Senin, 29 November 2010

Senin, November 29, 2010
Politik Kelas Buruh (1)

Oleh: George Novack

Daftar Isi


Bab I   : Pembentukan Internasional-I (1864-1876) 
Bab II  : Kebangkitan Kelas Buruh dan Sosialis Internasional (1889-1904)
Bab III : Menjangkitnya Oportunisme dalam Sosialis Internasional (1904-1914)
Bab IV : Perang Dunia I dan Keruntuhan Internasional


Bab. I: Pembentukan Internasional Pertama (1864-1876)


Kondisi ekonomi dan politik yang khas pada zaman modern, layaknya karakter ekonomi dunia, perkembangan tenaga-tenaga produktif dunia, dan perjuangan kelas dalam skala dunia, merupakan sumber atau landasan bagi tumbuhnya internasionalisme sebagai kekuatan yang tak bisa dibendung lagi. Hal tersebut dipertegas oleh munculnya aliran utama dalam perkembangan gerakan buruh sepanjang abad yang lalu dan, terutama, oleh terbentuknya Asosiasi Pekerja Internasional atau, biasa disebut, Internasional-I.


Internasional-I harus diakui merupakan puncak organisasional periode (tertentu) dalam perlawanan gerakan buruh terhadap kondisi penghisapan kapitalis. Perjuangan proletariat melawan kelas kapitalis ditandai sejak kelahirannya, sekitar dua ratus tahun yang lalu. Perjuangan tersebut bangkit dan menggalang kekuatan di berbagai negeri dalam proporsi yang sesuai dengan industrialisasinya masing-masing. Pada awalnya, perjuangan tersebut mengandalkan bentuk yang sederhana, meledak sesekali, terlokalisir di wilayah tertentu, tidak terorganisir, tidak politis. Dalam hal tersebut, Marx dan Engels menggambarkan pembukaan gerakan buruh dalam Manifesto Komunis, yakni, sebagai berikut:


“... Mula-mula perjuangan tersebut dilakukan oleh kelas buruh orang-seorang, kemudian oleh buruh suatu pabrik, kemudian oleh buruh dari satu macam perusahaan di satu tempat melawan burdjuis orang-seorang yang langsung menghisap mereka. ... Pada tahap tersebut kelas buruh merupakan suatu massa lepas yang tersebar di seluruh negeri dan terpecah belah oleh persaingan di kalangan mereka sendiri.


Tetapi, dengan berkembangnya industri, proletariat tidak saja bertambah jumlahnya; mereka terkonsentrasi menjadi massa yang lebih besar, kekuatannya bertambah besar dan ia semakin merasakan kekuatan tersebut. ... bentrokan-bentrokan antara buruh orang-seorang dengan borjuis orang-seorang semakin lama bersifat bentrokan-bentrokan antar dua kelas. Sesudah itu kelas buruh mulai membentuk perkumpulan-perkumpulan menentang kelas borjuis; mereka berhimpun untuk mempertahankan upah-kerja mereka; mereka mendirikan perserikatan-perserikatan yang permanen untuk mempersiapkan diri menyongsong perlawanan sewaktu-sewaktu tersebut. Di sana-sini perjuangan tersebut meletus—menjadi huru-hara.


...Persatuan ini dibantu terus oleh kemajuan alat-alat perhubungan yang dibuat oleh industri modern, yang membawa kelas buruh dari berbagai daerah berhubungan satu dengan yang lainnya. Justru perhubungan itu lah yang diperlukan untuk memusatkan perjuangan-perjuangan lokal yang banyak itu, yang kesemuanya itu mempunyai sifat yang sama, menjadi satu perjuangan bangsa antara kelas dengan kelas. Tetapi, setiap perjuangan kelas adalah perjuangan politik. ...”

Proses pengorganisasian buruh tersebut, penyatuan dan pemusatan organ-organnya, bergerak maju dari tingkat serikat pekerja kota ke tingkat negara, atau ke tingkat nasional dan, akhirnya, sampai ke tingkat federasi internasional. Sebagai kilasan dari proses tersebut, baca lah laporan surat kabar kontemporer tentang pidato yang diucapkan oleh Pimpinan Sidang Akbar yang diselenggarakan se-abad lalu di pertengahan perang sipil Amerika, 24 Maret, 1863, di Cooper Institut. Pertemuan tersebut ditujukan untuk membentuk pusat Serikat Buruh pertama di New York.


“Dengan adanya semacam (pusat) serikat (buruh) maka akan mempengaruhi seluruh perdagangan, sehingga dapat mendukung seluruh keinginan serikat buruh untuk memperbaiki kondisinya. . . . Mereka bisa membangun kekuatan dalam menuntut upah yang adil atas kerja mereka, lebih daripada upah yang tak seberapa dan tak layak yang mereka terima sekarang. Sudah menjadi kebijakan pengusaha untuk mengadu domba bangsa yang satu dengan yang lainnya . . . Harus ada serikat (buruh) antar bangsa-bangsa . . . buruh lah yang menghasilkan kesejahteraan, tanpa buruh negeri ini hanya lah negeri liar. Inilah saatnya kita harus memahami kepentingan kita sendiri, dan bergabung dalam suatu serikat buruh dari masyarakat yang besar, karena hal tersebut lah yang akan memberi kekuatan yang tak akan diperolehnya bila mereka terpecah-pecah.” Itulah semangat para pekerja New York, setahun sebelum terbentuknya Internasional-I.

Walaupun gerakan buruh dimulai dari tingkat nasional dan berbentuk nasional, namun gerakan tersebut tak dapat terus menerus dibatasi dalam kerangka kerja tingkat nasional, yang gerakannya bisa dibatasi dalam tingkat kota-kota dan negara-negara bagian yang terpisah-pisah. Sekali terorganisir, buruh akan cenderung mencari ikatan dan hubungan organisasi secara internasional karena didorong oleh satu kepentingan yang sama. “Walaupun tidak dalam isinya, tetapi dalam bentuknya, perjuangan proletariat melawan borjuis adalah mula-mula suatu perjuangan nasional (bangsa),” Tulis Marx dan Engels dalam Manifesto Komunis. “Proletariat di masing-masing negeri tentu saja pertama-tama harus membuat perhitungan dengan borjuasinya sendiri.”

Apalagi, para penguasa kapitalis memiliki segala jenis hubungan internasional yang memberikan kesempatan pada mereka untuk menindas para pekerja dan petani. 

Internasional-I dilahirkan di Inggris. Kelahirannya di Ingris ini bukanlah merupakan suatu kebetulan belaka. Inggris—yang merupakan tempat kelahiran kapitalisme industrial—adalah negeri yang paling maju secara ekonomi pada abad ke-19. Antagonisme-antagonisme kelas modern pertama kali muncul dan berkembang secara sangat kuat di Inggris. Tidak mengherankan bila bentuk-bentuk esensial perjuangan proletariat melawan kapitalis pada awalnya di wujudkan (juga) di Inggris. Dalam pergerakan besar kaum Chartis pada tahun 1840-an, Inggris menjadi saksi bagi gerakan politik pertama proletariat sebagai sebuah kelas. Di Inggris pula lah kelas buruh untuk pertama kalinya mengorganisir dirinya ke dalam serikat-serikat buruh. Pimpinan-pimpinan kelas buruh Inggris la—yang berani dan berwawasan jauh kedepan—yang pada awalnya mampu secara jernih memahami perjuangan kelas; baik sebagai faktor histories, maupun sebagai prinsip dalam merumuskan taktik. Di Ingggris juga lah proletariat untuk pertama kalinya memproleh wawasan yang mendalam—tentang solidaritas kelas buruh secara internasional—dan melihat pentingnya keharusan bagi aksi terpadu dalam perjuangan melawan kelas kapitalis, perjuangan yang berlandaskan solidaritas.

Internasional-I tidaklah jatuh begitu saja dari langit, dalam bentuknya yang sudah matang (sempurna). Internasional-I juga bukanlah semata-mata hasil buah pikiran Marx yang jenius. Internasional-I merupakan produk sejati gerakan kelas buruh, buah dari inisiatif keras yang di hasilkan oleh pelopor-pelopor kelas buruh. Internasional-I tumbuh dalam rangkaian panjang perjuangan kelas, yang di semai dari benih-benih internasionalisme. Kehadirannya juga telah dipersiapkan oleh sejumlah perintis yang menyebarkan gagasan-gagasan dan sentimen-sentimen solidaritas proletariat; yang tumbuh dan berkembang dalam lingkaran-lingkaran kecil kelas buruh yang paling sadar. Hal tersebut tetap berlangsung bahkan di bawah kondisi yang paling keras dan menindas. 

Terhitung sejak tahun 1854 sampai dengan 1864, telah berlangung serangkaian usaha yang dilakukan oleh organisasi-organisasi kelas buruh; yang berpuncak pada pendirian Internasional-I. Kami akan mengedepankan tiga organisasi yang paling signifikan pada masa-masa itu. Yang pertama adalah Masyarakat Society of Fraternal Democrats (persaudaraan kaum demokrat). Organisasi tersebut didirikan di London pada tahun 1845 oleh Julian Harney; dalam pendiriannya, pelarian-pelarian politik dari seluruh benua Eropa menghadirinya. Organisasi tersebut merupakan organisasi kelas pekerja yang pertama. Yang kedua adalah Communist League (liga komunis). Lewat liga tersebut lah, untuk pertama kalinya, karya Marx dan Engels—Manifesto Komunis—dijadikan arahan program dan teoritis yang benar bagi perjuangan buruh internasional. Yang ketiga adalah International Committee (komite internasional), yang diorganisir oleh Ernest Jones di London. Lewat manifesto dan rapat-rapat akbarnya, organisiasi tersebut tetap mempertahankan tradisi internasionalisme selama tahun-tahun reaksi (yang sangat menindas) pada tahun 1850-an. 


Demikian lah, setelah kondisi-kondisi bagi pembentukannya telah matang, Internasional-I didirikan berlandaskan kerja-kerja keras yang di hasilkan oleh para perintisnya. Setelah kekalahan revolusi 1848—dan perkembangan kapitalis yang melonjak selama tahun 1850-an—gerakan buruh menjadi sangat tertekan. Banyak orang mengira bahwa gerakan buruh tidak akan pernah berhasil mengobarkan api revolusionernya lagi—sebagaimana yang pernah ditunjukkan pada masa-masa puncak revolusi 1848. Walau gagasan internasionalisme sementara memudar, ia tak pernah benar-benar melenyap. Gagasan tersebut tetap dipelihara dalam keloimpok-kelompok kecil di berbagai tempat, terpencar-pencar, oleh pimpinan-pimpinan kelas buruh yang teruji. Mereka yang pernah mengalami sendiri periode-periode reaksi—yang pasang surut sepanjang abad 19—mampu memahami suasana macam apa yang berkecamuk saat itu. 

Kemudian, pada tahun-tahun akhir 1850-an, terjadilah serangkaian peristiwa yang mengubah situasi internasional. Peristiwa tersebut membangkitkan kembali gerakan buruh, dan mengobarkan semangat internasionalisme. Peristiwa-peristiwa penting tersebut di antaranya adalah krisis ekonomi di tahun 1857 (tercatat sebagai krisis yang sangat parah dan menyebar paling luas selama abad 19), yang lainnya adalah perang kemerdekaan Italia pada tahun 1859, dan pecahnya perang saudara di Amerika Serikat sejak tahun 1860-1861.

Peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut membawa konsekwensi-konsekwensi yang sangat besar (secara ekonomi-politik) di Perancis dan Inggris—dua negeri industrial yang paling maju di Eropa saat itu—misalnya, peristiwa-peristiwa tersebut mengakibatkan melemahnya kediktatoran Napoleon III, dan memaksanya untuk memperluas konsesi-konsesi ekonomi-politik dalam rangka meredam gerakan kelas buruh Perancis. Selangkah demi selangkah kelas buruh mencapai berbagai kemajuan. Mereka memiliki kesempatan untuk memilih dalam Pemilu, dan Undang-undang yang melarang serikat buruh untuk memperbaiki kondisi kaum buruh juga dicabut. Betapapun, perkembangan yang menentukan terjadi di Inggris. Walau kelas buruh Inggris telah memenangkan hak untuk membentuk serikat-serikat buruh sejak tahun 1825, massa buruh tetap tidak diperbolehkan memilih dalam pemilu. Sementara itu, perkembangan kapitalis di benua Eropa telah melahirkan persaingan yang mengancam buruh-buruh di Inggris. Ketika kelas buruh di Inggris berjuang untuk upah yang lebih tinggi dan jam kerja yang lebih singkat, kaum pemilik modal di Inggris mengancam mendatangkan tenaga-tenaga buruh murah dari Prancis, Belgia, Jerman dan negeri-negeri lainnya. Pecahnya perang di Amerika dan embargo atas produk-produk ekspor, menyebabkan krisis persediaan kapas, yang akibatnya sangat memberatkan buruh-buruh pabrik tekstil di Inggris.


Kondisi-kondisi tersebut mengguncang serikat-serikat buruh Ingggris dan memaksa mereka untuk mengembangkan gagasan yang kemudian di kenal dengan “Serikat-Buruh-isme Baru”, yang dipimpin oleh sejumlah pimpinan berpengalaman dari kalangan buruh permesinan, buruh bangunan, buruh pabrik sepatu, dan serikat-serikat buruh lainnya. Orang-orang tersebut mulai menyadari arti pentingnya perjuangan politik bagi serikat buruh, dan mereka mulai menaruh perhatian besar pada urusan-urusan politik baik di dalam maupun di luar negeri. Mereka juga mulai menyelenggarakan rapat-rapat akbar raksasa, menuntut perdana menteri Palmerston atas persekongkolannya campur tangan terhadap “pihak utrara” dalam perang saudara Amerika. Pada saat yang sama, mereka menyelenggarakan resepsi penyambutan atas Mazzini—seorang pejuang kebebasan dari Italia—ketika ia mengunjungi London di tahun 1864.


Kebangkitan kelas buruh di Inggris dan Prancis juga membangkitkan kembali gagasan Internasionalisme. Antara lain, kunjungan delegasi buruh Prancis ke pameran dunia di London pada tahun 1864; terlebih, adanya persekongkolan antara Prancis, Inggris dan Rusia untuk menghancurkan perjuangan rakyat Polandia untuk memisahkan diri pada tahun 1863, telah mendorong terjadinya kontak, korespondensi, dan pertukaran hubungan antar kelas buruh di negeri-negeri tersebut dalam rangka membicarakan dan berusaha memecahkan persoalan kelas buruh secara bersama-sama. Semua itu bermuara pada kesepakatan untuk menyelenggarakan pertemuan bersama secara resmi antara perwakilan-perwakilan kelas buruh Prancis dan Inggris di gedung St. Martin's Hall, London, pada 26 septembrer, 1864. Pertemuan tersebut berhasil mengeluarkan keputusan-keputusan, antara lain terpilihnya suatu komite—yang bertugas merancang statuta AD/ART perhimpunan kelas pekerja internasional, yang akan dipertimbangkan untuk disyahkan dalam kongres Internasional yang akan diselenggarakan di Belgia pada tahun berikutnya. Pemberitaan-pemberitaan surat kabar meliput pembentukan komite tersebut—yang beranggotakan perwakilan barbagai serikat buruh dari berbagai negeri. Sedikit disinggung juga tentang Karl Marx. Demikian lah, sehingga kita semua tahu betapa besar sumbangan yang diberikannya oleh organisasi-organisasi tersebut.


Peranan Karl Marx

Kegagalan revolusi tahun 1848, mengakibatkan terguncangnya Liga Komunis, yang tidak lama kemudian mengakibatkannya bubar. Dalam tahun-tahun terakhir reaksi yang panjang tersebut—walau masih mengikuti perkembangan berbagai peristiwa dengan cermat—Marx dan Engels, dalam pengasingannya, mencurahkan perhatiannya pada kerja-kerja ilmiah mereka. Memaklumi bahwa “untuk segala sesuatu ada musim/masanya sendiri-sendiri”. Mereka menantikan saat yang tepat bagi arus-balik gelombang sejarah, yang dapat menarik mereka kembali pada aktifitas-aktifitas praktis keorganisasian gerakan kelas buruh, yakni: masa-masa gerakan revolusioner dan gerakan kelas buruh menampilkan semangat baru, atau saat-saat para pejuang sejati mengenakan perisai dan perlengkapan perangnya, untuk maju ke Medan laga. Pada 13 Februari, 1863, Marx menulis surat kepada Engels, “…era revolusi telah kembali terbentang di Eropa” (Marx-Engels, “Selected Correspondence”, New York, hal. 144). Ketika Komite Buruh Internasional terbentuk, Marx menulis kepada kawan-kawannya di Amerika, “…walau selama bertahun-tahun aku menolak (secara sistimatis) segala keterlibatanku dalam organisasi manapun juga, kali ini aku menerimanya, karena aku benar-benar melihat terdapat peluang untuk melakukan kerja-kerja yang berbeda” (“Mehring”, Hal. 323). 



Tak lama kemudian, Marx tampil kemuka sebagai pimpinan intelektual komite tersebut, yang beranggotakan 50 orang—setengahnya adalah buruh-buruh Inggris. Setelah yang lainnya menyatakan tidak sanggup, Marx mengambil alih tugas penyusunan rancangan program dan anggaran dasar (statuta) Internasional-I. Secara antusias dan suara bulat, komite tersebut menerima rancangan “Amanat Inagurasi/Pelantikan” dan “Aturan-aturan Peralihan” yang disusun Marx. Hanya ada sedikit tambahan terhadap beberapa ungkapan abstrak, yakni perihal “hak dan kewajiban, kebenaran, moralitas, dan keadilan”. Marx kemudian menceritakan kepada Engels bahwa, bahwa ia menyisipkan ungkapan-ungkapan tersebut sedemikian rupa agar ia tidak menyurutkan harapan para peserta lainnya.

“Amanat Inagurasi bagi Asosiasi Kelas Pekerja Internasional" tersebut disampaikan dalam sebuah pertemuan publik di gedung St. Martin, London, pada 28 september, 1864. Bersamaan dengan Manifesto Komunis, “Amanat” tersebut merupakan sebuah dakwaan yang keras dan berat terhadap kapitalisme dan, sekaligus, memaparkan tujuan-tujuan kelas buruh. “Amanat” tersebut dibuka dengan rangkaian catatan tentang sebuah fakta yang tajam—bahwa selama tahun-tahun 1848 sampai dengan 1864, penderitaan dan penindasan atas kelas buruh tidak kunjung berkurang, walau dalam periode tersebut terjadi perkembangan yang sangat pesat dalam lapangan industri dan perdagangan. Hal tersebut di buktikan dengan menunjukan angka-angka statistik yang diterbitkan dalam “buku-buku” resmi (yang mencatat tentang penderitaan/penindasan kelas buruh Inggris). Angka-angka tersebut diperbandingkan dengan catatan resmi yang dibuat oleh ketua bendahara, Gladstone, dalam laporan keuangannya. Hal tersebut, sekali lagi, menunjukan bahwa “penumpukan kekayaan dan penguatan/perluasan kekuasaan yang menjijikan” (yang terjadi selama periode tersebut) hanya terpusat seluruhnya pada kelas-kelas penindas/penghisap. Kalaupun ada pengecualian, maka hal itu hanya berlaku pada segelintir buruh-aristokrat yang menerima upah agak lebih besar; namun perbaikan tersebut kemudian diikuti dengan kenaikan harga-harga secara umum. “Dari waktu ke waktu, gelombang besar massa kelas buruh senantiasa terbenam dalam kemiskinan; sementara pada saat yang sama kelas-kelas atas menikmati peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan sosial… tiap perkembangan segar dalam tenaga-tenaga produktif buruh, mauy tak mau mengarah pada semakin mendalam dan curamnya jurang perbedaan social, yang bermuara pada antagonisme sosial… masa tersebut di tandai (dalam catatan sejarah dunia) dengan percepatan, pembesaran dan efek-efek mematikan dari apa yang di sebut sebagai wabah sosial yang menular (krisis industrial dan komersial)” (Marx-Engels, Selected Writing, Volume1, Hal. 345-346).


Amanat di atas juga mencatat, bahkan dalam tahun-tahun reaksioner pada tahun 1850-an, setidaknya kaum buruh telah mencapai dua kemajuan yang berarti. Pertama, pengakuan dan pemberlakuan 10 jam kerja secara legal, yang merupakan buah dari perjuangan keras kelas buruh Inggris. Undang-undang sepuluh jam kerja (The Ten Hours Bill) bukan hanya merupakan sebuah keberhasilan praktis yang besar, namun juga merupakan kemenangan prinsipil. Hal tersebut merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah, dalam makna: ekonomi-politik kelas menengah tunduk pada ekonomi-politik kelas buruh. Kemenangan lainnya, adalah didirikannya gerakan koperasi dan pabrik-pabrik kooperatif (pabrik yang dikelola bersama-sama). Itu membutikan bahwa, dalam prakteknya, kelas buruh sanggup dan mampu mengorganisir sendiri produksi dan distribusi, tanpa bantuan apapun dari kaum penghisap.


Selanjutnya, “Tuan-tuan tanah dan tuan pemilik modal akan tetap bertahan dengan menggunakan segala hak istimewa mereka, demi melindungi dan melanggengkan monopoli mereka (atas alat-alat produksi). Itulah sebabnya, sudah menjadi kewajiban besar kelas buruh untuk merebut kekuasaan politik. Kelas buruh nampaknya sudah mulai memahami keharusan semacam itu. Sebagaimana dibuktikan dengan menjalarnya kesadaran pergerakan kelas buruh Inggris, Prancis, Jerman, Italia … dengan segala usahanya mengorganisir buruh secara politis. Kelas buruh setidaknya memiliki satu elemen untuk keberhasilan perjuangannya, yakni keunggulan jumlahnya yang sangat besar. Namun, jumlah tadi hanya memiliki bobot dan arti jika mereka di persatukan dalam organisasi dan berderap maju ke arah tujuannya secara sadar” (Marx-Engels, Selected Writing, Volume1, hal. 347). Pengalaman-pengalaman lalu telah menunjukan kepada kita: bila kita mengabaikan solidaritas yang seharusnya terjalin di antara kelas buruh sedunia … atau bila kita gagal dalam menggalang kelas buruh untuk berjuang bersama—bahu membahu—maka segala usaha kita hanya akan bermuara pada kegagalan. Pertimbangan-pertimbangan tersebut lah, dan juga pertimbangan-pertimbangan yang menyangkut kebijakan luar negeri (sebagaimana yang telah di uraikan di depan),… yang telah mendorong rapat-rapat di (gedung) St. Martins Hall, untuk mencetuskan pendirian Asosiasi Kelas pekerja Intrernasional (lihat “Mehring”, hal. 327). Amanat tersebut di tutup dengan seruan perang yang tak tergoyahkan, “Kelas Buruh Sedunia… Bersatu lah!”.


Dalam “aturan-aturan peralihan” termuat pula prinsip-prinsip dasar Marxisme. Tugas pembebasan kelas buruh bukanlah semata-mata untuk menegakkan hak-hak istimewa bagi kelas yang baru berkuasa, namun untuk menghapuskan keberadaan kelas-kelas itu sendiri. Menundukkan kelas buruh secara ekonomis kepada pihak-pihak yang memiliki/menguasai alat-alat produksi (yang merupakan sumber penghidupan) akan menghasilkan: segala bentuk perhambaan; kemelaratan sosial; pengerdilan intelektual; dan ketergantungan secara politik. Karenanya, segenap gerakan politik harus lah juga merupakan sarana bagi pembebasan kelas buruh secara ekonomis. Pembebasan kelas buruh bukanlah sebuah tugas di tingkat lokal ataupun nasional belaka, namun harus meliputi tingkat dunia. Mencakup juga seluruh negeri yang …. masyarakatnya modern. Dengan demikian, tugas tersebut hanya dicapai lewat kerja sama dari perwaklan-perwakilan negeri-negeri tersebut. Aturan-aturan yang dirumuskan, menetapkan tugas dan kewenangan Dewan umum; yang terdriri atas buruh-buruh dari berbagai negeri yang terwakilkan dalam asosiasi.


Amanat inagurasi yang dicetuskan memang berbeda dalam bentuknya dibandingkan dengan yang terdapat di dalam manifesto komunis. “Di butuhkan waktu yang layak, yang seharusnya” tulis Marx kepada Engels, sebelum pergerakan (yang baru bangkit ini) kembali dengan semangat yang setara sebagaimana yang pernah kita capai dulu. Kebutuhan saat ini adalah bagaimana agar kita tetap setia pada prinsip namun, pada saat yang sama, tetap luwes.” (“Mehring”, hal. 329). Karenanya, dokumen-dokumen yang di hasilkan di London tersebut memiliki beberapa perbedaan, dari segi isinya… sebab tujuan pokoknya adalah untuk merangkul buruh-buruh dari berbagai tingkat perkembangan politik ke dalam satu kerangka kerja yang sama. Namun, walaupun secara tersirat, dokumen-dokumen tersebut tetap memiliki muatan gagasan-gagasan fundamental komunisme. Marx bertumpu pada kesadaran kelas kelas buruh yang berkembang lebih tinggi lewat aksi bersama mereka (united action) … dalam rangka memastikan kemenangan final sosialisme ilmiah (yang sudah harus dimulai dalam internasional-I) dalam menaklukan kelas kapitalis.


Pencapaian-pencapaian Internasional pertama.


Internasional-I berdiri seama 14 tahun, terhitung sejak tahun 1864 hingga tahun 1878. Karena tidak mungkin untuk membentangkan semua hasil-hasil kerja,nya maupun perdebatan/pertimbangan-pertimbangan yang di hasilkan lewat kongres-kongresnya… maka hanya pencapaian dan aktifitas-aktifitas organisasional yang paling signifikan sajalah yang akan kami kedepankan dalam kesempatan ini.

Internasional-I mencatat tanda-tanda sukses pertamanya dalam perjuangan anggota-anggotanya, yakni menghasilkan perubahan di Inggris. Pada 7 juli, 1866, dengan bersemangat Marx menulis surat kepada Engels, “Demonstrasi buruh yang berlangsung di Inggris cukup dahsyat, dibandingkan dengan apa yang pernah kita saksikan di Inggris sejak tahun 1849. Semua itu sepenuhnya merupakan kerja-kerja Internasional-I. Lucraft, contohnya, seorang pemimpin demonstrasi di Trafalgar Square, adalah juga anggota dewan kami. Dalam rapat akbar di Trafalgar Square tersebut, Lucraft menyerukan agar massa melakukan aksi yang sama di whitehall Gardeens, tempat di mana kita pernah memenggal kepala seorang raja, katanya. Tak lama kemudian, digalang pula aksi di Hyde Park, yang melibatkan tidak kurang dari 60.000 massa. Aksi tersebut hampir saja berkembang menjadi sebuah pemberontakan” (“Mehring”, hal. 349-350) .


Anggota-anggota Internasional-I melancarkan kampanye yang bersemangat untuk menuntut peraturan kerja yang progresif. Mereka menuntut hari kerja yang lebih pendek, mengutuk kerja malam dan semua bentuk kerja yang beresiko bagi perempuan dan anak-anak. Kongres Internasional-I di Jenewa,1866, menyerukan pemaksaan pemberlakuan peraturan/undang-undang semacam itu …kelas buruh bukanlah hendak mengkonsolidasikan kekuatan kelas yang berkuasa, malahan sebaliknya; kelas buruh akan memanfaatkan instrumen-instrumen kelas yang berkuasa untuk menghantam ‘majikannya’ sendiri” (“Mehring”, hal. 354).


Internasional-I mendorong tumbuhnya organisasi-organisasi serikat buruh di berbagai negeri. Internasional-I juga berusaha untuk meningkatkan kadar politik gerakan serikat buruh dengan menyadarkan anggota-anggotanya paham akan misi/tugas historisnya, “Menegakkan perang gerilya yang tak putus-putusnya—dalam kehidupan sehari-hari—antara buruh dengan modal. Serikat-serikat buruh akan menjadi jauh lebih penting lagi bila berperan sebagai pendorong utama bagi penghapusan kerja upahan secara terorganisir. Pada masa yang lalu, serikat-serikat buruh terlalu mengkonsentrasikan aktifitasnya bagi perjuangan yang segera dan frontal melawan modal. Namun, di masa-masa yang akan datang, serikat buruh tidak boleh pasif terhadap buruh-buruhnya sendiri (dalam mengantisipasi pergerakan sosial politik secara umum). Serikat-serikat buruh tersebut juga harus sanggup memandu massa buruh yang luas, agar massa sadar akan tujuan-tujuan mereka yang lebih tinggi. Sehingga, dengan tidak mementingkan diri sendiri, seorang buruh dapat berpartisipasi dalam pembebasan kelasnya yang jutaan jumlahnya” (“Mehring”, hal. 355). Segaris dengan pandangan di atas, Internasional-I mendukung aksi-aksi pemogokan buruh yang melanda berbagai negeri, menyusul terjadinya krisis ekonomi yang parah pada tahun 1866. Di mana pun terjadinya, Internasional-I meyerukan agar kelas Buruh menggalang dukungan bagi perjuangan kawan-kawannya di negeri lain (demi kepentingan mereka sendiri). Para kapitalis, yang merasakan betul akibat-akibatnya, dengan murka menyebutkan bahwa aksi-aksi buruh itu ‘di beli’, di danai, atau ‘ditunggangi’ oleh Internasional-I. Tudingan-tudingan mereka tersebut persis seperti yang biasa dilakukan oleh kelas yang mapan dewasa ini dalam menuduh aktifitas-aktifitas gerakan, yakni menudingnya dengan sebutan-sebutan ‘kelas kiri’, ‘orang-orang merah’, ataupun ‘kaum Trotskys’, dan lain sebagainya. Beberapa pemilik modal dari swiss, bahkan, mengirimkan utusan ke London, untuk menginvestigasi dan mencari tahu sumber-sumber keuangan Internasional-I. Ternyata, di luar dugaan mereka, sumber-sumber keuangan tersebut hanyalah sedikit saja, dan jauh dari cukup untuk ‘membeli’ atau menyogok kelas buruh. Marx menggambarkan kekonyolan mereka dengan kalimat sebagai berikut: “Kalau mereka—orang-orang kristen kolot dan ortodoks itu—sudah lahir pada abad-abad pertama penyebaran agama kristen … mungkin mereka sudah menyogok orang-orang untuk membocorkan nomor rekening bank yang di pakai St. Paulus di Roma.” (“Mehring”, hal. 395).


Internasional-I menyatakan solidaritas aktifnya kapan saja perjuangan rakyat mencapai titik perang saudara ataupun perang berlevel nasional. Dari tahun 1864 sampai dengan tahun 1869, Internasional-I telah mengirimkan empat amanat yang ditujukan kepada rakyat Amerika Serikat. Yang pertama, dikirim kepada presiden Lincoln, mendukung perlawanan pemerintahnya terhadap kekuasaan perbudakaan. Yang kedua, kepada presiden Johnson, sehubungan dengan peristiwa pembunuhan terhadap Lincoln. Yang ketiga, ditujukan kepada rakyat Amerika atas kemengannya melawan perbudakan. Yang keempat, kepada William Sylvis, presiden National Labour Union, sebagai bentuk protes terhadap usaha-usaha kelas yang berkuasa di Eropa, yang akan dapat menggiring Amerika Serikat ke dalam kancah peperangan.

Internasional-I membangkitkan kegeraman segenap borjuasi dan orang-orang murtad yang mau saja tunduk menghamba kepada mereka. Dalam dua amanat y ang ditulis oleh Marx, Internasional-I menyatakan salut dan dukungan kepada kelas buruh Prancis … ketika mereka, pada akhir perang Perancis-Prussia, 1871, bangkit mendirikan komune Paris. Sementara, pasukan tentara musuh telah begitu dekat mengepung pintu gerbang Paris (dan penguasa Prancis tak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya)… Kelas buruh dengan berani bergerak maju, menggalang kekuatan untuk membentuk Republik Kelas Buruh. Melihat hal tersebut, borjuasi Prancis malah menikam pergerakan rakyat tersebut dari belakang, justru dengan kekuatan/senjata yang mereka pinjam dari musuh, yakni tentara Bismarck. Pembantaian kelas buruh tersebut begitu keji dan berdarah. Seperti halnya ketika Jendral Badoglio menjagal dan memadamkan revolusi Italia (1943-1945), yang didukiung oleh kekuatan Anglo-Amerika dan kaum Stalinis.



Pencapaian nyata Internasional-I, antara lain, dakam keberhasilannya menyatukan perjuangan kelas buruh secara internasional. Sungguh pun di tingkat internalnya masih terbelakang, namun internasional-I telah menyediakan model/percontohan bagi semua Organisasi proletar berskala internasional. Betapa pun, istilah “Internasionalisme” telah tercantum dalam kamus-kamus umum, dan lagu “Internationale” di tulis berkat tegaknya Internasional-I.


Perjuangan Bagi Marxisme

Bersamaan dengan semakin gencarnya unjuk kekuatan solidaritas kelas buruh, Internasional-I telah menampilkan diri sebagai sarana dan ajang bagi penyebaran gagasan-gagasan Marxisme. Sungguh pun Marx di akui sebagai pemandu teoritis dan inspirator bagi Internasional, namun doktrin-doktrinnya diwajibkan diperdebatkan terlebih dahulu, sebelum dapat terima secara dominan… di dalam tubuh organisasi maupun jajaran kelas buruh yang berkesadaran kelas. Sejak semula, Marx harus menghadapi arus idiologi borjuis-liberal, dan juga menangkal tekanan-tekanan yang dilancarkan oleh pemimpin serikat-serikat buruh Inggris yang duduk di Dewan Umum.



Namun persaingan yang paling keras terhadap sosialisme ilmiah (yang berusaha mempengaruhi kelas buruh yang maju) datang dari berbagai macam sosialisme burjuis kecil—anarkisme, berbagai bentuk sektarianisme dan oportunisme—dalam berbagai persoalan-persoialan yang di hadapi pergerakan buruh. Tulis Marx dalam suratnya kepada Bolte (23 Nonember, 1871), “…sejarah internasional-I merupakan perjuangan berkelanjutan Dewan umum dalam menangkal/menghadapi sekte-sekte, para petualang amatiran, yang berusaha menonjolkan dirinya didalam tubuh Internasional-I. Mereka lah yang menentang gerak maju pergerakan sejati kelas buruh. Ajang pertarungan itu sendiri resminya memang terjadi di kongres-kongres. Namun, telah terlebih dahulu berlangsung dalam perundingan-perundingan perorangan di Dewan umum, juga dalam sesi-sesi individual” (Marx-Engels, Selected Correspondence, Moscow, hal. 326). 


Marx juga harus bergulat dengan ide-ide yang di ajarkan oleh Prodhoun (prodhounisme). Memang, dewasa ini, ide-ide semacam itu sudah tak terdengar lagi namun, pada pada massanya, merupakan sosialisme borjuis kecil yang paling populer. Kedua menantu lelaki Marx sendiri—Paul Lapargue dan Charles Longuet—sempat menjadi penganjur setia ajaran Proudhon (yang merepotkan) sebelum menjadi Marxis.


Berbeda dengan sosialisme ilmiah, Proudhounisme—walau pun juga menghendaki penghapusan kepemilikan perorangan—namun konyolnya tetap mempertahankan pertukaran produk-produk yang dimiliki secara perorangan. ‘Resep praktis’ mereka untuk mereformasi masyarakat borjuis adalah dengan membentuk suatu masyarakat koperasi. Sementara itu, tanpa kapasitas/pengetahuan yang memadai, mereka hendak, merombak begitu saja sistim moneter yang ada. Kelas sosialis borjuis kecil ini tidak sepakat dengan metode dan bentuk-bentuk pokok perjuangan proletarian. Proudhon sendiri menentang pembentukan serikat-serikat buruh, bahkan ia menyayangkan aksi-aksi pemogokan buruh. Singkatnya, ia menolak segala bentuk partisipasi langsung dalam politik. Para pengikutnya beranggapan bahwa sebuah bangsa seharusnya dipecah-pecah menjadi kelompok-kelompok kecil, yang kemudian akan membentuk semacam perhimpunan sukarela (sebagai penggantinya).


Marx dan kawan-kawannya terus menerus harus bergelut melawan kecenderungan semacam itu. Kecenderungan tersebut memang sangat kuat di kalangan buruh-buruh Prancis dan Swiss. Mereka kebanyakan buruh-buruh pabrik, namun terdapat juga para perajin tukang kecil yang masih begitu diliputi cara pandang borjui kecil.


Betapapun, pertarungan teoritik dan organisasional paling keras yang di hadapi oleh Karl Marx adalah melawan gagasan-gagasan anarkisme Mikhail Bakunin. Baknin adalah seorang veteran revolusioner Rusia, yang dianggap sebagai bapak pergerakan politik anarkis. Perbedaan pokok antara Marx dan Bakunin akan kami coba paparkan secara singkat saja. Marxisme mendasarkan diri sepenuh-penuhnya kepada kelas buruh industrial (sebagai kekuatan sosial yang paling menentukan dalam masyarakat modern). Sementara, Bakunin mencari basis sosial gerakan revolusionernya pada petani, kaum miskin kota (lumpen proletariat) dan elemen-elemen borjuis kecil lainnya yang miskin dan sengsara.


Marxisme memerangi segala bentuk pemerintah ataupun otoritas yang reaksioner… dengan menegakkan kekuasan negara di tangan kelas buruh—sebagai sebuah transisi yang harus di jalani—dalam rangka penghapusan segenap kekuasaan negara, maupun segala bentuk penindasan. Sedangkan anarkisme menentang segala otoritas maupun Negara—tidak perduli apakah negara tersebut berkarakter progresif atau reaksioner—dan anarkisme tidak memandang hakikat kelas sebagai sesuatu yang perlu di pertimbangkan. Itulah sebabnya kaum anarkis menolak segala bentuk partisipasi dalam politik. Sementara kaum Marxis mendidik kelas buruh agar terlibat secara aktif dalam politik, dan merebut kekuasaan negara dengan “segala sarana yang memungkinkan”. 


Perbedaan-perbedaan prinsipil tersebut mendorong Bakunin untuk menyusun sebuah organisasi rahasia di dalam tubuh internasional-I; yang bertujuan untuk mengambil alih kepemimpinan internasional-I lewat taktik-taktik konspirasi. Tak pelak lagi pertarungan internal di dalam tubuh internasional-I (antara dua arus kecendrungan yang tak terdamaikan ini) mengganggu dan memperlemah kekuatan internasional-I.


Kaum Marxis juga masih harus menghadapi pimpinan gerakan buruh Jerman (yang cenderung mengikuti ajaran-ajaran Lassale). Kaum Marxis harus menghadapinya, paling tidak, dalam dua persoalan pokok. Pertama, dalah hal oportunis mereka dalam melancarkan taktik—berkaitan dengan persoalan kekuatan manakah yang akan dilibatkan bersama—dalam perjuangan. Mereka mendorong kebijakan proletarian yang independen namun, pada saat yang sama, “kaum sosialis Bismarck” ini bersikap sektarian terhadap serikat-serikat buruh. Mereka menolak memasuki atau pun mengorganisir serikat buruh manapun yang tidak menjalankan kepemimpinan dan program-program mereka sendiri. Mereka tidak mengerti perbedaan antara serikat buruh sebagai organisasi massa (yang merangkul buruh dari bermacam latar belakang politik maupun ekonomi) dengan partai proletar (yang merupakan organisasi kelas buruh revolusioner dengan cara pandang yang khas, yakni cara pandang sosialis).


Sepanjang hayatnya, para pendiri internasional-I harus mengahadapi berbagai musuh baik dari luar maupun meladeni perlawanan-perlawanan di dalam. Kekuatan-kekuatan destruktif tersebut semakin tak tertahankan, apalagi di bawah kondisi-kondisi yang keras. Yakni saat tertekannya pergerakan buruh secara internasional, yakni saat komune Paris dipukul. Semuanya itu mengakibatkan terjadinya demoralisasi, perpecahan, dan akhirnya pembubaran internasional-I secara formal. Persisnya terjadi pada tahun 1878, setelah markas besarnya dipindah ke New York.


Sungguh pun internasional pertama telah bubar, tapi hasil kerjanya masih bertahan. Pada tahun 1878, untuk menangkis kesimpulan bahwa internasional telah gagal, Marx menulis sebagai berikut, “lihatlah dari fakta bahwa partai-partai buruh sosial-demokrasi di Jerman, Swiss, Denmark, Portugis, Italia, Belgia, Belanda, dan Amerika Utara (yang diorganisir dalam batas wilayah nasional) … tidak lagi merupakan bagian-bagian yang sama sekali terpisah-pisah. Mereka lebih nampak sebagai kelas buruh itu sendiri dalam hubungannya yang langsung, aktif dan berkesinambungan, yang dipersatukan oleh tujuan-tujuan yang sama, pertukaran bantuan, pertukaran gagasan.. jauh dari lenyap sama sekali. Internasional-I telah tumbuh dari satu tahap menuju tahap yang lebih tinggi lagi (dimana semua potensi awalnya harus dituntaskan/dilampaui terlebih dahulu sebelum menginjak tahap yang lebih tinggi). Selama menempuh rangkaian perkembangan yang yang berkesinambungan tersebut, internasional-I harus menjalani berbagai perubahan sebelum bab final dalam sejarahnya dapat ditutup (“Mehring” , hal. 383-384).


Akan terlihat bahwa pandangan jauh ke depan Marx tentang perubahan yang dijalani Internasional-I telah di benarkan sejarah.

Bab II: Kebangkitan Buruh dan Sosialis Internasional (1889-1904)

Trotsky pernah mengkategorikan periode aktifitas kelas buruh dalam internasional-I sebagai periode antisipasi. Manifesto komunis di pandang olehnya sebagai antisipasi teoritik dari pergerakan buruh modern. Internasional-I sebagai antisipasi praktis dari perhimpunan (organisasi) buruh di tingkat dunia. Sedangkan Komune Paris dilihatnya sebagai antisipasi revolusioner atas kediktatoran proletariat.



Lenin sendiri kemudian memandang internasional-III sebagai periode aksi internasional (baca: periode internasional dalam aksi). Yang telah menempatkan sumbangan besar Marx atas teori politik ke dalam praktek: gagasan bahwa kelas buruh harus berjuang untuk mendirikan kediktatoran proletariat.



Suatu jembatan historis untuk menyambungkan antara periode antisipasi internasional-I dengan periode aksi internasional-II, sehingga internasional-II itu sendiri merupakan periode (organisasi) internasional yang mengangkat massa buruh yang tersebar di seluruh dunia dari himpitan ketertindasannya, dan mengorganisir mereka dalam serikat-serikat buruh dan partai-partai politik kelas buruh. Ringkasnya menyiapkan lahan bagi pergerakan massa buruh yang independen.

Walau masih bertahan sampai sekitar enam tahun ke muka, namun internasional-I benar-benar bubar pada tahun 1872. “Tulang punggungnya” dipatahkan oleh kekuatan Komune Paris. Dibutuhkan waktu selama selama 17 tahun, sebagai masa penyembuhan, sampai kekuatan kelas buruh benar-benar bisa dipulihkan untuk kembali berderap di arena internasional dan membentuk internasional yang baru.


Tahun-tahun sekitar 1870-an sampai 1880-an adalah masa penindasan politik yang reaksioner di seantero Eropa. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi-kondisi eksternal yang, pada hakekatnya, sama dengan yang mendorong terciptanya konservatisme pada tahun 1850-an, yakni disebabkan oleh perkembangan kapitalisme yang luar biasa atas negara-negara bangsa. Kesemuanya itu tidak saja memberikan kepercayaan diri pada penguasa-penguasa kapitalis, namun juga membuat takjub kelas buruh—mengakibatkan kelas buruh ditelikung dalam sistim kapitalis, di bawah negeri kapitalis dan ideologinya. Sikap yang menghamba/patuh terjadi pada buruh-buruh aristokrat dan birokrat, yang juga mendapatkan jatah dari penghisapan kapitalis yang dilakukan oleh negeri-negeri yang lebih maju. Nampaknya, sudah menjadi hukum sejarah, bahwa dengan semakin mapannya kekuatan material kelas kapitalis, semakin keras pula reaksi-reaksi yang ditimpakan kapada kelas buruh. Hal tersebut tercermin dalam pengalaman Amerika Serikat dari tahun 1923 hingga tahun 1929, dan dari tahun 1923 hingga tahun 1929, dan dari tahun 1947 hingga saat ini.

Namun, ironisnya, perkembangan industri yang pesat, pada saat yang sama, memberikan benih bagi kelahiran gerakan buruh dalam bentuk yang paling sederhana. Perkembangan industri yang pesat ternyata juga menyediakan kondisi-kondisi material bagi pembentukan organisasi buruh. Sungguh pun, di bawah kondisi politik yang menekan, serikat-serikat buruh—bahkan, dalam kasus-kasus tertentu, partai sosialis—masih dapat menghimpun kekuatannya. Bahkan, tampil dengan cukup diperhitungkan. Gejala yang sama tersebut juga terjadi di Amerika Serikat, di mana serikat-serikat buruh tertentu berkembang cukup baik dari segi kwantitas, walau harus di akui terdapat kecenderungan mengalami keterbelakangan secara politik maupun ideologi.


Proses kontradiktif di atas, secara mencolok, terjadi di Jerman, sehingga pusat internasional-II beralih ke Jerman (padahal, pusat Internasional-I di Inggris). Setelah kemenangan dalam perang Perancis-Prusia pada tahun 1871, Jerman—yang bersatu di bawah monarki Prusia—bangkit sebagai kekuatan industrial. Proses yang hampi sama dengan yang terjadi di Inggris dua puluh tahun lalu. Dengan dilakukannya perombakan besar-besaran atas fondasi ekonomi Jerman, gerakan buruh menjadi lebih hidup dan bersemangat dalam memperjuangkan kondisi-kondisi kerja dan penghidupan yang lebih baik, atau perjuangan kelas buruh menemukan salurannya di dalam organisasi.


Konsekwensi dan karakter revolusi industrial di Jerman tersebut digambarkan oleh Engels dalam suratnya kepada Bebel. Bebel adalah seorang (Marxis) pimpinan massa gerakan sosial-demokrasi Jerman. Pada tanggal 11 Desember, 1874, Engels menulis dari London:

“Fakta-fakta yang menguntungkan kita dalam revolusi industrial di Jerman adalah terletak pada laju pertumbuhan yang begitu cepat. Sementara, hal yang sama, tidak terjadi di Prancis atau pun Inggris. Di Inggris dan Prancis, kesenjangan pedesaan dengan perkotaan, daerah agraris dengan industrial, begitu jauhnya. (Sehingga di butuhkan proses/waktu yang begitu lama agar tani dapat ke kota menjadi buruh). Massa rakyat yang luas, masih demikian terikat dengan kebiasaan/tradisi yang berlaku di Inggris ataupun Prancis. Itu semua ditambah dengan ingatan masa akan pengalaman buruk, atau kegagalan gerakan di Prancis tahun 1848. Di lain pihak, berbeda dengan kita (di Jerman), di sini segala sesuatunya bergerak dengan arus yang deras. Revolusi industri di Jerman justru menemukan momentum gerakannya setelah revolusi 1848, yakni dengan tumbuhnya borjuasi Jerman (walau masih sangat rapuh). Namun, itu semua di percepat oleh beberapa faktor. Pertama, Disingkirkannya hambatan-hambatan internal pada tahun 1866 sampai dengan tahun 1870. Kedua, pembayaran pampasan perang oleh Prancis karena kekalahan dari Jerman pada tahun 1870 (kemudian material pampasan perang tersebut ditanamkan sebagai modal secara kapitalistik). Maka kita bisa membangun revolusi industrial yang lebih dalam dan menyeluruh. Dan, khususnya, yang lebih luas dan komprehensif dibandingkan dengan negeri-negeri lain. Masih ditambah lagi dengan kelas buruhnya yang utuh dan masih segar, tak mengalami demoralisasi (akibat pukulan atau kekalahan telak).” (Marx-Engels, Seleceted Correspondence, Moscow, hal. 455-456) 


Dalam rangka membela kepentingan kelas borjuis, para tuan tanah kaya, dan juga kerajaannya, Perdana Menteri Bismarck berusaha mematahkan gerakan sosial-demokratik yang tengah berkembang di kalangan kelas buruh jerman yang maju. Namun, fakta menunjukan, total suara yang di peroleh social-demokratik mengalami peningkatan dari 102.000 suara (pada tahun 1871) menjadi 493.000 suara (pada tahun 1877). Kemudian, pada tahun 1879, penguasa Jerman mengeluarkan UU Anti-Sosialis. UU tersebut melarang aktifitas propaganda sosialis demokratik di Jerman. UU tersebut juga membatasi aktifitas partai, termasuk kegiatan-kegiatan parlementernya—persis seperti apa yang terjadi pada saat pemberlakuan Smith Act di Amerika Serikat, yang mengilegalkan Sosialis Workers Party dan Communist Party. Akibat diberlakukannya UU tersebut, tak terhitung banyaknya tindak kekerasan/penganiayaan yang dilakukan oleh aparat negara terhadap buruh-buruh dan pimpinan social-demokratik.


Namun, penindasan yang dilakukan terhadap partai Marxis tersebut, bukannya menghancurkan, malah menaikan popularitasnya di hadapan massa Buruh. Setelah sempat mengalami penurunan (pada tahun pertama pelarangan) pertumbuhan/kenaikan suaranya melonjak dengan cepat pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1884 Partai Sosial-Demokrasi meraih angka perolehan suara tertinggi pada saat itu, yakni 550.000 suara. Pada tahun 1890, ketika UU itu di cabut, angkanya malah melonjak tiga kali lipat. 


“Pemilihan umum telah menunjukkan”, tulis Engels kepada Babel pada tanggal 18 november, 1884 , “bahwa kita tidak boleh terlena, misalkan dengan memberikan kompromi-kompromi kepada lawan-lawan kita. Kita sendiri telah mendapatkan popularitas dan menjadi kekuatan perlawanan yang diperhitungkan. Nyatalah bahwa kekuasaan lah yang ‘berbicara’, dan hanya selama kita cukup kuat (berkuasa) sajalah, kita akan didengarkan oleh orang-orang murtad sekalipun. Proletariat Jerman saat ini telah menjadi partai yang besar, semoga kehadirannya tidak disia-siakan" (Marx-Engels, Selected Correspondence, New York, hal 429-430).

Sementara perkembangan yang menggembirakan tengah berlangsung dalam gerakan buruh Jerman, organinsasi-organisasi buruh di Inggris justru sedang mengalami kemandegan/stagnasi. Engels menggambarkan hal tersebut dalam suratnya kepada Bebel (30 Agustus,1883): “Keikutsertaan dalam penguasaan (dominasi dan Monopoli) pasar dunia merupakan basis bagi kemandulan politik kelas buruh di Inggris. Penghisapan eksternal memang di lakukan oleh kelas Borjuis tarhadap kelas buruh di Inggris namun, di pihak lain, mereka dengan cerdiknya membiarkan kelas buruh ikut serta ‘mencicipi segelintir keuntungan berlimpah yang mereka peroleh. Pembuntutan seperti itulah yang membuat kelas buruh Inggris mengikuti jejak langkah patai liberal. Sayang sekali hal seperti tersebut luput dari antisipasi kelas buruh di Inggris…” (Marx-Engels, Selected Works, New York, hal. 420). Kemudian, pada tanggal 17 Juni, 1889, Engels menjelaskan kepada Bernstein, “Pada prinsipnya, serikat-serikat buruh di Inggris bahkan membatasi semua aksi-aksi politik dalam ketetapan-ketetapan mereka. Sehingga, pada hakikatnya, mereka juga memberangus—seluruh aktifitas umum kelas buruh—sebagai sebuah kelas tersendiri yang independen. Dengan demikian, yang kita lihat hanyalah fenomena gerakan buruh… sebagai aksi-aksi pemogokan yang terjadi di berbagai tempat secara terpisah-pisah, berserakan… tanpa adanya peningkatan gerakan, atau langkah ke depan” (Marx-Engels, Selected Correspondence, Moscow, hal. 386).


Di bawah syarat-syarat seperti itu, Marx menganggap tiap usaha untuk segera membentuk Internasional baru merupakan sesuatu yang prematur. Karenanya, Marx menulis surat kepada seorang revolusioner berkebangsaan Belanda, F. Domela Nieuwenhuis, pada tahun 1881, “Aku yakin bahwa momentum yang tepat bagi sebuah asosiasi Internasional yang baru bagi kelas pekerja belum tiba. Sehingga, menurut pertimbanganku, bahwa semua kongres-kongres kelas buruh atau kongres-kongres kelas sosialis … sejauh tidak berkaitan langsung dengan pembahasan persoalan negeri-negeri mereka sendiri … sebagai upaya yang sia-sia, bahkan membahayakan. Pada saat ini, segencar apa pun diselenggarakan pertemuan/kongres-kongres bertingkat intrernasional… hanya akan terbentur pada kejenuhan yang menjemukan (Marx-Engels, Seleceted Works, Moscow, hal. 411) . Pandangan Marx tersebut teruji dalam kenyataan, ketika sejumlah kaum sosialis Belgia dan Jerman berusaha membangkitkan kembali Internasional pada tahun 1880-an, tak ada hasil yang nyata.


Barulah pada akhir 1880-an terjadi perubahan situasi, akibat beberapa faktor penting. Pertama, pertumbuhan yang bertahap penguatan gerakan sosialis dan serikat-serikat Buruh di seantero Eropa. Kedua, Inggris kehilangan monopoli industrialnya atas dunia, yang mengakibatkan munculnya serikat buruh dengan semangat baru di Inggris (New Unionisme). Ketiga, perjuangan kelas buruh-buruh sosialis di Jerman, sebagaimana telah di uraikan sebelumnya .


Di Prancis misalnya, Julies Gaude, yang telah mendapatkan pengampunan (amnesti), sehubungan dengan keterlibatannya dalam “pemberontakkan” komune Paris memperoleh sambutan dan perhatian yang antusias dari gerakan/serikat-serikat buruh yang baru. Bahkan, setelah tahun 1880, ia berhasil mengorganisir pembentukan partai sosialis yang kuat. Di Inggris sendiri, telah dibentuk komunitas-komunitas propagandis bagi penyebaran ajaran-ajaran Marx dan gagasan-gagasan sosialis. Misalnya, The Sosial democratic Federation, Fabian society. Melewati tahun 1880-an, partai-partai buruh maupun sosialis di organisir atau bahkan telah didirikan di berbagai negeri, antara lain Denmark, Sewedia, Belgia, Austria, Swiss dan Italia. Kelompok-kelompok Marxis sudah mulai bekerja di Finlandia dan Rusia. Di Amerika Serikat, Socialist Labour Party di bentuk tahun 1877; kemudian, pada tahun 1886, kita bias menyaksikan masa-masa kejayaan Knights of Labour yang menggelar aksi-aksi pemogokan buruh berskala nasional.


Kejatuhan monopoli Inggris atas pasar dunia (setelah 1878), berakibat pada melonjaknya angka pengangguran dan tekanan-tekanan sosial. Hal itu secara tajam terjadi di sudut timur kota London. Tahun 1886, di Hyde Park, terjadi aksi demonstrasi kaum pengangguran yang berakhir dengan kekerasan. Dengan anjloknya industri (yang berakibat menyempitnya lapangan kerja), membanjirlah gerakan besar dari kalangan massa pengangguran (yang tak berpendidikan/tak berketrampilan). Itu terjadi pada tahun 1889. Saat yang paling mengesankan dari gerakan “Unionisme Baru” tersebut adalah saat dipimpin oleh John Burns, Tom Mann dan Bemn Tillet ( yang juga adalah anggota-anggota Social-Democratic Federation, yang bersimpati pada gagasan-gagasan sosialis). Saat tersebut adalah ketika buruh-buruh galangan kapal dan minyak melancarkan aksi pemogokan besar-besaran. Berikut ini adalah pengamatan ringkas yang dibuat Engels sehubungan gerakan tersebut (ditulis oleh Engels pada tahun 1892):


Sudut timur kota London tidak lagi merupakan “kubangan” yang mandul sebagaimana halnya 6 tahun yang lalu. Ia telah hidup kembali—menggugurkan sisa-sisa ketidak berdayaannya—menjadi markas pusat Unionisme Baru, yakni oirganisasi massa buruh yang “tak berketrampilan”. Organisasi tersebut mungkin saja menyerap sebagian bentuk dari serikat-serikat buruh lama (yang beranggotakan buruh-buruh yang “terampil”), namun sama sekali berbeda dalam wataknya. Serikat-serikat buruh lama di bangun dan bekerja dengan berlandaskan tradisi mapan yang masih juga dipertahankan. Contohnya saja, mereka memandang sistim pengupahan sebagai sesuatu yang sudah baku, mapan, final—sesuatu yang hanya perlu di ‘sesuaikan’ saja, sesuai kebutuhan anggota-anggotanya. Sementara, serikat-sertikat buruh yang baru dilahirkan ketika kepercayaan/jaminan bagi kelanggengan sistim pengupahan tengah terguncang sangat keras. Para pendiri dan penganjur gerakan tersebut adalah kaum sosialis—secara sadar atau pun emosional. Massa buruh yang berlimpah ini—yang dipersatukan dalam ketertindasan yang sama—memang nampak lugu, kasar, dipandang remeh oleh kalangan aristokrat kelas buruh. Namun harus dicamkan, pikiran mereka masih benar-benar murni—semuanya terbebas dari prasangka-prasangka/pandangan-pandangan ‘terhormat’ kelas borjuis, sesuatu yang masih juga di pertahanakan dan diwarisi oleh para pimpinan/anggota serikat serikat buruh ‘lama’. Dan sekarang, kita lihat sendiri, betapa serikat-serikat buruh yang baru ini mengambil posisi memimpin, memberikan arah gerakan kepada kelas buruh pada umumnya. Bahkan, dari waktu ke waktu, mulai menyeret serikat buruh lama yang kaya dan sombong (Marx-Engels, Selected Correspondence, New York, hal. 465).


Dari PRM

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda