Notification

×

Kategori Berita

Tags

Iklan

Tiga Sumber dan Komponen Marxisme

Selasa, 30 November 2010 | November 30, 2010 WIB Last Updated 2010-12-04T08:04:51Z
TIGA SUMBER DAN KOMPONEN MARXISME[1]

Di  segenap penjuru dunia yang beradab,  ajaran-ajaran  Marx ditentang dan diperangi oleh semua ilmu pengetahuan borjuis (baik pejabat resmi -official- maupun kaum liberal), yang memandang Marxisme  semacam "sekte jahat". Tidak bisa diharapkan adanya sikap lain, karena tidak  ada  ilmu sosial yang netral dalam suatu masyarakat  yang berbasiskan  perjuangan  klas. Lewat satu dan lain cara,  semua pejabat resmi dan ilmuwan liberal, membela  perbudakan  upahan (wage slavery). Sedangkan Marxisme telah  jauh-jauh hari  menyatakan  perang  tanpa henti  terhadap  perbudakan  itu. Mengharapkan sikap netral dari ilmu pengetahuan dalam masyarakat perbudakan upahan adalah bodoh, sama naifnya dengan  mengharapkan sikap netral dari para pemilik pabrik dalam menghadapi pertanyaan apakah  upah  buruh dapat dinaikkan tanpa  mengurangi  keuntungan modal.

Tapi bukan hanya itu. Sejarah filosofi dan sejarah ilmu-ilmu sosial  memperlihatkan  dengan jelas bahwa dalam  Marxisme  tidak terdapat  adanya  "sektarianisme", dalam artian adanya  doktrin-doktrin  yang sempit dan picik , doktrin yang dibangun jauh  dari jalan  raya perkembangan peradaban dunia. Sebaliknya,  si  jenius Marx  dengan tepat menempatkan jawaban-jawaban terhadap  berbagai pertanyaan  yang diajukan oleh pikiran-pikiran termaju dari  umat manusia.  Doktrin-doktrinnya bangkit sebagai kelanjutan  langsung dari ajaran-ajaran besar dalam bidang filosofi,  ekonomi-politik, dan sosialisme.

Doktrin-doktrin  Marxist bersifat serba guna karena  tingkat kebenarannya  yang tinggi. Juga komplit dan harmonis, serta  melengkapi  kita  dengan suatu pandangan dunia yang  integral,  yang tidak  bisa  dipersatukan dengan berbagai macam  tahyul,  reaksi, atau tekanan dari pihak borjuis. Marxisme merupakan penerus  yang sah dari  beberapa pemikiran besar umat manusia dalam  abad  19, yang  direpresentasikan  oleh filsafat  klasik  Jerman,  ekonomi-politik Inggris dan sosialisme Prancis.

Inilah  tiga  sumber  dari Marxisme, yang  akan  kita  bahas secara ringkas beserta komponen-komponennya.

I

Filsafat  yang dipakai Marxisme adalah materialisme.  Sepanjang  sejarah Eropa modern, dan khususnya pada akhir abad  18  di Prancis, di mana terdapat perjuangan yang gigih terhadap berbagai sampah dari abad pertengahan, terhadap perhambaan dalam  berbagai lembaga dan gagasan, materialisme terbukti merupakan satu-satunya filosofi  yang konsisten, benar terhadap setiap cabang ilmu  alam dan  dengan gigih memerangi berbagai bentuk tahyul,  penyimpangan dan  seterusnya.  Musuh-musuh demokrasi  selalu  berusaha  untuk "menyangkal", mencemari dan memfitnah materialisme, membela  berbagai bentuk filosofi idealisme, yang selalu, dengan satu dan lain cara, menggunakan agama untuk memerangi materialisme.

Marx  dan Engels membela filosofi materialisme dengan  tekun dan berulangkali  menjelaskan  bagaimana  kekeliruan   terdahulu adalah setiap penyimpangan dari basis ini. Pandangan-pandangan mereka dijelaskan secara panjang lebar dalam karya Engels, Ludwig Feuerbach dan Anti-Duhring[2], yang seperti halnya Communist Manifesto,merupakan buku pegangan bagi setiap pekerja  yang  memiliki kesadaran kelas.

Tetapi  Marx  tidak berhenti pada materialisme abad  18:  ia mengembangkannya  lebih jauh, ke tingkat yang lebih tinggi.  Marx memperkaya  materialisme dengan penemuan-penemuan  dari  filosofi klasik  Jerman,  khususnya sistem Hegel, yang  kemudian  mengarah kepada  pemikiran Feuerbach. Penemuan yang paling penting  adalahdialektika,  yaitu doktrin tentang perkembangan  dalam  bentuknya yang  paling padat, paling dalam dan amat  komprehensif.  Doktrin tentang relativitas  pengetahuan manusia  yang  melengkapi  kita dengan  suatu refleksi terhadap materi-materi yang terus  berkembang. Penemuan-penemuan  terbaru dalam  bidang ilmu alam: radium, elektron, transmutasi elemen, merupakan bukti nyata dari  materialisme  dialektis  yang  diajarkan Marx,  berbeda  dengan  dengan ajaran-ajaran  para filosof borjuis dengan idealisme mereka  yang telah usang dan dekaden.

Marx  memperdalam  dan mengembangkan  filosofi  materialisme sepenuhnya,  serta  memperluas pengenalan  terhadap  alam  dengan memasukkan pengenalan terhadapmasyarakat manusiaMaterialisme Historisnya  yang  dialektis merupakan pencapaian  besar  dalam  pemikiran ilmiah. Kekacauan yang merajalela dalam berbagai pandangan sejarah  dan  politik digantikan dengan suatu teori ilmiah  yang  amat integral  dan  harmonis,  yang  memperlihatkan  bagaimana,  dalam konsekwensinya dengan pertumbuhan  kekuatan-kekuatan  produktif, suatu sistem kehidupan sosial muncul dari sistem kehidupan sosial yang  ada  sebelumnya dan berkembang  melalui berbagai  tahapan--contoh kongkretnya: kapitalisme yang muncul dari feodalisme.

Seperti halnya pengetahuan manusia merefleksikan alam  (yang merupakan  materi  yang  berkembang),  yang  keberadaannya  tidak tergantung dari manusia, begitu pulapengetahuan sosial (berbagai pandangan  dan doktrin yang dihasilkan manusia--filosofi,  agama, politik,  dan seterusnya) merefleksikan sistem ekonomi  dari masyarakat.  Berbagai  lembaga politik merupakan  superstruktur  di atas fondasi ekonomi. Kita melihat, sebagai contoh, bahwa  berbagai  bentuk  politis dari negara-negara Eropa  modern  memperkuat dominasi pihak borjuasi terhadap pihak proletariat.

Filosofinya  Marx merupakan filosofi  materialisme  terapan, yang mana membekali umat manusia, khususnya kelas pekerja, dengan alat-alat pengetahuan yang ampuh.


II

Setelah  menyadari bahwa sistem ekonomi  merupakan  fondasi, yang di atasnya superstruktur politik didirikan, Marx mencurahkan sebagian besar perhatiannya untuk mempelajari sistem ekonomi ini. Karya Marx yang prinsipal, Das Kapital, merupakan hasil  studinya yang mendalam terhadap sistem ekonomi modern: kapitalisme.

(Ilmu--pent) ekonomi  politik  yang klasik, sebelum Marx,  berkembang  di Inggris,  negeri kapitalis yang paling maju saat itu. Adam  Smith dan  David  Ricardo, dengan investigasi  mereka  terhadap  sistem ekonomi,  meletakkan  dasar-dasar dari teori  nilai  kerja.  Marx melanjutkan  karya mereka, ia menguji teori itu  dan mengembangkannya  secara  konsisten.  Ia melihat bahwa  nilai  dari  setiap komoditi  ditentukan oleh kuantitas waktu kerja  yang  dibutuhkan secara sosial, yang digunakan untuk memproduksi komoditi itu.

Jika para ahli ekonomi borjuis melihat hubungan  antar-benda(pertukaran  antar-komoditi), Marx memperhatikan hubungan  antar-manusia. Pertukaran komoditi mencerminkan  hubungan-hubungan  di antara para produser individual yang terjalin melalui pasar. Uang memperlihatkan  bagaimana hubungan itu menjadi  semakin  erat, yang tanpa terpisahkan menyatukan seluruh kehidupan ekonomi dari  para produser menjadi satu keseluruhan.  Modal  (kapital)  memperlihatkan  suatu   perkembangan lanjutan  dari hubungan ini: tenaga kerja manusia  menjadi  suatu komoditi. Para pekerja upahan menjual tenaga kerjanya kepada para pemilik tanah, pemilik pabrik dan alat-alat kerja. Seorang pekerja  menggunakan sebagian waktu kerjanya untuk menutup  biaya  hidupnya  dan  keluarganya  (mendapat upah),  sebagian  lain  waktu kerjanya digunakan tanpa mendapat upah, semata-mata hanya  mendatangkan nilai lebih untuk para pemilik modal. Nilai lebih merupakan  sumber  keuntungan,  sumber kemakmuran  bagi  kelas  pemilik modal.

Doktrin  tentang  nilai lebih  merupakan  dasar (cornerstone) dari teori ekonomi yang dikemukakan oleh Marx.

Modal,  yang  diciptakan dari  hasil  kerja  para pekerja, justru menghantam para pekerja, memporakporandakan  para pemilik  modal kecil dan menciptakan barisan pengangguran.  Dalam bidang  industri, kemenangan produksi berskala besar segera  tampak,  tetapi  gejala  yang sama juga dapat  dilihat  pada  bidang pertanian,  di mana keunggulan pertanian bermodal  besar  semakin dikembangkan.  Penggunaan  mesin-mesin  pertanian   ditingkatkan, mengakibatkan ekonomi para petani kecil terjebak oleh modal-uang, kemudian  jatuh dan hancur berantakan disebabkan teknik  produksi yang kalah bersaing. Penurunan produksi berskala kecil  mengambil bentuk-bentuk yang berbeda dalam bidang pertanian,  akan  tetapi proses  penurunan  itu  sendiri merupakan suatu  hal  yang  tidak terbantahkan.

Dengan menghancurkan produksi berskala kecil, modal  mendorong peningkatan produktivitas kerja dan menciptakan posisi monopoli  bagi asosiasi kapitalis besar. Produksi itu sendiri  menjadi semakin  sosial  --ratusan ribu, bahkan  jutaan  pekerja  diikat dalam  suatu  organisme ekonomi reguler-- tapi hasil  dari  kerja kolektif  ini  dinikmati oleh sekelompok  pemilik  modal.  Anarki produksi, krisis, kekacauan harga pasaran, serta ancaman terhadap sebagian terbesar anggota masyarakat, semakin memburuk.

Dengan mengembangkan ketergantungan para pekerja pada modal, sistem ekonomi kapitalis menciptakan kekuatan besar dari persatuan para pekerja.

Marx  menyelidiki  perkembangan  kapitalisme  dari   ekonomi komoditi tahap awal, dari pertukaran yang sederhana, hingga bentuk-bentuknya yang tertinggi, produksi berskala besar. 

Dan  dari pengalaman  negeri-negeri  kapitalis, yang lama  dan  baru,  dari tahun  ke  tahun, terlihat dengan jelas kebenaran  dari  doktrin-doktrin Marxian ini.

Kapitalisme telah menang di seluruh dunia, tetapi kemenangan ini hanyalah merupakan awal dari kemenangan para pekerja terhadap modal yang membelenggu mereka.

III

Ketika feodalisme tersingkir, dan masyarakat "merdeka" kapitalis muncul di dunia, maka  muncullah  suatu sistem untuk penindasan  dan eksploitasi terhadap golongan pekerja. Berbagai  doktrin sosialis segera muncul sebagai refleksi dari dan protes  terhadap penindasan ini. Sosialisme pada awalnya, bagaimanapun,  merupakan sosialisme utopis. Ia mengkritik masyarakat kapitalis, mengutuknya, memimpikan keruntuhan kapitalisme. Ia mempunyai gagasan  akan adanya pemerintahan  yang lebih baik yang berusaha  membuktikan kepada orang-orang kaya bahwa eksploitasi itu tidak bermoral.

Namun  sosialisme utopis tidak memberikan solusi  nyata.  Ia tak dapat menjelaskan sifat sebenarnya dari perbudakan upahan  di bawah sistem kapitalisme. Ia tak mampu mengungkapkan  hukum-hukum perkembangan  kapitalis atau memperlihatkan kekuatan  sosial  apa yang mampu membentuk suatu masyarakat yang baru.

Sementara itu, berbagai revolusi terjadi di Eropa, khususnya di  Prancis,  mengiringi kejatuhan feodalisme,  perhambaan,  yang semakin  lama semakin jelas mengungkapkan perjuangan  klas-klas sebagai basis dan kekuatan pendorong dari semua perkembangan.

Setiap  kemenangan kebebasan politis atas klas feodal dimenangkan dari perlawanan yang mati-matian. Setiap negeri  kapitalis berkembang di atas basis yang kurang-lebih demokratis,  diakibatkan  adanya perjuangan hidup-mati di antara klas-klas yang  ada dalam masyarakat kapitalistik.

Kejeniusan  Marx adalah karena ia yang pertama kalinya  menyimpulkan  pelajaran  sejarah dunia dengan tepat  dan  menerapkan pelajaran itu secara konsisten. Kesimpulan yang dibuatnya menjadi doktrin dari perjuangan klas.

Rakyat  selalu menjadi korban dari penipuan dan  kemunafikan dunia  politik, mereka akan selalu begitu sampai  mereka  mencoba mencari  tahu  apa kepentingan dari klas-klas  yang  ada  dalam masyarakat, apa yang ada di balik  segala  macam  ajaran   moral, agama dan janji-janji politik. Para pemenang dari proses reformasi dan  pembangunan akan selalu terkecoh  oleh   para  pendukung pemerintahan  lama, sampai mereka menyadari bahwa setiap  lembaga yang  lama, sekeji apapun tampaknya, akan tetap  dijalankan  oleh kekuatan-kekuatan dari klas-klas tertentu yang berkuasa.  Hanya ada  satu  kelompok yang mampu menghantam usaha  perlawanan  dari klas-klas  itu, dan itu bisa ditemukan dalam  masyarakat  kita, kelompok yang mampu dan harus menggalang kekuatan untuk  perjuangan menyingkirkan yang lama dan mendirikan yang baru.

Filosofi materialisme yang dipaparkan Marx menunjukkan jalan bagi  proletariat  untuk  bebas dari  perbudakan  spiritual  yang membelenggu  setiap  kelas  yang tertindas  hingga   kini.  Teori ekonomi  yang dijabarkan Marx menjelaskan posisi sebenarnya  dari proletariat di dalam sistem kapitalisme. 

Organisasi-organisasi  independen milik proletariat  semakin bertambah  banyak  jumlahnya, dari Amerika  hingga  Jepang,  dari Swedia hingga Afrika Selatan. Proletariat menjadi semakin  tercerahkan  dan  terdidik  dengan  membiayai  perjuangannya  sendiri; mereka membuktikan kesalahan tuduhan-tuduhan masyarakat  borjuis; mereka terus memperbaiki strategi perjuangan; menggalang kekuatan dan tumbuh tak terbendung.

Prosveshcheniye No. 3, Maret 1913           Selected Works, Vol. 19, pp. 23-28
Ditandatangani V.I.

[1]. Artikel ini ditulis oleh Lenin untuk memperingati 30 tahun kematian Marx dan dipublikasikan dalamProsveshcheniye No. 3 tahun 1913. Prosveshcheniye (Pencerahan)—adalah terbitan teoritik bulanan kaum Bolshevik yagn diterbitkan secara legal di St.Petersburg mulai bulan Desember 1911 sampai Juni 1914. Oplahnya mencapai 5000 eksemplar. Lenin memimpin penerbitan ini dari luar negeri, awalnya di Paris, kemudian Cracow dan Poronin; dia mengedit artikel-artikelnya melalui korespondensi yang intense dengan para editor.

Pada masa PD I majalah ini dibredel oleh rejim tsar. Kemudian terbit lagi pada musim gugur tahun 1917 tapi hanya sekali terbit.
[2] Referensinya adalah tulisan Engels “Anti-Duhring: Herr Eugen Duhring’s Revolution in
Science

×