Kamis, 02 Desember 2010

Kamis, Desember 02, 2010
Komoditi

Seksi I
Dua faktor komoditi : nilai pakai dan nilai

Sebuah sistim kapitalis punya dua wajah. Pertama, ia, suatu sistim produksi komoditi, dimana barang diproduksi dengan kontrol oleh sikapitalis yang mempekerjakan para pekerja. Marx hanya mengupas aspek pertama pada tahap awal bahasanya. Hal pekerja dan sang kapitalis ini baru terdapat dibeberapa bab kemudian.Uang, juga ditempatkan dilatar belakang pada mulanya. Takaran ditampilkan seakan-akan suatu barang ditukarkan secara langsung dengan barang lainnya.
Sebuah komiditi dijelaskan sebagai suatu yang dipertukan dengan atau komoditi lainnya. Semua komoditi punya nilai-pakai, yang memenuhi sejumlah keinginan dan kebutuhan, langsung atau tidak . Sipat kebutuhan itu, pada tahap ini belum relevan dibahas. Disini tidak dipersoalkan penilaian yang bersipat moral. Senjata misalnya adalah pemenuhan kebutuhan masyarakat yang perang dan maka itu mengandung nilai-nilai dan seterusnya.
Perbedaan antar nilai-pakai dan nilai tukar adalah serangkaian perbedaan yang pertama-tama di kaji marx dengan teliti dalam Das kapital ; perbedaan dari aspek-aspek kehidupan manusia yang berlaku umum bagi semua bentuk masyarakat dan perbedaan-perbedaan yang spesifik bagi jenis masyarakat tertentu . Semua masyrakat, penghasil, nilai pakai tertentu yang lainnya, karena manusia butuh makanan, tempat bernaung dan sebagainya.yang harus dipenuhi. Lembaga pertukaran karenanya hanya terdapat pada sejumlah masyarakat dimana komoditi dihasilkan. Tanpa pewrtukaran , tentu tak ada nilai tukar. Semua komoditi mestilah mengandung nilai pakai. Ada banyak barang punya nilai pakai, namun tidak dapat ditukarkan dengan barang lain. Karenanya ia bukan komiditi.
Pertukaran menciptakan hubungan kwantitatif dengan berbagai hubungan komiditi. X unit suatu komiditi dapat ditukarkan dengan y unit komoditi lainnya. Untuk memungkinkan adanya perbandingan kwantitatif mengenai hal ini, Marx menegaskan bahwa kedua komoditi ini mestilah mengandung sejumlah subtansi yang sama bukan merupakan suatu (property) yang bersipat fisik, seperti berat, sebab sesuatu yang bersipat fisik bersangkut paut dengan nilai-pakai komoditi, maka subtansi yang sama dari produk itu adalah hanya produk dari kerja-kerja adalah subtansi dari nilai, seharusnya dibenarkan oleh bagaimana ia dipergunakan marx didalam sistimnya secara keseluruhan.


(I) Berikutnya marx membahas betapa pentingnya nilai itu. Seberapa banyak nilai yang dimiliki oleh suatu komoditi ? katanya, nilai suatu komoditi tergantung pada banyaknya jumlah kerja sosial yang diperlukan yang tercakup oleh komoditi itu. Dan itu adalah lama kerja yang diminta untuk memproduksi komoditi itu, di dalam syarat-syarat kerja yang normal untuk menghasilkannya dan dengan taraf rata-rata keterampilan serta intensitas yang lazim masa itu` (hal nilai sesuatu barang tertentu tidak tergantung pada seberapa waktu kerja dibutuhkan dan berada pada barang tersebut, tetapi tergantung pada lamanya waktu kerja yang secara sosial dibutuhkan nilai itu, dan bersipat soaial, bukan induvidual. Pekerja yang lamban menghasilkan kurang dari pekerja yang cepat..` nilai` adalah istilah yang sepenuhnya bersipat tehnis, tanpa kandungan etika apapun. Manakala sebuah bom dan sebuah lukisan di produksi dengan jumlah kerja sosial yang sama, maka kedua barang itu akan bernilai sama. Disini tidak ada penegasan bahwa kedua barang itu secara moral sama-sama tidak dikehendaki. Marx, tidak secara kebetulan menerangkan bagaimana nilai sesuatu komiditi yang diproduksi bersama-sama dengan komoditi lainnya seperti wol dengan daging domba yang diproduksi melalaui memebesarkan domba. Seberapa banyak kerja yang akan diperuntukkan bagi menghasilkan wol dan seberapa pula untuk dagingn domba ?.


Seksi II
WATAK RANGKAP KERJA YANG DIKANDUNG KOMODITI


Beda antara nilai pakai dan nilai tukar kini dapat dilihat melalui perbedaan antara dua aspek kerja : kerja berguna dan kerja abstrak..kerja berguna adalah kerja yang menghasilkan nilai pakai. Itu adalah keharusan alamiah yang abadi yang ditimpakan pada semua masyarakat (hal-42-43). Sebegitu banyak ragam nilai-pakai yang dihasilkan, sebegitu banyak pula ragam kerja berguna dilibatkan untuk memproduksi barang-barang itu. Didalam masyarakat penghasil komoditi terdapat pembagian kerja yang rumit diantara orang-orang yang melakukan bermacam-macam pekerjaan yang saling mempertukarkan produk mereka. Tanpa pembagian kerja tidak akan ada produksi atau pertukaran komiditi. Karena satu-satunya titik pertukaran adalah memperdagangkan satu komiditi dengan komoditi lainnya, maka kerja berguna dapat , pada dasarnya berlangsung lestari tanpa sesuatu pembagian kerja (robinson crusoe with no man Friday).
Dan pembagian kerja dapat terjadi dan ada tanpa mempertukarkan produksi dipasar (didalam masyarakat yang hanya mencukupi kebutuhannya sendiri, misalnya ) ada sebuah ungkapan marx mengenai ` pembagian kerja sosial` yaitu : pembagian kerja sosial antara produsen yang merdeka . Mereka menjual produksi mereka dikalangan mereka sendiri sebagai hal yang ditentang mereka sendiri., sepertinya ia berlaku dikalangan keluarga,, pabrik atau suku primitif. Dan marx juga menunjukkan bahwa alam sebagaimana juga tenaga kerja haruslah ada untuk memproduksi nilai pakai. Dan tidak ada kesan yang mengatakan bahwa tenaga kerja adalah sumber daya yang tidak berbantuan bagi kesejahteraan Dalam arti nilai pakai seumumnya.
Bagaimanapun , didalam masyarakat penghasil komoditi, berbagai bentuk kerja berguna mempunyai kesamaan-kesamaan sehingga mereka menghasilkan nilai tukar. Sepanjang tenaga kerja itu menghasilkan nilai, ia dinamakan kerja abstrak , ` biaya dari otak, syaraf, dan otot-otot…. Kerja manusia seumumunyan`, tidak soal nilai pakai apa yang dihasilkannya. ( ia harus menghasilkan nilai pakai apa saja, karena komoditi tidak akan punya nilai-tukar tanpa adanya nilai pakai).
Kerja trampil atau ahli adalah sebuah masalah. Marx membantah bahwa kerja ahli dapat dihitung sebagai berlipat kali kerja sederhana, sehingga kerja ahli dapat dihitung sebagai dua kali kerja sederhana, suatu kerja abstrak.masalah kunci disini adalah apakah yang menentukan maka sejumlah jam kerja sederhana , sama dengan jam kerja trampil atau jam kerja ahli. Marx lalu menegaskan bahwa penyamaan bukanlah masalah. Karena ia selalu ia begitu, `melalui suatu proses sosial yang berlangsung dibelakang panggung atau produsen` (hal. 44) lewat pertukaran barang hasil kerja trampil dan tidak. ( upah disini, sudah tentu belum menjadi persoalan). Alasan atau sebab-sebabnya merupakansebuah lingkaran (nilai ditentukan oleh isi atau jumlah tenaga kerja, sedangkan ekwipalen jumlah kerja , dihitung dari pemantauan nilai tukar). Pandangan ini telah pernah menjadi sasaran kritik.
3) Nilai dari suatu komiditi tidaklah tetap untuk sepanjang waktu atau inheren dengan dengan ada didalam komoditi itu sendiri. Manakala produktivitas kerja meningkat, untuk memproduksi sesuatu pobyek, maka kerja yang ia butuhkan menjadi berkurang. Karena itu, nilainya jatuh. Dengan kata lain, nilai yang diciptakan oleh sesuatu jam dari rata-rata kerja, adalah selalu sama, walaupun jumlah nilai yang dihasilkan pada jam itu dapat berubah


Konsepsi nilai yang digelar disini tidak begitu jelas . Apakah sungguh nyata ( dalam sejumlah arti) apa yang diutarakan marx sebagai penemuannya itu? Ataukah ia telah menyimpang dengan cermat, kebanding para pendahulunya ? ataukah ia sebagai konsepsi ( yang ia temukan dan jelaskan) untuk menjelaskan dan menganalisa kapitalisme ? kita dapat membaca teks bukunya dengan salah satu cara.
Didalam setiap masalah, marx tidak menegaskan bahwa barang, sesungguhnya dipertukarkan dalam ratio yang berimbang, sesuai dengan nilai-nilainya yang relatip. Jika, katakanlah, segantung gandum dan sebuah mantel berisi sejumlah kerja sosial yang diperlukan, sama adanya. Karena itu, maka ia tidak dipertukarkan satu lawan satu didalam prakteknya. Didalam bagian-bagian teoritis dari dua jilid pertama, marx secara tersendiri menganggap bahwa harga adalah berimbang dengan nilainya. Dan sebagai penyederhanaan dan didalam jilid bagian dua , ia menerangkan lebih lanjut bagaimana harga-harga dihubungkan dengan nilai. Didalam dua jilid pertama, hal itu dibahas sesempatnya, bersipat agak tidak formal. Disini marx mempersoalkan masalah penyimpangan dari ratoi harga pasar dari ratio nilai.


Seksi III
BENTUK NILAI ATAU NILAI TUKAR


Berikutnya Marx membicarakan cara nilai itu menyatakan dirinya kedalam nilai-nilai tukar komoditi. Ia mulai dengan ekwivalensi sederhana dua komoditi dan mengmbangkannya sampai pada ungkapan nilai didalam terminologi harga uang. Kesulitan besar dalam membaca bagian ini melihat betapa repotnya itu.Mengapa maka Marx memberi perhatiaan begitu hebat atas masalah ini ? itu mungkin disebabkan ia merasa berkewajiban untuk menguraikan semua prosudurnya secara menyeluruh karena pencariannya bagi `suatu standar yang tak bermacam-macam` dari nilai. Hal, yang sangat diperhatikan para ahli ekonomi saat itu, yang sebahagian besar kini telah dilupakan orang karena sesunggiuhnya masalah itu lebih sederhana dari pada yang dilihat marx dan generasinya.
Dan adalah penting juga untuk mengingat bahwa setiap harga yang benar-benar menyeleweng dari nilainya , akan ditentang disini. Marx selanjutnya terlibat dengan masalah kwalitatif , yang menyangkut masalah nilai-nilai tukar apa dan dengan unit-unit barang apa ia ditakar. Namun ia tidak memperhatikan masalah kwantitatif , yaitu seberapa banyak suatu barang diperdagangkan dibanding lainnya.
Pertama-tama Marx mengabil kesamaan dari nilai dua komoditi (20 yar linen sama dengan satu baju jas). Kemudian ia memperbedakan bentuk relatif dari nilai relatif dari linen dengan yang lainnya , disamping persamaan relatifnya. Disini jas sebagai suatu unit ukuran dari nilai. Barang-barang itu dapat dipertukarkan ( satu jas sama dengan 20 yar linen).
Kerja, sebagai subtansi nilai tidak tampil pada kedua barang itu, karena pertukaran adalah selalu menyangkut pertukaran dari suatu komoditi dengan yang lain . Maka itu nilai komoditi dapat diamati dengan istilah-istilah sebagai pencatat hubungannya dengan niali-nilai komoditi lain. Nilai linen pada jas dapat berubah karena nilai linen itu sendiri berubah. Atau karena nilai jas berubah, atau karena kedua-duanya berubah.
Menjelang akhir bahasannya mengenai bentuk elementer nilai adalah bentuk frimitif juga, ketika mana produk kerja tampil secara historis sebagai komoditi (hal 16). Penjelasan marx mengenai ini disusun didalam tatanan yang dibimbing oleh logoikaa dan teori. Tapi dalam hal perkembangan sejaraah, pada beberapa kasusnya (hanya beberapa), ia tampak cenderung untuk melihatnya dalam tatanan yang sama .. Maka itu nilai komoditi dapat diamati dengan istilah-istilah sebagai pencatat hubungannya dengan niali-nilai komoditi lain. Nilai linen pada jas dapat berubah karena nilai linen itu sendiri berubah. Atau karena nilai jas berubah, atau karena kedua-duanya berubah.


Menjelang akhir bahasannya mengenai bentuk elementer nilai adalah bentuk frimitif juga, ketika mana produk kerja tampil secara historis sebagai komoditi (hal 16). Penjelasan marx mengenai ini disusun didalam tatanan yang dibimbing oleh logoikaa dan teori. Tapi dalam hal perkembangan sejarah, pada beberapa kasusnya (hanya beberapa), ia tampak cenderung untuk melihatnya dalam tatanan yang sama .
4) Masalahnya disini ialah bahwa pertukaran pertama-tama sebagai barter dan kadang-kadang saja.


Didalam sisitim produksi komoditi yang telah berkembang, apa saja dapat ditukarkan dengan sesuatu yang lain. Marx melangkah lebih maju melalui bentuk relatif dari nilai yang dikembangkan` menuju bentuk dari nilai` dimana nilai semua komoditi sisa yaitu ` ekwivalensi yang universal ` . Pada prakteknya, sejumlah komoditi tertentu secara soial diidentifikasi sebagai ekwivalensi universal dan ia berlaku sebagai uang. Marx menganggap uang itu akan menjadi komoditi dengan sendirinya, karena adanya nialai sebagai hasil kerja. Dizaman Marx, emas berlaku sebagai standar uang dan ia menganggap uang kertas yang tidak dijamin oleh emas, merupakan suatu penyim pangan dari norma . Tetapi dewasa ini , uang sudah tidak bisa mendapat dukungan emas( atau yang lainnya).


Seksi IV
PEMUJAAN KOMODITI


Marx melanjut memasuki masalah yang sangat berlainan . Ia bermaksud tidak hanya menjelaskan bagaimana sisitim kapitalis itu bekerja, tapi juga menerangkan mengapa diperlukan penjelasan dan mengapa tidak segera terlihat bagaima sisitim itu bekerja dan mengapa sampai orang perlu membentuk pengertian ( yang tidak cukup) tentang sistim yang telah mereka punyai . Hal yang mendasar disini ialah sistim yang memproduksi komoditi, karena hubungan (ekonomi) antar orang berlangsung melalui jual beli barang-barang. Setiap orang hanya memeperhatikan (berurusan ) barang-barang yang ia telah beli dan telah ia jual.
Berpindahnya posisi harta kekayaan tak bergerak masyarakat keatas barang-barang material, Adalah apa yang oleh marx dinamakan fetishism (dihubungkan dengan pemujaan keagamaan yang memberikan kekuatan supernatural pada sejumlah benda-benda, sebuah fetish). Marx kembali pada hal ini didalam seluruh das kapital, tetapi tanpa hasil yang menarik .


Produksi komoditi telah mensyaratkan adanya suatu pembagian kerja sosial dimana setiap orang bergantungan pada banyak orang lain . Sekali ia berlangsung mapan, maka nilai berbagai komoditi terlihat menjadi bagian atau milik komoditi sendiri. Dan basis sosial dari nilai itu menjadi jelas . uang muncul menjadi inkarnasi yang alamiah dari nilai.(marx, agaknya tak bersemangat mengenai konstruksi uang sebagai suatu bentuk khusus dari hubungan-hubungan nilai, seperti ia kemukakan sudah didalam seksi terdahulu yang ia desaain untuk menguraaikan ilusi ini).
Marx tidak seluruhnya menyangkal berlakunya dampak-dampak yang dibentuk oleh praktek kehidupan sehari-hari. Hubungan-hubungan yang menyambung kerja seseorang dengan yang selebihnya , ia anggap bukanlah hubungan-hubungan sosial yang langsung sipatnya dilapangan kerja mereka , tapi itulah` mereka yang sesungguhnya`. Itulah hubungan-hubungan material antar orang dengan orang dan hubungan-hubungan sosial antar barang-barang. (hal 73). `Katagori-katagori dari ekonomo bourjuis ….adalah bentuk pemikiran , mengungkapkan keadan sosial dari mondisi dan hubungan-hubungan yang pasti , yang secara sejarah ditentukan oleh bentuk produksi (hal 76). Bukanlah rakyat yang buta dan bodoh tapi merekalah yang justru melihat dunia dari sudut tertentu saja , dalam arti hanya dari sudut pengalaman mereka yang langsung . Dan sebagai akibatnya pehaman mereka tewrhadap dunia , terbatas dan tak cukup.
Bentuk-bentuk produksi mudah dipahami , sebahagian karena ia secara inheren kurang kacau dan sebagian lagi karena kita melihat produksi dari luar . Didalam masyarakat –masyarakat feodal di abad-abad pertengahan misalnya , kerja dikerjakan oleh budak diperkebunan para bangsawan yang sepenuhnya dapat dilihat dan tak seorang pun dapat menyaksikan apa yang terjadi. Perbandingan antar berbagai masyarakat sudah tentu bertujuan untuk memperlihatkan bahwa kapitalisme itu tidak alamiah dan abadi. Namun dalam hal-hal yang sfesifik , yang secara historis terbatas bentuk organisasinya merupakan tema yang akan kembali didalam Das Kapital.
Melihat kembali pada tema pokok Bab Satu ini, tujuan-tujuan Marx sudah dapat terlihat gartis-garis besarnya.Pertama, Ia inigin mempertunjukkan bagaimana sistim ekonomi itu bekerja dalam arti proses material dari produksi nilai-pakai. Kedua , Ia akan memperlihatkan bagaimana produksi nilai pakai itu dikontrol oleh proses produksi nilai tukar ( atau, didalam masyarakat kapitalis penuh oleh nilai-nilai atau laba) dan akan ia jelaskan betapa nilai tukar dan nilai lebih itu adala hasil istimewa , suatu bentuk sfesifik yang historis dari organisasi sosial. Ketiga Ia ingin menjelaskan bagaimana ekonomi itu muncul sesungguhnya pada perorangan ( individual) yang terlibat . Ke empat , ( yang ini sulit muncul sejauh ini ) ia ingin melacak asal usul sejarah dari kapitalisme dan perkembangannya selanjutnya ia ingin memproyeksikan bahwa perkembangan itu akan meramalkan penggulingan kapitalisme dengan oleh sosialisme.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar anda