu seperti: “Ia menyangka kami jahat” atau “Ia melihat bahwa kami cuma gelandangan miskin”. Organiser dengan bertanya lebih jauh bisa membantu rakyat melihat betapa dalam benak kaum penguasa, nilai dari manusia dikaitkan dengan uang, dan menunjukan betapa hal ini merupakan kesimpulan yang wajar di dalam masyarakat atau budaya dimana mengejar keuntungan memperoleh prioritas tertinggi. Dengan begitu ia bisa membantu mereka melihat potensi merendahkan martabat manusia pada kapitalisme. Lebih jauh ia bisa membantu rakyat mendiskusikan alternatif skala nilai dalam mempertimbangkan nilai rakyat.

Dalam refleksi ini kita juga diharuskan untuk melahirkan teori-teori baru yang kita dapatkan dari selama kita melakukan pengorganisiran.

Langkah Kesepuluh: Laporan Dan Catatan Harian

Yang paling penting dari sebuah kerja pengorganisiran adalah membuat laporan dan cataan harian pengorganisiran. Laporan dimaksud untuk memudahkan kita dalam melihat situasi secara keseluruhan, tentu untuk merumuskan strategi taktik berikutnya. Sedangkan catatan harian pengorganisiran sebenarnya sangat berguna bagi si organizer untuk membaca perkembangan secara kualitatif dan kuantitif terhadap rakyat yang diorganisir. Kedua hal sangat penting, walaupun memang sering disepelekan oleh banyak orang.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar anda