Jumat, 03 Desember 2010

Jumat, Desember 03, 2010

Ditulis oleh International Marxist Tendency
Minggu, 21 Maret 2010 22:20

Pertanyaan pertama yang perlu dijawab adalah: apakah kita membutuhkan sebuah Internasionale? Marxisme berwatak internasionalis. Jika tidak, Marxisme bukan apa-apa sama-sekali. Sudah sejak awal gerakan kita, yakni dalam lembaran-lembaran Manifesto Komunis, Marx dan Engels menulis: “Kaum pekerja tidak mempunyai negeri.”
Internasionalisme Marx dan Engels bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Internasionalisme mereka juga bukan hasil dari pertimbangan-pertimbangan sentimental. Internasionalisme mereka mengalir dari fakta bahwa kapitalisme berkembang sebagai sebuah sistem dunia – dari perekonomian-perekonomian dan pasar-pasar nasional yang berbeda muncullah suatu keseluruhan yang tunggal, tak terbagi, dan saling-bergantung: pasar dunia.
Pada masa sekarang ini prediksi para pendiri Marxisme tersebut telah didemonstrasikan secara brilian dan tepat. Dominasi yang mencekik dari pasar dunia adalah fakta yang paling menentukan dalam zaman kita. Tidak ada satu negeri pun, betapapun besar dan berkuasanya – bahkan AS, Tiongkok, dan Rusia sekalipun – dapat berdiri-teguh lepas dari tarikan kuat pasar dunia. Faktanya, inilah bagian dari sebab-musabab jatuhnya Uni Soviet.
Internasionale Pertama dan Internasionale Kedua
Sejak awalnya, Liga Komunis adalah sebuah organisasi internasional. Tapi pembentukan International Workingman’s Association (IWA = Perhimpunan Kaum Pekerja Internasional [Internasionale Pertama]) pada 1864 merepresentasikan sebuah langkah kualitatif ke depan. Tugas historis dari Internasionale Pertama adalah menegakkan prinsip-prinsip utama, program, strategi, dan taktik Marxisme revolusioner dalam skala dunia. Namun, pada kelahirannya, IWA bukan sebuah Internasionale Marxis, melainkan sebuah organisasi yang amat-sangat heterogen, yang terdiri dari kaum serikat buruh Inggris yang reformis, orang-orang Prancis para pengikut Proudhon, orang-orang Italia pengikut Mazzini, kaum anarkhis, dan lain-lainnya yang serupa dengan itu. Dengan mengombinasikan keteguhan prinsip dengan keluwesan taktik, lambat-laun Marx dan Engels memenangkan mayoritas.
IWA berhasil meletakkan fondasi-fondasi teoritis bagi sebuah Internasionale revolusioner yang sejati. Akan tetapi IWA tidak pernah menjadi sebuah Internasionale massa rakyat-pekerja yang riil. Sesungguhnya IWA merupakan sebuah antisipasi terhadap masa depan. Internasionale Sosialis (Internasionale Kedua), yang diluncurkan pada 1889, dimulai di mana Internasionale Pertama berhenti. Tidak seperti Internasionale Pertama, Internasionale Kedua berawal sebagai sebuah Internasionale massa rakyat-pekerja yang menghimpun dan mengorganisir jutaan kaum pekerja. Internasionale Kedua mempunyai partai-partai massa dan serikat-serikat buruh di Jerman, Prancis, Inggris, Belgia, dsb. Bahkan Internasionale Kedua berdiri, setidaknya dalam kata-katanya, di atas dasar Marxisme revolusioner. Nampaknya masa depan sosialisme dunia bakal terjamin.
Namun Internasionale Kedua terbentuk pada masa ketika kapitalisme sedang menikmati sebuah periode pertumbuhan yang panjang. Ini mendatangkan kemalangan bagi Internasionale Kedua. Ini tertoreh pada mentalitas lapisan kepemimpinan Partai-partai Sosial Demokratik dan serikat-serikat buruh. Periode 1871-1914 adalah periode klasik Sosial Demokrasi. Di atas basis periode panjang pertumbuhan ekonomi, kapitalisme dapat memberikan konsesi-konsesi kepada klas pekerja, atau lebih tepatnya kepada lapisan atas klas pekerja.
Pembentukan sekian banyak kasta pejabat serikat buruh, birokrat Partai, dan kaum pengejar-karir parlementer mengakibatkan proses degenerasi. Dalam proses itu birokrasi semakin menceraikan dirinya dari massa rakyat-pekerja dan anggota-anggota partai. Lambat-laun dan dengan cara yang nyaris tak kentara, tujuan-tujuan revolusioner pupus dari pandangan. Para pemimpin terserap ke dalam rutinitas harian parlementer atau aktivitas serikat buruh. Akhirnya, teori-teori pun diciptakan untuk membenarkan penolakan mereka terhadap prinsip-prinsip revolusioner.
Ini adalah basis material dari degenerasi nasional-reformis yang dialami oleh Internasionale (Sosialis) Kedua. Degenerasi ini terungkap dengan kejam pada 1914, ketika para pemimpin Internasionale Kedua memberikan suara untuk menyetujui perang dan mendukung burjuasi “mereka” dalam Perang Dunia Kedua – yang tak lain merupakan peperangan antar-imperialis.
Internasionale Ketiga
Internasionale Ketiga (Komunis Internasional) berdiri pada tataran yang secara kualitatif lebih tinggi daripada kedua pendahulunya. Seperti IWA pada titik-tinggi perkembangannya, Internasionale Ketiga berdiri demi suatu program yang jelas-jemelas berwatak revolusioner dan internasionalis. Seperti Internasionale Kedua, Internasionale Ketiga mempunyai basis massa jutaan kaum pekerja. Sekali lagi, nampaknya nasib revolusi dunia berada di dalam tangan yang baik.
Di bawah pimpinan Lenin dan Trotsky, Komunis Internasional mempertahankan garis yang tepat. Tapi terisolasinya Revolusi Rusia di dalam kondisi-kondisi material yang sangat buruk serta keterbelakangan budaya membuat Revolusi Rusia mengalami degenerasi birokratik. Faksi birokratik yang dipimpin oleh Stalin mengambilalih kendali, khususnya setelah Lenin meninggal dunia pada 1924.
Leon Trotsky dan Oposisi Kiri berupaya mempertahankan tradisi-tradisi Oktober yang tak bercela dari serangan reaksi Stalinis. Mereka berjuang untuk mempertahankan tradisi-tradisi Leninis tentang demokrasi-pekerja dan internasionalisme proletarian. Tetapi mereka berjuang melawan arus. Kaum pekerja Rusia telah habis-terkuras tenaganya oleh tahun-tahun peperangan, Revolusi, dan Perang Sipil. Di lain pihak, birokrasi makin merasa percaya diri, mendorong kaum pekerja ke pinggir dan mengambilalih Partai.
Dengan sakit Lenin yang terakhir dan kemudian disusul dengan kematiannya, birokrasi di bawah Stalin dan Bukharin mengemudikan kebijakan sayap-kanan: berdamai dengan para Kulak (petani kaya) dan unsur-unsur kapitalis lainnya di Rusia, serta berupaya membangun blok dengan yang disebut-sebut sebagai unsur-unsur borjuis progresif di negeri-negeri kolonial (Chiang Kai-shek di Tiongkok) dan birokrasi Partai Buruh di Barat (Komite Anglo-Soviet). Kebijakan oportunis ini menyebabkan Revolusi Tiongkok mengalami kekalahan berdarah, hilangnya kesempatan di Inggris pada 1926, dan yang lebih penting di Jerman pada 1923.
Dengan kekalahan-kekalahan revolusi internasional, kaum pekerja Soviet kian kecewa dan terdemoralisasi. Sebaliknya, birokrasi dan faksi Stalinis di tubuh Partai memperoleh kekuatan baru dan rasa percaya diri. Setelah kekalahan Oposisi Kiri-nya Trotsky (1927), Stalin yang membakar jari-jarinya dengan kebijakan pro-Kulak pecah dengan Bukharin dan berayun ke posisi ultra-Kiri dengan memaksakan kolektivisasi di Rusia dan pada saat yang sama memaksakan kepada Komintern kebijakan “Periode Ketiga” yang gila.
Trotsky dan para pengikutnya, yakni para Bolshevik-Leninis, dikeluarkan dari Partai Komunis dan Komintern. Kemudian mereka difitnah, dianiaya, dipenjarakan, dan dibunuh. Stalin menarik sebuah garis-darah yang memisahkan birokrasi yang merampas kekuasaan dan mengkhianati Revolusi Oktober dengan kaum Trotskyis yang berjuang untuk mempertahankan ide-ide Bolshevisme-Leninisme yang sejati.
Oposisi Kiri Internasional
Potensi luar biasa dari Internasionale Ketiga telah dihancurkan dengan berkuasanya Stalinisme di Rusia. Degenerasi Stalinis di Uni Soviet merusak para pemimpin yang belum matang dari Partai-partai Komunis di luar negeri. Lenin dan Trotsky bersandar pada revolusi kaum pekerja internasional untuk melindungi masa depan Revolusi Rusia dan Negara Soviet. Tapi Stalin dan para pendukungnya bersikap acuh tak acuh terhadap revolusi dunia. Teori “sosialisme di dalam satu negeri” mengekspresikan cara-pandang birokrasi yang terkungkung dalam batas-batas nasional, yang memandang Revolusi Tiongkok semata-mata sebagai sebuah alat kebijakan luar negeri Moskow.
Hasil yang terburuk adalah yang terjadi di Jerman. Trotsky menyerukan pembentukan front-persatuan para pekerja Komunis dan Sosial-Demokratik untuk berjuang menghadapi bahaya Nazi. Akan tetapi peringatan-peringatan Trotsky kepada anggota-anggota Partai-partai Komunis jatuh ke telinga-telinga yang tuli. Klas pekerja Jerman terbelah di tengah. Kebijakan gila “fasisme sosial” memecahbelah dan melumpuhkan gerakan buruh Jerman yang perkasa, dan memungkinkan Hitler meraih tampuk kekuasaan pada tahun 1933.
Kekalahan klas pekerja Jerman pada tahun 1933, yang berpangkal pada penolakan Partai Komunis untuk menawarkan front-persatuan kepada kaum pekerja Sosial Demokratik, adalah sebuah titik-balik. Trotsky menarik kesimpulan bahwa sebuah Internasionale yang tidak sanggup bereaksi di hadapan kekalahan seperti itu telah mati, dan sebuah internasionale yang baru perlu dibentuk. Sejarah membuktikan bahwa ia benar. Pada tahun 1943, setelah secara sinis digunakan sebagai alat kebijakan luar negeri Moskow, Komunis Internasional dikuburkan secara memalukan, bahkan tanpa melalui sebuah kongres. Warisan politis dan organisasional Lenin telah mengalami pukulan berat untuk suatu keseluruhan periode historis.
Internasionale Keempat
Dalam kondisi-kondisi yang paling sukar di pengasingan, difitnah oleh para Stalinis dan ditindas oleh GPU, Trotsky berupaya menghimpun kembali kekuatan-kekuatan kecil yang masih tetap setia kepada tradisi-tradisi Bolshevisme dan Revolusi Oktober. Sayangnya, selain kecilnya kekuatan-kekuatan mereka, banyak pengikut Oposisi mengalami kebingungan dan disorientasi. Banyak kesalahan yang dibuat, khususnya kesalahan-kesalahan yang berwatak sektarian. Ini sebagian mencerminkan terisolasinya kaum Trotskyis dari gerakan massa. Sektarianisme ini ada sampai hari ini pada hampir semua kelompok yang mengklaim diri sebagai representasi Trotskyisme tetapi gagal untuk memahami ide-ide paling fundamental yang dibela oleh Trotsky.
Pada tahun 1938 Trotsky meluncurkan Internasionale Keempat berdasarkan sebuah perspektif yang definitif. Tetapi perspektif tersebut difalsifikasi oleh sejarah. Kematian Trotsky di tangan salah seorang pembunuh suruhan Stalin pada 1940 merupakan pukulan yang mematikan bagi gerakan tersebut. Para pemimpin lain dari Internasionale Keempat terbukti sama-sekali tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas yang diajukan sejarah. Mereka hanya mengulangi kata-kata Trotsky tanpa memahami metode Trotsky. Akibatnya mereka membuat kekeliruan-kekeliruan serius yang menyebabkan karamnya Internasionale Keempat. Para pemimpin Internasionale Keempat sama-sekali tidak sanggup memahami situasi baru yang muncul setelah 1945. Perselisihan dan perpecahan dalam gerakan Trotskyis berakar dalam periode tersebut.
Mustahil rasanya untuk memerinci kesalahan-kesalahan para pemimpin Internasionale Keempat di sini. Tapi cukuplah kiranya untuk mengatakan bahwa Mandel, Cannon, dan kawan-kawannya telah kehilangan arah setelah Perang Dunia II dan ini bermuara pada penolakan seutuhnya terhadap Marxisme sejati. Apa yang dinamakan Internasionale Keempat, setelah kematian Trotsky merosot menjadi sebuah sekte yang secara organis burjuis-kecil. Sekte ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan ide-ide pendirinya atau dengan tendensi Bolshevisme-Leninisme yang sejati. Secara khusus, sikap sektarian sekte-sekte pseudo-Trotskyis terhadap Revolusi Bolivarian merupakan suatu contoh yang vulgar tentang hal ini.
Internasionale Kedua dan Internasionale Ketiga merosot menjadi organisasi-organisasi reformis. Tapi setidaknya mereka mempunyai massa rakyat-pekerja. Trotsky, dalam pengasingan, tidak mempunyai organisasi massa, namun ia mempunyai program dan kebijakan yang tepat serta sebuah panji yang bersih. Ia dihormati oleh kaum pekerja di seluruh dunia dan ide-idenya disimak. Sekarang yang namanya Internasionale Keempat tidak lagi ada sebagai sebuah organisasi. Mereka yang berbicara atas nama Internasionalae Keempat (dan ada beberapa orang di antara mereka) tidak mempunyai massa, ide-ide yang tepat, dan sebuah panji yang bersih. Atas dasar ini, semua perbincangan untuk membangkitkan kembali Internasionale IV secara mutlak tidak ada lagi.
Gerakan Telah Terlempar ke Belakang
Lenin selalu jujur. Semboyannya: Selalu katakan apa yang sebenarnya. Kadang-kadang kebenaran tidak mengenakkan. Tapi kita perlu selalu menyatakan kebenaran. Kebenarannya adalah bahwa, karena kombinasi dari kondisi-kondisi, baik yang obyektif maupun subyektif, gerakan revolusioner telah terlempar ke belakang, dan kekuatan-kekuatan Marxisme yang sejati telah tereduksi menjadi minoritas kecil. Itulah kebenarannya. Siapapun yang menyangkalinya hanya menipu dirinya sendiri dan orang lain.
Dekade-dekade pertumbuhan ekonomi di negeri-negeri kapitalis maju telah menyebabkan organisasi-organisasi massa klas pekerja mengalami kemerosotan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini telah mengisolasi kekuatan revolusioner, yang di mana-mana telah tereduksi menjadi minoritas kecil. Jatuhnya Uni Soviet mempunyai andil dalam menyebarkan kebingungan dan disorientasi dalam gerakan, dan memasang segel terakhir pada degenerasi para eks pemimpin Stalinis. Banyak di antara mereka telah beralih ke kubu reaksi kapitalis.
Banyak orang telah menarik kesimpulan-kesimpulan yang pesimis dari kenyataan ini. Kepada orang-orang tersebut kita mengatakan: bukan untuk pertama kalinya kita menghadapi kesulitan-kesulitan ini, dan kita sama sekali tidak merasa takut karena kesulitan-kesulitan ini. Kita tetap mempunyai keyakinan yang tidak tergoyahkan terhadap ketepatan Marxisme, terhadap potensi revolusioner klas pekerja, dan terhadap kemenangan final sosialisme. Krisis masa kini mengekspos peran reaksioner dari kapitalisme, dan menempatkan pada urutan hari kebangkitan sosialisme internasional. Kekuatan-kekuatan rakyat mulai berhimpun kembali secara internasional. Yang dibutuhkan adalah memberikan kepada penghimpunan-kembali tersebut suatu ekspresi yang terorganisir dan sebuah program, perspektif, dan kebijakan yang jelas.
Tugas yang kita hadapi kira-kira serupa dengan yang dihadapi oleh Marx dan Engels pada saat mendirikan Internasionale Pertama. Sebagaimana telah kita jelaskan di atas, organisasi tersebut tidak homogen, melainkan tersusun dari banyak tendensi yang berbeda. Tapi, Marx dan Engels tidak terhalang oleh hal ini. Mereka turut-serta dalam gerakan umum demi sebuah Internasionale klas pekerja, serta bekerja dengan sabar untuk memperlengkapinya dengan sebuah ideologi dan program yang ilmiah.
Apa yang memisahkan International Marxist Tendency (IMT) dari semua tendensi yang mengklaim diri sebagai Trotskyis adalah, di satu sisi sikap kita yang serius dan seksama dalam hal teori, dan di sisi lain pendekatan kita terhadap organisasi-organisasi massa. Berbeda dengan semua kelompok lain, kita mengambil sebagai titik-berangkat kita fakta bahwa ketika kaum pekerja bergerak untuk beraksi, mereka tidak akan pergi ke sebuah kelompok kecil di pinggiran gerakan buruh. Dalam dokumen-pendirian gerakan kita Marx dan Engels menjelaskan:
“Bagaimanakah hubungan antara kaum Komunis dengan kaum proletar umumnya ?
“Kaum Komunis tidak mendirikan satu partai terpisah yang bertentangan dengan partai-partai kelas buruh lainnya.
“Mereka tidak mempunyai kepentingan-kepentingan tersendiri dan terpisah dari kepentingan-kepentingan proletariat sebagai keseluruhan.
“Mereka tidak mengadakan prinsip-prinsip sendiri yang sektarian, yang hendak dijadikan pola bagi gerakan proletar.
“Kaum Komunis dibandingkan dengan partai-partai kelas buruh lainnya berbeda hanyalah karena hal ini: 1. Di dalam perjuangan nasional dari kaum proletar di berbagai negeri, mereka menunjukkan serta mengedepankan kepentingan-kepentingan bersama dari seluruh proletariat, terlepas dari segala kewarganegaraan. 2. Pada berbagai tingkat perkembangan yang harus dilalui oleh perjuangan kelas buruh melawan borjuasi, mereka senantiasa dan di mana saja mewakili kepentingan-kepentingan gerakan itu sebagai keseluruhan.
“Oleh sebab itu kaum Komunis, pada satu pihak, pada prakteknya adalah bagian yang paling maju dan teguh hati dari partai-partai kelas buruh di setiap negeri, bagian yang mendorong maju semua bagian lain-lainnya; pada pihak lain, secara teori mereka mempunyai kelebihan atas massa proletariat yang besar itu dalam pengertian tentang garis pergerakan, syarat-syarat, dan hasil-hasil umum terakhir dari gerakan proletar.” (Marx dan Engels,Manifesto Komunis, “Kaum Proletar dan Kaum Komunis”).
Kesimpulan apa yang kita tarik dari hal ini? Hanya ini: kaum Marxis yang sejati tidak boleh memisahkan diri mereka dari organisasi-organisasi massa. Dilema zaman kita adalah bahwa para pemimpin Sosial-Demokratik dari gerakan kaum pekerja telah menyerah kepada kebijakan-kebijakan borjuis yang mencekik aspirasi-aspirasi kaum pekerja, tetapi masih tetap memiliki dukungan massa di banyak negeri. Sangatlah mudah untuk menyatakan bahwa kepemimpinan resmi telah bangkrut. Akan tetapi, tugas kita adalah membangun sebuah alternatif.
Internasionale tidak dapat dibangun dengan sekadar memproklamirkannya. Internasionale hanya dapat dibangun di atas basis peristiwa-peristiwa, sebagaimana Komunis Internasionale  didirikan di atas dasar pengalaman massa dalam periode topan-badai 1914-1920. Peristiwa-peristiwa, peristiwa-peristiwa, dan peristiwa-peristiwa adalah apa yang mutlak-perlu untuk mendidik massa dalam keharusan sebuah transformasi revolusioner masyarakat. Tetapi selain peristiwa-peristiwa, kita perlu menciptakan sebuah organisasi dengan ide-ide yang jelas dan akar-akar yang solid dalam massa rakyat-pekerja dalam skala dunia.
Bagaimana Mempertahankan Revolusi Venezuelan
Dalam pidato Caracas-nya, Hugo Chavez menunjukkan bahwa semua Internasionale sebelumnya berasal-muasal dan berbasis di Eropa, yang mencerminkan pertempuran-pertempuran klas di sana pada waktu itu. Tapi sekarang, katanya, episentrum revolusi dunia adalah Amerika Latin, dan khususnya di Venezuela. Adalah fakta yang tidak dapat disangkal, setidaknya untuk saat ini, bahwa revolusi di Amerika Latin telah bergerak lebih jauh daripada di manapun di dunia. IMT menjelaskan perspektif ini sepuluh tahun yang lalu. Perspektif ini telah sangat-sangat dikonfirmasi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian.
Dalam menyatakan fakta yang tidak dapat disangkal ini, Chavez sama sekali tidak menyangkali keberadaan sebuah potensi revolusioner di bagian dunia lainnya, termasuk Eropa dan Amerika Utara. Sebaliknya, ia telah berkali-kali mengajak kaum pekerja dan kaum muda di negeri-negeri tersebut untuk turut-serta dalam gerakan untuk memperjuangkan revolusi sosialis. Ia telah mengajak secara langsung kaum pekerja, kaum miskin, dan kaum Afro-Amerika di AS untuk mendukung Revolusi Venezuela. Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan demagogi reaksioner tentang “Dunia Ketiga-isme” (“Third Worldism”) yang berupaya mempertentangkan “Amerika Latin” dengan para “gringo”. Ini adalah suara Internasionalisme sejati, yang lama sebelumnya telah meluncurkan slogan yang inspirasional: “kaum buruh sedunia, bersatulah!”
Imperialisme bertekad untuk mengakhiri proses revolusioner yang sedang terjadi di Amerika Latin. Venezuela adalah pelopor yang tak dapat diragukan dari proses ini, dan kebijakan-kebijakan internasionalis Chávez serta seruannya yang berkesinambungan demi sebuah revolusi dunia adalah mercusuar bagi semua kekuatan anti-imperialis di seluruh dunia. Revolusi Venezuela merepresentasikan sebuah bahaya maut bagi klas-klas penguasa di seluruh Amerika. Ini menjelaskan mengapa Imperialisme AS telah mengambil langkah-langkah baru untuk mengontrol situasi ini: memasang tujuh basis militer di Kolombia, kudeta di Honduras, dan yang tidak kalah pentingnya persetujuan untuk mendirikan sebuah basis militer baru di Panama, yang secara efektif akan mengepung Venezuela dengan kehadiran Militer AS.
Bagi Revolusi Venezuela, internasionalisme bukanlah sebuah pertimbangan sekunder, tetapi soal hidup dan mati. Dalam analisa terakhir, jalan satu-satunya untuk melumpuhkan tangan Imperialisme AS adalah dengan membangun sebuah gerakan massa yang perkasa pada skala dunia guna mempertahankan Revolusi. Adalah penting untuk membangun gerakan ini di Amerika Latin. Tetapi adalah ribuan kali lebih penting untuk membangunnya di sebelah utara Rio Grande. Itulah sebabnya mengapa IMT telah melancarkan dan secara konsisten mendukung kampanye internasional Hands Off Venezuela (HOV). Kampanye HOV memiliki catatan yang membanggakan dalam memobilisasi opini-publik dunia untuk mendukung Revolusi Venezuela. Berkat HOV, kita telah memastikan  lulusnya sebuah resolusi bersuara bulat dari serikat-serikat buruh Inggris untuk membela Revolusi Venezuela, rapat massa yang dihadiri oleh lima ribu orang muda dan kaum serikat buruh di Wina untuk mendengar Presiden Chavez berbicara, dan lain-lainnya.
Dari awal-permulaan yang kecil sekarang HOV telah hadir di lebih dari 40 negeri. Ini merupakan prestasi yang besar. Tapi ini baru merupakan awal. Apa yang dibutuhkan adalah sesuatu yang lebih dari sekadar sebuah kampanye solidaritas. Apa yang dibutuhkan adalah sebuah Internasionale yang revolusioner untuk menghadapi imperialisme dan kapitalisme, demi sosialisme dan pembelaan terhadap Revolusi Venezuela. Apa yang dibutuhkan adalah sebuah Internasionale revolusioner sedunia yang sejati.
Reformisme atau Revolusi?
Persetujuan Caracas (El Compromiso de Caracas) didasarkan pada ide tentang sebuah perjuangan sedunia melawan imperialisme dan kapitalisme, serta demi sosialisme. Itu merupakan sebuah basis yang memadai untuk menyatukan semua seksi yang paling militan dari gerakan buruh internasional. Tetapi kami mencatat bahwa pengajuan ini telah menuai tanggapan yang berbeda-beda, bahkan di kalangan beberapa pemimpin yang hadir dalam Kongres PSUV. Kaum reformis dan Sosial-Demokrat tidak menyukai penegasan Presiden bahwa Internasionale Kelima tidak boleh sekadar anti-imperialis tapi juga anti-kapitalis dan berwatak sosialis. Ini menbuat cemas beberapa pihak. Beberapa perwakilan yang hadir pada Perhimpunan Partai-partai Kiri menentang seruan ini dengan berargumen bahwa kita telah memiliki “Forum Sao Paulo”, dan bahwa sebuah internasionale tidak perlu secara terbuka anti-kapitalis.
Rapat-rapat “Forum Sao Paulo” berulangkali mengekspos keterbatasan-keterbatasan pertemuan-pertemuan seperti itu. Rapat-rapat itu telah menjadi sesuatu yang tak lebih dari sebuah forum pidato: suatu tempat di mana semua jenis reformis dapat berkumpul untuk mengeluh tentang ketidakadilan-ketidakadilan kapitalisme tetapi tidak pernah menawarkan perspektif revolusioner dan tidak berdiri untuk sosialisme. Alih-alih, mereka menganjurkan metode reformis tentang reforma-reforma parsial, yang tidak mengubah apapun yang substansial. Itulah sebabnya organ-organ imperialisme internasional, seperti Bank Dunia, melihat dengan senang kepada perkumpulan sejenis ini, serta secara aktif mendukung dan mendanai LSM-LSM sebagai sarana untukmengalihkan perhatian dari perjuangan revolusioner untuk mengubah masyarakat.
Organisasi-organisasi seperti “Forum Sao Paulo” dan Forum Sosial Dunia tidak membawa perjuangan sedunia melawan kapitalisme satu langkah ke depan. Itulah sebabnya Chavez mengajukan pembentukan Internasionale Kelima, yang merupakan perpecahan yang radikal dengan gerakan-gerakan seperti itu. Dalam pidatonya Chavez mengatakan bahwa ancaman yang riil terhadap masa depan umat manusia adalah kapitalisme itu sendiri. Merujuk pada krisis sistem kapitalis dunia, ia mengutuk upaya pemerintah-pemerintah Barat untuk menyelamatkan sistem dengan kucuran dana bailout yang besar-besaran. Tugas kita, katanya, bukan untuk menyelamatkan kapitalisme, tetapi untuk membinasakannya.
Chavez berkata bahwa ajakan ini ditujukan kepada partai-partai, organisasi-organisasi, maupun aliran-aliran Kiri. Ajakan itu telah membuka perdebatan massal di Venezuela, juga perdebatan di dalam banyak partai dan organisasi sayap kiri di seluruh Amerika Latin dan di luarnya. Tidaklah aneh kalau ajakan itu telah menyebabkan perpecahan – tapi perpecahan-perpecahan tersebut sebenarnya telah ada sejak semula. Ada perpecahan yang selalu ada di dalam gerakan: perpecahan di antara mereka yang sekadar ingin memperkenalkan beberapa reforma guna mempercantik kapitalisme, dan mereka yang ingin melenyapkan kapitalisme, baik akar maupun cabangnya.
Di El Salvador misalnya, Presiden Funes, yang secara forml merupakan anggota FMLN, telah menentang Internasionale Kelima dan mengatakan bahwa ia tidak punya urusan dengan sosialisme. Tapi FMLN sendiri secara resmi telah menyatakan dukungan kepada Internasionale Kelima. Di Meksiko ide ini telah disambut oleh seksi-seksi PRD dan organisasi-organisasi massa lainnya. Di Eropa ini pasti akan didiskusikan dalam Partai-partai Komunis dan Partai-partai eks-Komunis, pula di kalangan Kiri pada umumnya. Cepat atau lambat setiap tendensi pasti akan mengambil posisi terhadap hal ini.
Sikap Apa yang Harus Diambil Kaum Marxis?
Posisi apa yang harus diambil kaum Marxis? Sebagai Marxis kita tanpa syarat mendukung berdirinya organisasi internasional massa klas pekerja. Saat ini belum ada lagi Internasionale massa. Internasionale Keempat telah dibinasakan oleh kesalahan-kesalahan para pemimpinnya setelah pembunuhan terhadap Trotsky, dan akibatnya Internasionale tersebut hanya hidup di dalam ide-ide, metode-metode, dan program yang dipertahankan oleh IMT. IMT membela dan mempertahankan ide-ide Marxisme di dalam organisasi-organisasi massa klas pekerja di semua negeri. Di dalam organisasi-organisasi inilah diskusi mengenai proposal Internasionale Kelima harus dipromosikan dengan urgensi.
Adalah terlalu awal untuk mengatakan bahwa usulan tentang Internasionale Kelima secara aktual akan bermuara pada pembentukan sebuah Internasionale yang sejati. Itu bergantung pada banyak hal. Akan tetapi jelas bahwa kenyataan usulan tersebut datang dari Venezuela dan Presiden Chavez, itu berarti bahwa usulan tersebut akan mendapatkan gema di antara banyak orang di Amerika Latin untuk memulainya. Usulan ini akan menimbulkan banyak pertanyaan dalam pikiran kaum pekerja dan kaum muda tentang bagaimana seharusnya program sebuah Internasionale serta tentang sejarah, alasan kemunculan, dan kejatuhan Internasionale-Internasionale sebelumnya.
Ini adalah perdebatan yang di dalamnya kaum Marxis berkewajiban untuk berpartisipasi secara aktif. IMT, yang telah diakui secara luas atas perannya dalam membangun solidaritas dengan Revolusi Venezuela dan menyediakan analisa Marxis terhadap revolusi tersebut, harus mengambil posisi yang jelas. Dan kita telah mengambil sebuah posisi. Dalam sebuah rapat Komite Eksekutif Internasional pada pekan pertama Maret, yang dihadiri oleh lebih dari 40 kamerad yang mewakili lebih dari 30 negeri yang berbeda di Asia, Eropa, dan Amerika (termasuk Kanada dan AS), IMT memberikan suara bulat untuk mendukung partisipasi dalam membangun Internasionale Kelima.
Kami mendeklarasikan dukungan penuh kami untuk mendirikan sebuah Internasionale revolusioner yang berbasis massa, dan akan membuat proposal-proposal yang jelas tentang apa yang kami pikir bagaimana seharusnya program dan ide-ide Internasionale yang baru itu. Kami tidak berusaha memaksakan pandangan-pandangan kami kepada siapapun. Internasionale ini, dan bagian-bagian yang menjadi komponennya, akan menggarap posisi-posisi politisnya dalam satu periode, melalui sebuah debat yang demokratik dan juga di atas dasar pengalaman bersama.
Untuk sebuah front-persatuan anti-imperialis dan anti-kapitalis sedunia!
Untuk revolusi sosialis internasional!
Untuk sebuah program Marxis!
Hidup Internasionale Kelima!
Kaum buruh sedunia, bersatulah!
Diterjemahkan oleh Pandu Jakasurya dari “For the Fifth International”, International Marxist Tendency, 17 Maret 2010.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda