Notification

×

Kategori Berita

Tags

Iklan

Tentang Cicero dan Tiro

Jumat, 31 Desember 2010 | Desember 31, 2010 WIB Last Updated 2012-01-07T23:06:52Z
Oleh : Eli Salomo pada 29 Juni 2009

Pada tahun 70an SM, di Negara Romawi Yang megah, dan ditengah-tengah peradaban perbudakan. Seorang pengacara muda yang namanya belum dikenal dijajaran pengacara-pengacara masa itu memutuskan untuk belajar lebih banyak lagi ilmu retorika dan filsafat. Untuk memastikan bahwa segala kebutuhannya dapat tersedia dan terlayani dengan sempurna maka Cicero, sang pengacara muda, membawa seorang budak milik keluarganya yang bernama Tiro.


Tugas si budak Tiro kira-kira adalah: mengatur perjalanan, menyewakan kendaraan, membayar guru, mempersiapakan kebutuhan makan, pakaian dll, dan pada tahun depannya akan dikembalikan ke tuan budak aslinya yaitu orang tua Cicero. 


Sebuah peristiwa besar terjadi pada Tiro di Athena, kota pertama dari perjalanan panjang perburuan ilmu sang tuannya. Ketika dia diperintahkan oleh sang tuan, Cicero, untuk mengikuti pelajaran diakademi filsafat terkenal di Athena tersebut, karena pada masa perbudakan maka hanya manusia merdekalah, keturunan tuan budak, yang punya hak untuk mendapatkan pendidikan apalagi pendidikan di akademi filsafat.


Kesempatan istimewa tersebut membuat Tiro dapat mendapatkan pengajaran langsung dari Antiochus dari Ascalon tentang Tiga Prinsip dasar Stoisme- bahwa budi pekerti itu cukup untuk memperoleh kebahagian, bahwa budi pekerti sajalah yang baik, dan bahwa emosi tidak dapat dipercaya. Meskipun sesungguhnya bagi Tiro ajaran Stoisme tersebut sangat berbeda dengan kenyataan hidup yang dialaminya selama ini, karena seakan-akan hanya para tuan budak lah yang mempunyai budi pekerti baik sehingga mereka dapat hidup bahagia, dan emosi para budak yang memberontak adalah sesuatu yang salah. 


Ops… bukan mau menceritakan panjang lebar tentang isi buku novel berjudul Imperium,karangan Robert Harris, tetapi hanya pengen mengambil sepenggal ceritanya, saat Tiro menanyakan kenapa dia harus mengikuti kelas akademi filsagfat tersebut, maka Cicero menjawab: “Aku ingin kamu masuk kesini bersamaku dan belajar sedikit filsafat, supaya aku punya teman bicara dalam perjalanan kita yang panjang.”


Ooo… Ternyata memberikan kesempatan bagi sang budak, Tiro, untuk Belajar filsafat adalah untuk melayani kebutuhan sang tuan budak dalam memperdalam dan mempertajam pengetahuan filsafatnya yang kemudian akan sangat berguna bagi karirnya sebagai pengacara handal.


Ops.. kok aku jadi marah dengan motif sang tuan budak? Kan seharusnya dia memberikan kesempatan belajar pada Tiro agar sang budak dapat lebih pintar dan dapat membebaskan dirinya dari perbudakan, hmm cepat-cepat aku menghapus anggapan mulia tersebut, kan tuan budak tidak bertugas untuk membebaskan budaknya dari kungkungan sistem perbudakan ya..? Ya.. itulah posisi tuan budak!


Hmm secara tidak sadar tanganku mengepal dan telunjukku dengan tegas menunjuk pada mereka yang: Menjadi Aktifis Mahasiswa, membela rakyat kecil yang digusur, mengadvokasi buruh yang di PHK, dan sederatan tindakan heroik lainnya atas nama rakyat kecil, hingga tiba saatnya untuk melakukan pilihan politik yang lebih menjanjikan masa depan yang cerah. Mereka yang Menjadi Pengacara Muda di LSM,membela rakyat kecil, hingga namanya terkenal sebagai pengacara yang berani dan berotak cerdas, lalu tibalah waktunya untuk menuai hasil sebagai pengacara professional yang akan dibayar mahal oleh klien, meskipun klien itu adalah pengusaha yang akan mem PHK buruhnya, pengusaha yang ingin menguasai tanah para petani, koruptor yang ingin bebas dari tuntutan hukum, penculik yang merasa menjalankan tugas negara, dll… Mereka yang Menjadi Aktivis LSM, Aktifis Serikat Buruh, lalu dengan gigih memperjuangkan hak kaum miskin kota yang digusur trantib, hak para buruh yang diperlakukan tidak adil oleh para pengusaha, hak warga yang lingkungannya dirusak oleh para pemilik modal, hak para TKI dan keluarganya yang dibohongi oleh PJTKI dan majikannya, dan banyak lagi tugas-tugas heroik yang telah dijalankan selama 4-5 tahun di LSM, hingga tibalah saatnya menuai hasil dari pengorbanan waktu dan tenaga tersebut menjadi Public Relation perusahaan yang dulu menjadi musuh rakyat yang dibelanya atau menjadi boneka manis partai-partai yang selama ini telah terbukti menjadi musuh rakyat yang dibelanya, dll…


Hmm jadi teringat pepatah yang sedang hot “Tidak ada Makan Siang yang Gratis”… ya memang tidak ada, Rakyat kecil, Kelas buruh Indonesia, Kelas Tani Indonesia, Kaum miskin kota telah bertahun-tahun dan telah jutaan orang yang telah seakan-akan mendapat pertolongan dari kaum terpelajar, aktivis, pengacara muda dll tetapi sebenarnya hanya menjadi alas kaki untuk mencapai tujuan sebenarnya.. Ya.. Sejatinya memang benar Pembebasan Kelas Pekerjada adalah karya dari kelas pekerja..


Wow tanganku semakin kuat mengepal dan telunjukku semakian liar menunjuk nama-nama yang terlintas dikepalaku, semakin lama semakin banyak dan semakin banyak… Pengen muntah rasanya…. Marah.. Dendam… Jijik… setumpuk kata-kata lainnya yang aku gak bisa tuliskan lagi… dan tiba-tiba Ops…. Satu Telunjukku yang terarah kebanyak nama yang terlintas dikepala maka Empat jari lainnya terarah tepat didadaku…. Semakin jari telunjukku kupertegas pada mereka maka semakin tegas juga Empat jari lainnya pada dadaku… Benarkah aku ingin kelas pekerja itu terbebas dari penghisapan dan penindasan kelas modal? Bukankah.. tugasku bukan untuk membebaskan mereka dari system saat ini, karena sebenarnya system ini menguntungkanku …. Argh…. Berapa banyak lagi Tiro yang akan menjadi alas kaki kesuksesan orang-orang dari kaumku ya..?
×