Jumat, 31 Desember 2010

Jumat, Desember 31, 2010
Oleh : Nouval Murzita pada 28 Desember 2010

"The Congo has made me, I shall make the Congo - There is no compromise between freedom and slavery”.

Patrice Lumumba dikenal dalam sejarah Afrika sebagai pahlawan nasional yang berasal dari Kongo. Dia berjuang untuk Rakyat dan negaranya dari penindasan kaum Kolonial. Kisah hidupnya sebagai pejuang, pembela Rakyat dan seorang revolusioner menjadikan dia sebagai juru bicara dan pemimpin bagi Rakyat Kongo.

Patrice Emery Lumumba dilahirkan pada tanggal 2 Juli 1925, disebuah desa yang bernama Onalua propinsi Kasai. Kedua orang tuanya yang berada di Batetela menginginkan Patrice untuk menjadi guru di sekolah Katolik dan untuk memenuhi persyaratan itu maka Patrice dikirimkan ke Sekolah Misi Katolik yang berada di Katako-Kombe.

Anak kecil itu menampakkan bakat yang sangat besar untuk belajar dan mempunyai kemampuan yang luwes untuk bergaul kepada orang-orang yang ditemuinya. Perhatian yang besar juga ditampakkan oleh Patrice kecil kepada para misionaris Protestan yang mengelola sekolah kedokteran asistensi bedah.

Karena hubungannya dengan para misionaris Protestan itu maka Patrice kecil yang sudah beranjak remaja usia 12 tahun melanjutkan pendidikannya disekolah kedokteran tersebut. Pada usia 13 tahun Patrice remaja menjadi seorang penganut Protestan.

Setelah menempuh pendidikan kodekteran selama dua tahun Patrice meninggalkan sekolah itu tanpa menggenggam ijazah. Selama dalam masa pendidikan Patrice remaja menunjukkan antusiasme yang tinggi kepada berbagai materi pelajaran yang diberikan kepadanya. Belajar menjadi suatu yang mudah bagi dirinya dan dia tumbuh menjadi remaja yang selalu ingin tau tentang berbagai disiplin ilmu walaupun ilmu tersebut tidak diajarkan di sekolahnya. Patrice remaja juga menggemari Voltaire, Rousseu, Viktor Hugo dan Moliere serta para penulis modern lainnya.

Karena rasa hausnya yang tinggi kepada ilmu pengetahuan mempengaruhi dan mendorong perkembangan pemikirannya kepada dunia buku. Banyak pertanyaan yang muncul didalam dirinya kepada guru-guru misionaris kulit putih tetapi pertanyaan-pertanyaan itu bukan merupakan pertanyaan yang lazim ditanyakan oleh seorang Afrika. Karena sebab itu maka hubungan Patrice remaja kepada guru-gurunya semakin renggang dan dia memutuskan untuk meninggalkan sekolahnya. Itulah alasan kenapa dia meninggalkan sekolahnya.

Usianya telah menginjak 15 tahun, berbadan tinggi, kurus, dan berkulit gelap. Ciri-ciri ini merupakan hal yang umum pada setiap orang Afrika seusianya. Patrice remaja pergi menuju Kindu yaitu sebuah kota di Propinsi Katanga. Tetapi seperti para imigran yang biasa pergi menuju kota untuk mendapatkan pekerjaan, Patrice juga menemui di pintu-pintu atau halaman-halaman perkantoran, pabrik, toko dan tempat-tempat usaha lainnya sebuah plank kecil yang bertuliskan “tidak terdapat lowongan pekerjaan”. Selain dibidang usaha tadi Patrice juga sangat sulit mendapatkan pekerjaan pada olonial pertambangan yang ada.

Pada akhir tahun 1939 meletus perang dunia ke 2 ditandai dengan serbuan tentara Fasis Jerman ke Polandia. Pada saat itu Negara-negara yang tergabung dengan kekuatan sekutu seperti Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, dll bahu-membahu menyusun kekuatan untuk menahan laju maju tentara Fasis Jerman menuju Eropa Barat. Perang yang memakan biaya besar ini juga membutuhkan bahan material pendukung seperti biji besi, timah, minyak, dsb.

Daerah Kindu termasuk daerah di Kongo yang mengandung cadangan deposit timah terbesar dan beberapa bahan mineral lainnya. Berduyun-duyun para pencari kerja pergi menuju kesana untuk mendapatkan pekerjaan di tambang-tambang timah dan tambang bahan-bahan mineral lainnya yang ada.

Di kota Kindu Patrice menjalin kontak dengan beberapa orang pekerja tambang. Patrice dan teman-temannya itu sering berkumpul bukan hanya sekedar membicarakan pekerjaannya tetapi mereka semua mempunyai hobby yang sama yaitu membaca buku. Dari orang-orang inilah maka terbentuk kelompok kecil yang sering melakukan diskusi bersama-sama dan Patrice termasuk pimpinan diantara mereka. Patrice terus melanjutkan hobbynya yang membaca buku itu.

Dia mengikuti dari surat kabar, majalah dan buku-buku tentang kondisi kekinian yang pada saat itu terjadi di seluruh dunia. Dia juga belajar sosiologi dan mulai belajar menulis. Pada awalnya dia belajar untuk membuat puisi tetapi puisi-puisi yang diciptakannya dirasa kurang mengena. Setelah itu dia juga menjalani profesi lain sebagai jurnalis yang kerjanya adalah menulis article dan membuat laporan berita kepada surat kabar local di Leopoldville.

Bagaimanapun juga karena tulisan-tulisannya Patrice mulai mendapat perhatian dari oloni rekan-rekan wartawan dan para pembaca setia. Kebetulan dari para pembaca setia surat kabar dan para pekerja yang berprofesi sebagai wartawan itu kebanyakan berasal dari lingkaran Katolik. Patrice muda dikenal sebagai orang yang mempunyai gaya penulisan berbeda dari para wartawan lainnya dan tulisan-tulisan yang dibuat sering kali kritis cara pandangnya. Sebagai salah satu contoh pada tahun 1948 Patrice menulis sebuah artikel yang berjudul “Mengapa beberapa orang kulit putih memperlakukan anjing peliharaannya lebih baik daripada pelayannya yang berkulit hitam?”. Tulisan Patrice menimbulkan kegemparan di kalangan kaum kolonialis tetapi di kalangan Rakyat Kongo mendapat sambutan yang hangat.

Setelah beberapa tahun Patrice tinggal di kota Kindu maka dia memutuskan untuk pindah ke sebuah kota besar yang mana dia menganggap bahwa di kota itu nantinya akan mendapatkan pekerjaan yang lebih besar dan mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Leopodville adalah kota yang dituju. Setelah beberapa waktu sampai disana Patrice memperoleh pekerjaan di kantor pos dan dia juga mulai melanjutkan pendidikannya. Ditahun itu juga Patrice berkenalan dengan seorang gadis cantik di kampusnya yang bernama Pauline Opanga dan tidak lama kemudian gadis tersebut dinikahinya.

Sesudah Patrice menyelesaikan sekolah pegawai pos-nya dia dipindahkan ke kota Stanleyville, yang merupakan ibukota propinsi Orientale. Dia diangkat menjadi manager kantor pos cabang desa Yangambi dekat Stanleyville.

Dikota Stanleyville ini pandangan dia sebagai seorang pejuang untuk kemerdekaan dan pembebasan Kongo semakin tampak. Dia dengan cepat mendapatkan dukungan, dikenal serta dihormati sebagai tokoh progresif di kota itu. Pada pemilihan ketua ANPBC (Association of Native Personnel of Belgian Congo) di kota Stanleyville Patrice terpilih menjadi ketua organisasi tersebut. Banyak teman-temannya datang ke tempat tinggalnya hanya sekedar berkunjung atau juga melakukan diskusi persoalan-persoalan politik terkini.

Beberapa tahun belakangan ini Patrice dan rekan-rekan sejawat lainnya melihat dengan jelas bentuk-bentuk halus kolonialisme modern di Congo yang bersembunyi dibalik kata-kata “peradaban”. Tetapi yang sesungguhnya terjadi adalah bukan pembangunan peradaban Rakyat Kongo melainkan perbudakan modern dari pemerintah kolonialisme Belgia terhadap Rakyat Kongo.

Kondisi-kondisi buruk, penghinaan dan eksploitasi dari kaum kolonialis asing menyebabkan Rakyat menjadi tidak tahan, karena tekanan yang bertubi-tubi tersebut timbul diantara sebagian masyarakat kesadaran untuk melakukan perlawanan guna membela hak-haknya yaitu Pembebasan Nasional Kongo dari kekuasaan kaum Kolonial Belgia.

Pada tahun 1945 setelah selesainya perang dunia ke 2 banyak terjadi pemogokan di Kongo. Salah satu diantaranya adalah pemogokan buruh pelabuhan di Matadi. Slogan-slogan anti Kolonial juga sudah dikumandangkan pada pemogokan-pemogokan besar dari para buruh tambang dan para pegawai kantoran yang terjadi tahun 1949-1950 di Leopodville. Tahun 1952 ditandai dengan kebangkitan gerakan Pembebasan Nasional di Kongo yang semakin besar sehingga mengguncang fondasi rezim Kolonial.

Kesadaran politik untuk Pembebasan Nasional diantara segenap Rakyat Kongo tumbuh dengan sangat cepat. Pada saat itu kesadaran untuk bebas dan merdeka umumnya memang tumbuh berkembang di benua Afrika. Hal itu menandakan mulai collapse-nya aturan Colonial di Afrika. Mitos yang berkembang selama ini mengenai peradaban barat yang akan membantu masyarakat Afrika primitive dan terbelakang menjadi masyarakat modern menjadi terpatahkan dengan kebangkitan Rakyat Afrika menentang Imperialisme dan Kolonialisme. Mitos-mitos tersebut adalah illusi belaka dan memang sering ditiupkan oleh kaum Kolonialis.

Selama berdekade-dekade kaum Kolonialis Belgia membangun mitos untuk menjadikan Kongo “koloni yang sangat baik” dimana terdapat “keharmonisan” antara penduduk asli dan kaum “penerang” Belgia serta kaum industrialist Eropa. Dan ini menjadi percontohan bagi daerah-daerah koloni yang lain di Afrika.

Sebagai perbandingan gaji yang diterima oleh pegawai orang Belgia selama 1 tahun berkisar sekitar 500 ribu francs, sedangkan gaji yang diterima oleh pegawai tinggi Kongo yang bekerja di pertambangan berkisar 15 ribu francs dan itu adalah penghasilan maksimal yang dapat diperoleh.

Keuntungan besar dari kaum colonial yang lainnya adalah penguasaan terhadap kekayaan sumber-sumber daya alam, seperti tambang. Ini mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Propaganda dari kaum Kolonial mengatakan bahwa hasil keuntungan dari pengusahaan dan penjualan hasil tambang tersebut akan dikembalikan kepada Rakyat Kongo dalam bentuk pembangunan infrastruktur kota dan desa serta membangun sekolah-sekolah. Tetapi kenyataan yang dapat dilihat dan dirasakan merupakan kebohongan besar, Rakyat Kongo hidup dibawah garis kemiskinan, sangat sedikit putra dan putri Kongo yang dapat mengenyam pendidikan, infrastruktur kota dan desa rusak parah kecuali beberapa tempat dikota besar yang mempunyai hubungan langsung dengan daerah pertambangan.

Terdapat 5 perusahaan monopoly besar yang dikelola oleh kaum Kolonial Belgia yang mengontrol 90 percent dari investasi di Kongo. Modal Belgia memainkan peranan yang dominan didalam ekonomi Kongo tetapi peranan kaum Imperialis Inggris dan Amerika juga tidak kalah besar karena mereka juga mempunyai share sebanyak 25 percent di perusahaan-perusahaan monopoly itu. Berarti lengkap sudah penderitaan Rakyat Kongo yang dijajah oleh para pengusaha kaya dari Belgia, Inggris dan Amerika. Penjajahan itu dibacking oleh pemerintahan Kolonial Belgia yang bersenjata lengkap.

O.P. Gilbert seorang penulis buku ternama dari Belgia pada tahun 1947 menulis sebuah buku yang berjudul “The Empire of Silence”. Buku ini hanya diterbitkan di Belgia tetapi sangat dilarang di Kongo. Diam-diam buku ini dibaca oleh kaum Progressive. Buku itu menggambarkan bagaimana kemurahan hati dan penindasan kaum Kolonial di Kongo. Tambang-tambang, pabrik-pabrik, perkebunan-perkebunan dan perusahaan-perusahaan komersial dimiliki oleh “Societe Generale” dan beberapa kartel.

Kartel-kartel itu tampak seperti negara dalam negara dan cabang-cabangnya di daerah seperti juga menyerupai negara. Untuk mengelola perusahaan-perusahaan itu mereka memiliki ribuan pekerja tehnik dan pekerja tambang kulit putih yang membawahi 10 ribu pekerja kulit hitam. Mereka mempunyai pasukan polisinya sendiri dan mempunyai alat propagandannya sendiri. Mereka membiayai segala urusan yang berbau dengan bisnis dan berada di semua penjuru wilayah Kongo serta memerintah bagaikan Tuan Besar. Mereka menentukan apa saja terutama nasib kaum Buruh.

Lumumba belajar banyak tentang arti modal, kekayaan dan kekuasaan dari buku tersebut. Dia mempunyai pengalaman bagaimana mendapatkan perlakukan yang bar-bar dan sewenang-wenang dari kaum Kolonialis yang menganggap bahwa ratusan ribu Rakyat pekerja itu seperti budak. Dengan semangat yang menggebu-gebu sebagai seorang pejuang Rakyat, Lumumba muncul sebagai seorang yang melawan aturan sewenang-wenang. Dia menghimbau Rakyatnya agar berperan aktif berjuang untuk mendapatkan hak-haknya sebagai manusia.

Pemerintahan colonial yang menyaksikan semakin berkembangnya pengaruh Lumumba menjadi cemas dan pada tahun 1956 tanpa alasan yang jelas Lumumba di tangkap serta dimasukkan kedalam penjara dengan vonis 18 bulan. Rakyat kota Stanleyville menunjukkan solidaritas yang tinggi atas penangkapan tersebut dan mengorganisasikan sebuah seruan untuk bersolidaritas atas perjuangan Lumumba dan kawan-kawan.

Setelah dia dibebaskan pada bulan Juni tahun 1957, Lumumba pindah menuju kota Leopodville, dimana dia mendapatkan pekerjaan di perusahaan minuman ringan dan bir. Pekerjaan ini memungkinkan Lumumba untuk bepergian ke luar kota atau daerah pinggiran kota. Lumumba banyak bertemu dan berbincang-bincang dengan orang-orang yang hidup dibawah garis kemiskinan. Situasi ini membuat Lumumba menjadi seorang orator yang ulung karena sering berpidato didepan Rakyat dan karena ini pula maka Lumumba semakin popular menjadi figure yang dikenal di kota Leopodville dan lingkungan sekitarnya.

Karena aktifitasnya ini membuat Lumumba menjadi seorang politikus dan menjadikannya sebagai ketua dari Federasi Batetela. Karena mewakili organisasi itu Lumumba datang menghadiri pertemuan partai Liberal. Tetapi aktifitas politik ini tidak juga memuaskan dirinya karena dia mempunyai satu tujuan yaitu penghilangan perbudakan di tanah Kongo dan dengan segera menuntut kemerdekaan negaranya. Kemerdekaan sejati dari Rakyat Kongo bebas dari penjajahan kaum Kolonialis Belgia.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu Lumumba berusaha mendirikan partai politik. Partai politik yang didirikannya itu merupakan partai Politik dari Rakyat Kongo bukan partai politik yang berdasarkan kesukuan, yang bercita-cita memperjuangkan kemerdekaan Negara Kongo.

Buat Rakyat Kongo ide partai seperti itu adalah sesuatu yang baru dan Revolusioner. Selain itu partai ini juga dibentuk untuk menandingi partai Abako yang dipimpin oleh Kasavubu. Partai Abako didirikan pada tahun 1950 dan basis pengikutnya berasal dari suku-suku tertentu. Partai yang seperti ini sangat didukung keberadaannya oleh pemerintahan Kolonial Belgia karena menjadikan Rakyat Kongo terbagi-bagi menjadi beberapa etnik yang berdasarkan kesukuan sehingga mudah di adu domba satu sama lain. Hal ini dilakukan agar terjadi perpecahan diantara Rakyat Kongo sehingga persatuan dan perjuangan Rakyat Kongo untuk Pembebasan Nasional dari kaum Kolonialis Belgia tidak akan pernah terwujud.

Karena idenya ini maka Lumumba semakin popular di mata Rakyat Kongo. Popularitasnya ini tidak hanya terbatas pada Negara Kongo tetapi juga mulai terdengar seantero benua Afrika. Sebagai contoh berikut ini adalah kutipan dari laporan luar negeri Inggris:

Lumumba seorang pekerja keras, dari fisiknya saja tampak seorang yang cerdas dan pemberani. Dia adalah seorang nasionalis sejati yang sangat anti kepada politik suku-isme dan wilayah-isme. Lumumba terlihat sebagai seorang politkus Kongo yang mempunyai keinginan dan ambisi untuk menyatukan Rakyat Kongo.

Tahun 1958 ditandai dengan semakin besarnya aktifitas Rakyat Kongo dalam dunia politik maka didirikanlah di Leopodville sebuah partai politik dengan nama Partai Nasional Kongo (CNM - Congo National Movement) yang dipimpin oleh Patrice Lumumba. Program politknya seperti yang ditetapkan pada tanggal 10 Oktober 1958 adalah menolak segala politik kesukuan dan politik wilyah serta bersama-sama dengan Rakyat Kongo menuntut penentuan nasib sendiri (self determination) oloni Kongo. Dan jika Kongo sudah merdeka dengan segera menyatukan segenap wilayah yang terpecah-pecah akibat politik suku dan wilayah itu.

Lumumba dan partai CNM tidak hanya membatasi perjuangan untuk menentang Kolonialisme pada wilayah Kongo tetapi juga menyuarakan gerakan anti Kolonial keseluruh penjuru Benua Afrika dan juga menggalang solidaritas Rakyat Afrika anti Imperialis. Karena solidaritas tersebut CNM juga membangun kontak dengan berbagai organisasi perlawanan Afrika yang lainnya. Pada bulan December 1958 Lumumba datang menghadiri Konferensi Rakyat Afrika di Accra dan pada acara tersebut Lumumba terpilih menjadi anggota komite Rakyat Afrika.

Terjadi kejadian yang dramatic sekembalinya Lumumba dari konferensi Rakyat Afrika di Accra. Pada tanggal 4 January 1959 ketika sedang melakukan perjalanan keliling di Leopodville untuk mensosialisasikan hasil-hasil keputusan konferensi maka pemerintahan Kolonial Belgia dengan segera melarang acara rally tersebut karena acara itu dianggap sebagai bagian dari gerakan Pembebasan Nasional. Tetapi himbauan dan larangan pemerintahan Kolonial itu tidak digubris, 15 ribu orang berbaris dengan rapih berpawai keliling kota dengan tujuan akhir berkumpul di Leopodville’s Victory Square untuk mendengarkan pidato Patrice Lumumba. Dibeberapa posisi strategis di dalam kota dijaga oleh ribuan aparat kepolisian dengan senjata lengkap. Keadaan semakin memanas dan akhirnya gesekan tidak dapat dihindari. Ketika barisan massa berusaha melewati daerah pusat kota yang dipasang barikade kawat berduri terdengar tembakan salvo dari aparat kepolisian yang berjaga-jaga, kekacauan mulai timbul karena dari tengah-tengah belasan ribu demonstran itu jatuh korban, puluhan orang tewas tertembak di tempat dan ribuan lagi bertahan diberbagai tempat melakukan perlawanan dengan menggunakan batu, bom Molotov, dsb.

Rakyat Kongo yang berada di kota Leopodville segera melakukan pembalasan atas penembakan brutal dari aparat kepolisian. Pos-pos polisi yang berada di pinggiran kota diserang, kantor-kantor dan toko-toko yang dimiliki oleh orang-orang Belgia dan Portugis di distrik Afrika dibakar. Pertempuran jalanan terjadi selama 3 hari 3 malam. Aktivitas bisnis terhenti selama aksi-aksi perlawanan itu. Spontanitas dari perlawanan massa itu menandai sebagai dimulainya gerakan perlawanan untuk kemerdekaan.

Karena besarnya perlawanan dan tekanan yang diberikan oleh Rakyat Kongo maka pemerintahan Kolonial Belgia memberikan beberapa konsesi. Pada tanggal 13 January, Raja Baudouin dari Belgia secara samar-samar memberikan janji Rakyat Kongo untuk kemerdekaan negerinya suatu hari kelak.
Lumumba dan rekan-rekannya yang lain langsung bekerja lebih keras dan giat lagi. Tuntutan dari perjuangan yang dilakukan oleh mereka sekarang adalahKEMERDEKAAN!!

Lumumba melakukan perjalanan ke distrik-distrik dan kota-kota, mengorganisasikan pertemuan-pertemuan dan melakukan pawai rally setelahnya. Selain itu dia juga mendirikan komite-komite distrik dan propinsi untuk partai CNM. Aktivitas Lumumba ini dinamakan “perjalanan menuju kemenangan”. Salah satu kota yang menjadi tujuan dari tour Lumumba adalah Elisabethville. Kota ini adalah basis terkuat dari Serikat Buruh kuning Miniere dan partai reaksioner pendukung pemerintahan Kolonial Belgia yaitu Partai Conakat yang dipimpin oleh Tshombe. Tetapi walaupun dalam kondisi yang mencekam pawai itu tetap dilakukan dan sukses dihadiri oleh ribuan penduduk kota.

Pada bulan April 1959, saat kongres pertemuan dari partai-partai politik Kongo, Lumumba kembali mengungkapkan cita-cita kemerdekaan Kongo. Dia menghimbau agar kongres segera melakukan persiapan dan finalisasi untuk kemerdekaan Kongo yang sedianya akan dilakukan pada tanggal 1 January 1961 serta membentuk pemerintahan dari Rakyat Kongo sendiri.

Kongres dari Partai Nasional Kongo dilakukan pada bulan Oktober 1959 di Stanleyville. Dengan dipimpin oleh Lumumba sendiri kongres menghasilkan resolusi untuk melakukan pertemuan antara wakil-wakil Rakyat Kongo dengan pemerintahan Kolonial Belgia dan dalam pertemuan itu nanti akan diserahkan petisi untuk menuntut kemerdekaan Kongo.

Karena melihat partisipan kongres itu dihadiri oleh ribuan Rakyat Kongo maka pemerintahan Kolonial Belgia melakukan aktifitas reaksioner dengan cara melakukan berbagai usaha provokasi. Pawai damai disekitar acara kongres disambut dengan tembakan yang brutal dari aparat kepolisian dan tentara Belgia. Puluhan orang tewas dan ratusan lagi terluka. Beberapa hari kemudian keluarlah surat penahanan dengan tuduhan “menghasut Rakyat Kongo” dan “mengganggu ketertiban umum” dari pemerintahan Kolonial Belgia untuk Lumumba dan beberapa orang rekannya. Setelah menerima surat tersebut Lumumba bersama beberapa orang rekannya langsung digiring ke penjara oleh polisi Belgia.

Tetapi tindakan represi yang dilakukan oleh kaum Kolonialis tidak menyurutkan semangat Rakyat Kongo untuk menuntut kemerdekaannya. Walaupun beberapa orang pimpinan mereka dijebloskan kedalam penjara tetapi hampir tiap hari terlihat aksi-aksi pawai massa dijalan yang menyuarakan kemerdekaan bagi Kongo dan juga tuntutan untuk dilepaskannya para tahanan politik.

Karena tekanan yang dilakukan oleh kaum progresif dan Rakyat Kongo semakin hari nampak kian membesar dan juga pertumbuhan dari organisasi-organisasi Rakyat dari seluruh penjuru negeri yang menuntut kemerdekaan juga semakin banyak maka pada akhir January 1960 pemerintahan Belgia menggagas sebuah pertemuan dengan nama “konferensi meja bundar”. Pertemuan tersebut dihadiri oleh para pemimpin politik “moderate” dari Rakyat Kongo dan wakil pemerintahan Belgia. Dalam pertemuan itu dibahas mengenai soal-soal yang menyangkut kemerdekaan Kongo dikemudian hari.

Tanggal 18 January 1960 secara diam-diam Lumumba dan beberapa orang rekannya dipindahkan secara diam-diam dengan tangan terborgol dari penjara di kota Stanleyville ke kota Jadotville yang merupakan kota industry di distrik Katanga dan menjadi basis utama dari Serikat Buruh Kuning Miniere. Dua hari setelah berada di Stanleyville sebetulnya ada usaha dari pemerintahan Kolonial Belgia untuk memberangkatkan Lumumba dan kawan-kawannya ke Belgia, tetapi usaha reaksioner ini ditolak dan segala upaya pemaksaan akan dilakukan perlawanan. Karena sikap yang tidak kooperatif ini maka kaum kolonialis membatalkan rencana tersebut. Dan setelahnya karena tidak ada bukti dari tuntutan yang diajukan oleh pemerintah Kolonial maka Lumumba dan kawan-kawan dibebaskan oleh pengadilan.

Pada “konferensi meja bundar” tersebut pemerintahan colonial Belgia sengaja hanya mengundang perwakilan dari kelompok moderate Rakyat Kongo dari 81 delegasi Kongo yang hadir, 22 diantaranya adalah perwakilan dari National Progress Party (NPP), yang mana setiap aktifitas politiknya dibiayai oleh pemerintahan Kolonial Belgia. Kaum Kolonialis berharap dapat mendikte keputusan yang dihasilkan oleh konferensi itu. Dan konferensi berakhir pada tanggal 30 Juni 1960 bertepatan dengan hari di proklamirkannya kemerdekaan Kongo.

Musim semi tahun 1960, Patrice Lumumba tengah sibuk mempersiapkan diri dan partainya untuk mengikuti pemilihan parlement yang dilakukan untuk pertama kalinya di Kongo. Pemilihan umum yang dilakukan pada tanggal 17-19 Mei 1960 menghasilkan kemenangan pada CNM. Partai yang dipimpin oleh Lumumba memperoleh 34 kursi di parlement. Setelah kemenangan yang dramatis itu maka CNM yang melakukan aliansi dengan Partai Solidaritas Afrika - African Solidarity Party (ASP) yang dipimpin oleh Antonie Gizenga, Partai Balubakat dan beberapa partai yang lain, menerima mandate untuk membentuk satu pemerintahan Rakyat Kongo dengan Patrice Lumumba terpilih menjadi Perdana Menteri. Dengan terpilihnya Patrice Lumumba sebagai Perdana Menteri berarti menandakan untuk pertama kalinya dalam sejarah, Rakyat Kongo memiliki pemerintahannya sendiri. Pada tanggal 30 Juni 1960 Patrice Lumumba membacakan proklamasi kemerdekaan Negara Kongo yang mana hal tersebut menandakan berakhirnya perbudakan colonial di tanah Kongo.

Berikut adalah cuplikan dari pidato kemerdekaan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Patrice Lumumba:

Men dan women of the Congo

Victorious independence fighters,

I salute you in the name of the Congolese Government. I ask all of you, my friends, who tirelessly fought in our ranks, to mark this June 30, 1960, as an illustrious date that will be ever engraved in your hearts, a date whose meaning you will proudly explain to your children, so that they in turn might relate to their grandchildren dan great-grandchildren the glorious history of our struggle for freedom.

“……………………The Congo independence is a decisive step towards the liberation of the whole African continent.

Our government, a government of national and popular unity, will serve its country.

“……………………Eternal glory to the fighters for national liberation!!

Long live independence and African unity!!

Long live the independent and sovereign Congo!!”

Setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan maka sambutan dari segenap anggota parlemen yang hadir sangat meriah. Di luar gedung parlemen puluhan ribu Rakyat Kongo berkumpul riang gembira menyambut pembacaan proklamasi kemerdekaan Kongo.

Pemerintahan Kolonial Belgia goyah dengan dibacakannya proklamasi kemerdekaan. Jika mereka tetap bertahan di Negara Kongo pasti terjadi banjir darah, Rakyat Kongo akan mempertahankan kemerdekaannya dan untuk itu siap melakukan perlawanan dalam bentuk apapun.

Tuntutan lain yang dibacakan oleh Parlemen Kongo setelah proklamasi kemerdekaan adalah penarikan semua pasukan dan polisi Belgia yang berada di seluruh wilayah Kongo, karena hanya dengan cara tersebut yang dapat memulihkan situasi keamanan yang selama ini goyah. Untuk mengawal proses peralihan pemegang kekuasaan dari pemerintahan Kolonial Belgia ke pemerintahan Rakyat Kongo akan dipanggil pasukan PBB untuk melakukan pengamanan.

Ditengah sambutan suka cita Rakyat Kongo karena kemerdekaan negerinya propinsi Katanga yang berada dibawah pengaruh Moise Tshombe melakukan pengumuman pemisahan diri dari Republik Kongo. Tshombe yang merupakan agen imperialis Belgia tidak menyetujui keputusan parlemen Kongo dan tengah bersiap-siap mempersenjatai diri dengan bantuan uang dari kaum Kolonial untuk menggagalkan semua daya upaya yang dilakukan Patrice Lumumba dan kawan-kawan. Tshombe ketika jaman pendudukan Belgia adalah seorang pengusaha besar yang mempunyai link bisnis dengan para pengusaha besar Belgia dan banyak perusahaan-perusahaan Belgia itu dipercayakan untuk dikelola oleh dirinya.

Negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Kongo adalah Uni Sovyet. Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan Kongo, Uni Sovyet membuka perwakilannya di Stanleyvile. Selain itu Uni Sovyet dengan segera memberi bantuan berupa makanan, obat-obatan, alat-alat transportasi berupa motor dan mobil, pengiriman dokter-dokter ahli, serta membantu mendidik Rakyat Pekerja Kongo agar dapat membangun infrastruktur berupa jalan, rumah, jalur kereta api, dsb. Semua itu menandakan tanda dimulainya persahabatan yang erat antara Rakyat Kongo dan Rakyat Uni Sovyet.

Didalam negeri dihembuskan isyu oleh agen Imperialis Tshombe bahwa Patrice Lumumba dan CNM adalah komunis. Dalam sebuah wawancara dengan Koran perancis “France-Soir” pada tanggal 22 Juli 1960 sang wartawan menanyakan sbb:

Tanya: beberapa lawan politik anda menyatakan bahwa anda adalah seorang komunis, bagaimana anda menjelaskan hal ini?

Jawab: ini adalah propaganda yang bertujuan untuk menjelekkan diri saya. Saya bukan seorang komunis. Kaum Kolonial berkampanye untuk melawan diri saya keseluruh negeri disebabkan karena saya adalah seorang revolusioner yang selalu konsisten menuntut kemerdekaan Negara Kongo dan menuntuk untuk digulingkannya rezim Kolonial Belgia. Rakyat Kongo menuntut kemerdekaan sebab pemerintahan Kolonial tidak menghargai martabat kemanusiaan. Kaum Kolonial memandang saya sebagai komunis karena saya menolak segala sogokan dari agen-agen imperialist!!

Sejak tanggal 16 July 1960 pasukan perdamaian PBB datang ke Kongo, sejak awal parlemen Kongo mengamanatkan bahwa segera dilakukannya penarikan pasukan, polisi dan petugas administrative Belgia di Kongo. Tetapi setelah beberapa waktu pasukan PBB datang ke Kongo tidak terlihat usaha-usaha dari pihak PBB dan pemerintahan Belgia untuk menarik mundur aparatnya keluar dari Kongo. Malahan yang terjadi terlihat dilapangan pasukan PBB itu justru memperkuat kekuasaan pemerintahan Kolonial Belgia. Komunikasi dan kordinasi pasukan PBB justru dilakukan bukan kepada pemerintahan Rakyat Kongo pimpinan Patrice Lumumba tetapi kepada kaum Kolonial dan kelompok agen
Imperialis Tshombe.

Dengan semakin kokohnya kekuasaan pasukan PBB di Katanga maka Tshombe yang bekerjasama dengan pemerintah Belgia mengadakan persiapan latihan militer untuk melawan pemerintahan yang syah di Leopodville. Pasukan PBB yang datang ke Kongo bukannya bersikap netral malahan berpihak kepada kaum pemberontak dan agen Imperialis Tshombe. Pemerintahan Kolonial Belgia juga mulai pindah ke Katanga. Tindakan represi yang brutal mulai dilakukan oleh para pengikut Tshombe kepada Rakyat Katanga yang dicurigai sebagai pendukung CNM. Tidak ada tindakan pengutukan dari pasukan dan perwakilan PBB akan berbagai aksi kekerasan yang dijalankan oleh para pengikut Tshombe.

Dunia Barat terdiam membisu melihat kejadian-kejadian brutal di Katanga. Pemerintahan Belgia, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dll sibuk di pertemuan PBB mengecam Patrice Lumumba dan kawan-kawanya sebagai orang-orang komunis yang merupakan Agen Uni Sovyet.

Pada bulan Agustus 1960 terjadi demonstrasi yang hebat di seluruh penjuru negeri untuk mengutuk peristiwa pembantaian di Katanga. Karena derasnya tekanan dari Rakyat Kongo maka Dewan Keamanan PBB berjanji akan mengusut tuntas pembantaian itu dan akan menyeret serta mengadili pihak-pihak yang bersalah.

Situasi yang bergejolak di seluruh Kongo ini berakhir anti klimaks dengan dikudetanya pemerintahan PM Patrice Lumumba pada tanggal 14 September oleh Kolonel Joseph Mobutu (yang nantinya dikenal dengan nama Mobutu Sese Seko, seorang dictator korup yang berkuasa di Kongo/Zaire sekitar 35 tahun) yang bekerjasama dengan Presiden Kasavubu dan menteri luar negeri Bamboko. Presiden Kasabuvu menyatakan bahwa PM Patrice Lumumba gagal dalam menjalankan pemerintahannya sehingga menurut undang-undang yang berlaku mandate harus dikembalikan kepada ketua parlemen yaitu Mr. Joseph Ileo.

Perdana Menteri Patrice Lumumba dan rekan seperjuangannya yaitu Mr. Okito - Wakil ketua parlemen dan Mr. Polo - Menteri Pemuda ditahan oleh tentara ANC (Army National Congo) yang dikepalai oleh Kolonel Joseph Mobutu. Lumumba dkk dibawah menuju sebuah kamp pengungsi Ghana yang dikontrol oleh tentara di Leopodville. Setelah tidak lama berada di kamp tersebut Lumumba dkk di serahkan kepada pasukan PBB. Oleh pasukan PBB Lumumba dkk dikenakan tahanan rumah.

Beberapa lamanya Lumumba, Mr. Polo dan Mr. Okito menjalani tahanan rumah. Sampai pada sekitar akhir bulan November 1961 Lumumba dkk berhasil melarikan diri, tetapi ketika dalam perjalanan menuju Stanleyville untuk bergabung bersama pasukan pemberontak yang melawan tentara ANC pimpinan Kolonel Joseph Mobutu, Lumumba dkk berhasil di tangkap oleh pasukan ANC dalam satu operasi militer di daerah Mweka. Menurut satu kesaksian sebelum ditangkap oleh tentara, Lumumba sehari sebelumnya masih terlihat berpidato di depan Rakyat Mweka. Setelah ditangkap maka Lumumba dkk dibawa ke Fort Francqui untuk selanjutnya diterbangkan dengan pesawat menuju Leopodville.

Pada tanggal 2 december 1960 jam 5.15 pm di Njili airport Lumumba dkk tiba dan langsung dibawa oleh tentara dengan pengawalan yang sangat ketat dengan tujuan yang tidak diketahui. Tanggal 3 December Lumumba dkk dipindahkan menuju kamp Hardy di Thysville. Setelah ditahan lebih dari sebulan dan menjalani siksaan yang sangat kejam Lumumba dkk pada tanggal 17 january 1961 dipindahkan ke Elizabethville, Katanga. Dan pada hari itu juga Patrice Lumumba, Mr. Okito dan Mr. Polo dihukum mati oleh tentara pimpinan Tshombe.

Sewaktu didalam penjara Thysville Patrice Lumumba masih sempat membuat surat untuk istrinya dan berhasil diselundupkan keluar penjara. Berikut adalah cuplikan surat tersebut:

My dear wife, I am writing these words to you, not knowing whether they will ever reach you, or whether I shall be alive when you read them.

Throught out my struggle for independence or our country I have never doubted the victory or our sacred cause, to which I and my comrades have dedicated all our lives.

“………….. I know and feel deep in my heart that sooner or later my peoples will rid themselves or their internal dan external enemies, that they will rise up as one in order to say “No” to colonialism, to brazen, dying colonialism, in order to win their dignity in clean land”.

“……… Without dignity there is no freedom, without justice there is no dignity and without independence there is no free men”.

“……… It will be the history that will be taught in the countries which have won freedom from colonialism and its puppets.

Africa will write its own history and in both north and south it will be history of glory and dignity.

Do not weep for me. I know that my tormented country will be able to defend its freedom and its independence.
Long live the Congo!

Long Live Africa!”

DAFTAR PUSTAKA

The Black Panther, Saturday January 16, 1970.
Patrice Lumumba – Fighter for Africa’s Freedom, Progress Publishers Moscow, 1963



0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda