Kamis, 02 Desember 2010

Kamis, Desember 02, 2010
Maurice Sibelle

Salah satu hambatan terbesar untuk menyadarkan kelas pekerja tentang kemungkinan revolusi sosialis: kelas pekerja sudah terbuai/terpengaruh oleh impian dan janji-janji yang ditanamkan ke benak mereka dari hari ke hari oleh penguasa kapitalis. Pengaruh/impian tersebut demikian mendalam dan meluas di kalangan kelas pekerja. Pengaruh/impian tersebut misalnya: bahwa dengan/melalui lembaga-lembaga demokrasi borjuis, terutama parlemen, kelas pekerja dapat mempertahankan/memperjuangkan dan memajukan kepentingan-kepentingan atau tuntutan-tuntutan mereka.

Pengalaman sejarah menunjukan bahwa kaum sosialis tidak dapat menghancurkan pengaruh/impian tersebut, yang telah begitu tertanam dalam benak kelas pekerja, hanya dengan memblejeti/membongkar kepalsuan parlemen. Tetapi, sebaliknya, untuk meyakinkan massa kelas pekerja bahwa parlemen hanya lah merupakan alat kaum borjuis harus lah didukung oleh alasan-alasan atau argumen-argumen yang diambil dari pengalaman kelas pekerja sendiri. Atau, dengan kata lain, massa kelas pekerja harus lah mengalami sendiri praktek-praktek perjuangan dalam menuntut kepentingannya dihadapan parlemen, sehingga mereka dapat menguji atau melihat sendiri keterbatasan-keterbatasan (baca: ketidakmampuan) parlemen dalam memenuhi segala macam kepentingan yang ada dalam aktivitas kelas pekerja. Setelah kelas pekerja yakin akan ketidakmampuan parlemen borjuis dalam memenuhi kepentingannya, maka mereka akan memiliki keteguhan dalam menghancurkan sistim parlemen borjuis tersebut, sehingga akan ada upaya untuk menggantikannya dengan lembaga-lembaga politik benar-benar demokratik –yakni suatu dewan buruh (pusat) yang dipilih oleh kelas buruh sendiri dan (tentu saja dengan demikian) mewakili kelas buruh, seperti Dewan Perwakilan Buruh yang muncul pada revolusi 1905 dan (muncul lagi) pada tahun 1917.
Antara tahun 1912-1914 kaum Bolshevik, yang dipimpin oleh Vladimir Lenin, dapat memanfaatkan parlemen buatan T’sar –yakni apa yang disebut sebagai Duma– untuk membangun dan membangkitkan gerakan revolusioner kelas buruh. Pengalaman ini memberikan pelajaran yang sangat penting sehubungan dengan apa yang disebut dengan parlementarisme revolusioner, atau aktivitas parlementer revolusioner. Pengalaman tersebut merupakan periode yang sangat penting dalam sejarah partai Bolshevik. Apa yang dikerjakan dalam periode ini merupakan landasan bagi perubahan-perubahan yang terjadi begitu cepatnya pada tahun 1917, yang akhirnya mengantarkan kaum Bolshevik pada kemenangannya dalam Revolusi Oktober.


Pandangan Marx dan Engels tentang Parlementerisme
Keterlibatan/partisipasi kaum Bolshevik dalam pemilihan umum (pemilu) didasarkan atas tulisan Marx dan Engels yang merangkum/menyimpulkan pengalaman gerakan buruh revolusioner pada abad ke-19, terutama revolusi Perancis dan Jerman pada tahun 1848 serta Komune Paris pada tahun 1871.
Marx dan Engels tidak mempuyai impian/harapan bahwa kelas buruh dapat memenangkan kekuasaan politik melalui sistem parlemen. Setelah kegagalan revolusi demokrasi-borjuis pada tahun 1848 mereka menyimpulkan bahwa kelas buruh tidak boleh menyandarkan diri dan menggunakan (secara apa adanya, atau secara parasmanan) alat-alat/perangkat-perangkat negara kapitalis yang sudah tersedia guna memenuhi kepentingannya. Kelas buruh harus menghancurkan negara borjuis tersebut dan menggantikannya dengan miliknya sendiri. Melalui pengalaman pemberontakan revolusioner pada tahun 1871 di Paris, mereka sudah dapat melihat bentuk-bentuk dan struktur-struktur semacam apa yang diperlukan oleh suatu negara kelas buruh.
Dalam pidato yang pertemuan Dewan Umum Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (Internasional I), Mei 1871, yang kemudian dipublikasikan dalam The Civil war in France, Marx menyatakan:


Paris merupakan pusat kedudukan kekuasaan pemerintahan lama namun, pada saat yang sama, juga merupakan pusat kekuatan sosial kelas buruh Perancis. Di Paris ini lah meledak perlawanan bersenjata kelas buruh menentang upaya Thiers (presiden pemerintahan republik borjuis –Maurice Sibelle) dan Rurals (julukan bagi monarki yang didominasi parlemen Perancis –MS) untuk mengembalikan dan mempertahankan kekuasaaan pemerintahan lama, yang diwariskan kepada mereka oleh kerajaan (Oleh Napoleon III, Louis Napoleon Bonaparte, kemenakan Napoleon Bonaparte, dan merupakan kaisar Perancis dari tahun 1852-71 –MS). Kelas buruh bisa mempertahankan Paris dari serangan bergelombang (Paris diserang oleh tentara Prusia dalam perang Franco-Prussian pada tahun 1870-1871 –MS) hanya karena kelas buruh telah membubarkan tentara reguler kerajaan, dan kemudian digantikan oleh Garda Nasional yang sebagian besar anggotanya terdiri dari kelas buruh. Fakta tersebut menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi sudah bisa ditransformasikan menjadi sebuah kelembagaan. Oleh karenanya dekrit pertama Komune adalah tentang pembubaran tentara reguler kerajaan, yang digantikan oleh rakyat bersenjata.
Komune merupakan suatu bentuk pemerintahan dewan kotapraja, yang merupakan perwakilan dari berbagai kota, yang dipilih secara langsung, umum, bebas dan rahasia, dan yang bertanggungjawab serta dapat digantikan dalam waktu yang singkat. Mayoritas anggotanya sesungguhnya adalah kelas pekerja, atau apa yang dikenal sebagai perwakilan dari kelas buruh. Komune bukan merupakan suatu parlemen; komune adalah suatu organ kerja eksekutif dan, sekaligus, juga legislatif. Polisi, yang sebelumnya merupakan alat dari Pemerintah Pusat, dilucuti atribut-atribut politiknya, diubah menjadi beranggung jawab kepada komune, dan sewaktu-waktu dapat diganti oleh komune. Kini ia menjadi alat komune. Demikian juga perlakuan terhadap seluruh pejabat administrsi beserta cabang-cabangnya. Seluruh anggota komune, baik itu yang duduk di pemerintahan kotapraja maupun yang di bawahnya, bekerja untuk melayani kepentingan umum dengan standar upah kelas pekerja.
Komune Paris, tentu saja, bisa berfungsi sebagai model bagi semua pusat industri besar di Perancis. Begitu rejim komune bisa didirikan di Paris, maka pusat-pusat kekuasaan Pemerintahan lama lainnya di provinsi terpaksa harus memberikan jalan/kesempatan bagi berdirinya pemerintahan yang baru, pemerintahan yang dijalankan sendiri oleh kelas pekerja, kelas produsen yang sebenarnya. Bila dilihat garis besar (gambaran kasar) organisasi nasional komune, yang tak berhasil diwujudkan karena kekurangan waktu, jelas tercantum bahwa Komune merupakan bentuk politik perwakilan-perwakilan kota-kota, bahkan desa yang paling kecil/terpencil sekali pun, dan di distrik-distrik pedesaan tentara reguler dilucuti dan diganti oleh milisia nasional, yang waktu pengabdiannya sangat singkat. Komune pedesaaan di setiap distrik memilih/mengirim wakilnya ke pusat kota untuk menjadi anggota majelis distrik. Dan majelis dustrik ini lah yang akan menangani semua masalah bersama mereka. Majelis distrik ini kemudian memilih/mengirim wakilnya ke tingkat nasional untuk menjadi anggota Delegasi Nasional di Paris. Dan setiap delegasi setiap saat bisa digantikan dan terikat oleh mandat sementara (instruksi formal) yang diberikan oleh pemilihnya.

Mengomentari kesimpulan Marx tersebut, Lenin menulis dalam The State and Revolution:
Tentu saja,, jalan keluar dari sistem parlementer bukan hanya, menghilangkan institusi perwakilan dan prinsip Pemilu, tetapi merubah institusi perwakilan (parlemen) dari ‘talking shops’ menjadi ‘working bodies’ (badan pekerja) . “Commune harus merupakan badan pekerja eksekutif dan legislatif pada saat yang sama, dan bukan hanya sebagai parlemen”.
Badan pekerja, bukan parlemen” –ini merupakan ungkapan yang berasal dari kondisi parlemen saat ini dan “anjing piaran yang kecil” parlemen kaum sosial demokrat! Ambil contoh parlemen dibeberapa negara, seperti Amerika dan Swiss, dari perancis ke Inggris, Norwegia, dsb. — dinegara-negara ini urusan sesungguhnya dari “state” dilakukan dibelakang layar dan dilaksanakan oleh departemen-departemen, kedutaan dan staf umum. Parlemen diberi tugas untuk ngomong yang bertujuan untuk membodohi “Common People” atau “masyarakat umum”.
Komune menggantikan parlemen yang busuk dan penuh sogokan dari institusi masyarakat borjuis dimana kebebasan berpendapat dan diskusi tidak jatuh kedalam hal yang menyesatkan. Oleh karena itu parlemen itu sendiri harus melaksanakan hukum mereka, mereka harus menilai hasil capaian dalam realitas dan untuk menilai secara langsung kepentingan mereka. Institusi perwakilan masih ada, tetapi parlemen disini tidak sebagai sistim khusus, seperti pembagian kerja buruh antara legislatif dan eksekutif, sebagai kedudukan khusus bagi anggotanya. Kita tidak dapat membayangkan demokrasi tanpa institusi perwakilan–bahkan dalam demokrasi proletariat–. Tetapi kita dapat dan harus membayangkan demokrasi tanpa parlemen, jika kritik pada masyarakat borjuis bukan hanya sekedar kata-kata bagi kita, jika keinginan untuk menghancurkan aturan borjuis menjadi kebutuhan kita, dan bukan hanya sekedar ratapan “election” untuk mendapatkan suara pekerja– seperti yang dilakukan Manshevik–.

Ketika menjadi oposisi revolusioner dari parlemen, Marx dan Engels mendukung perluasan hak pilih universal bagi klas pekerja dan memanfaatkan pemilihan parlemen yang bertujuan untuk propaganda sosialis. Sebagai contoh dalam bulan Maret 1850 penyebaran propaganda diantara anggota Liga Komunis di Jerman, Marx dan Engels mengharapkan bahwa tugas mendesak dari revolusi anti feodal dinegara tersebut adalah pemilihan ‘majelis perwakilan nasional’. Di dalam keterbatasan semacam itu, Marx dan Engels berpendapat, Liga Komunis harus mencoba untuk melihat bahwa ” dimanapun calon buruh harus diposisikan sejajar dengan calon demokrat-borjuis, dan dalam pemilihan harus dipromosikan dengan segala alat”. Mereka meneruskan pendapatnya bahwa:
meskipun tidak ada harapan apakah mereka akan dipilih, buruh harus menentukan sendiri calonnya untuk menunjukkan ke independenan mereka, untuk mengukur kekuatan mereka dan untuk menunjukkan dimata umum sikap dan pandangan partai mereka yang revolusioner dan keberadaan partai. Dalam hubungan ini mereka harus tidak menenggelamkan dirinya untuk disogok dengan berbagai macam pendapat dari kaum Sosial Demokrat, sebagai contoh, dengan terpengaruh pendapat kaum Sosdem menyebabkan mereka pecah dengan partai demokrat dan memberikan reaksi yang memungkinan menggagalkan kemenangan mereka. Tujuan akhir dari tulisan tersebut diatas untuk kaum proletariat. Keuntungan yang diambil dari partai proletariat dengan sikap independendsi itu tentu saja lebih penting daripada kerugian yang mungkin diperoleh dengan kemunculan beberapa reaksi dalam dewan perwakilan.

Di tahun 1895, dalam kata pengantar “Class strugle in France” Engels menambahkan bahwa “ Manifesto Komunis telah menyatakan kemenangan hak suara universal dari demokrasi, sebagai langkah pertama dan tugas yang penting dari kaum proletar militan”.
Ketika hak suara universal dijalankan di Prusia oleh pemerintahan Bismarck di tahun 1866, “kaum pekerja kita harus segera mengambilnya dengan sungguh-sungguh dan pertama-tama mengirim August Beble, konstituante Reichstag”. Melalui semacam kampanye pemilihan sosialis, kaum Marxis Jerman dapat mentransformasikan/merubah hak parlemen “dari alat pembohongan yang telah terjadi sebelumnya, menjadi alat berpartisipasi”. Engels melanjutkan …….

Jika hak pilih universal tidak memberikan sebuah keuntunganpun hal itu akan memberikan keuntungan pada kita untuk menghitung jumlah anggota kita setiap tiga tahun, yaitu dengan penerbitan reguler,
Engels meneruskan bahwa propaganda pemilihan umum merupakan alat yang lebih efektif untuk perjuangan daripada petualangan revolusioner “yang dilakukan dengan kesadaran minoritas yang kecil dikepala mereka diantara massa yang tidak sadar”– seperti usaha-usaha kaum ultraleft yang dilakukan sekelompok kecil untuk merebut kekuasaan melalui perjuangan jalanan. Dia melihat partisipasi kaum sosialis dalam pemilihan umum sebagai ”salah satu senjata yang sangat tepat” untuk melawan intitusi negara dan membelejeti partai-partai lain pada massa; sebagai metode efektif untuk mengangkat kesadaran massa dengan ide partai; sebagai kerangka kerja yang berguna untuk mengekspresikan ide-ide partai dan menyerang komponen-komponen lain jika partai sukses memenangkan kursi; untuk menilai kekuatan dan dukungan massa pada partai; sebagai alat untuk membenarkan partai didepan massa dan meletakkan partai dalam posisi dimana usaha-usaha partai diluar hukum dapat dilakukan dengan lebih mudah. Hal ini terutama penting di Jerman dalam masa diberlakukannya hukum anti sosialis. Aktivitas terbuka partai — seperti kampanye dalam pemilu umum– merupakan senjata kekuasaan yang memungkinkan partai berjuang untuk memperoleh hak-nya sebagai partai yang eksis.

Bolshevik Dan Duma Tsar
Praktek yang paling sukses dari pendekatan revolusioner Marxist tentang parlemen dilakukan oleh Bolshevik. Pengalaman pertama dari Bolshevik dengan parlemen terjadi pada tahun 1905 ketika rejim Tsar menyerukan pemilihan Duma –nama Parlemen di Rusia.
Rejim Tsar merupakan monarki yang benar-benar absolut, dengan semua kekuasaan baik eksekutif maupun legislatif tersentral ditangan Tsar. Duma hanya merupakan bentuk konsesi dari revolusi yang muncul pada tahun 1905. Lebih-lebih, Duma ini kekuasaannya hanya merupakan badan penasehat, dipilih dengan hak suara yang benar-benar terbatas yang dapat menjamin kesetiaan pada tuan tanah yang merupakan mayoritas anggota.
Bolshevik dengan sukses mendukung boikot pada pemilihan Duma I. Pemilihan Duma I disapu oleh pemogokan umum pada Oktober 1905 dan pembentukan Wakil Buruh Soviet di St Petersburg. Soviet dibentuk oleh delegasi yang dipilih oleh majelis buruh untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan pemogokan umum. Lenin menggambarkan Soviet ini sebagai ‘embrio pemerintahan revolusioner sementara’.
Boikot Duma I merupakan taktik yanng berhasil karena kondisi revolusioner yang memungkinkan pada saat itu. Massa memobilisasi perjuangan bersenjata yang muncul melawan institusi rejim lama dan merupakan sebuah kesalahan untuk melanjutkan taktik parlemen dalam kondisi yang lebih stabil.
Pada tahun 1906 mulai terjadi penurunan revolusi, sebagian besar dikarenakan dengan kenyataan bahwa revolusi yang mucul masih terbatas pada pusat-pusat perkotaan dan belum menyebar luas pada masyarakat –seperti pada populasi petani di pedesaan– menyebabkan revolusi mudah disapu. Bolshevik salah memperhitungkan kenyataan ini, dan mengharapkan bangkitnya kembali gerakan massa revolusioner, Bolshevik kembali menyerukan boikot pemilihan Duma. Akhirnya boikot gagal dan Duma berhasil didirikan.
Segera setelah itu, pemerintahan Tsar merasa perlu untuk membubarkan Duma dan membangun Duma baru yang lebih royal. Pada awal 1907 pemerintah segera menyerukan Pemilu. Pada masa ini Bolshevik dan Menshevik bergabung dengan partai-partai radikal lain untuk mengajukan calon dalam Pemilu tersebut. Sejumlah anggota Bolshevik dipilih sebagai perwakilan.
Pada Juni 1907 Duma II dibubarkan dan perwakilan buruh ditangkap dan ditahan. Sejumlah anggota Bolshevik menyerukan boikot pada pemilihan Duma III. Lenin dan mayoritas anggota Bolshevik menolak boikot. Bolshevik segera memberikan beberapa nama anggota dan beberapa diantaranya terpilih. Duma III berakhir sampai pada tahun 1912, ketika diadakan seruan pemilihan Duma IV –Duma terakhir sebelum revolusi Februari 1917.

Kampanye pemilihan Duma IV
Keterlibatan Bolshevik dalam Duma IV ini memberikan pelajaran yang sangat berharga. Hal ini ditulis dalam sebuah buku oleh salah satu anggota fraksi Bolshevik di Duma –yaitu A.Badayev– yag diterbitkan di tahun 1929 dengan judul The Bolshevik in the Tsarist Duma. Buku ini memberika sumber utama diskusi Bolshevik tentang taktik pemilihan.
Bolshevik memutuskan untuk mecalonkan beberapa kandidat dalam pemilihan Duma IV meskipun kenyataannya bahwa Duma III patuh pada kebijakan-kebijakan yang dijalankan oleh Tsar. Bolshevik lebih berhati-hati ketika memutuskan untuk terlibat dalam pemilihan kali ini. Mereka tidak mempunyai harapan pada parlemen ini. Dalam majalah mereka, Pravda, ditulis seperti berikut ini:

Keseluruhan kegiatan Duma negara diarahkan pada kepentingan klas dari mayoritas anggotanya. Oleh karena itu dalam lima tahun dari Duma ‘efektif’ tidak dapat memberikan sebuah solusi dari sejumlah persoalan yang merupakan persoalan penting negara. Segala usaha yang dilakukan oleh partai kiri, untuk menggambarkan aspek negatif dalam kehidupann di Rusia dan untuk mennggambarkan kepada mereka perhatian pada negara dibuat frustasi oleh suara-suara dari mayoritas yang dominan …

Hukum Pemilu diarahkan bagi kepentingan Black Hundreds, kelompok yang mendukung monarki, kekuatan pro-Tuan Tanah di Duma. Tak dapat disangkal lagi bahwa kegiatan Duma IV akan diarahkan untuk menindas buruh.
Meskipun ada anggapan ini Bolshevik memutuskan untuk mengambil bagian aktif dalam pemilihan Duma. Pengalaman mengajarkan Bolshevik bahwa pemilihan Duma dapat dimanfaatkan untuk melakukan propaganda. Fraksi Duma menjadi pusat pengorganisiran bagi partai Rusia dan kerja-kerja yang dilakukan diluar Duma merupakan hal yang sangat diperlukan untuk meningkatkan partai pada periode tersebut.
Pada tahu 1911 Lenin menganggap bahwa kampanye pemilihan Duma IV menjadi pusat propaganda offensif partai. Ia menulis:

Pemilihan Duma IV dilaksakan pada tahun berikutnya. Pertamakali Partai sosial demokrat harus menyatakan kampanye pemilihan ini … Propaganda yang intensif, agitasi, dan organisasi yang merupakan aturan pada saat itu, dan pemilihan yang akan datang memberikan kewajaran, sesuatu yang tak dapat dielakan, ‘dalih’ topik bagi kerja-kerja.
Keseriusan yang dilakukan oleh Bolshevik dalam kampanye Pemilu dapat digambarkan dalam kalimat berikut di dalam buku Badayev yang berjudul The Bolshevik in the Tsarist Duma:
Komite Pusat menggabungkan secara khusus pentingnya Pemilu di St Petersburg dan kemudian menginstruksikan organisasi di St Petersburg untuk memperluas kerja-kerjanya seluas mungkin dan memobilisasi seluruh kekuatan partai untuk kampanye Pemilu. Komite St Petersburg menyusun sebuah komisi untuk mengawasi Pemilu, dan daerah pemilihan di kota dialokasikan pada anggotanya..

Ia kemudian melanjutkan dengan detail, keterlibatan beberapa anggota, dari pemimpin partai, sampai anggota di pabrik.
Kampanye pemilihan Duma merupakan pusat kehidupan partai bagi Bolshevik. Hal itu terutama terjadi karena kerja kampanye merupakan kerja-kerja legal yang terbuka bagi Bolshevik. Tentu saja, calon Bolshevik, tidak dapat secara terbuka menyatakan dirinya sebagai sosialis. Secara umum, mereka menyatakan dirinya sebagai ‘kaum demokrat yang konsisten’.
Pada saat ini perpecahan antara Bolshevik dan Menshevik belum terjadi secara formal. Ketika kedua fraksi bekerja secara terpisah, mereka dilihat oleh massa sebagai anggota partai yag satu, Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia. ….
Oleh karena itu, melalui kerja-kerja kampanye, Bolshevik dapat menarik perbedaan garis revolusioner mereka dan pendekatan reformist yang dilakukan oleh Menshevik.

Platform Pemilihan Bolshevik dan Menshevik
Lenin menjelaskan tentang arti petingnya kerangka kerja pemilu –yang tidak dibuat khusus pada masa-masa pemilu, tetapi tumbuh dari program umum partai dan posisi partai yang tumbuh melalui pengalaman pada tahun-tahu sebelumnya. Ia menulis:


Sering kali sangat bermanfaat, dan bahkan kadang-kadang merupakan sangat esensial, untuk memberikan sentuhan akhir dari kerangka kerja Pemilu Sosial Demokrat dengan menambahkan slogan umum yang singkat, semboyan untuk memilih, membicarakan isu utama dalam kehidupan praktek politik yang terjadi, dan memberikan sebuah keyakinan dan dalih …, sebagai sebuah persoalan, untuk propaganda sosialis secara keseluruhan. Dalam pendapat kami hanya tiga poin berikut ini dapat disusun menjadi semboyan, slogan umum itu ialah: (1) republik, (2) penyitaan (pengambilalihan) tanah negara, dan (3) delapan jam kerja.

Tuntutan ini dihubungkan dengan keputusan konferensi Prague pada tahun 1912 dari RSDLP. Sisa program partai dijadikan propaganda dan dihubungkan dengan ketiga slogan diatas.
Tiga slogan ini merumuskan tuntutan utama dari buruh dan petani Rusia. Delapan hari kerja merupakan tuntutan langsung dari perjuangan ekonomi klas buruh. Tuntuan penyitaan tanah dari tuan tanah negara menawarkan solusi revolusioner mengenai problem agraria.
Slogan Republik muncul secara langsung dari persoalan kekuasaan politik. Slogan ini menggambarkan pandangan bahwa tidak ada cara dari klas buruh untuk meningkatkan kesejahteraannya dibawah bentuk pemerintahan yang ada. Republik hanya akan menjadi kenyataan di Rusia melalui revolusi menghancurkan rejim Tsar.
Kemudian Bolshevik menghubungkan keseluruhan tuntutan yang lain dan kebijakan yang muncul dalam kampanye pemilu dengan pemikiran bahwa perubahan fundamental dalam tatanan politik memang diperlukan; yaitu keinginan massa hanya dapat dipenuhi melalui perubahan radikal dari kekuasaan negara.

Di sisi lain, program kampanye Menshevik, berputar isu tentang dua tuntutan: (1) kedaulatan perwakilan anggota dan (2) revisi peraturan agraria. Dua tuntutan ini merupakan penyesuaian taktik untuk kerja-kerja legal mereka yang dijalankan dalam Duma. Sistem Pemilu dibuat sedemikian curang untuk menghasilkan Duma yang anggotanya mayoritas mengabdi pada kapitalis dan tuan tanah. Oleh karena itu kepentingan para buruh dan petani tidak dapat dipenuhi oleh Duma. Dengan kata lain kerangka kerja Menshevik menyatakan bahwa sistem ini dapat menghasilkan hasilnya, daripada, sistem ini perlu diganti untuk menghasilkan hasil ini.
Bolshevik tidak tertarik untuk memberikan ilusi kepada massanya bahwa keinginan mereka dapat dipenuhi melalui sistem parlemen. Mereka menganggap kampenye pemilihan parlemen sebagai kesempatan untuk melakukan agitasi dan propaganda, sebagai salah satu alat mengorganisir massa untuk aksi menolak pemerintahan yang ada.

Sikap Bolshevik untuk melakukan aliansi
Sikap Bolshevik terhadap partai lain juga sangat jelas. Resolusi konferensi yang diadakan pada bulan januari 1912 menyatakan:

partai harus terus melakukan peperangan tanpa ampun terhadap otokrasi Tsar dan Partai Tuan Tanah dan kaum kapitalis yang mendukung Tsar, dan pada saat yang sama terus menerus mengekspose pandangan kontra revolusi dan demokrasi palsu dari kaum borjuis liberal (dalam anggapan mereka Partai Kadet). Perhatian khusus harus diberikan pada kampanye pemilu untuk menjaga independensi partai proletariat dari pengaruh semua partai non-proletariat, untuk membongkar sifat dasar borjuis kecil tentang pseudo-socialism dari kelompok demokrasi (terutama Trudoviks, Narodniks, dan kaum sosialis-revolusioner), dan untuk mengekspose kesalahan kerja yang mengakibatkan demokrasi dengan kebimbangan mereka mengenai persoalan perjuangan massa revolusioner.
Pada saat yang sama, Bolshevik melakukan persiapan untuk melakukan aliansi Pemilu dengan partai borjuis kecil demokratik seperti Socialist Revolusioner dan bahkan dengan borjuis liberal melawan partai monarki, tetapi tetap menjaga kebebasan mereka untuk melakukann kritik terhadap kawan aliansi. Pada tahun 1920 dalam pamflet “Left-Wing” Communism -An Infantile Disorder, Lenin kembali menyatakan bahwa:
Sebelum kejatuhan Tsar, Sosial Demokrat Revolusioner Rusia berulangkali melayani kepentingan borjuis liberal, sebagai contoh, mereka banyak menandatangani praktek kompromis dengan melalui surat … sementara pada saat yang sama mampu secara terus menerus memerangi ideologi dan perjuangan politik melawan borjuis liberal dan melawan …..pengaruh dalam gerakan klas buruh. Bolshevik selalu setia dengan kebijakan ini. Sejak tahun 1905 mereka secara sistematis telah mendukung aliansi antara klas buruh dan petani, dan sekali-kali tidak pernah menolak untuk mendukung borjuis melawan Tsar (terutama, selama masa periode kedua Pemilu, atau selama Pemilu II) dan tidak pernah menyerah pada kelemahan ideologi mereka, dan perjuangan politik kaum Sosialis-Revolusioner, partai petani borjuis revolusioner, menyatakan mereka sebagai borjuis kecil demokrat yang secara salah menggambarkan dirinya sebagai kaum sosialis. Selama masa pemilihan Duma pada tahun 1907, Bolsevik masuk dalam blok politik formal dengan kaum Sosialis-Revolusioner.
Tujuan dari aliansi Pemilu ini, sebagai keseluruhan taktik kaum Bolshevik, seperti yang dijelaskan Lenin ‘untuk mengangkat’ –bukan merendahkan– tingkat kesadaran klas proletariat umumnya, spirit revolusi, dan kemampuan untuk berjuang dan untuk menang”. Lenin melanjutkan catatannya bahwa:
Kaum borjuis kecil demokrat (termasuk Menshevik) tidak bisa menghindarkan dirinya dalam kondisi yang terombang-ambing antara kaum Borjuis dan proletariat, antara demokrasi borjuis dan sistem Soviet, antara kaum reformis dan revolusioner… taktik kaum komunis yang benar harus konsisten dengan memanfaatkan kebimbangan ini, bukan mengabaikan mereka; memanfaatkan seruan mereka untuk memberi kelonggaran-kelonggaran pada elemen yang berubah menjadi proletariat –sebagai tambahan untuk berjuang bagi mereka yang berubah kearah borjuis.

Pendidikan, training, dan pengorganisiran yang dilakukan dalam klas buruh dengan kelompok-kelompok aliansi untuk memenangkan perjuangan massa revolusioner merebut kekuasaan merupakan taktik Bolshevik dalam pemilu.
Sebaliknya, posisi Menshevik adalah merebut Duma dari tangan kaum reaksioner dengan jalan mendapatkan kursi yang lebih banyak bagi kelompok borjuis liberal. Mereka percaya bahwa perjuangan dalam kampanye Pemilu merupakkan posisi ditengah-tengah antara kaum reaksioner dan blok liberal, dimana seharusnya mereka harus berada pada kelompok kiri. Posisi yang diambil Menshevik pada saat itu kalau disamakan dengan kondisi saat ini dilakukan oleh mereka yang percaya bahwa mensubordinasikan kerja-kerja dalam rangka Pemilu untuk mendukung Partai Buruh Borjuis Liberal melawan koalisi partai konservatif.

Sistem Pemilu
Sistem Pemilihan Duma merupakan sistem Pemilu yang benar-benar tidak demokratis. Perwakilan ditekankan untuk memastikan bahwa Duma yang simpatik dengan pemerintahan Tsar harus dipilih. Hanya ada enam (6) diluar dari 442 anggota Duma yang dipilih dari pusat klas-buruh. Meskipun dalam sebuah wilayah dimana ada campuran pemilih yang berasal dari latar belakang klas-sosial yang berbeda, hanya mereka yang membayar pajak untuk memilih dapat memiliki hak untuk memilih, dengan cara demikian mayoritas buruh tidak dapat memiliki hak memilih. Pendaftaran pemilih dilakukan oleh Polisi yang menyeleksi orang radikal. Didalam persoalan hak pilih dari klas buruh, adalah hanya mereka yang sudah bekerja selama enam bulan dalam pabrik tertentu dapat memiliki hak suara. Panitia Pemilihan Umum bisa menolak calon yang tidak mereka sukai.
Proses para pemilih di dalam klas buruh melibatkan pemilihan wakil dari pertemuan berdasarkan pabrik (curias) yang kemudian memberikan suaranya bagi orang yang punya hak suara, mereka yang kemudian membentuk electoral college yang memilih anggota Duma. Proses ini penuh dengan manipulasi. Pemilihan dilakukan selama sehari atau dua hari. Calon dapat didiskualifikasi tanpa … Manager pabrik melaksanakan pemilihan di tempat kerja.
Dalam situasi demikian, kaum Bolshevik dipaksa utuk melakukan pertemuan rahasia. Pertemuan rahasia dilakukan di hutan untuk mendiskusikan calon mereka.

Dalam pertemua ini, Bolshevik menyusun sebauh sistematika kampanye dan menyusun semua tingkatan proses pemilihan. Mereka menolak calon non-party. “Calon non-partai merupakan orang yang tidak mempunyai keyakinan dan oleh karena itu akan mudah terombang-ambing dalam jalan yang salah,” demikian mereka menjelaskan. Kepentingan klas buruh dapat diwakilkan oleh anggota dari partai yang posisinya sudah dikenal dan yang akann mampu mengkontrol perwakilan anggota.

Kaum Menshevik berpendapat untuk menyatukan tiket yang diserahkan pada kaum Sosial-Demokrat. Mereka berpendapat bahwa calon yang diambil oleh kaum Sosial-Demokrat harus dipilih dengan dasar kemampuan personal mereka. Tetapi berbeda dengan Bolshevik, mereka berpedapat bahwa calon harus dipilih berdasarkan pada agenda (program) politik mereka; untuk menyatukan kedua pendapat tersebut terjadi perdebatan yang tajam yang pada akhirnya buruh dapat memilih perwakilannya yang mewakili pandangan politik mayoritas.
Siapapun yang terlibat dalam diskusi dengan Greens dan Demokrat mengenai pemilu mungkin akan mengetahu panndangan Menshevik. Menokohkan seseorang dengan high-profile dari calon anggota merupakan persoalan yanng penting bagi mereka dibandingkan dengan program yang dibawa dari calon tersebut.

Kampanye Pemilu dan Aksi Massa
Kaum Bolshevik memanfaatkan segala kesempatan dalam kampanye Pemilu untuk memobilisasi massa dan melibatkan massa dalam kampanye. Tema kampanye massa berdebat sekitar pertanyaan-pertanyaan yang sangat panas pada saat itu. Penguasa melakukan segala sesuatu untuk menghambat pemilu. Badayev menggambarkan hal itu sbb:
Suasana dimana Pemilu diadakan dan tergesa-gesa melakukan ‘diskualifikasi’ perwakilan dari setengah pabrik-pabrik dan perusahaan memunculkan …. St Petersburg. Pemerintah bertindak terlalu jauh. Para buruh menjawab dengan gerakan protes yang sangat kuat.

Pabrik Putilov merupakan pabrik yang pertamakali mogok. Pada hari Pemilu, 5 Oktober, daripada kembali ke pabrik setelah makan siang, para buruh lebih suka berkumpul di tempat mereka kerja dan meyatakan diri untuk mogok. Seluruh buruh pabrik keluar –hampir 14.000 buruh. Jam 3 pagi beribu buruh meninggalkan pabrik dan berjalan kearah pinti gerbang Narvsky menyanyikan lagu-lagu revolusi, tetapi mereka dibubarkan oleh polisi. Pemogokan menyebar luas ke galangan kapal Nevsky, dimana 6500 buruh mengorganisir pertemuan dan demonstrasi politik. Mereka bergabung dengan buruh dari Pale dan Maxwell will, buruh Aexeyev, dsb-nya. Hari berikutnya buruh Erikson, Lessner, Heisler, Vulcan, Duflon, Phoenix, Cheshire, Lebedev, dan pabrik lain bergabung.

Pemogokan segera menyebar luas ke seluruh St Petersburg. Pemogokan tidak hanya terjadi di pabrik-pabrik dimana perwakilan anggotanya dibatalkan, tetapi pebrik-pebrik lain juga terlibat. Pertemuan-pertemuan dan demonstrasi-demonstrasi diorganisir. Beberapa pabrik mengkaitkan protest mereka dengan hambatan pembentukan serikat buruh yang dengan itu menolak penghapusan hak-hak buruh untuk ikut Pemilu. Seluruh isu pemogokan merupakan isu politik; tidak ada satupun isu ekonomis. Dalam sepuluh hari lebih dari 70.000 buruh terlibat dalam pemogokan. Para buruh dengan jelas menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerahkan hak suara mereka dan bahwa mereka sadar apa artinya Pemilu bagi mereka dan kerja-kerja semacam apa yang harus dilakukan wakil-wakil mereka di Duma nantinya.
Gerakan pemogokan terus berlanjut sampai pemerintah dapat dipaksa (diyakinkan) bahwa buruh tidak dapat dipisahkan dari hak untuk terlibat dalam Pemilu dan pemerintah dipaksa untuk mengumumkan bahwa Pemilihan Umum yang baru akan dilaksanakan tanpa kecurangan. Beberapa pabrik dan perusahaan yang sebelumnya belum terlibat dalam pemilihan anggota dimasukan dalam daftar wilayah pemilihan. Selanjutnya, pemilihan anggota harus dibatalkan dan pemilihan baru diadakan setelah ada penambahan delegasi yang dipilih. Ini merupakan kemenangan terbesar bagi klas buruh dan terutama kaum proletaroiat di St Petersburg, yang telah menunjukan kesadaran revolusioner sedemikian besar.

Pada pertemuan di Curia Bolshevik memberikan daftar instruksi pada wakil mereka yang terpilih apa yang harus didiskusikan dan disuarakan. Instruksi membicarakan cara untuk melibatkan pemilih untuk mendiskusikan aturan perwakilan terpilih dan memberikan mereka mandat untuk kerja-kerja mereka. Instruksi Bolshevik menyerukan anggotanya untuk memanfaatkan Duma supaya mengkampanyekan tuntutan buruh dan bukan bertindak sebagai legislatif. Mereka mengikat perwakilannya pada kerangka kerja Bolshevik.

Persoalan itulah yang merubah Menshevik dan Bolshevik merupakan satu-satunya partai politik yang menunjukan wakil buruh (daerah pemilihan). Proses klarifikasi tersebut diikuti dengan kemenangan Bolshevik yang merupakan kemenangan penting Bolshevik dalam memenangkan mayoritas suara buruh satu tahun kemudian ketika secara resmi Bolshevik dan Menshevik pecah menjadi dua partai yang terpisah.
Permulaan kampanye pemilu Bolshevik diidentikan dengan publikasi dari penerbitan legal pertama Bolshevik, Pravda, terbitan dengan empat halaman yang terbit setiap hari. Pravda menjadi alat prinsip untuk mempublikasikan kampanye dan mempopulerkan kerangka kerja pemilihan umum dari partai.

Peredaran terbitan meningkat sekitar 40.000 perhari hanya di St Petersburg. Pravda menjadi alat penting dimana buruh bisa mendapat innformasi mengenai aktifitas wakil-wakil mereka. Pravda menjadi media utama bagi buruh untuk mengetahui pidato-pidato wakil mereka.
Hanya sejumlah kecil media borjuis yang meliput aktifitas Boshevik. Bolshevik menyadari ini dan Lenin memonitor perkembangan Pravda dari dekat seolah-olah ia melakukann sendiri kampanye Pemilu.

Enam diluar 442 anggota yang dipilih dalam Duma IV adalah anggota Bolshevik. Hasil akhir dari pemilihan partai-partai di Duma adalah: 65 rights, 120 nasionalis dan hak moderate, 98 kaum Oktobris, 48 progresif, 59 Kadet (Demokrat Konstitusional), 21 kelompok nasional, 10 Trudoviks (kaum intelektual, seperti Sosialis Revolusioner), 14 Sosial demokrat dan 7 Independen. Fraksi sosial demokrat kemudian dibagi lagi menjadi 6 Bolshevik, 7 Menshevik dan 1 wakil non-partai.

Perpecahan dalam Fraksi RSDLP
Menshevik dan Bolshevik terlibat dalam konflik sejak saat-saat sidang parlemen. Perdebatan terjadi pada persoalan mengenai hak dari anggota Polish. Sikap politiknya ditentang oleh RSDLP tetapi ia menyesuaiakan dirinya dengan Menshevik. Tekanan meningkat dalam fraksi dan menajam saat Bolshevik menarik dari keanggotaan majalah Menshevik, Luch. Menshevik memanfaatkan jumlah anggotanya dalam fraksi untuk memblokade juru bicara Bolshevik di Duma dan didalam komite, dan hal itu memaksa Bolshevik untuk lepas/pecah dari fraksi.
Jumlah anggota Menshevik dalam fraksi Sosial-Demokrat tidak memberikan reaksi dukungan mereka di negara. Pemilu yang memberi kesempatan kepada suatu partai untuk melakukan kecurangan memberikan makna bahwa anggota Menshevik hanya mewakili 246.000 orang, sementara Bolshevik mewakili 1 Juta.
Setelah terjadi perpecahan perdebatan mulai meluas diantara buruh. Bolshevik melakukan kampanye melawan Menshevik. Bolshevik menetapan batas-batasan, melakukan perdebatan dengan Menshevik dipabrik-pabrik dan menulis artikel di Pravda. Badayev memperkirakan bahwa mereka memenangkan dukungan sekitar 75% sampai 90% diantara buruh. Bolshevik memenangkan mayoritas kursi sejumlah 14 diantara 18 kursi dalam union boards.
Resolusi dukungan ke Bolshevik mengalir dari seluruh pelosok negeri. Bolshevik merupakan pilihan pasti dari buruh.

Aksi Massa dan Kerja Parlemen
Kemenangan Bolshevik merupakan hasil dari usaha-usaha mereka yang konsisten untuk menghubungkan kerja mereka di Duma dengan aksi massa untuk mendukung perjuangan klas pekerja. Bedayev menulis: “Tidak ada satu pabrikpun atau tempat-tempat kerja, bahkan yang lebih kecil, dimana Aku tidak dapat dihubungkan dengan beberapa cara atau yang lainnya.”
Kekebalan relatif yang dimiliki oleh anggota parlemen dari tindakan polisi memberikan kesempatan kepada perwakilan pekerja untuk menjalankan aktifitas yang relatif terbuka. Mereka mengunjungi pabrik dan menerima delegasi dari pekerja. Mereka mengunjungi area klas-pekerja, berbicara dengan buruh, mengumpulkan informasi, dan menjalankan tugas internal partai.
Mulai hari pertama Duma dibuka, Bolshevik menggunakan setiap kesempatan untuk memobilisasi massa. Dalam seminggu 60.000 pekerja, seperempat populasi pekerja di St Petersburg melakukan mogok melawan perlakuan sembrono dari palayar yang dituduh bersekongkol melakukan persiapan pemberontakan. Seperempat juta klas buruh bergabung dalam protes di seluruh Rusia.

Badayev menggambarkan persitiwa demi peristiwa dimana buruh melakukan pemogokan dan malakukan protest jalanan untuk memenangkan tuntutan mereka. Isunya bermacam-macam dan beraneka ragam. Ledakan didalam pabrik mesiu, usaha-usaha untuk memotong jam kerja, larangan bekerja dari pabrik-pabrik yang tidak produktif, bahkan perlakuan yang tidak adil dari atasan mereka merupakan alasan yang cukup bagi buruh untuk melakukan aksi. Wakil Bolshevik di Duma secara aktif mengkampanyekan dukungan mereka pada pemogokan-pemogokan dan aksi protes. Mereka memanfaatkan kekebalan parlemen untuk melakukan investigasi pada persoalan-persoalan di pabrik. Mereka bernegosiasi dengan pemerintah atas nama buruh, selalu melaporkan kembali ke buruh hasil dari diskusi mereka. Mereka mengorganisasikan dana pemogokan dan mengkoleksi diseluruh negeri.
Pravda merupakan alat central dari kerja-kerja ini. Paper itu memuat artikel-artikel tentang perjuangan. Kedekatan hubungan dengan buruh menyebabkan Bolshevik memanfaatkan Duma dalam cara revolusioner.

Fraksi Duma dan Partai .
Melalui partisipasi aktif mereka dalam perjuangan kaum buruh anggota fraksi Bolshevik di Duma mendapatkan respon positif dari buruh. Mereka menduduki posisi yang tepat dalam kerja-kerja Semi Legal partai. Tanggungjawab utama mereka bukan kerja-kerja Legislatif tetapi menjalankan sejumlah aktifitas buruh yang merupakan aktifitas legal dari partai revolusioner yang berjalan dalam kondisi Ilegal. Mereka membantu menyusun kesalahan passports , menyusun konferensi, menggali dana dan menerbitkan majalah-majalah.
Badayef diberi tugas untuk menerbitkan koran. Keseluruhan perjuangan mereka ditulis di Pravda. Anggota editorial menjadi sentral aktifitas pergerakan. Perwakilan di Duma harus melakukan kunjungan kepada pemilih mereka, bukan hanya untuk berkonsultasi dengan buruh tetapi untuk memfasilitasi pertumbuhan partai dan cabang-cabangnya .Fraksi itu sendiri menjadi pusat penggorganisasian bagi Partai Bolshevik.

Dalam segala sesuatu mereka bertindak dibawah instruksi langsung dari pemimpin Partai. Ada beberapa pertemuan antara wakil Bolshevik dan Komite Pusat Partai. Badayef melukiskan hasil salah satu kunjungan tersebut sebgai berikut ;

Kami kembali dari Krawkow, persenjataan dengan instruksi praktek kongkrit. Kebijaksanaan umum tersebut dijalankan oleh 6 anggota Bolshevik yang merupakan gambaran jelas dan juga detail seperti kepada siapa mereka harus berbicara mengenai berbagai pertanyaan, materi harus disiapkan terlebih dahulu, tugas mendesak yang harus dilakukan diluar Duma. Yang akan datang seperti yang kami lakukan dari keseluruhan lingkungan yang komplex dan menjengkelkan, hal ini langsung merubah ide-ide para pemimpin anggota partai dan diatas semua itu Lenin merupakan figur yang sangat penting bagi kami .

Lenin mengirim pertanyaan-pertanyaan dengan detail kepada seluruh anggota Duma. Ia menulis beberapa pidato yang harus dibacakan di Duma. Sebagai anggota fraksi di parlemen ada tekanan tertentu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan Parlemen. Lenin mendesak mereka untuk mengambil posisi yang lebih keras pada beberapa persoalan, khususnya menyangkut perang yang pecah pada tahun 1914.

Fraksi Bolshevik merupakan satu contoh yang penting dari fraksi Parlemen Revolusioner. Beberapa tahun kemudian ditemukan bahwa pemimpin anggota Bolshevik ternyata seorang agen polisi. Disiplin didalam fraksi merupakan hal yang sangat bagus ketika Roman Malinovsky, seorang agen polisi, menjadi salah satu juru bicara terbaik dari Bolshevik di Duma. Ketika Perang Dunia antara imperialis pecah pada tahun 1914 Bolshevik merupakan satu dari beberapa Partai Sosial Demokrat yang menentang perang itu. Anggota Bolshevik di Duma menolak mendukung kepemerintah terhadap persoalan perang, mengutuk perang imperialis dan melakukan walk-out dari Parlemen. Mereka kemudian ditahan setelah mekakukan Konferensi yang menjelaskan sikap mereka. Mereka dihukum dengan kerja keras di Siberia. Penangkapan tersebut memprovokasi munculnya demonstrasi, dan memberikan kesempatan Bolshevik untuk menjelaskan kepada Massa tentang ketidaksetujuan mereka tentang perang.
Oposisi terbuka mereka terhadap persoalan perang membuat Rejim Tsar mempunyai alasan untuk mengawasi ketat Bolshevik. Dengan anggota fraksi Parlemen yang di penjara dan koran partai yang diambil alih oleh Rejim Tsar Bolshevik tidak dapat mengkampanyekan gerakan anti perang dalam skala luas. Dibawah serangan propaganda patriotik yang terus menerus dari Rejim Tsar dan borjuis Liberal menyebabkan mood massa berubah dari menolak perang menjadi mendukung perang.


Bagaimanapun juga, kerugian yang diakibatkan oleh pecahnya perang mengakibatkan meningkatnya ketidakpuasan sosial pada tahun 1916, akhirnya meletus pemberontakan pada Februari 1917 yang menyapu bersih monarkhi dan parlemen –diganti dual power yang ditunjuk sendiri oleh Pemerintahan Sementara yang didominasi oleh partai Kadet Borjuis-Liberal disatu sisi, dan disisi lain musuh mereka yaitu Soviet of Worker’s and Soldiers Deputies, yang awalnya didominasi oleh kaum Demokrat Borjuis-kecil — Menshevik dan partai SR.

Sehubungan dengan masa pergolakan pada tahun 1917 pengaruh Bolshevik secara perlahan dikalahkan oleh kaum demokrat borjuis kecil dalam barisan kaum buruh, kemudian diantara tentara petani. Mereka menang secara mayoritas di St Petersburg dan Soviet Moscow setelah mereka memimpin perlawanan massa melawan usaha kudeta dari Jendral Kurnilov yang dilakukan pada september 1917, dan atas dasar tersebut mayoritas mendukung mereka memimpin insureksi pada 7 November 1917 (dalam kalender Tsar tanggal 25 Oktober) mengalihkan All Power to Soviet pada Konggres II Seluruh Rusia.

Keterlibatan Bolshevik dalam pemilu pada periode 1912-1914 merupakan aspek yang sangat penting dalam keberhasilan revolusi Oktober 1917. Keterlibatan mereka dalam kampanye pemilu, keterlibatan mereka dalam Duma dan dalam pidato-pidato politik mereka, yang dikombinasikan dengan kerja-kerja mereka dalam pabrik dan lingkungan sekitarnya memungkinkan mereka membangun basis dalam klas pekerja. Ketika pemimpin Bolshevik kembali setelah februari 1917, beberapa basis klas pekerja yang telah mereka bangun sebelum perang masih tetap eksis. Hal ini menyebabkan sepanjang tahun 1917 organisasi Bolshevik dari jumlah anggota inti revolusioner profesional yang relatif kecil, dengan 20.000 anggota, menjadi partai massa aksi revolusi, dengan 240.000 anggota pada saat Revolusi Oktober.

Pelajaran dari pengalaman Bolshevik
Pengalaman Bolshevik dalam Duma Tsar pada tahun 1912-1914 memberikan pelajaran-pelajaran berharga bagi gerakan sosialis saat ini. Bolsheviks memperlihatkan bahwa pemilihan parlemen dan parlemen dapat dijadikan ajang sebagai revolusi sosialis dengan kesempatan yang sangat penting untuk kerja-kerja politik legal; bahwa parlemen dapat dimanfaatkan oleh kaum revolusioner sebagai alat untuk mencapai dan mendekatkan dirinya dengan klas buruh; yaitu dapat dipakai untuk memerangi pengaruh liberalisme didalam klas pekerja (termasuk …); bahwa itu dapat dipakai untuk mengorganisir dan memobilisasi klas buruh dan melakukan alinasi untuk perjuangan revolusioner merebut kekuasaan politik. Pengalaman Bolshevik memperlihatkan bahwa revolusi dapat memanfaatkan parlemen sebagai kerangka kerja aktifitas revolusioner, tanpa melakukan korupsi dan mengambil tanggung jawab terhadap reaksi pemerintah dan kebijaksanaannya; bahwa kerja-kerja parlemen dapat memainkan peranan sentral didalam keseluruhan scope aktifitas partai. Lenin tidak melihat kerja-kerja pemilu didalam periode meningginya radikalisasi sebagai aktifitas pinggiran dan sambilan. Ini bukan merupakan tanggung jawab rutin tetapi tanggung jawab pusat partai, membutuhkan mobilisasi kekuasaan yang sangat besar, inspirasi politik, dan perhatian yang sangat besar dan detail.

Kampanye pemilihan Sosialis dapat digunakan untuk menggambarkan Massa didalam aktifitas extra parlemen. Seruan untuk melakukan boikot pemilihan parlemen, sebagai sebuah taktik yang sah, harus dipakai secara hati-hati . Seperti resolusi dalam Partai Komunis dan Parlemen yang diambil dalam konggres kedua dari Komunis Internasional yang kedua, yang diadakan pada tahun 1920, menjelaskan: ‘Boikot dalam pemilihan Parlemen, atau mengabaikan Parlemen adalah dimungkinkan, terutama ketika kondisi transisi dari perjuangan bersenjata segera dilakukan,” seperti ketika Massa sudah siap untuk mendukung insureksi bersenjata untuk menghancurkan sistim Parlemen.

Partisipasi yang dilakukan kaum revolusioner didalam Pemilihan Parlemen adalah dimungkinkan karena hal itu memberikan kerangka kerja perjuangan untuk menghancurkan ilusi parlemen secara lebih efektif daripada sekedar mencela Parlemen dari luar Parlemen.

Kaum Bolshevik memperlihatkan bahwa perwakilan Parlemen, dalam rangka menjaga garis prinsip mereka dan untuk mengefektifkan, harus disubordinasikan kedalam partai sebagai kesatuan. Perwakilan parlemen Sosial-Demokratik Eropa Barat sudah mengambil prinsip mereka mengenai kerja-kerja palemen. Mereka mendukung perang Imperialis, berlawanan dengan resolusi sebelumnya yang diambil dalam kongres partai mereka. Mereka menyesuaikan diri dengan kapitalisme. Mereka mulai melihat parlemen sebagai alat untuk memenangkan reformasi legislatif didalam ‘kepentingan kelas buruh‘ dan menguntungkan karir Parlementer mereka sendiri .

Tentu saja, hal ini merupakan hasil dari berkembangnya kapitalisme di Eropa Barat yang relatip damai dan: ‘ledakan’ panjang dari 1893 – 1913 . Kampanye parlemen tidak dapat lagi dilihat sebagai bagian dari perjuangan Massa melawan kapitalisme. Kampanye Pemilu harus dilihat sebagai alat memenangkan reformasi gradual didalam kerangka kerja sistim kapitalis.

Semantara disisi lain sikap Bolshevik terhadap parlemen berdasarkan premis bahwa Parlemen Bourjuis dengan cara bagaimanapun juga tidak dapat dipakai sebagai arena perjuangan reformasi, atau untuk meningkatkan jumlah klas buruh. Arti penting dari memenangkan reformasi adalah memobilisasi Massa klas buruh — seperti pemogokan kemudian rally jalanan, pengambil alihan pabrik dan sebagainya. Kerja Parlementer hanya dapat dibantu dengan strategi aksi Massa ini.

Bolshevik masih berkeyakinan terhadap pelajaran yang digambarkan oleh Marx dan Engel dari pengalaman revolusi abad 19, menolak Parlemen, sebagai bentuk negara; mereka memahami bahwa hanya bentuk negara yang berdasarkan organ sentralis demokratis dari kekuasaan Buruh seperti pengalaman Comune Paris pada tahun 1871 atau Soviet pada tahun 1905, yang dapat memenuhi kebutuhan dari klas buruh. Mereka menolak kemungkinan memenangkan perjuangan lewat parlemen; dan mereka memahami hanya satu kemungkinan untuk berbicara mengenai pemanfaatan intitusi negara kapitalis dengan persoalan penghancuran Parlemen.

Dalam resolusi, mereka menyatakan dengan jelas bahwa metode utama dari perjuangan klas buruh melawan aturan kapitalis adalah dengan menggunakan metode aksi Massa; meskipun penting, taktik parlemen merupakan pelengkap dan subordinat. Mereka menjalankan kampanye pemilu yang bukan merupakan tugas utama untuk memporoleh suara tetapi membangun –melalui propaganda, agitasi dan organisasi– aksi anti kapitalis yang melibatkan bukan hanya calon dan pemimpin partai tetapi juga Massa klas buruh. Yaitu, mereka memanfaatkan kampanye pemilu berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sistim Parlemen selama ini –untuk menarik Massa kedalam aktifitas politik bukan melarang mereka terlibat didalamnya.

Inilah pelajaran positif pengalaman Bolshevik dalam memanfaatkan Parlemen untuk revolusi, dan pelajaran yang mereka peroleh dari opurtunis Parlemen dari kaum reformis Sosial-Demokrat Eropa Barat, tesis yang disusun ini diambil dalam Konggres II Komunis Internasional pada tahun 1920 dalam The Communist Parties and Parliamentarism.

Dalam pampletnya tentang taktik Marxist – “Left-Wing” Communism: An Infantile Disorder ( yang ditulis dan disebarkan untuk delegasi pada masa konggres Komintern II), Lenin menjelaskan bahwa didalam negara kapitalis maju, seperti Australia “massa buruh yang terbelakang dan –bahkan dalam tingkat yang lebih besar– sebagian kecil petani lebih banyak dipengaruhi oleh demokrasi Bourjuis dan prasangka Parlemen dibandingkan dengan mereka yang ada di Rusia; oleh karena itu, hanya melalui dari dalam semacam institusi Parlemen Bourjuis kaum Komunis dapat ( dan harus ) wage along dan perjuangan yang konsisten , tak gentar oleh kesukaran, untuk mengekspose, menghilangkan dan mengatasi prasangka ini”.

Hal ini masih merupakan tugas utama untuk mengkomfrontir kaum Sosialis Revelusioner di Australia pada saat ini. Belajar dari pengalaman aktifitas parlemen dari kaum Bolshevik dapat memberikan pelajaran yang berharga bagi kita dalam membimbing kita melakukan tanggung jawab tersebut.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar anda