Kamis, 02 Desember 2010

Kamis, Desember 02, 2010

Peristiwa berdarah di Gaza merupakan ekspresi lebih lanjut dari kebuntuan kapitalisme pada skala global. Hal ini memanifestasikan dirinya dalam turbulensi universal pada setiap tingkat: ekonomi, sosial, politik dan militer. Ini adalah sistem sosio-ekonomi yang tidak memiliki masa depan belum menolak untuk mati. Hasil dari kontradiksi ini akan penderitaan yang tak terhitung, kemiskinan, pengangguran, perang, kematian dan penderitaan bagi jutaan orang. Ini adalah satu-satunya masa depan bahwa kapitalisme yang ditawarkan masyarakat dunia pada awal tahun 2009.

Situasinya parah ini [penyerangan Flotilla], yang paling parah sebenarnya adalah blokade ilegal terhadap Gaza. Semenjak perang Gaza bulan Januari 2009, yang mengekspos niat Israel untuk menghancurkan kemampuan Hamas, tidak peduli dengan korban dari rakyat Palestina, Israel dan Mesir telah berkolusi untuk menghalangi rekonstruksi Gaza. Alasan blokade yang diberikan oleh imperialisme Israel, dan disetujui oleh imperialisme AS, adalah untuk mencegah Hamas dari membangun roket-roket. Kebetulan saja bahan materi yang mereka khawatirkan dapat digunakan untuk roket adalah penting untuk membangun kembali rumah-rumah yang hancur pada tahun 2009.

Kepentingan dari kelas-kelas kapitalis dari berbagai negara adalah sama dengan kepentingan kelas penguasa Israel, tetapi kepentingan ini tidaklah identikal. Turki, yang sebelumnya adalah sekutu regional terdekat Israel, telah menarik mundur duta besarnya dar Tel Aviv. 3 dari 6 kapal Flotilla adalah dari Turki, dan perwakilan terbesar dari penumpang kapal tersebut adalah orang Turki, beberapa dari mereka termasuk korban yang mati.

Uni Eropa telah mengeluarkan pernyataan mengutuk serangan tersebut, tetapi efek yang paling penting akan terasa di Washington. Minggu-minggu belakangan ini, AS telah mencoba memanuver untuk melakukan sanksi ekonomi yang lebih besar terhadap Iran. Namun insiden ini membuat hal tersebut menjadi mustahil. Imperialisme Amerika sedang mengalami kekalahan dalam perang di Irak, dan mencoba mencapai semacam perjanjian dengan kelas penguasa Siria dan Iran, yang tanpa mereka penarikan mundur pasukan dari Irak akan menjadi satu kegagalan yang besar.

Perjanjian semacam ini dengan imperialisme AS membutuhkan sesuatu yang konkrit untuk elit-elit Iran dan Siria, yang bisa membenarkan pemutaran 180 derajat ini. Dan oleh karena itu dibutuhkan setidaknya suatu ilusi penyelesaian masalah Palestina. Perang Gaza 2009 merupakan satu peringatan dari Israel untuk Obama.

Kekejian ini seakan tidak mendapatkan respon yang konkrit dari Dewan Keamanan PBB berikut pimpinan negara di seluruh dunia yang tergabung di dalamnya. Terbukti dengan tidak adanya sanksi serius yang diberikan terhadap israel dan bahkan terkesan dibiarkan sepanjang sejarah konflik antara israel-palestina. jelas ini peristiwa yang memukul kemanusiaan secara universal. tidak ada satu alasan untuk mentolerir tragedi menjikkan ini.

Jika sampai saat ini PBB sebagai organisasi yang memiliki wewenang di kancah politik internasional, berikut negara-negara yang memiliki hak veto sebagaimana kita ketahui bahwa merekalah yang menggembar-gemborkan HAM masih belum menunjukkan ketegasan politiknya untuk berpihak terhadap perjuangan Palestina dan pada saat yang sama tidak juga memberikan sanksi terhadap pelanggaran Israel, maka hal itu bukan karena mereka (PBB berikut negara-negara yang memiliki hak veto) tidak legitimate,  akan tetapi lebih kepada siapa mereka berpihak dan ada kepentingan apa dibalik konflik ini yang terkesan sengaja dibiarkan? padahal secara hukum sudah jelas siapa yang ditindas dan siapa yang menindas, siapa yang melanggar dan siapa yang dilanggar. bisa saja ini adalah proyek besar bagi negara-negara produsen senjata atau konflik yang sengaja dibiarkan berlarut-larut agar ruang intervensi politik terhadap timur tengah tetap terbuka dan masih ada kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Yang jelas, peristiwa ini bukan kebuasan Israel semata tanpa adanya pihak-pihak yang merestui atau bahkan mendorong tindakan mereka karena hal ini merupakan peristiwa yang kesekian dari banyak pelanggaran yang dilakukan oleh israel. Bukan juga sebatas problem bagi rakyat Palestina atau konflik antar agama, akan tetapi ini merupakan masalah bagi masyarakat internasional seluruhnya pada titik “kemanusiaan”, diam berarti meng-amini…

Berharap dan menyerahkan kasus ini pada PBB merupakan mimpi yang sama sekali tidak akan terselesaikan, tidak ada bukti secara historis karena kita tahu organisasi PBB didominasi dan disetir oleh negara-negara tertentu dan menjalankan rekomendasi dari negara-negara tertentu dengan kepentingan-kepentingan tertentu pula.

Terkait tragedi kemanusiaan berupa penyerangan dan penangkapan yang dilakukan oleh militer Israel terhadap rombongan relawan yang membawa bantuan untuk penduduk Gaza di perairan internasional pada tanggal 31 Mei 2010 dan mengakibatkan tewasnya sejumlah relawan, kami dari Serikat Perjuangan Mahasiswa (SPM) menyatakan sikap:
  1. Menentang dan mengecam keras tindakan brutal militer Israel.
  2. Seret dan adili pelanggar HAM di Palestina
  3. Bubarkan PPB yang tidak tegas terhadap Israel
  4. Embargo Israel dari kepentingan internasional
  5. Cabut hubungan diplomatik Indonesia dengan israel
  6. Mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk terus dan berani menentang segala tindakan kekerasan, sewenang-wenang dan penjajahan terhadap bangsa manapun.
  7. Wujudkan sosialisme dunia
BERSAMA RAKYAT SATUKAN TEKAD
DEMI PERUBAHAN DAN PEMBEBASAN


0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar anda