Selasa, 30 November 2010

Selasa, November 30, 2010
Lenin

Adalah pepatah yang terkenal yang berkata bahwa jikalau seandainya aksioma-aksioma ilmu-ukur merugikan kepentingan-kepentingan manusia, maka pasti akan kiranya dibuat usaha-usaha untuk menyangkalnya. Teori-teori ilmu alam yang merugikan prasangka-prasangka lama dari lmu agama telah menimbulkan dan masih tetap menimbulkan perlawanan yang paling gila. Tidak mengherankan karenanya, bahwa ajaran Marx, yang langsung dipakai untuk membuka pikiran dan mengorganisasi klas yang maju di dalam masyarakat modern, yang menunjukkan tugas-tugas klas ini dan membuktikan penggantian yang tak terelakkan – karena perkembangan ekonomi – dari sistim yang sekarang oleh tataaturan-tataaturan baru, tidak mengherankan bahwa ajaran ini terpaksa memperjuangkan setiap langkah pada jalan kehidupannya.
    Tak usah berbicara tentang ilmu pengetahuan dan filsafat burjuis, yang secara birokratis diajarkan oleh profesor-profesor birokratis untuk menumpulkan pikiran generasi yang sedang naik dan yang berasal dari klas-klas berada, dan “melatih”nya melawan musuh-musuh dalam dan luar. Ilmu pengetahuan ini bahkan tidak mau dengar tentang Marxisme, dengan menyatakan bahwa Marxisme itu telah disangkal dan dimusnahkan; baik sarjana-sarjana muda yang sedang membangun karier mereka dengan menyangkal Sosialisme, maupun orang-orang tua jompo yang tetap memelihara tradisi-tradisi dari segala macam “sistim” usang, , menyerang Marx dengan semangat yang sama. Kemajuan Marxisme dan kenyataan bahwa ide-idenya sedang meluas dan mencengkam kuat-kuat di tengah-tengah klas buruh dengan tak terelakkan menimbulkan  semakin sering dan semakin meruncingnya serangan-serangan burjuis ini terhadap Marxisme, yang hanya menjadi lebih kuat, lebih tergembleng dan lebih berdaya hidup setiap kali ia “dimusnahkan” oleh ilmu pengetahuan resmi.
    Akan tetapi juga di anatra doktrin-doktrin yang bertalian dengan perjuangan klas buruh dan yang tersebar terutama di kalangan proletariat, Marxisme samasekali tidak mengkonsolidasi kedudukannya dengan segera. Dalam setengah abad pertama dari eksistensinya  (dari tahun-tahun 40-an abad XIX dan selanjutnya) Marxisme terlibat dalam memerangi teori-teori yang secara fundamentil bermusuhan dengannya.  Dalam pertengahan pertama tahun-tahun 40-an  Marx dan Engels telah berhasil membuat perhitungan dengan kaum Hegelian Muda 1 radikal yang memegang pendirian idealisme filsafat. Pada akhir tahun-tahun 40-an perjuangan memasuki lapangan doktrin-doktrin ekonomi, yaitu menentang Proudhonisme 2. Tahun-tahun limapuluhan menyaksikan penyudahan perjuangan ini: kritik terhadap partai-partai dan doktrin-doktrin yang menyatakan diri dalam tahun 1848 yang membadai itu. Dalam tahun-tahun 60-an perjuangan dialihkan dari bidang teori umu ke suatu bidang yang lebih dekat pada gerakan buruh yang langsung: dikeluarkannya Bakuninisme dari Internasionale 3. Pada permulaan tahun-tahun 70-an mimbar ditempati untuk waktu yang singkat oleh seorang Proudhonis, Mülberger, dan dalam akhir tahun-tahun 70-an – oleh seorang positivis Dühring 4. Akan tetapi pengaruh ke dua-duanya terhadap proletariat sudah samasekali tak berarti. Marxisme sudah mendapatkan kemenangan  yang tak tersangkal atas segala ideologi lainnya dalam gerakan buruh.
    Menjelang tahun-tahun 90-an abad yang lalu kemenangan ini pada pokoknya sudah dilengkapkan. Bahkan di negeri-negeri Latin, di mana tradisi-tradisi Proudhonisme bertahan paling lama dari semuanya, partai-partai kaum buruh dalam kenyataannya mendasarkan program-program serta taktiknya atas dasar Marximse. Organisasi internasional yang dihidupkan kembali dalam gerakan buruh – dalam bentuk kongres-kongres internasional berkala – sejak semula, dan hampir tanpa perjuangan, menerima pendirian Marxisme menyingkirkan segala doktrin yang sedikit banyaknya integral dan yang bermusuhan dengannya, tendensi-tendensi yang menyatakan diri di dalam doktrin-doktrin itu mulai mencari saluran-saluran lain. Bentuk-bentuk dan motif-motif perjuangan telag berubah, akan tetapi perjuangan berlangsung terus. Dan setengah abad  kedua dari eksistensi Marxisme dimulai ( dalam tahun-tahun 90-an abad yang lalu) dengan perjuangan dari suatu aliran yang bermusuhan terhadap Marxisme di dalam Marxisme.
    Bernstein, pada suatu masa seorang Marxis ortodoks, memberikan namanya kepada aliran ini 5, dengan membuat paling banyak ribut, tampil dengan pernyataan amandemen-amandemen yang paling integral terhadap Marx, dengan peninjauan kembali terhadap Marx, dengan revisionisme. Bahkan di Rusia, dimana, karena keterbelakangan ekonomi negeri dan dominasi penduduk  tani yang ditekan oleh peninggalan-peninggalan sistim perhambaan, Sosialisme non Marxis barang tentu telah bertahan paling lama dari semuanya; bahkan di Rusia ia dengan jelas, di depan mata kita, sedang tumbuh menjadi revisionisme.  Baik dalam persoalan agraria (program munisipalisasi semua tanah), maupun dalam persoalan-persoalan umum mengenai program serta taktik, kaum Sosial-Narodnik 6 kita makin lama makin menggantikan sisa-sisa sistim lama yang sedang melaju dan lenyap, yang dengan caranya sendiri adalah integral dan secara fundamentil bermusuhan dengan Marxisme, dengan “amandemen-amandemen” terhadap Marx.
    Sosialisme pra-Marx telah dihancurkan. Ia meneruskan perjuangan sudah bukan lagi di atas dasarnya sendiri yang bebas, akan tetapi di atas dasar umum Marxisme – sebagai revisionisme. Maka, marilah kita tinjau isi ideologi dari revisionisme.
    Dalam lapangan filsafat revisionisme mengekor “ilmu pengetahuan” keprofesoran burjuis. Para profesor itu, kembali kepada Kant” – dan revisionisme merangkak di belakang kaum neo-Kantian 7 itu; para profesor mengulang-ulangi barang-barang vulger yang telah diucapkan oleh pendeta-pendeta beribu-ribu kali terhadap meterialisme filsafat – dan kaum revisionis, dengan tersenyum sombong, berkomat-kamit (kata demi kata menurut Handbuch* terbaru) bahwa materialisme telah “disangkal” sudah sejak lama. Para profesor memperlakukan Hegel 8  sebagai “anjing mati” 9, dan, sambil sendiri mengkhotbahkan idealisme, hanya idealisme yang seribu kali lebih dangkal dan vulger daripada idealisme Hegel, mereka dengan menghinakan mengangkat bahu terhadap dialektika – dan kaum revisionis merangkak mengikuti mereka ke dalam rawa vulgerisasi ilmu pengetahuan secara filsafat, menggantikan dialektika yang “penuh akal” (dan revolusioner) dengan “evolusi” yang “sederhana” (dan tenang). Para Profesor menutupi pembayaran gaji resmi mereka dengan menyesuaikan baik sistim-sistim idealis, maupun sistim-sistim “kritis” mereka dengan “fislsafat” Zaman Tengah yang sedang berkuasa (yaitu dengan ilmu agama) – dan kaum revisionis mendekat pada mereka dan berusaha menjadikan agama suatu  “persoalan pribadi”, bukan dalam hubungan dengan negara modern, melainkan dalam hubungan dengan partai dari klas yang maju.
    Apa arti klas sesungguhnya dari “amandemen-amandemen” terhadap Marx seperti itu, tidaklah perlu disebut – itu jelas dengan sendirinya. Kami semata-mata akan mencatat bahwa satu-satunya Marxis di dalam gerakan Sosial-Demokratis internasional, yang mengkritik dari titikpandangan materialisme dialektik yang konsekwen hal-hal vulger yang tak masuk akal, yang diucapkan oleh kaum revisionis, adalah Plekhanov 10. Ini mesti ditekankan semakin tegas lagi, karena usaha-usaha yang samasekali keliru sedang dibuat di zaman kita ini untuk menyelundupkan rombengan filsafat lama dan reaksioner di bawah kedok kritik terhadap oportunisme taktis Plekhanov**.
     Melangkah kepada ekonomi politik, pertama-tama mesti dicatat, bahwa “amandemen-amandemen” kaum revisionis dalam lapangan ini adalah jauh lebih beranekaragam dan sampai ke garis-garis kecilnya; diadakan usaha-usaha untuk mempengaruhi publik dengan mengemukakan “bahan-bahan baru mengenai perkembangan ekonomi”.  Dikatakan bahwa konsentrasi dan didesaknya produksi kecil-kecilan oleh produksi besar-besaran samasekali tidak terjadi dalam pertanian, sedangkan dalam lapangan perdagangan dan industri hal itu berlangsung dengan sangat lambat. Dikatakan bahwa krisis-krisis ini telah menjadi lebih jarang dan dengan kekuatan yang berkurang, dan bahwa kartel-kartel dan trust-trust meungkin akan membuat kapital mampu meniadakan krisis-krisis samasekali. Dikatakan bahwa “ teori keruntuhan” ke mana kapitalisme sedang menuju adalah tidak beralasan, karena antagonisme-antagonisme klas cenderung menjadi lebih lunak dan kurang tajam. Dikatakan akhirnya, bahwa tidaklah salah untuk mengoreksi teori nilai Marx sesuai dengan Böhm-Bewrk 12.
    Perjuangan melawan kaum revisionis mengenai persoalan-persoalan ini menghasilkan suatu kehidupan kembali pikiran teoritis dari Sosialisme internasional yang sama bermanfaatnya seperti yang ditimbulkan oleh polemik  Engels dengan Dühring duapuluh tahun lebih dulu. Argumen-argumen kaum revisionis dianalisa dengan bantuan fakta-fakta dan angka-angka. Dibuktikan bahwa kaum revisionis secara sistimatis memulasi produksi kecil-kecilan modern. Kenyataan keunggulan teknis dan komersiil dari produksi besar-besaran atas produksi kecil-kecilan bukan saja dalam industri, melainkan juga dalam pertanian, dibuktikan oleh bahan-bahan yang tak tersangkal. Akan tetapi produksi barangdagangan jauh kurang berkembang dalam pertanian, dan ahli-ahli statistik srta ekonomi masa kini, biasanya, tidaklah begitu pandai dalam memilih cabang-cabang khusus (kadang-kadang bahkan operasi-operasi khusus) dalam pertanian yang menunjukkan bahwa pertanian secara progresif sedang ditarik ke dalam pertukaran ekonomi dunia. Produksi kecil-kecilan mempertahankan diri di atas reruntuhan ekonomi alamiah dengan memburuknya makanan secara  terus menerus , dengan  kelaparan yang kronis, dengan memanjangnya hari-kerja, memburuknya kwalitas ternak dan pemeliharaan yang diberikan kepada ternak, pendek kata, persis dengan metode-metode dengan mana produksi kerajinan-tangan pernah mempertahankan diri terhadap manufaktur kapitalis. Setiap langkah maju dalam ilmu-pengetahuan dan teknik tak dapat tidak dan dengan takkenalampun menggerowoti dasar-dasar produksi kecil-kecilan dalam masyarakat kapitalis, dan adalah tugas ekonomi politik Sosialis untuk menyelidiki proses ini dalam segala bentuknya yang seringkali rumit dan ruwet, untuk membuktikan kepada si produsen-kecil ketidakmungkinan baginya mempertahankan diri di bawah kapitalisme, ketakberpengharapan usaha pertanian kaum tani di bawah kapitalisme, dan keharusan si-petani mengambil pendirian proletar. Mengenai persoalan ini kaum revisionis berdosa, dari sudut pendirian ilmiah, karena dengan secara dankal menggeneralisasi fakta-fakta yang dipilih secara sepihak, tanpa dalam hubungannya dengan seluruh sistim kapitalisme; sedangkan dari sudut pendirian politik mereka dengan takterelakkan, apakah mereka ingini atau tidak, mengundang atau mendesak si-petani untuk menerima pandangan si-majikan (yaitu, pandangan burjuis) sebagai ganti mendesaknya untuk menerima pandangan si-proletar revolusioner.
    Kedudukan revisionis bahkan lebih jelek lagi sejauh mengenai teori krisis-krisis dan teori keruntuhan. Hanya untuk jangka waktu yang paling pendek, dan hanya orang-orang yang paling pendek-pandangannya, dapat berfikir tentang membentuk kembali dasar-dasar ajaran Marx karena kenaikan industri dan kemakmuran selama beberapa tahun. Kenyataan riil sangat segera membuat jelas kepada kaum revisionis  bahwa krisis-kriris bukanlah sesuatu dari zaman lampau: krisis-kriris datang setelah kemakmuran. Bentuk-bentuk, urutan, gambaran dari krisis-kriris tertentu berubah, akan tetapi krisis-krisis tetap merupakan suatu komponen yang tak terelakkan dari sistim kapitalis. Sambil mempersatukan produksi, kartel-kartel dan trust-trust, apada waktu yang sama dan di mata umum, terus memperhebat anarki produksi, keadaan tidak terjaminnya penghidupan proletariat, dan penindasan kapital, dan dengan demikian memperuncing antagonisme-antagonisme klas hingga tingkat yang belum terdapat sebelumnya. Bahwa kapitalisme sedang bergerak menuju keruntuhannya – baik dalam arti krisis politik dan ekonomi sendiri-sendiri, maupun dalam arti keruntuhan selengkapnya dari seluruh sistim kapitalis – ini telah dibuat terutama jelas, dan dalam ukuran yang terutama luas, justru oleh trust-trust raksasa yang paling modern itu. Krisis keuangan baru-baru ini di Amerika dan peningkatan yang mengerikan dari pengangguran di seluruh Eropa, untuk tidak berkata apa-apa tentang krisis industri yang sedang mengancam dan yang sedang dibuktikan  oleh banyak tanda-tanda – semua ini telah menyebabkan bahwa “teori-teori” kaum revisionis yang belum lama ini kini dilupakan oleh setiap orang, bahkan, nampaknya, oleh banyak dari kaum revisionis itu sendiri. Akan tetapi pelajaran-pelajaran, yang kegoyangan kaum intelek ini telah berikan kepada klas buruh, tidak boleh dilupakan.
    Mengenai teori nilai, hanya perlua dikatakan, bahwa selain dari sindiran-sindiran dan kerinduan-kerinduan yang sangat samar-samar akan Böhm-Bawerk, kaum revisionis di sini samasekali tidak menyumbangkan apa-apa, dan oleh karena telah tidak meninggalkan bekas-bekas apapun dalam perkembangan pikiran ilmiah.
    Dalam lapangan politik, revisionisme memang benar-benar coba merevisi dasar Marxisme, yaitu, ajaran tentang perjuangan klas. Kebebasan politik, demokrasi dan hak pilih umum menghilangkan dasar untuk perjuangan klas – dikatakan pada kita – dan menjadikan tidak benar ketentuan lama dari Manifes Komunis bahwa kaum buruh tidak mempunyai tanahair. Sekali yang berkuasa di bawah demokrasi ialah “kehendak mayoritas”, katanya, maka orang tidak boleh menganggap negara sebagai alat kekuasaan klas, ataupun menolak persekutuan dengan burjuasi progresif, sosial-reformis, untuk melawan kaum reksioner.
    Tidak dapat diperbantahkan, bahwa keberatan-keberatan kaum revisionis ini membentuk suatu sistim pandangan yang cukup harmonis, yaitu, pandangan-pandangan burjuis-liberal yang lama dan dikenal baik itu. Kaum liberal selalu telah berkata, bahwa parmenterisme burjuis meniadakan klas-klas dan pembagian-pembagian atas klas-klas, sekali hak memberikan suara dan hak ikutserta dalam urusan-urusan negara sama dipunyai oleh semua warganegara tanpa perbedaan.  Seluruh sejarah Eropa dalam bagian kedua abad XIX, dan seluruh sejarah revolusi Rusia pada permulaan abad XX, dengan jelas sekali menunjukkan betapa takmasukakalnya pandangan-pandangan seperti itu. Perbedaan-perbedaan ekonomi tidak diperlunak, melainkan diperhebat dan dipertajam di bawah kebebasan kapitalisme “demokrasi”. Parlementerisme tidak menghilangkan, melainkan menelanjangi hakekat republik-republik burjuis, biarpun yang paling demokratsi, sebagai alat-alat penindasan klas. Dengan membantu membuka pikiran dan mengorganisasi massa penduduk yang tak terukur lebih luas daripada yang dulu ambil bagian aktif dalam peristiwa-peristiwa politik, dengan ini parlementerisme menyiapkan bukan meniadakan krisis-kriris dan revolusi-revolusi politik, melainkan penajaman yang maksimum dari perang sipil selama revolusi-revolusi seperti itu. Peristiwa-peristiwa di Paris dalam musimsemi tahun 1871 dan peristiwa-peristiwa di Rusia dalam musimdingin tahun 1905 13 menunjukkan sejelas-jelasnya bagaimana takterelakkan terwujudnya penajaman ini. Burjuasi Perancis, tanpa keragu-raguan sesaatpun, membuat persekongkolan dengan musuh seluruh nasion, dengan tentara asing, yang telah merusak tanahairnya, dengan maksud menindas gerakan proletar. Barang siapa yang tidak memahami dialektika-inter yang tak terelakkan dari parlementerisme dan demokrasi burjuis, dan yang mengakibatkan penyelesaian perselisihan-perselisihan dengan kekerasan massal yang lebih tajam lagi dibandingkan dengan zaman-zaman yang lampau, maka ia kapanpun tidak akan mampu di atas dasar parlementerisme ini menjalankan propaganda dan agitasi yang tegas dalam prinsipnya dan yang sungguh-sungguh mempersiapkan massa klas buruh untuk ikutserta dengan jaya dalam “perselisihan-perselisihan” seperti itu. Pengalaman persekutuan-persekutuan, persetujuan-persetujuan  dan blok-blok dengan kaum liberal sosial-reformis di Barat, dengan kaum reformis liberal (Kadet 14) dalam revolusi Rusia,secara meyakinkan memperlihatkan bahwa persetujuan-persetujuan ini hanya menumpulkan kesadaran massa, dengan tidak memperkuat  melainkan memperlemah artipenting yang sebenarnya dari perjuangan mereka, dengan merangkaikan para pejuang dengan elemen-elemen yang paling tidak mampu berjuang, yang paling goyang dan khianat. Millerandisme15 Perancis yang merupakan percobaan yang paling besar dalam mentrapkan taktik revisionis dalam skala luas, benar-benar nasional, telah menyajikan suatu penilaian praktis yang demikian dari revisionisme, hingga ini kapanpun tak akan dilupakan oleh proletariat di seluruh dunia.
    Suatu pelengkap yang wajar bagi kecenderungan-kecenderungan ekonomi dan politik dari revisionisme adalah sikapnya terhadap tujuan terakhir dari gerakan Sosialis. "“erakan adalah segala-galanya, tujuan terakhir adalah nihil”, -- kata-kata bersayap dari Bernstein ini menyatakan intisari revisionisme lebih baik daripada banyak pertimbangan yang panjang lebar. Menentukan tingkahlaku dari satu kejadian ke kejadian lain, menyesuaikan diri dengan peristiwa-peristiwa hari ini, dengan pembelokan-pembelokan politik yang remeh-temeh, melupakan kepentingan-kepentingan pokok dari proletariat, ciri-ciiri pokok dari sistim kapitalis sebagai keseluruhan dan evolusi kapitalis sebagai keseluruhan, mengorbankan kepentingan-kepentingan pokok ini demi keuntungan-keuntunga sesaat yang sungguh-sungguh atau yang dikira-kirakan saja – demikianlah politik revisionisme. Dari intisari politik itu sendiri dengan terang tersimpul suatu kenyataan bahwa politik ini mungkin mengambil bentuk-bentuk yang tak terbatas variasinya dan bahwa setiap persoalan yang sedikitbanyaknya “baru”, setiap pembelokan peristiwa-peristiwa yang sedikit banyaknya tidak terduga dan tidak terkira sebelumnya, bahkan sekalipun pembelokan ini mungkin mengubah garis pokok perkembangan hanya dengan ukuran yang tidak berarti samasekali dan hanya untuk jangkawaktu paling pendek, selalu dengan takterelakkan akan menimbulkan satu atau lain variasi revisionisme.
    Tak terelakkannya revisionisme ditentukan oleh akar-akar klasnya dalam masyarakat modern. Revisionisme adalah suatu fenomena internasional. Tidak ada seorang Sosialis-pun yang sedikit saja mengetahui dan berpikir, yang dapat sedikitpun mempunyai keraguan, bahwa hubungan antara kaum ortodoks 16 dan kaum Bernsteinian 17 di Jerman, antara kaum Guesdeis dan kaum Jaurèsis (dan kini teristimewa kaum Brousis)18 di Perancis, antara Federasi Sosial-Demokratis dan Partai Buruh Merdeka19 di Inggeris, antara penganut-penganut Brouckère dan penganut-penganut Vandervelde20 di Belgia, antara kaum Intergralis21 dan Reformis di Italia, dan antara kaum Bolsyewik dan kuam Mensyewik22 di Rusia, di mana-mana pada hakekatnya adalah sejenis, sekalipun perbedaan raksasa dalam syarat-syarat nasional dan faktor-faktor historis dalam keadaan kini dari semua negeri ini. Pada hakekatnya “pembagian” di dalam gerakan Sosialis internasional dewasa ini sudah sekarang sedang berlangsung sepanjang satu garis dipelbagai negeri di dunia, hal mana menjadi saksi atas kemajuan dahsyat dibandingkan dengan tigapuluh atau empat puluh tahun yang lalu, ketika diberbagai-bagai negeri, di dalam gerakan Sosialis internasional yang bersatu, berjuang satu sma lain kecenderungan-kecenderungan yang tidak sama jenisnya. Dan “revisionisme dari Kiri”, yang di negeri-negeri Latin telah mengambil bentuk “sindikalisme revolusioner”23, juga sedang menyesuaikan diri dengan Marxisme sambil “memperbaiki”nya: Labriola di Italia dan Lagardelle di Perancis24 seringkali dan di mana-mana mengadu tentang Marx yang salah mengerti, kepada Marx yang dipahami secara tepat.
    Kami tidak dapat berhenti di sini untuk menganalisa isi ideologi dari revisionisme ini, yang jauh masih belum berkembang sampai ketingkat perkembangan revisionisme oportunis, belum menjadi internasional, belum mengalami percobaan pertempuran praktis yang besar satupun dengan suatu partai Sosialis bahkan di satu negeri. Kami, oleh karenanya, akan membatasi diri pada “revisionisme dari Kanan” yang digambarkan di atas.
    Di dalam hal apa terletak ketidakterelakkannya revisionisme itu di dalam masyarakat kapitalis? Apa sebabnya ia lebih mendalam daripada perbedaan-perbedaan tentang kekhususan-kekhususan nasional dan tingkat-tingkat perkembangan kapilais? Sebab di sembarang negeri kapitalis, berdampingan dengan proletariat, selalu ada lapisan-lapisan luas burjuasi kecil, majikan-majikan kecil. Kapitalisme telah lahir dan terus-menerus lahir dari produksi kecil-kecilan. Sejumlah “lapisan-lapisan tengah” yang baru lagi dengan takterelakkan terus diciptakan oleh kapialisme (tukang-tukang yang melakukan pekerjaan tambahan pada pabrik, yang bekerja di rumah, di bengkel-bengkel kecil yang bertebaran di seluruh negeri karena kebutuhan-kebutuhan industri-industri besar, seperti umpamanya industri-industri sepeda dan mobil, dst.). Produsen-produsen kecil yang baru ini sama juga dengan tak terelakkan dilemparkan ke dalam barisan-barisan proletariat. Sangatlah wajar bahwa ini harus demikian, dan itu akan selalu demikian sampai dengan peristiwa-peristiwa yang meruncing dari revolusi proletar, karena akan merupakan suatu kesalahan yang mendalam untuk mengira bahwa  pelaksanaan revolusi-revolusi semacam ini memerlukan sautu proletarisasi “lengkap” dari matoritas penduduk. Apa yang kini seringkali kita alami  hanya dalam lapangan ideologi – pertengkaran-pertengakaran melawan amanademen-amandemen teoritis terhadap Marx – apa yang kini muncul dalam kenyataan hanya mengenai persoalan-persoalan sebagian-sebagian secara sendiri-sendiri dari gerakan buruh, sebagai perselsihan-perselisihan taktis dengan kaum revisionis dan perpecahan-perpecahan atas dasar ini, semuanya ini klas buruh pasti akan terpaksa alami dalam ukuran yang tak terbandingkan lebih besar, ketika revolusi proletar mempertajam segala masalah sengketa, memusatkan semua perselisihan pada soal-soal yang mempunyai arti penting paling segera dalam menentukan sikap massa, dan memaksa orang di dalam api pertempuran untuk membedakan musuh-musuh dari kawan-kawan, melempar keluar sekutu-sekutu yang buruk, supaya memberikan pukulan-pukulan yang menentukan terhadap musuh.
    Perjuangan ideologi yang dilancarkan oleh kaum Marxis terhadap revisionisme pada akhir abad XIX hanyalah merupakan suatu ambang pintu pertempuran-pertempuran revolusioner besar dari proletariat yang sedang berbaris maju ke arah kemenangan lengkap dari cita-citanya, kendatipun segala kegoyangan dan kelemahan kaum filistin.


Ditulis dalam pertengahan ke dua bulan Maret –
Tidak lebih kemudian dari tanggal 3(16)April tahun 1908

Dicetak antara tanggal 25 September dan 2 Oktober
(8 dan 15 Oktober) 1908 dalam kumpulan:
Karl Marx (1818-1883),
St. Petersburg, penerbit-penerbit O. dan M Kedrov

Ditandatangani W.I.Ilyin

W.I.Lenin, Kumpulan Karya,
Edisi Rusia Keempat
Jilid 15, hal. 15-25

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar anda