Notification

×

Kategori Berita

Tags

Iklan

Reason in Revolt: Ketidakpastian dan Idealisme

Selasa, 28 Desember 2010 | Desember 28, 2010 WIB Last Updated 2012-01-08T03:47:29Z

By Alan Woods and Ted Grant
Monday, 03 September 2007

Prinsip Ketidakpastian

Pukulan maut yang menjatuhkan mekanika Newtonian dari tahtanya sebagai sebuah teori universal dilancarkan oleh Einstein, Schrödinger, Heisenberg dan lain-lain ilmuwan yang membidani kelahiran mekanika kuantum di awal abad ke-20. Perilaku “partikel-partikel elementer” tidaklah dapat dijelaskan oleh mekanika klasik. Matematika jenis baru harus dikembangkan.
Dalam matematika baru ini terdapatlah konsep-konsep semacam “ruang-fase”, di mana sebuah sistem didefinisikan sebagai sebuah titik yang memiliki derajat kebebasan sebagai koordinat, dan “operator”, besaran yang tidak mirip sama sekali dengan besaran aljabar dalam makna mereka lebih mirip sebuah operasi ketimbang sebagai sebuah besaran itu sendiri (pada kenyataannya mereka menyatakan hubungan, bukannya sebuah nilai yang tetap), memainkan satu peran yang penting. Teori peluang juga memainkan peranan yang penting, tapi dalam makna “peluang intrinsik”: ini adalah salah satu dari ciri hakiki dalam mekanika kuantum. Pada kenyataannya, mekanika kuantum harus diartikan sebagai sebuah gabungan bertumpuk dari semua jalur gerak yang mungkin ditempuh oleh sebuah sistem.
Partikel kuantum hanya dapat didefinisikan sebagai sebuah himpunan kesalingterhubungan internal antara keadaan “aktual” dan “virtual” yang mereka alami. Dalam makna ini mereka murni dialektik. Pengukuran terhadap partikel-partikel itu dengan cara tertentu hanya akan mengungkap keadaan “aktual” mereka, yang merupakan satu aspek saja dari seluruh aspek keberadaan mereka (paradoks ini dijelaskan secara populer dalam kisah “kucing Schrödinger”). Prinsip ini disebut “runtuhnya fungsi gelombang”, dan dinyatakan oleh Heisenberg sebagai prinsip ketidakpastian. Cara yang sama sekali baru untuk memandang realitas fisik ini, yang dinyatakan dalam persamaan mekanika kuantum ini, telah “dikarantina” untuk waktu yang lama oleh sebagian besar kaum akademisi. Ia dilihat sebagai semacam perkecualian terhadap mekanika yang selama itu ada, yang hanya berguna untuk menjelaskan perilaku partikel-partikel elementer, pengecualian terhadap hukum-hukum mekanika klasik, tanpa makna penting apapun selain itu.
Di tahta yang tadinya dikangkangi oleh kepastian, ketidakpastian kini meraja. Apa yang nampak sebagai pergerakan acak dari partikel-partikel sub-atomik, dengan kecepatan mereka yang tak terbayangkan, tidaklah dapat dinyatakan dalam persamaan-persamaan mekanika lama. Ketika sebuah ilmu pengetahuan mencapai satu jalan buntu, ketika ia tidak lagi dapat menjelaskan fakta-fakta yang ada, keadaan untuk sebuah revolusi dimatangkan, dan ilmu pengetahuan yang baru akan lahir. Walau demikian, ilmu yang baru itu, dalam bentuk awalnya, tidak akan muncul dalam keadaan sempurna. Hanya setelah melewati masa tertentu ia akan muncul dalam bentuknya yang lengkap dan pamungkas. Satu derajat improvisasi, ketidakpastian, interpretasi yang beragam dan seringkali bertentangan, niscaya terjadi pada masa-masa awal ini.
Pada beberapa dasawarsa terakhir, satu debat tentang apa yang disebut interpretasi “stochatic” (“acak”) tentang alam dan determinisme telah dibuka. Masalah yang mendasar adalah keniscayaan dan peluang yang di sini diperlakukan sebagai dua hal yang berdiri mutlak bertentangan, sebagai dua lawan yang saling meniadakan satu sama lain. Dengan cara ini kita mendapatkan dua pandangan yang saling bertentangan, yang keduanya tidaklah cukup untuk menjelaskan cara kerja alam raya yang kompleks dan penuh kontradiksi.
Werner Heisenberg, seorang fisikawan Jerman, mengembangkan versinya sendiri tentang mekanika kuantum. Di tahun 1932 ia menerima Hadiah Nobel bidang fisika untuk sistem mekanika matriks-nya, yang menggambarkan tingkatan enerji dari orbit elektron murni dalam bentuk angka, tanpa mengandalkan gambar sama sekali. Dengan cara ini, ia berharap dapat mengatasi masalah yang disebabkan oleh adanya kontradiksi antara “partikel” dan “gelombang” dengan mengabaikan segala upaya menggambarkan gejala tersebut, dan memperlakukan gejala tersebut murni dalam bentuk abstraksi matematik. Mekanika gelombang Erwin Schrödinger menangani masalah yang persis sama dengan mekanika matriks Heisenberg tanpa perlu melarikan diri ke dalam dunia abstraksi matematika absolut. Kebanyakan fisikawan lebih menyukai pendekatan Schrödinger karena jauh kurang abstrak ketimbang pendekatan Heisenberg, dan mereka tidak salah. Di tahun 1944, John van Neumann, ahli matematik Amerika keturunan Hungaria itu menunjukkan bahwa mekanika gelombang dan mekanika matriks adalah setara secara matematik, dan dapat menghasilkan jawaban yang persis sama untuk tiap persoalan.
Heisenberg mencapai beberapa kemajuan penting dalam mekanika kuantum. Walau demikian, keteguhannya untuk memasukkan filsafat idealisme yang dianutnya ke dalam ilmu baru itu mewarnai dengan kuat seluruh pendekatan yang dipakainya. Dari sini muncullah apa yang dikenal sebagai “interpretasi Copenhagen” atas mekanika kuantum. Ini pada dasarnya adalah idealisme subjektif, yang dicadari dengan tipis sebagai sebuah aliran pemikiran ilmiah. “Werner Heisenberg,” tulis Isaac Asimov, “berupaya untuk mengangkat satu masalah mendasar yang menempatkan partikel-partikel, bahkan fisika itu sendiri, di dalam sebuah dunia dari hal-hal yang tak dapat diketahui [unknowable].”[i] Kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi. Di sini kita tidak berurusan dengan apa yang tidak diketahui [unknown]. Itu selalu terjadi di tengah ilmu pengetahuan. Seluruh sejarah ilmu pengetahuan adalah kemajuan dari yang tidak diketahui menuju yang diketahui, dari ketidaktahuan menuju pengetahuan. Tapi satu kesulitan yang serius akan muncul ketika orang merancukan apa yang tidak diketahui [unknown] dengan apa yang tidak dapat diketahui [unknowable]. Ada perbedaan mendasar antara kata-kata “kita tidak tahu” dan “kita tidak mungkin tahu”. Ilmu pengetahuan berangkat dari pandangan dasar bahwa dunia objektif benar-benar ada dan dapat kita ketahui.
Walau demikian, sepanjang sejarah filsafat telah terjadi berulang kali upaya untuk menetapkan batas bagi pengetahuan manusia, untuk menegaskan bahwa terdapat beberapa hal yang “tidak mungkin kita ketahui”, dengan alasan ini atau alasan itu. Demikianlah Kant mengklaim bahwa kita hanya dapat memahami apa yang tampak, tapi bukan Hakikat yang di Dalam {Things-in-Themselves]. Dalam pernyataan ini ia mengikuti jejak skeptisisme Hume, idealisme subjektif Berkeley dan para sophis Yunani: kita tidak mungkin memahami dunia.
Di tahun 1927, Werner Heisenberg mengajukan “prinsip ketidakpastian”-nya yang terkenal itu, yang menyatakan bahwa mustahil bagi kita untuk menentukan posisi dan kecepatan sebuah partikel pada saat yang bersamaan. Semakin teliti kita menentukan posisi sebuah partikel, semakin tidak pasti momentumnya, dan sebaliknya. (Hal ini juga berlaku untuk sifat-sifat berpasangan yang lain.) Kesulitan untuk menetapkan secara pasti posisi dan kecepatan dari sebuah partikel yang bergerak dengan kecepatan 5.000 mil per detik ke berbagai arah yang berbeda pada saat yang bersamaan merupakan hal yang tidak perlu dijelaskan lagi. Walau demikian, deduksi dari sini bahwa kausalitas (sebab-akibat) secara umum tidak ada adalah sebuah proposisi yang sama sekali keliru.
Bagaimana kita menentukan posisi sebuah elektron? Ia bertanya. Dengan melihatnya. Tapi, jika kita menggunakan mikroskop yang kuat, itu artinya kita akan menumburkan elektron itu dengan sebuah partikel cahaya, sebuah foton. Karena cahaya berperilaku sebagai sebuah partikel, ia niscaya akan mengganggu momentum dari partikel yang sedang diamati. Dengan demikian, kita akan mengubah partikel itu persis ketika kita menjalankan pengamatan. Gangguan ini tidak akan dapat diramalkan hasilnya dan tidak akan dapat dikendalikan, karena (setidaknya dari teori kuantum yang ada) tidak ada cara untuk mengetahui dan mengontrol di muka sudut yang akan diambil kuantum cahaya ketika dibiaskan melewati lensa. Karena pengukuran yang akurat akan posisi elektron membutuhkan penggunaan cahaya yang panjang gelombangnya kecil, momentum yang besar tapi tidak teramalkan dan tak terkontrol akan dipindahkan kepada elektron. Di pihak lain, pengukuran yang akurat akan momentum membutuhkan kuanta cahaya yang momentumnya sangat kecil (yaitu panjang gelombang yang besar), yang berarti terjadinya satu pembiasan dengan sudut besar. Semakin akurat posisi diukur, semakin kurang akurat momentumnya terukur, dan sebaliknya.
Jadi, apakah kita akan dapat mengatasi masalah ini jika kita mengembangkan sejenis mikroskop elektron yang baru? Mustahil, menurut teori Heisenberg. Karena semua enerji datang dalam paket-paket (kuanta), dan semua materi memiliki ciri tindakan baik sebagai sebuah gelombang maupun sebagai sebuah partikel, jenis alat apapun yang kita pergunakan akan pula tunduk pada prinsip ketidakpastian ini. Sesungguhnya, penggunaan istilah prinsip ketidakpastian tidaklah tepat, karena apa yang ditegaskan di sini bukanlah bahwa kita tidak dapat mengukur secara akurat, karena persoalan alat ukur. Teori itu mengimplikasikan bahwa semua bentuk materi tidak dapat diukur secara akurat justru karena hakikat materi itu sendiri. Seperti yang dikatakan David Bohm dalam bukunya Causality and Chance in Modern Physics:
“Maka penolakan terhadap kausalitas dalam interpretasi yang umum dari teori kuantum haruslah dianggap bukan sebagai sekedar hasil dari ketidakmampuan kita untuk mengukur nilai persis dari variabel yang akan dimasukkan dalam persamaan hukum kausalitas di tingkat atomik, melainkan, ia harus dianggap sebagai cerminan dari fakta bahwa hukum semacam itu tidak ada sama sekali.”
Bukannya melihat hal itu sebagai sebuah aspek khusus dari teori kuantum dalam tingkat perkembangannya yang sekarang, Heisenberg mempostulatkan ketidakpastian sebagai sebuah hukum alam yang mendasar dan universal, dan mengasumsikan bahwa semua hukum alam yang lain harus konsisten dengan hukum ini. Ini merupakan pendekatan yang sangat berbeda dengan pendekatan ilmu pengetahuan di masa lalu ketika ia dihadapkan dengan masalah yang menyangkut fluktuasi tak beraturan dan pergerakan acak. Tidak seorangpun membayangkan bahwa mungkin bagi kita untuk menentukan pergerakan persis dari satu molekul tunggal dalam gas, atau menetapkan di muka seluruh rincian dari sebuah kecelakaan mobil yang mungkin terjadi. Tapi belum pernah terjadi sebelumnya satu upaya yang demikian serius untuk menurunkan dari fakta semacam ini satu ketiadaan hukum kausalitas secara umum.
Tapi, persis kesimpulan inilah yang diajukan dari prinsip ketidakpastian. Para ilmuwan dan filsuf idealis telah maju terlalu jauh dengan mengajukan bahwa kausalitas secara umum tidak ada. Yakni, bahwa bahwa tidak ada itu yang namanya sebab atau akibat. Maka alam raya akan nampak sebagai peristiwa yang seluruhnya tanpa sebab dan acak. Seluruh alam raya ini tidak dapat diramalkan. “Kita tidak dapat memastikan” segala sesuatu. “Melainkan, diasumsikan bahwa dalam percobaan macam apapun, hasil yang persis yang akan dicapai  akan seluruhnya acak dalam makna bahwa ia tidak memiliki hubungan apapun dengan segala hal yang lain yang ada di dunia atau yang pernah ada.”[ii]
Posisi ini adalah negasi sempurna, bukan hanya atas ilmu pengetahuan, tapi juga atas pemikiran rasional secara umum. Jika sebab dan akibat tidak ada, bukan hanya mustahil bagi kita untuk meramalkan apapun; tapi juga mustahil bagi kita untuk menjelaskan apapun. Kita hanya dapat membatasi diri kita untuk menggambarkan apa yang ada. Nyatanya, bukan hanya itu, karena kita bahkan tidak akan pernah bisa yakin bahwa ada sesuatu yang hadir di luar diri dan indera kita. Ini membawa kita kembali pada filsafat idealisme subjektif. Pemikiran ini mengingatkan kita pada argumen para filsuf sophis di jaman Yunani kuno: “Saya tidak akan dapat mengetahui sesuatupun tentang dunia. Jika saya dapat mengetahui sesuatu, yang tidak akan dapat memahaminya. Jika saya dapat memahaminya, saya tidak akan dapat menyatakannya.”
Apa yang dinyatakan oleh “prinsip ketidakpastian” adalah satu ciri pergerakan partikel sub-atomik yang teramat misterius, yang tidak mungkin dapat diraba dengan persamaan dan pengukuran mekanika klasik yang simplisistik itu. Tidak ada keraguan tentang sumbangan yang telah diberikan Heisenberg bagi dunia fisika. Apa yang kita permasalahkan adalah kesimpulan filsafati yang ia tarik dari mekanika kuantum. Fakta bahwa kita tidak dapat mengukur dengan tepat posisi dan momentum sebuah partikel pada saat bersamaan sama sekali tidak membuat kita harus menarik kesimpulan bahwa di sini tidak ada objektivitas. Cara berpikir subjektif merasuk dalam aliran mekanika kuantum dari Copenhagen. Niels Bohr melangkah lebih jauh lagi dengan menyatakan bahwa “keliru kalau kita berpikir bahwa tugas fisika adalah untuk menemukan bagaimana keadaan alam yang sebenarnya. Fisika menyangkut segala yang dapat kita katakan tentang alam.”
Fisikawan John Wheeler berpendapat bahwa “tidak ada gejala yang merupakan gejala nyata sampai ia menjadi gejala yang diamati.” Dan Max Born menerakan filsafat subjektifnya dengan kejelasan mutlak: “Generasi yang mencakup Einstein, Bohr dan saya sendiri diajari bahwa ada satu dunia fisik objektif, yang mengalirkan dirinya menurut hukum-hukum abadi yang tidak tergantung dari kemauan kita; kita mengamati proses ini sebagaimana para penonton melihat sebuah pertunjukan di teater. Einstein masih percaya bahwa seperti inilah seharusnya hubungan antara seorang pengamat ilmiah dengan subjek yang diamatinya.”[iii]
Apa yang kita lihat di sini bukanlah sebuah penilaian ilmiah, tapi pendapat filsafati yang mencerminkan satu cara pandang tertentu terhadap dunia – cara pandang idealisme subjektif, yang merasuki seluruh interpretasi Copenhagen atas teori kuantum. Untungnya, sejumlah ilmuwan terkemuka masih berdiri menentang subjektivisme ini, yang bertentangan dengan seluruh cara pandang dan metode ilmu pengetahuan itu sendiri. Di antara mereka terdapatlah Einstein, Max Planck, Louis de Broglie dan Erwin Schrödinger, yang kesemuanya memainkan peran dalam mengembangkan fisika baru itu dengan tingkat peran yang setidaknya sama pentingnya dengan peran Heisenberg sendiri.

Objektivitas versus Subjektivisme

Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa interpretasi Heisenberg terhadap fisika kuantum sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan filsafatnya. Bahkan ketika ia masih menjadi mahasiswa, ia adalah seorang idealis yang bersemangat, yang mengakui bahwa ia sangat terkesan dengan Timaeus, karya Plato (di mana idealisme Plato tersaji dengan cara yang paling tidak dapat dimengerti orang), sambil bergabung dalam jajaran Freikorps, pasukan paramiliter reaksioner, yang senang menculik dan membunuh para aktivis serikat buruh, terutama aktif di tahun 1919. Kemudian ia menyatakan bahwa ia “jauh lebih tertarik terhadap ide-ide filsafat yang mendasar daripada hal-hal lainnya,” dan bahwa perlulah “untuk keluar dari ide tentang proses objektif dalam ruang dan waktu.” Dengan kata lain, interpretasi filsafati Heisenberg atas fisika kuantum sangat jauh dari sekedar hasil sebuah percobaan ilmiah. Jelas bahwa interpretasinya terkait erat dengan filsafat idealis, yang dengan sadar diterapkannya dalam fisika, dan yang menentukan seluruh cara pandangnya terhadap dunia.
Filsafat semacam itu bukan saja bertentangan dengan ilmu pengetahuan, tapi juga dengan seluruh pengalaman kesejarahan manusia. Bukan saja ia tidak mengandung hakikat yang ilmiah, tapi juga sama sekali tidak ada gunanya dalam praktek. Para ilmuwan yang, pada umumnya, lebih suka tidak menyentuh spekulasi filsafat, mengangguk dengan sopan pada Heisenberg, dan terus saja meneliti hukum-hukum alam, menganggap sewajarnya bahwa alam bukan saja ada ada, tapi juga berjalan sesuai dengan hukum-hukum tertentu, termasuk hukum sebab-akibat, dan dengan usaha sedikit keras, dapat dipahami dengan sempurna, bahkan dapat diramalkan oleh manusia. Konsekuensi yang reaksioner dari idealisme subjektif ditunjukkan oleh perkembangan pribadi Heisenberg sendiri. Ia membenarkan keterlibatannya dengan Nazi dengan alasan bahwa “Tidak ada pedoman umum yang dapat kita gugu. Kita harus memutuskan bagi diri kita sendiri, dan tidak ada cara untuk meramalkan apakah yang kita buat ini adalah benar atau salah.”[iv]
Erwin Schrödinger tidaklah menyangkal adanya gejala acak di alam secara umum atau dalam mekanika kuantum. Ia secara khusus menyebut contoh penggabungan acak molekul DNA pada saat pembuahan seorang anak, di mana ciri-ciri kuantum dari ikatan kimia memainkan peranan penting. Walau demikian, ia menolak interpretasi Copenhagen tentang implikasi dari “percobaan dua celah”; bahwa gelombang peluang Max Born bermakna bahwa kita harus menyangkal semua keobjektifan dunia, yakni pandangan bahwa keberadaan dunia ini tidak tergantung dari pengamatan kita terhadapnya.
Schrödinger menertawakan penegasan Heisenberg dan Bohr bahwa, ketika elektron atau foton tidak sedang diamati, mereka “tidak memiliki posisi” dan hanya menjadi material pada titik tertentu sebagai akibat dari pengamatan. Untuk melawan pandangan ini, ia menciptakan satu “eksperimen pikiran” [thought experiment]. Ambillah seekor kucing dan letakkan dalam sebuah kotak dengan satu ampul sianida, katanya. Ketika sebuah penera Geiger mendeteksi peluruhan sebuah atom, ampul itu akan pecah. Menurut Heisenberg, atom tidak “tahu” bahwa dirinya telah meluruh sebelum ada orang yang mengukurnya. Maka, dalam kasus ini, sampai seseorang membuka kotak itu dan melongok ke dalam, menurut para idealis, kucing itu akan terus berada dalam keadaan tidak hidup dan juga tidak mati! Dengan anekdot ini, Schrödinger bermaksud menggarisbawahi kontradiksi absurd yang disebabkan oleh penerimaan interpretasi idealis subjektif Heisenberg atas fisika kuantum. Proses alam berlangsung secara objektif, tidak tergantung apakah ada orang di sana untuk mengamatinya atau tidak.
Menurut interpretasi Copenhagen, realitas hanya muncul ketika kita mengamatinya. Pada saat selebihnya, realitas hanya ada dalam sejenis limbo, dunia maya, atau “keadaan superposisi gelombang peluang”, seperti kucing tadi yang berada dalam keadaan tidak-mati-tapi-juga-tidak-hidup. Interpretasi Copenhagen mengambil garis pembedaan tegas antara yang diamati dengan yang mengamati. Beberapa fisikawan memilih pandangan, mengikuti ide interpretasi Copenhagen, bahwa kesadaran itu pasti ada, tapi ide realitas material tanpa kesadaran adalah mustahil. Persis inilah sudut pandang idealisme sunjektif yang dijawab oleh Lenin secara komprehensif dalam bukunya Materialism and Empirio-criticism.
Materialisme dialektik berangkat dari objektivitas jagad material, yang disampaikan pada kita melalui indera kita. “Saya menerjemahkan dunia melalui indera saya.” Hal ini tidak perlu dibuktikan lagi. Tapi dunia ini ada, tanpa tergantung dari indera saya. Hal ini juga tidak perlu dibuktikan lagi, seharusnya demikian, tapi tidak untuk para filsuf borjuis! Salah satu varian utama dari filsafat abad ke-20 adalah positivisme logis, yang persis menyangkal objektivitas dunia material. Lebih tepatnya, ia melihat bahwa pertanyaan apakah dunia ini ada atau tidak adalah sebuah pertanyaan yang tidak relevan dan “metafisikal”. Sudut pandang idealisme subjektif telah sempurna tergerogoti oleh penemuan-penemuan di abad ke-20. Tindakan mengamati bermakna bahwa mata kita tengah menerima enerji dari sumber luar tubuh dalam bentuk gelombang cahaya (foton). Hal ini dengan jelas diuraikan Lenin di tahun 1908-9:
“Jika warna adalah satu sensasi yang tergantung hanya dari retina (kita dipaksa mengakui ini oleh ilmu pengetahuan), maka sinar cahaya, yang jatuh ke atas retina, menghasilkan sensasi tentang warna. Hal ini berarti bahwa di luar tubuh kita, tidak tergantung pada kita dan pikiran kita, terdapatlah pergerakan materi, katakanlah gelombang ether yang memiliki panjang gelombang dan kecepatan tertentu, yang, ketika beraksi pada retina, menghasilkan sensasi tentang warna. Persis inilah pandangan ilmu pengetahuan tentangnya. Ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa sensasi akan berbagai warna tergantung dari berbagai panjang gelombang cahaya yang ada di luar retina manusia, di luar tubuh manusia, dan tidak tergantung kepada manusia itu. Inilah materialisme: materi yang bertindak atas organ-indera kita akan menghasilkan sensasi. Sensasi tergantung pada otak, syaraf, retina, dsb., pada materi yang diorganisasikan dengan cara tertentu. Keberadaan materi tidak tergantung dari sensasi kita. Materi adalah primer. Sensasi, pikiran, kesadaran adalah produk pamungkas dari materi yang terorganisir dalam cara yang khusus. Demikianlah pandangan dari materialisme pada umumnya, dan pandangan dari Marx dan Engels pada khususnya.”[v]
Watak idealis-subjektif dari metode Heisenberg nampak dengan sangat ekplisit:
“Situasi aktual kita dalam kerja-kerja penelitian dalam fisika atomik biasanya seperti ini: kita ingin memahami gejala tertentu, kita ingin mengenali bagaimana gejala ini mematuhi hukum satu alam yang umum. Dengan demikian, bagian materi atau radiasi yang mengambil bagian dalam gejala itu adalah ‘objek’ alamiah dalam perlakuan teoritik dan harus dipisahkan dari alat-alat yang digunakan untuk menyelidiki gejala tersebut. Hal ini lagi-lagi menekankan satu unsur subjektif dalam menggambarkan kejadian-kejadian atomik, karena alat pengukur itu telah dibangun oleh sang pengamat, dan kita harus ingat bahwa apa yang kita amati bukanlah alam itu sendiri tapi alam yang ditempatkan di bawah metode penyelidikan kita. Kerja-kerja ilmah dalam fisika mengandung upaya mempertanyakan alam dalam bahasa yang kita miliki dan berusaha untuk mendapatkan jawaban dari percobaan melalui alat-alat yang ada dalam genggaman kita.”[vi]
Kant mendirikan satu tembok kukuh antara dunia yang tampak dan realitas ‘dalam dirinya sendiri”. Di sini Heisenberg melangkah lebih jauh. Bukan hanya ia bicara tentang “alam pada dirinya sendiri”, tapi bahkan menegaskan bahwa kita tidak dapat benar-benar memahami bagian alam yang kita amati, karena kita mengubah bagian alam itu persis ketika kita mencoba mengamatinya. Dengan cara ini, Heisenberg berusaha menghilangkan sama sekali kriteria objektivitas ilmiah. Sayangnya, banyak ilmuwan yang tentunya akan dengan tegas menolak tuduhan mistisisme telah tanpa sadar terserap dalam ide-ide filsafat idealis Heisenberg, hanya karena mereka enggan menerima perlunya pendekatan filsafat materialis yang konsisten atas alam ini.
Poinnya adalah bahwa hukum-hukum logika formal runtuh di luar batas-batas tertentu. Hal ini terutama pasti berlaku untuk gejala-gejala di tingkat dunia sub-atomik, di mana hukum-hukum identitas, kontradiksi dan tanpa-antara tidak dapat diterapkan. Heisenberg mempertahankan sudut pandang logika formal dan idealisme, dan dengan demikian, niscaya sampai pada kesimpulan bahwa gejala kontradiktif pada tingkat sub-atomik tidak akan pernah dapat dipahami sama sekali oleh otak manusia. Kontradiksinya, dengan demikian, bukanlah terletak pada gejala teramati di tingkat sub-atomik, tapi dalam skema mental logika formal yang teramat kuno dan penuh kekurangan itu. Apa yang disebut “paradoks mekanika kuantum” persis adalah kontradiksi ini. Heisenberg tidak dapat menerima keberadaan kontradiksi yang dialektis, dan dengan demikian, memilih untuk bertahan pada filsafat mistisisme – “kita tidak akan pernah tahu”, dan segala alasan lainnya.
Di sini kita menemukan diri kita dalam lingkungan sejenis sulap filsafati. Langkah pertama adalah dengan mengaburkan konsep sebab-akibat dengan determinisme mekanik kuno yang disajikan oleh orang-orang seperti Laplace. Keterbatasan dari determinisme ini sebenarnya telah diuraikan dan dikritisi oleh Engels dalamDialectics of Nature. Penemuan mekanika kuantum akhirnya menghancurkan sama sekali determinisme mekanik. Jenis ramalan yang dibuat oleh mekanika kuantum berbeda dalam beberapa hal dari ramalan mekanika klasik. Walau demikian, mekanika kuantum tetap saja terus sanggup membuat ramalan-ramalan, dan menghasilkan jawaban-jawaban yang tepat sesuai dengan apa yang diramalkan.

Kausalitas (Hukum Sebab-Akibat) dan Peluang

Salah satu dari masalah yang dihadapi oleh para pelajar filsafat atau ilmu pengetahuan adalah ketika satu istilah tertentu digunakan, yang maknanya seringkali berbeda dengan maknanya sehari-hari. Salah satu masalah pokok dalam sejarah filsafat adalah hubungan antra kebebasan dan keharusan, satu masalah kompleks, yang dibuat lebih rumit setelah ia muncul dalam berbagai rupa – kausalitas dan peluang, keharusan dan kebetulan, determinisme dan indeterminisme, dsb.
Kita semua tahu dari pengalaman sehari-hari apa yang kita maksud dengan “keharusan”. Ketika kita “harus” melakukan sesuatu, itu berarti kita tidak memiliki pilihan lain. Kita tidak dapat melakukan hal yang lain. Definisi keharusan dalam kamus adalah satu himpunan keadaan lingkungan yang mendesak sesuatu untuk diadakan atau dilakukan, khususnya menyangkut satu hukum alam raya, tidak terpisah dari, dan mengatur, kehidupan dan tindakan manusia. Ide tentang keharusan fisik menyangkut pandangan tentang tekanan dan keterbatasan. Hal ini nampak jelas dalam kalimat-kalimat semacam “tunduk pada keharusan”. Hal ini terdapat pula dalam pepatah seperti “keharusan tidak mengenal aturan”.
Dalam makna filsafati, keharusan berkerabat erat dengan kausalitas, hubungan antara ­sebab dan akibat – satu tindakan atau peristiwa tertentu yang mengharuskan timbulnya satu hasil yang tertentu pula. Contohnya, jika saya berhenti bernafas selama satu jam, saya akan mati, atu jika saya menggesek dua tongkat satu sama lain, saya akan menghasilkan panas. Hubungan antara sebab dan akibat, yang dipastikan oleh sejumlah besar pengamatan dan percobaan praktek, memainkan peran sentral dalam ilmu pengetahuan. Sebaliknya, kebetulandianggap sebagai sebuah peristiwa yang tidak diharapkan, yang terjadi tanpa sebab yang jelas, seperti ketika kita tersandung ubin yang pecah, atau menjatuhkan mangkuk di dapur. Walau demikian, dalam filsafat, kebetulan adalah sebuah ciri yang hanya merupakan atribut ikutan, yaitu, sesuatu yang bukan merupakan bagian dari cirinya yang hakiki. Sebuah kebetulan adalah sesuatu yang tidak harus ada, dan yang peluangnya untuk tidak terjadi sama besarnya dengan peluangnya untuk terjadi. Mari kita lihat satu contoh.
Jika saya menjatuhkan selembar kertas, biasanya ia akan jatuh begitu saja ke lantai, karena hukum-hukum gravitasi. Ini adalah contoh dari kesebaban, darikeharusan. Tapi jika mendadak ada angin bertiup, kertas itu akan melayang pergi begitu saja, hal yang akan dilihat sebagai kebetulan. Maka keharusan diatur oleh sebuah hukum, dan dapat dinyatakan dan diramalkan secara ilmiah. Hal-hal yang terjadi karena keharusan adalah hal-hal yang tidak bisa tidak harus terjadi. Di pihak lain, kejadian-kejadian acak, hal-hal yang tidak diharapkan, adalah kejadian-kejadian yang bisa atau tidak bisa terjadi; mereka tidak diatur satu hukum tertentu yang dapat dinyatakan dengan jelas dan karena sifat hakikinya, tidak dapat diramalkan.
Pengalaman hidup meyakinkan kita bahwa baik keharusan maupun kebetulan benar-benar ada dan memainkan suatu peran. Sejarah ilmu pengetahuan dan masyarakat menunjukkan hal yang persis sama. Seluruh hakikat dari sejarah ilmu pengetahuan adalah pencarian pola yang mendasari alam raya. Kita telah belajar sejak masa kanak-kanak untuk membedakan apa yang hakiki dan apa yang tidak hakiki, apa yang menjadi keharusan dan apa yang kebetulan. Bahkan ketika kita menjumpai satu kondisi perkecualian yang terasa “aneh” bagi kita dalam tingkatan pengetahuan yang kita miliki, seringkali ternyata pengalaman berikutnya mengungkap keteraturan yang berbeda jenisnya, dan hubungan sebab-akibat yang lebih dalam, yang tidak segera nampak secara sepintas.
Pencarian akan satu pemahaman rasional akan dunia yang kita diami ini berhubungan sangat dekat dengan kebutuhan untuk menemukan kausalitas. Seorang anak kecil, dalam prosesnya belajar tentang dunia, akan selalu bertanya “mengapa?” – yang selalu dianggap gangguan oleh orang tuanya, yang seringkali kebingungan harus menjawab apa. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, kita merumuskan satu hipotesis tentang apa yang menyebabkan terjadinya satu gejala. Inilah dasar dari semua pemahaman rasional. Biasanya, hipotesis-hipotesis ini pada gilirannya melahirkan ramalan mengenai hal-hal yang belum kita alami. Ramalan-ramalan ini kemudian dapat diuji, baik melalui pengamatan ataupun praktek. Ini bukan hanya penggambaran tentang sejarah ilmu pengetahuan, tapi juga satu bagian penting dari perkembangan mental dari tiap manusia dari awal masa kanak-kanak sampai seterusnya. Dengan demikian ia mencakup perkembangan intelektual dalam maknanya yang terluas, dari mulai proses pembelajaran yang paling dasar dari seorang anak sampai telaah tentang jagad raya.
Keberadaan kausalitas ditunjukkan oleh sejumlah besar pengamatan. Semua ini memungkinkan kita membuat ramalan-ramalan penting, bukan hanya dalam ilmu pengetahuan tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Semua orang tahu bahwa jika air dididihkan sampai suhu 100oC ia akan berubah menjadi uap. Inilah dasar, bukan hanya untuk pembuatan secangkir teh, tapi juga untuk revolusi industri, yang telah menjadi dasar bagi seluruh kehidupan masyarakat kita kini. Masih juga ada para filsuf  dan ilmuwan yang menegaskan dengan serius bahwa uap tidak dapat dikatakan disebabkan oleh pemanasan air. Fakta bahwa kita dapat membuat ramalan mengenai sejumlah besar peristiwa itu sendiri adalah bukti bahwa kausalitas bukanlah sekedar satu cara yang enak untuk menggambarkan berbagai hal tapi, seperti yang ditunjukkan David Bohm, merupakan aspek yang inheren dan hakiki dari segala hal. Sesungguhnya, mustahillah bahkan untuk menentukan ciri-ciri segala hal tanpa mengandalkan kausalitas. Contohnya, ketika kita berkata bahwa sesuatu adalah merah, kita menyatakan bahwa ia akan bereaksi dengan cara tertentu ketika dikenai kondisi tertentu – yaitu, satu objek berwarna merah didefinisikan sebagai sesuatu yang jika dikenai cahaya putih akan memantulkan cahaya merah. Mirip dengan itu, fakta bahwa air menjadi uap ketika dipanaskan, dan menjadi es ketika didinginkan, adalah pernyataan dari sebuah hubungan sebab-akibat kualitatif yang merupakan bagian dari sifat-sifat utama dari cairan ini, tanpanya ia bukan lagi air. Hukum matematik umum tentang pergerakan benda bergerak merupakan pula sifat-sifat hakiki dari benda-benda itu, tanpanya mereka tidak akan menjadi seperti apa mereka yang kita kenal. Contoh itu dapat digandakan tanpa batas. Dalam rangka memahami mengapa dan bagaimana sebab-akibat berkait erat dengan sifat-sifat hakiki segala hal, tidaklah cukup untuk memandang hal-hal tersebut secara statis dan saling terpisah satu sama lain.  Perlulah untuk memandang segala hal sebagaimana adanya, sebagaimana mereka pernah ada, dan sebagaimana mereka akan harus ada – yaitu, menelaah segala hal sebagaiproses.
Untuk memahami kejadian-kejadian tertentu, tidak perlu untuk merinci semuasebab. Sesungguhnya, hal ini juga mustahil. Jenis determinisme absolut yang diajukan oleh Laplace sebetulnya telah dijawab sebelum masalah itu diajukan oleh Spinoza dalam kutipan cerdas berikut ini:
“Contohnya, jika sebutir batu jatuh dari atap ke atas kepala seorang yang sedang lewat dan membunuhnya, mereka akan menunjukkan melalui cara berargumen mereka bahwa batu itu dikirim untuk jatuh dan membunuh orang itu; karena jika batu itu tidak jatuh untuk tujuan itu, dengan kehendak Tuhan, bagaimana mungkin begitu banyak lingkup kejadian (karena seringkali begitu banyak lingkup kejadian yang terjadi pada saat bersamaan) mengarah ke situ secara kebetulan? Anda akan menjawab, mungkin: ‘Angin sedang bertiup dan orang itu harus melintas di situ, maka terjadilah hal itu.’ Tapi mereka akan membalas: ‘Mengapa angin bertiup pada saat itu? Dan mengapa orang itu berjalan ke arah itu pada saat itu?’ Jika Anda menjawab lagi: ‘Angin bertiup karena pasang naik di laut pada hari sebelumnya, cuaca sebelumnya tenang, dan orang itu berjalan di situ karena sedang memenuhi undangan seorang kawan,’ mereka akan menjawab lagi, karena tidak ada ujungnya pertanyaan ini: ‘Mengapa laut pasang, dan mengapa orang itu diundang pada saat itu?’
“Dan mereka akan terus mengejar Anda dari sebab ke sebab sampai Anda akan rela mengungsi ke dalam kehendak Tuhan, yaitu, penampungan terhadap segala ketidaktahuan. Demikian pula, ketika mereka melihat tubuh manusia mereka terkagum-kagum, dan karena mereka tidak memahami sebab dari seni yang demikian indah itu, mereka menyimpulkan bahwa itu bukanlah hasil sebuah seni mekanik, tapi seni yang bersifat ketuhanan atau supernatural, dan yang dibangun dengan cara tertentu sehingga satu bagian tidaklah mencederai bagian lainnya. Dari situlah munculnya kenyataan bahwa orang yang ingin mencari tahu sebab sejati dari segala mukjizat, dan memahami berbagai hal di alam sebagaimana halnya pemahaman seorang terpelajar, bukannya terbengong menatap seperti seorang dungu, akan dianggap sebagai orang murtad dan pendosa, dan dinyatakan demikian oleh mereka yang dianggap oleh gerombolan itu sebagai penerjemah kejadian alam dan penyampai kehendak Tuhan. Karena mereka tahu bahwa sekali ketidaktahuan disingkirkan maka keajaiban, yang selama ini menjadi satu-satunya cara berargumen dan pertahanan terhadap kekuasaan mereka, itu akan pula disingkirkan.”[vii]

Mekanisme

Upaya untuk menghilangkan segala kebetulan dari alam pastilah membawa kita pada sudut pandang mekanistik. Dalam filsafat mekanistik dari abad ke-18 – yang diwakili dalam ilmu pengetahuan oleh Newton, ide tentang keharusan diangkat menjadi sebuah prinsip yang mutlak. Semua dilihat sebagai sesuatu yang mutlak sederhana, bebas dari segala kontradiksi, dan tanpa sedikitpun ketidakberaturan atau saling tindih antar berbagai hal.
Ide tentang keteraturan universal di alam jelas benar secara mendasar, tapi suatu pernyataan keteraturan yang kering tidaklah cukup. Yang dibutuhkan adalah sebuah pemahaman kongkrit akan bagaimana hukum-hukum alam bekerja. Cara pandang mekanistik pastilah muncul dari sebuah pandangan yang sepihak atas gejala-gejala alam, yang mencerminkan tingkat perkembangan aktual ilmu pengetahuan pada saat itu. Pencapaian tertinggi dari cara pandang ini adalah mekanika klasik, yang mengurusi proses-proses yang relatif sederhana, sebab dan akibat, yang dipahami sebagai aksi eksternal sederhana dari satu benda terhadap yang lain, pengungkit, kesetimbangan, massa, inersia, mendorong, menekan, dan hal-hal lain semacam itu. Betapapun pentingnya penemuan-penemuan ini, semuanya jelas tidak mencukupi untuk memungkinkan kita sampai pada ide yang akurat tentang cara bekerjanya alam raya yang kompleks ini. Kemudian, penemuan biologi, terutama setelah revolusi Darwinian, memungkinkan satu pendekatan yang berbeda terhadap gejala-gejala ilmiah, yang sejalan dengan proses yang lebih fleksibel dan tak kasat mata dari materi-materi organik.
Dalam mekanika klasik Newton, gerak diperlakukan sebagai sesuatu yang sederhana. Jika kita tahu pada saat tertentu apa saja gaya yang bekerja pada satu objek yang sedang bergerak, kita akan dapat memastikan bagaimana ia akan berperilaku di masa mendatang. Hal ini membawa kita pada determinisme mekanistik, yang salah satu pendukung utamanya adalah Pierre Simon de Laplace, ahli matematika Perancis abad ke-18, yang teorinya tentang alam raya benar-benar mirip dengan ide tentang penciptaan dan takdir, yang terkandung dalam beberapa agama, terutama Calvinisme.
Dalam bukunya Philosophical Essays on Probabilities, Laplace menulis:
“Suatu intelektualitas yang pada saat tertentu mengetahui segala gaya yang menghidupkan Alam Raya dan segala kedudukan dari mahluk-mahluk yang menghuninya, jika intelektualitas ini cukup besar sehingga sanggup menelaah seluruh data yang dimilikinya, dapat menyarikannya ke dalam satu rumus tunggal tentang gerak baik dari benda-benda terbesar di jagad raya maupun dari atom yang terkecil: bagi intelektualitas ini tidak sesuatupun akan menjadi tidak pasti; dan baik masa depan maupun masa lalu akan tersaji dengan jelas di depan mata kita.”[viii]
Kesulitan-kesulitan yang muncul dari metode mekanistik diwarisi oleh para fisikawan abad ke-19 dari rekan-rekan mereka di abad ke-18. Di sini, keharusan dan kebetulan dipandang sebagai dua hal yang saling bertentangan, yang saling meniadakan satu sama lain. Satu hal atau proses adalah salah satu: keharusan atau kebetulan – tidak bisa keduanya sekaligus. Metode ini diperiksa dengan ketajaman pisau bedah oleh Engels dalam The Dialectics of Nature, di mana ia menjelaskan bahwa determinisme mekanistik Laplace niscaya akan membawa kita pada fatalisme [kepasrahan pada takdir] dan konsepsi mistis tentang alam raya ini:
“Dan kemudian dinyatakanlah bahwa keharusan adalah satu-satunya hal yang harus diperhatikan secara ilmiah dan bahwa kebetulan adalah hal yang tidak ada gunanya bagi ilmu pengetahuan. Hal ini adalah sama dengan menyatakan: apa yang dapat ditempatkan ke dalam hukum, yaitu apa yang orang tahu, adalah bermanfaat; apa yang tidak dapat ditempatkan ke dalam hukum, yaitu yang orang tidak tahu, tidaklah berguna dan dapat diabaikan. Kalau demikian halnya, berakhirlah sejarah ilmu pengetahuan, karena ilmu justru harus menyelidiki hal-hal yang tidak kita tahu. Artinya: apa yang dapat ditempatkan pada satu hukum umum adalah keharusan, dan apa yang tidak dapat adalah kebetulan. Semua orang dapat melihat bahwa ini adalah jenis ilmu yang sama dengan jenis ilmu yang menyatakan bahwa apa yang alami adalah apa yang dapat dijelaskannya, dan yang menyerahkan segala yang tak dapat dijelaskannya pada sebab-sebab supernatural; yang dapat saya istilahkan sebagai sebab tak terjelaskan, atau Tuhan, bukan masalah sejauh menyangkut hal yang tak dapat dijelaskan itu sendiri. Keduanya adalah setara dengan: saya tidak tahu, dan dengan demikian hal itu tidak masuk dalam hitungan ilmiah. Penyataan yang kedua berhenti di titik di mana kita tidak dapat menemukan hubungan yang diperlukan untuk menjelaskannya.”
Engels menunjukkan bahwa determinisme mekanistik semacam ini dengan efektif mereduksi keharusan ke tingkatan kebetulan. Jika tiap kejadian kecil berada dalam tingkat kepentingan dan keharusan yang sama dengan hukum umum gravitasi, maka seluruh hukum dasar alam berada dalam tingkat kedangkalan yang sama:
“Menurut pandangan ini, hanya keharusan yang sederhana dan langsung yang mengendalikan alam ini. Bahwa sebuah kacang tertentu mengandung lima butir biji kacang dan bukan empat atau enam, bahwa satu buntut anjing tertentu panjangnya lima inci dan tidak secuilpun lebih panjang atau lebih pendek, bahwa dalam tahun tertentu satu kuntum bunga tertentu dibuahi oleh seekor lebah tertentu dan bukan oleh yang lain, sesungguhnya persis oleh satu ekor lebah dan pada waktu tertentu, bahwa satu biji rumput yang tertentu diterbangkan angin dan berbuah, sementara yang lainnya tidak, bahwa kemarin malam saya digigit kutu pada pukul empat pagi, dan bukan pada pukul tiga atau pukul lima, dan di bahu kiri bukannya di bahu kanan – semua ini adalah fakta-fakta yang telah dihasilkan oleh rantai keniscayaan sebab-akibat, oleh satu keharusan yang tak tergoyahkan dengan sifat yang sedemikian rupa, sehingga sejak alam raya ini masih berupa kumpulan gas panas, telah dirancang sedemikian rupa sehingga kejadian-kejadian itu berlangsung dengan cara yang seperti itu dan bukan dengan cara yang lain.
“Dengan keharusan yang semacam ini kita tidak akan pernah lepas dari pandangan teologi tentang alam raya. Baik sesuai dengan Agustinus maupun dengan Calvin, kita menyebutnya sebagai takdir Tuhan, atau Kismet, seperti sebutan orang-orang Turki, atau sebagai keharusan, semua itu sama maknanya bagi ilmu pengetahuan. Mustahil bagi kita untuk merunut rantai sebab-akibat dalam tiap kasus yang kita sajikan di atas; jadi kita tidak akan bertambah bijak karenanya, apa yang disebut keharusan akan tinggal sebagai kalimat-kalimat kosong, dan bersamanya – kebetulan juga tinggal seperti apa adanya.”[ix]
Laplace berpikir bahwa jika ia dapat merunut sebab-akibat dari segala sesuatu di jagad ini ia akan dapat menghapuskan seluruh kebutuhan akan adanya kebetulan. Untuk waktu yang lama, nampaknya bahwa bekerjanya seluruh alam raya tidaklah dapat direduksi menjadi beberapa persamaan yang sederhana. Salah satu keterbatasan teori mekanistik klasik adalah bahwa ia mengandaikan bahwa tidak ada pengaruh luar terhadap pergerakan dari benda tertentu. Walau demikian, pada kenyataannya, tiap benda dipengaruhi dan ditentukan oleh benda lain. Tidak sesuatupun yang hadir dalam keadaan terisolasi.
Jaman ini, klaim Laplace terasa berlebihan dan tidak masuk nalar. Tapi hal-hal berlebihan itu harus dilihat dalam tahapan sejarah yang sedang ditempuhnya, di mana tiap generasi percaya dengan teguh bahwa mereka telah menggenggam “kebenaran sepenuhnya”. Ini juga bukan hal yang sepenuhnya keliru. Ide dari tiap generasi memang kebenaran sepenuhnya, untuk masa itu. Apa yang kita nyatakan ketika kita menegaskan hal itu adalah: “Inilah tingkatan terjauh yang dapat kita capai dalam memahami Alam Raya, dengan kemampuan informasi dan teknologi yang kita miliki.” Dengan demikian, bukanlah satu hal yang keliru bahwa hal-hal tersebut mutlak bagi kita pada titik kesejarahan tertentu, karena kita hanya dapat menyandarkan diri pada titik tersebut, bukan titik kesejarahan yang lain.

Abad Ke-19

Pada masanya, mekanika klasik Newton merupakan satu langkah maju yang besar bagi ilmu pengetahuan. Untuk pertama kalinya, hukum-hukum Newton tentang gerak memungkinkan peramalan-peramalan kuantitatif yang memiliki tingkat ketepatan tinggi, yang dapat diuji terhadap berbagai gejala teramati. Walau demikian, persis ketepatan inilah yang membawa masalah lain ketika Laplace dan orang-orang lain mencoba menerapkan hukum-hukum ini kepada alam raya secara umum. Laplace meyakini bahwa hukum-hukum Newton adalah mutlak dan sahih secara universal. Ia melakukan kesalahan ganda. Pertama, hukum-hukum Newton tidak dilihat sebagai satu pendekatan yang berlaku di bawah kondisi lingkup tertentu. Kedua, Laplace tidak memperhitungkan kemungkinan bahwa di bawah kondisi lingkup yang berbeda, di wilayah yang belum dijelajahi oleh fisika, hukum-hukum ini mungkin perlu diperbaiki atau diperluas. Determinisme mekanistik Laplace menganggap bahwa sekali posisi dan kecepatan diketahui untuk satu titik waktu tertentu, seluruh perilaku jagad raya di masa depan akan dapat ditentukan. Menurut teori ini, seluruh kekayaan keragaman alam raya ini dapat direduksi menjadi satu himpunan mutlak dari hukum-hukum kuantitatif yang tergantung dari beberapa peubah [variabel] saja.
Mekanika klasik seperti yang ternyatakan dalam hukum-hukum gerak Newton berurusan dengan sebab-akibat yang sederhana, contohnya satu aksi tunggal dari satu benda terhadap benda lainnya. Walau demikian, dalam prakteknya, hal ini mustahil, karena tidak ada sitem mekanik yang benar-benar terpisah dari sistem lainnya di dunia. Pengaruh-pengaruh luar niscaya akan menghancurkan ciri hubungan satu-satu yang terisolir dari sistem ini. Bahkan jika kita dapat mengisolir satu sistem, masih akan terjadi gangguan yang muncul dari gerak yang terjadi di tingkat molekular, dan lain-lain gangguan dari mekanika kuantum di tingkat yang lebih dalam. Seperti yang dikemukakan oleh Bohm: “Maka, tidak ada satu kasus yang nyata diketahui dari himpunan hubungan sebab-akibat yang sempurna bersifat satu-satu, yang dapat secara prinsip memungkinkan peramalan dengan ketepatantak berhingga, tanpa perlu memperhitungkan satu himpunan faktor kausal yang secara kualitatif baru, yang hadir di luar sistem yang sedang diamati atau pada tingkatan lain dari sistem itu.”[x]
Apakah hal ini berarti bahwa peramalan adalah mustahil? Sama sekali tidak. Ketika kita membidikkan sepucuk senapan pada titik tertentu, sebutir peluru tunggal tidak akan pernah mendarat tepat pada titik yang diramalkan oleh hukum gerak Newton. Walau demikian, sejumlah besar tembakan akan menghasilkan satu kumpulan titik di sekitar titik yang diramalkan. Maka, dengan memperhitungkan rentang kesalahan, yang pasti terjadi, peramalan dengan ketepatan tinggi masih dimungkinkan. Jika kita ingin mencapai satu ketepatan yang tak berhingga dalam contoh ini, kita akan menemukan semakin banyak faktor yang akan mempengaruhi hasilnya – ketidakteraturan dalam struktur senapan dan peluru, berbagai variasi kecil dari suhu, tekanan, kelembaban, aliran udara, dan bahkan gerakan molekular dari semua faktor ini.
Pendekatan pada tingkat tertentu diperlukan, dengan mengabaikan tak berhingganya faktor yang diperlukan untuk membuat satu ramalan dengan ketepatan tak berhingga. Hal ini membutuhkan satu abstraksi dari realitas, seperti yang dilakukan oleh mekanika Newton. Walau demikian, ilmu pengetahuan terus melangkah maju, langkah demi langkah, untuk menemukan hukum-hukum yang semakin dalam dan tepat, yang akan memungkinkan kita untuk mendapat pemahaman yang semakin dalam tentang proses bekerjanya alam, dan dari situ memungkinkan kita untuk membuat ramalan yang semakin tepat. Ditinggalkannya determinisme mekanik Newton dan Laplace yang kuno itu tidaklah berarti penghapusan sebab-akibat, tapi satu pemahaman yang lebih dalam tentang cara bekerja yang sejati dari sebab-akibat itu sendiri.
Retakan pertama dari benteng keilmuwan Newton muncul dalam paruh kedua abad ke-19, khususnya dengan teori evolusi Darwin dan karya fisikawan Austria, Ludwig Boltzmann, tentang interpretasi statistik atas proses termodinamik. Para fisikawan berusaha menjelaskan sistem multi-partikel semacam gas atau cairan dengan memakai metode statistik. Walau demikian, statistik itu dilihat sebagai sebuah pembantu dalam situasi di mana mustahil, untuk alasan-alasan praktis, untuk mengumpulkan informasi yang rinci menganai semua ciri dari sistem teramati (contohnya, seluruh posisi dan kecepatan dari partikel-partikel gas pada satu titik waktu tertentu).
Abad ke-19 mencatat perkembangan dari statistika, pertama dalam bidang ilmu sosial, lalu dalam fisika, contohnya dalam teori gas, di mana baik keacakan maupun kepastian dapat dilihat dalam pergerakan molekul-molekul. Di satu pihak, molekul-molekul secara individu nampak bergerak dalam cara yang seluruhnya acak. Di pihak lain, sejumlah besar molekul yang menyusun gas dilihat bergerak dalam satu cara yang mematuhi hukum-hukum dinamika yang berketepatan tinggi. Bagaimana menjelaskan kontradiksi ini? Jika pergerakan dari molekul-molekul penyusunnya acak dan, dengan demikian, tidak dapat diramalkan, seharusnya perilaku gas juga tidak dapat diramalkan? Jauh sekali dari kenyataan.
Jawaban untuk persoalan ini disediakan oleh hukum perubahan kuantitas menjadi kualitas. Apa yang nampak sebagai pergerakan acak dari sejumlah besar molekul ternyata menghasilkan satu keteraturan dan pola yang dapat dinyatakan dalam hukum-hukum ilmiah. Dari kekacauan, lahirlah aturan. Hubungan dialektik antara kebebasan dan keharusan, antara kekacauan dan keteraturan, antara keacakan dan kepastian adalah hal yang tertutup bagi para ilmuwan abad ke-19, yang menganggap hukum-hukum yang mengatur gejala-gejala acak (statistik) sebagai hal yang sama sekali terpisah dari persamaan yang berketepatan tinggi dari mekanika klasik.
“Cairan atau gas apapun,” tulis Gleick, “adalah satu kumpulan dari potongan-potongan individual, demikian banyak sehingga jumlahnya dapat dianggap tak berhingga. Jika tiap potongan digerakkan secara independen, maka cairan itu akan memiliki kemungkinan yang tak berhingga, ‘derajat kebebasan’ tak berhingga dalam istilahnya, dan persamaan yang menggambarkan pergerakan itu akan harus berisi peubah yang jumlahnya juga tak berhingga. Tapi tiap partikel tidaklah bergerak secara independen – pergerakannya sangat tergantung pada pergerakan partikel tetangganya – dan dalam aliran yang mulus, derajat kebebasannya menjadi sangat kecil.”[xi]
Mekanika klasik bekerja sangat baik untuk waktu yang lama, ia memungkinkan kemajuan-kemajuan dalam bidang teknologi. Bahkan sampai sekarang hukum-hukum itu masih terus memiliki penerapan yang beraneka ragam. Walau demikian, akhirnya ditemukan bahwa beberapa wilayah tertentu tidak dapat ditangani dengan baik oleh metode-metode ini. Mereka telah mencapai batasan mereka. Dunia mekanika klasik yang teratur dan logis menggambarkan sebagian alam ini, tapi hanya sebagian. Di alam raya kita melihat keteraturan, tapi juga ketidakteraturan. Berdampingan dengan organisasi dan stabilitas terdapat pula kekuatan-kekuatan yang sama kuatnya berjalan ke arah yang berlawanan. Di sini kita terpaksa memakai dialektika, untuk menentukan hubungan antara keharusan dan kebetulan, untuk menentukan di titik mana akumulasi dari perubahan-perubahan kuantitas yang kecil, yang kelihatannya tidak penting, berubah menjadi lompatan kualitatif yang mendadak.
Bohm mengusulkan satu perumusan ulang yang radikal atas mekanika kuantum, dan satu cara baru untuk melihat hubungan antara yang keseluruhan dan yang sebagian.
“Dalam telaah-telaah ini … menjadi jelas bagi kita bahwa bahkan sistem yang hanya terdiri dari satu benda memiliki ciri-ciri yang pada dasarnya non-mekanikal, dalam makna bahwa ia dan lingkungannya haruslah dipahami sebagai satu keseluruhan yang tak terpisahkan, di mana analisis klasik yang jamak dilakukan terhadap sistem dan lingkungan, di mana keduanya dianggap sebagai terpisah dan berada satu di luar yang lain, tidak lagi dapat diterapkan.” Hubungan antara bagian-bagian “tergantung secara krusial pada keadaan yang keseluruhan, dalam cara yang sedemikian sehingga ia tidak akan dapat dinyatakan hanya dalam ciri-ciri dari bagian-bagian itu. Sesungguhnya, bagian-bagian itu diorganisasikan dalam cara yang mengalir dari yang seluruhnya.”[xii]
Hukum dialektika tentang peralihan dari kuantitas ke kualitas menyatakan ide bahwa materi berperilaku berbeda dalam tingkatan yang berbeda-beda. Maka, kita melihat tingkatan molekular, tingkatan yang dipelajari terutama dalam kimia tapi juga dalam fisika; kita melihat tingkatan materi hidup, yang dipelajari terutama dalam biologi; tingkatan sub-atomik, yang dipelajari dalam mekanika kuantum; dan juga tingkatan yang bahkan lebih dalam daripada itu yaitu tingkatan partikel-partikel elementer, yang kini sedang dijelajahi dalam fisika partikel. Tiap tingkatan ini masih pula memiliki sub-tingkatannya sendiri-sendiri.
Telah ditunjukkan bahwa hukum-hukum yang mengatur perilaku materi di tiap tingkatan tidaklah sama. Hal ini telah ditunjukkan di abad ke-19 oleh teori kinetika gas. Jika kita mengambil sekotak gas yang mengandung milyaran molekul, yang bergerak dengan jalur yang acak dan terus-menerus bertumburan satu dengan lainnya, jelas mustahil untuk menentukan dengan tepat pergerakan dari tiap molekul. Sekilas pandang, hal ini akan menyebabkan kemustahilan untuk menemukan persamaan yang murni matematik tentang hal ini. Bahkan jika dimungkinkan untuk memecahkan persoalan matematik yang ada di dalamnya, akan mustahil dalam praktek untuk mengukur posisi awal dan kecepatan dari tiap molekul, satu hal yang dibutuhkan untuk menentukan prakondisi yang berketepatan tinggi atas sistem ini. Bahkan secuil perubahan dalam sudut awal gerak satu molekul akan mengubah arah geraknya, yang pada gilirannya akan membawa perubahan lebih besar pada tumburan berikutnya, dan seterusnya, yang akhirnya akan membawa tingkat kesalahan yang besar berkaitan dengan pergerakan satu molekul tertentu.
Jika kita mencoba menerapkan sistem berpikir yang sama pada perilaku gas dalam tingkatan makroskopik (“normal”), kita akan menganggap bahwa mustahil pula untuk meramalkan perilakunya. Tapi kenyataannya tidak demikian, perilaku gas pada tingkatan besar dapat diramalkan dengan sempurna. Seperti yang ditunjukkan Bohm:
“Jelaslah bahwa kita dibenarkan untuk bicara tentang satu tingkatan makroskopikyang memiliki himpunan kualitas yang relatif otonom dan memenuhi satu himpunanhubungan yang relatif otonom yang secara efektif menyusun satu himpunan hukum kausal makroskopik. Sebagai contoh, jika kita meneliti satu massa air, kita tahu melalui pengalaman skala-besar bahwa ia bertindak dalam ciri khasnya sendiri sebagai suatu cairan. Yang kita maksudkan adalah bahwa ia menunjukkan semua kualitas makroskopis yang kita kenali sebagai likuiditas. Contohnya, ia mengalir, ia ‘membasahi’ segala sesuatu, ia cenderung menjaga volumenya, dsb. Dalam pergerakannya ia memenuhi satu himpunan persamaan hidrodinamik dasar yang dinyatakan dalam ciri-ciri skala besar saja, seperti tekanan, suhu, kerapatan lokal, kecepatan aliran lokal, dsb. Maka, jika kita ingin memahami sifat-sifat massa air, kita tidak perlu memperlakukannya sebagai sebuah agregat molekul-molekul, melainkan sebagai sebuah keberadaan yang hadir pada tingkat makroskopik, yang mengikuti hukum-hukum yang sesuai untuk tingkatan tersebut.”
Hal ini bukan berarti bahwa molekul-molekul penyusun itu tidak memiliki hubungan apapun dengan perilaku air. Sebaliknya. Hubungan antar molekul menentukan, contohnya, apakah ia mewujudkan diri sebagai suatu cairan, benda padat atau uap. Tapi, sebagaimana dinyatakan Bohm, terdapatlah satu otonomi relatif, yang berarti bahwa materi berperilaku berbeda pada tingkatan yang berbeda; di sana ada “satustabilitas tertentu dari tata karakteristik atas perilaku makroskopis, yang cenderung menjaga keberadaannya kurang-lebih independen dari apa yang dilakukan oleh molekul-molekul secara individu, tapi juga dari berbagai gangguan yang dikenakan terhadap sistem tersebut dari luar dirinya.”[xiii]

Apakah Ramalan Dimungkinkan?

Ketika kita melemparkan sekeping uang logam ke udara, peluang bahwa ia akan mendarat “kepala atau buntut” dapat ditetapkan pada tingkat 50:50. Itu adalah sebuah gejala yang benar-benar acak, yang tidak dapat diramalkan. (Kebetulan, ketika ia sedang berputar di udara, koin itu bukanlah “kepala” maupun “buntut”; dialektika – dan fisika baru – akan menyatakan bahwa ia adalah keduanya, kepala dan buntut sekaligus.) Karena terdapat hanya dua kemungkinan, peluang akan berjaya. Tapi persoalannya akan berbeda secara radikal ketika jumlah pengulangannya dibuat demikian besar. Para pemilik rumah judi, yang kita anggap mendasarkan diri pada permainan “peluang” tahu bahwa, dalam jangka panjang, nol atau dobel-nol akan muncul sesering angka-angka lain, dan dengan demikian mereka akan dapat membuat keuntungan yang berlimpah dan dapat diramalkan. Hal yang sama terjadi pada perusahaan-perusahaan asuransi yang menghasilkan banyak uang dari peluang-peluang yang diperhitungkan secara presisi, yang, pada titik terakhirnya, akhirnya berubah menjadi keniscayaan praktis, bahkan jikalaupun nasib individu pemegang polis tidak akan pernah dapat diramalkan secara tepat.
Apa yang dikenal sebagai “kejadian acak massal” dapat diterapkan pada bidang yang sangat luas cakupannya dalam fisika, kimia, biologi dan gejala sosial, dari jenis kelamin bayi sampai kekerapan terjadinya cacat dalam jalur produk sebuah pabrik. Hukum-hukum peluang memiliki sejarah yang panjang dan telah digunakan di masa lalu dalam berbagai bidang: teori kesalahan (Gauss), teori keakuratan tembakan (Poisson, Laplace), dan di atas segalanya, dalam statistik. Contohnya, “hukum bilangan besar” menegaskan prinsip umum bahwa gabungan efek dari sejumlah besar faktor kebetulan, untuk kelas faktor yang sangat besar jumlahnya, membawa hasil yang hampir sama sekali tidak tergantung pada peluang. Ide ini bahkan telah dikemukakan di tahun 1713 oleh Bernoulli, dan oleh Chebyshev di tahun 1867. Apa yang dilakukan Heisenberg hanyalah menerapkan matematika dari apa yang telah dikenal sebagai kejadian acak skala-massal kepada gerakan partikel sub-atomik, di mana, dapat diduga sebelumnya, unsur keacakan dapat ditundukkan dengan cepat.
“Mekanika kuantum telah menemukan hukum-hukum yang berketepatan tinggi dan indah, yang mengatur peluang, dengan jumlah besar seperti inilah ilmu pengetahuan mengatasi kekurangan yang disebabkan oleh indeterminasi dasarnya. Melalui cara inilah ilmu pengetahuan dengan gagahnya membuat peralaman. Sekalipun ia kini dengan rendah hati mengakui bahwa dirinya tidak berdaya untuk meramalkan perilaku persis dari elektron atau foton secara individual atau benda-benda lain yang mendasar semacam itu, ia masih tetap dapat menyatakan dengan penuh percaya diri bagaimana sejumlah besar partikel itu akan berperilaku.”[xiv]
Dari apa yang nampak sebagai keacakan, muncullah satu pola. Pencarian untuk pola semacam itulah, yakni hukum yang mendasarinya, yang menjadi basis bagi seluruh sejarah ilmu pengetahuan. Tentu saja, jika kita menerima bahwa segala sesuatunya sebetulnya acak, bahwa tidak ada sebab-akibat, dan bahwa, walau bagaimanapun, kita tidak akan pernah memahami apapun karena tidak ada batasan objektif bagi pengetahuan kita, maka semua pencarian itu akan menjadi pemborosan waktu paling sempurna. Untungnya, seluruh sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa ketakutan semacam itu tidak memiliki basis secuilpun. Dalam mayoritas pengamatan ilmiah, tingkat indeterminasi demikian kecilnya sehingga, untuk keperluan praktis, ia dapat diabaikan. Pada tingkat benda-benda sehari-hari, prinsip ketidakpastian terbukti mutlak tidak berguna. Maka, semua upaya untuk menarik kesimpulan filsafati umum dari sana, dan menerapkannya pada pengetahuan dan ilmu secara umum, benar-benar merupakan tipuan yang licik. Bahkan di tingkat sub-atomik, sama sekali itu bukan berarti bahwa kita tidak akan pernah dapat membuat ramalan yang berketepatan tinggi. Sebaliknya, mekanika kuantum masih membuat ramalan-ramalan semacam itu. Mustahil untuk mencapai tingkat kepastian yang tinggi tentang koordinat dari partikel-partikel secara individu, yang kemudian dapat kita sebut sebagai acak. Namun, pada akhirnya, dari keacakan lahirlah keteraturan dan keseragaman.
Kebetulan, peluang, akibat ikutan, dsb., adalah gejala yang tidak dapat didefinisikan hanya dalam lingkup ciri-ciri yang diketahui dari objek yang sedang diamati. Walau demikian, hal ini tidaklah berarti mereka tidak dapat dipahami. Mari kita lihat satu contoh jamak dari peristiwa kebetulan – tabrakan mobil. Satu kecelakaan tunggal ditentukan oleh jumlah peristiwa kebetulan yang tak berhingga banyaknya: jika sang pengemudi meninggalkan rumah semenit kemudian, jika ia tidak memalingkan mukanya sedetikpun dari jalan, jika ia mengemudi sepuluh mil per jam lebih lambat, jika wanita tua itu tidak menyeberang jalan, dsb., dsb. Kita telah mendengar hal seperti ini berulang kali. Jumlah sebab di sini adalah tak berhingga. Tepat karena alasan ini, kejadian itu seluruhnya tidak dapat diramalkan. Ia adalah kejadian yang murni kebetulan, bukan keharusan, karena ia sama boleh terjadinya dengan tidak. Kejadian semacam ini, bertentangan dengan teori Laplace, ditentukan oleh demikian banyak faktor yang independen sehingga ia tidak dapat ditentukan sama sekali.
Walau demikian, ketika kita meninjau sejumlah besar kecelakaan semacam itu, gambaran yang terjadi berubah secara radikal. Ada kecenderungan yang reguler, yang dapat dengan tepat diperhitungkan dan diramalkan melalui apa yang kita kenal sebagai hukum-hukum statistik. Kita tidak dapat meramalkan satu kecelakaan tertentu, tapi kita dapat meramalkan dengan ketepatan tinggi jumlah kecelakaan yang akan terjadi di satu kota dalam jangka waktu tertentu. Bukan hanya itu, tapi kita dapat mengintrodusir hukum-hukum dan peraturan yang memiliki satu dampak yang pasti terhadap jumlah kecelakaan. Dengan demikian, ada aturan-aturan yang mengatur segala kebetulan, yang sama pastinya dengan hukum-hukum yang mengatur sebab-akibat itu sendiri.
Hubungan sejati antara sebab-akibat dan peluang telah dikemukakan oleh Hegel, yang menjelaskan bahwa keharusan menyatakan dirinya melalui peluang. Satu contoh yang baik tentang hal ini adalah asal-mula kehidupan itu sendiri. Ilmuwan Rusia, Oparin, menjelaskan bagaimana dalam kondisi yang kompleks di masa-masa awal sejarah bumi, pergerakan acak dari molekul-molekul cenderung membentuk molekul yang semakin kompleks dengan segala macam peluang kombinasi. Pada titik tertentu, jumlah peluang kombinasi yang teramat besar ini menimbulkan satu lompatan kualitatif, munculnya materi hidup. Pada titik ini, proses itu bukan lagi sekedar persoalan peluang murni. Materi hidup mulai berkembang sesuai dengan hukum-hukum tertentu, mencerminkan keadaan yang berubah. Hubungan antara keharusan dan kebetulan ini dalam ilmu pengetahuan telah ditelusuri oleh David Bohm:
“Dengan demikian kita melihat makna pentingnya peluang. Karena, jika kita memberi cukup waktu, ia akan memungkinkan, bahkan memastikan berbagai jenis kombinasi dari berbagai hal. Salah satu dari kombinasi itu, yang menggerakkan proses searah atau garis perkembangan yang melepaskan sistem tersebut dari pengaruh fluktuasi peluang, pada akhirnya pasti terjadi. Dengan demikian, satu dari efek peluang adalah bantuan untuk ‘mengaduk berbagai hal’ dengan cara yang sedemikian rupa sehingga memungkinkan inisiasi dari satu garis perkembangan yang baru secara kualitatif.”
Berpolemik melawan interpretasi idealis-subjektif atas mekanika kuantum, Bohm menunjukkan secara memuaskan hubungan dialektik antara sebab-akibat dan peluang. Kehadiran sebab-akibat telah ditunjukkan oleh seluruh sejarah pemikiran manusia. ini bukanlah masalah spekulasi filsafati, tapi dari praktek dan proses tanpa henti dari pemahaman manusia:
“Hukum-hukum sebab-akibat dalam sebuah masalah tertentu tidaklah dapat ditentukan a priori; mereka harus ditemukan di alam. Walau demikian, sejalan dengan pengalaman ilmiah dari banyak generasi dan latar belakang umum dari pengalaman bersama umat manusia selama berabad-abad, telah dikembangkanlah berbagai metode yang terumus rapi untuk menemukan hukum-hukum sebab-akibat itu. Hal pertama yang membuktikan adanya hukum-hukum sebab-akibat itu adalah, tentu saja, kehadiran satu hubungan reguler yang berlaku di dalam sjumlah besar variasi kondisi. Ketika kita menemukan keteraturan semacam itu, kita tidak menganggap bahwa mereka lahir dengan cara yang acak, sembarang, atau tidak diharapkan, tapi … kita menganggap, setidaknya dengan hati-hati, bahwa mereka adalah hasil dari sebuah hubungan sebab-akibat yang pasti. Dan bahkan, dengan mempertimbangkan pula ketidakteraturan, yang selalu hadir bersamaan dengan keteraturan itu, kita dibimbing, berdasarkan pengalaman ilmiah secara umum, untuk mengharapkan bahwa gejala-gejala yang bagi kita masih kelihatan sepenuhnya tidak teratur, dalam konteks tahapan perkembangan pemahaman tertentu yang kita miliki, akan di kemudian hari kelihatan mengandung bentuk-betuk keteraturan yang lebih halus, yang pada gilirannya akan membuktikan adanya keteraturan di tingkat yang lebih dalam.”[xv]

Hegel tentang Keharusan dan Kebetulan

Dalam menelaah sifat-sifat keberadaan dalam segala perwujudannya, Hegel menangani hubungan antara yang potensial dan yang aktual, dan juga antarakeharusan dan kebetulan (“akibat ikutan”). Dalam hubungannya dengan masalah ini, penting untuk memperjelas kutipan Hegel yang paling terkenal: “Apa yang rasional adalah aktual, dan yang aktual adalah rasional.”[xvi] Sekilas, pernyataan ini nampak mistis, dan juga reaksioner, karena kelihatannya ia menegaskan bahwa segala hal yang ada adalah rasional, dan dengan demikian dibenarkan untuk terus ada. Walau demikian, hal ini sama sekali bukan apa yang dimaksudkannya, seperti yang dijelaskan oleh Engels:
“Kini, menurut Hegel, realitas adalah sama sekali bukan merupakan ciri yang dapat dilekatkan pada tiap keadaan-peristiwa, sosial atau politik, dalam segala kejadian-lingkup dan pada segala waktu. Sebaliknya, Republik Romawi adalah hal yang riil, namun demikian juga Kekaisaran Romawi, yang menggantikannya. Di tahun 1789 monarki Perancis telah menjadi demikian artifisial, demikian terlucuti dari segala keharusan, demikian irasional, sehingga ia harus dihancurkan oleh Revolusi Besar itu, yang selalu dikumandangkan Hegel dengan entusiasme yang berkobar-kobar. Dalam hal ini, dengan demikian, monarki tidaklah riil dan revolusilah yang riil. Dan demikianlah, dalam perjalanan perkembangannya, semua yang tadinya riil menjadi tidak riil, kehilangan keharusannya, haknya untuk mengada, rasionalitasnya. Dalam kejatuhan realitas itu muncullah satu realitas yang baru dan hidup – dengan damai jika realitas yang lama memiliki cukup otak untuk pergi ke peraduan terakhirnya tanpa perlawanan, dengan kekerasan jika realitas lama itu melawan keharusan baru ini. Dengan demikian, proposisi Hegelian berbalik menjadi lawannya melalui dialektika Hegelian itu sendiri: Segala yang riil dalam lingkup sejarah manusia menjadi irasional dalam proses waktu, menjadi irasional justru karena tujuannya itu sendiri, tercemari terlebih dahulu dengan irasionalitas; dan segala hal yang rasional dalam benak manusia ditakdirkan menjadi riil, bagaimanapun kontradiktifnya itu dengan realitas yang masih nampak hadir. Sejalan dengan segala aturan metode berpikir Hegelian, proposisi tentang rasionalitas dari segala yang riil meluruhkan dirinya menjadi proposisi lain: Segala yang ada ditakdirkan untuk musnah.”[xvii]
 Satu bentuk masyarakat tertentu adalah “rasional” sejauh ia mencapai tujuan-tujuannya, yaitu, bahwa ia mengembangkan kekuatan produktif, mengangkat tingkat budaya manusia, dan dengan demikian mendukung kemajuan umat manusia. Sekali ia gagal melalukan hal ini, ia menjadi tidak rasional dan tidak riil, dan tidak lagi memiliki hak untuk terus hidup. Dengan demikian, bahkan dalam pernyataannya yang nampaknya paling reaksioner, Hegel menyembunyikan satu ide yang revolusioner.
Segala yang ada hanya dapat hadir jika diharuskan hadir. Tapi tidak segala sesuatu dapat mengada. Keberadaan potensial bukanlah keberadaan yang aktual, keberadaan yang riil. Dalam The Science of Logic, Hegel dengan hati-hati menelusuri proses di mana sesuatu berjalan dari keadaan keberadaan yang hanya mungkin sampai titik di mana kemungkinan [possibility] berubah menjadikebolehjadian [probability], dan di mana yang disebut terakhir itu berubah menjadikeniscayaan (“keharusan”). Dengan memandang kericuhan kolosal yang telah muncul dalam ilmu pengetahuan modern seputar isu tentang “kebolehjadian”, satu telaah atas perlakuan Hegel yang menyeluruh dan mendasar atas subjek ini adalah hal yang sangat dianjurkan.
Kemungkinan dan aktualitas menyatakan perkembangan dialektik dari dunia nyata dan berbagai tahapan dalam kemunculan dan perkembangan berbagai objek. Satu hal yang hadir secara potensial mengandung di dalam dirinya kecenderungan objektif untuk perkembangan, atau setidaknya ketiadaan kondisi yang akan memustahilkan dirinya benar-benar muncul ke permukaan. Walau demikian, terdapat satu perbedaan antara kemungkinan abstrak dan potensi riil, dan kedua hal itu sering dicampuradukkan satu sama lain. Kemungkinan abstrak atau formal hanya menyatakan ketiadaan kondisi yang akan memustahilkan satu gejala tertentu, tapi tidaklah lantas berarti adanya satu kondisi yang akan membuat kemunculannya menjadi suatu yang niscaya.
Hal ini membawa kebingungan tanpa ujung, dan biasanya merupakan satu tipuan yang berguna untuk membenarkan segala macam ide yang absurd dan acak. Contohnya, telah dikemukakan bahwa jika seekor kera dibiarkan mengetuk-ngetuk tuts mesin tik cukup lama, akhirnya ia akan mampu menghasilkan salah satu soneta Shakespeare. Tujuan percobaan ini sangatlah bersahaja. Mengapa hanya satu soneta? Mengapa tidak sekalian seluruh kumpulan karya Shakespeare? Mengapa juga tidak sekalian seluruh literatur yang ada di dunia, dengan ditambah bonus teori relativitas dan simponi-simponi Beethoven? Penegasan kering bahwa hal itu “secara statistik dimungkinkan” tidaklah membawa kita selangkahpun lebih maju. Proses alam, masyarakat dan pemikiran manusia yang kompleks itu tidaklah dapat ditundukkan ke dalam perlakuan statistik yang sederhana, bahkan juga karya-karya sastra yang besar tidak akan pernah muncul dari kebetulan belaka, betapapun lamanya kita menunggu kera kita menghasilkan hal itu.
Agar yang potensial dapat menjadi aktual, dibutuhkan satu rantai kejadian-lingkup tertentu. Lebih jauh lagi, ini bukanlah satu proses yang sederhana atau linear, tapi dialektik, di mana satu akumulasi atas perubahan-perubahan kualitatif kecil akhirnya menghasilkan lompatan kualitatif. Kemungkinan riil, jika dibandingkan dengan yang abstrak, menyatakan adanya semua faktor wajib yang akan memungkinkan potensi itu meninggalkan keadaan menggantungnya, dan menjadi aktual. Dan, seperti yang diterangkan Hegel, ia akan tetap aktual hanya selama kondisi-kondisi ini hadir, tidak sedetikpun lebih lama. Hal ini dibenarkan ketika kita merujuk pada kehidupan satu individu, satu bentuk sosial-ekonomi tertentu, satu teori ilmiah, atau gejala-gejala alam lainnya. Titik di mana perubahan akan menjadi satu keniscayaan dapat ditentukan melalui metode yang diciptakan oleh Hegel, yang dikenal sebagai “garis pengukuran nodal”. Jika kita menganggap sebuah proses sebagai sebuah garis, akan nampak bahwa terdapat titik-titik tertentu (“titik nodal”) pada garis perkembangan, di mana proses tersebut mengalami percepatan mendadak, atau lompatan kualitatif.
Sangatlah mudah untuk mengenali sebab dan akibat dalam kasus yang terisolir, seperti ketika kita memukul sebuah bola dengan tongkat. Tapi, dalam makna yang lebih luas, pandangan tentang sebab-akibat menjadi jauh lebih rumit. Sebab dan akibat individual lenyap dalam lautan interaksi, di mana sebab diubah menjadi akibat dan sebaliknya. Cobalah menelusuri satu kejadian sederhana sampai ke “sebab paling utama”-nya dan Anda akan melihat bahwa keabadianpun tidak akan cukup panjang untuk memberi kita waktu yang cukup untuk melakukan tugas itu. Akan selalu ada sebab yang baru, dan yang pada gilirannya harus pula dijelaskan, dan seterusnya ad infinitum, sampai tak berhingga. Paradoks ini telah masuk dalam kesadaran umum dalam ujar-ujar semacam ini:
Karena kurang sebatang paku, ladam pun lepas;
Karena ladam lepas, seekor kuda tidak dapat dikendalikan;
Karena seekor kuda tidak dapat dikendalikan, penunggangnya tewas;
Karena penunggangnya tewas, kita kalah dalam pertempuran;
Karena kita kalah dalam pertempuran, kerajaan kita direbut musuh;
… Semua gara-gara kurang sebatang paku.
Kemustahilan untuk menetapkan satu “sebab final” telah menyebabkan beberapa orang meninggalkan sama sekali ide tentang sebab-akibat. Segala hal dilihat sebagai acak dan kebetulan. Di abad ke-20 posisi ini telah dipegang, setidaknya dalam teori, oleh sejumlah besar ilmuwan berdasarkan interpretasi yang tidak tepat atas hasil-hasil yang dicapai fisika kuantum, khususnya posisi filsafati Heisenberg. Hegel sebetulnya telah menjawab argumen-argumen ini, ketika ia menjelaskan hubungan dialektik antara keharusan dan kebetulan.
Hegel menjelaskan bahwa tidak ada yang namanya sebab-akibat dalam makna sebab-akibat yang terisolasi. Tiap akibat memiliki akibat-tandingan [counter-effect], dan tiap aksi memiliki aksi-tandingan. Ide tentang sebab-akibat yang terisolasi adalah satu abstraksi yang diambil dari fisika klasik Newton, yang sangat dikritisi oleh Hegel, sekalipun waktu itu masih sangat diakui. Di sini pula, Hegel maju mendahului jamannya. Bukannya satu pandangan mekanik tentang aksi-reaksi, ia memajukan pandangan tentang ketimbalbalikan [reciprocity], tentang interaksi universal. Segala hal mempengaruhi segala yang lain, dan pada gilirannya, dipengaruhi dan ditentukan oleh segala hal lain itu juga. Hegel, dengan demikian, memajukan kembali konsep kebetulan yang telah dikeluarkan dengan bersemangat dari ilmu pengetahuan oleh para filsafat mekanik dari Newton dan Laplace.
Sepintas, kita kelihatannya tersesat dalam lautan kebetulan. Tapi kesesatan ini hanya penampakan belaka. Gejala yang kebetulan, yang terus muncul dan lenyap, seperti gelombang di permukaan laut, menyatakan proses yang lebih dalam, yang bukannya kebetulan tapi keharusan. Pada satu titik yang menentukan, keharusan inimenyatakan dirinya melalui kebetulan. Ide tentang kesatuan dialektik antara keharusan dan kebetulan mungkin terasa aneh, tapi sungguh dibenarkan oleh serangkaian pengamatan dalam berbagai bidang yang luas dalam ilmu pengetahuan dan masyarakat. Mekanisme seleksi alam dalam teori evolusi adalah contoh yang paling terkenal. Tapi ada banyak lagi yang lain. Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi banyak penemuan dalam bidang teori kompleksitas dan chaosyang persis merinci bagaimana “keteraturan lahir dari kekacauan”, persis seperti yang dikemukakan Hegel satu setengah abad yang lalu.
Kita harus ingat bahwa Hegel menulis pada awal abad yang lalu, ketika ilmu pengetahuan masih didominasi oleh fisika mekanik klasik, dan setengah abad sebelum Darwin mengembangkan ide tentang seleksi alam melalui mutasi acak. Ia tidak memiliki bukti ilmiah untuk mendukung teorinya bahwa keharusan menyatakan dirinya melalui kebetulan. Tapi itulah ide sentral yang berada di balik pemikiran-pemikiran inovatif terbaru dalam ilmu pengetahuan.
Hukum yang mendasar ini setara maknanya bagi pemahaman terhadap sejarah. Seperti apa yang ditulis Marx pada Kugelmann di tahun 1871:
“Sejarah dunia akan benar-benar mudah ditulis jika perjuangan di dalamnya hanya dilakukan dalam kondisi-kondisi yang mengandung peluang-peluang yang pasti menguntungkan. Di pihak lain ia akan memiliki watak yang sangat mistis, jika ‘kebetulan’ tidak memainkan peran sama sekali. Kebetulan-kebetulan ini secara alamiah menjadi bagian dari arah umum perkembangan dan diimbangi oleh kebetulan-kebetulan lain. Tapi percepatan dan hambatan sangatlah tergantung pada ‘kebetulan-kebetulan’ semacam ini, termasuk  ‘kebetulan’ yang menyangkut watak dari orang-orang yang memimpin pergerakan tersebut.”[xviii]
Engels membuat pernyataan yang mirip beberapa tahun sesudah itu dalam hubungannya dengan “orang-orang besar” dalam sejarah:
“Manusia menulis sendiri sejarah mereka, tapi bukanlah dengan satu kehendak kolektif menurut satu rencana kolektif, bahkan dalam satu masyarakat yang memiliki batas-batas pasti. Aspirasi mereka saling berbenturan satu sama lain, dan justru karena alasan itu semua masyarakat tunduk pada keharusan, yang saling melengkapi dan mewujud dalam kebetulan-kebetulan. Keharusan yang di sini menyatakan dirinya berlawanan dengan semua kebetulan adalah lagi-lagi keharusan ekonomi. Di sinilah apa yang disebut orang-orang besar itu harus ditempatkan. Bahwa orang-orang seperti itu, dan persis orang itu, muncul pada satu waktu tertentu di satu negeri tertentu, adalah tentu saja hal yang murni kebetulan. Tapi, penggallah dia, dan akan muncul tuntutan untuk kemunculan orang-orang lain seperti dia, dan pengganti ini akan ditemukan, baik atau buruk, tapi dalam jangka panjang ia akan ditemukan.”[xix]

Determinisme dan Chaos

Teori chaos berkaitan dengan proses alam yang nampaknya kacau atau acak. Satu definisi kamus tentang chaos akan menunjukkan ketidakberaturan, kekacauan, keacakan, atau kebetulan: gerakan acak tanpa tujuan, kegunaan atau prinsip tertentu. Tapi, campur-tangan dari “kebetulan” murni dalam proses material akan mengundang masuknya faktor-faktor yang bukan-fisik, yaitu, metafisik: kehendak, campur tangan ilahi. Karena ia berkaitan dengan kejadian-kejadian yang “kebetulan”, maka ilmu chaos yang baru lahir itu memiliki implikasi-implikasi filsafati yang mendasar.
Proses alami yang pada awalnya dianggap sebagai acak dan kacau kini terbukti tunduk pada hukum-hukum ilmiah, menunjukkan satu basis kausal yang deterministik. Lebih jauh lagi, penemuan ini memiliki penerapan yang demikian luas, kalau tidak dapat disebut universal, sehingga ia telah mendorong satu cabang ilmu yang sama sekali baru – telaah tentang chaos. Ia telah menghasilkan satu cara pandang dan metodologi baru, beberapa orang akan menyebutnya satu revolusi, yang dapat diterapkan pada semua cabang ilmu yang ada sekarang. Ketika satu blok logam menjadi magnet, ia berubah ke dalam “keadaan teratur”, di mana semua partikelnya mengarah ke jurusan yang sama. Ia dapat diarahkan ke satu atau lain jurusan. Secara teoritik, ia “bebas” untuk mengatur dirinya ke jurusan apapun. Namun pada prakteknya tiap potongan kecil logam membuat “keputusan” yang serupa.
Seorang ilmuwan chaos telah menemukan aturan matematik dasar yang menggambarkan “geometri fraktal” dari sehelai daun cemara spleenwort hitam. Ia memasukkan informasi itu ke dalam komputernya, yang juga memiliki program untuk menghasilkan bilangan-bilangan acak. Komputer itu diprogram untuk menghasilkan satu gambar menggunakan titik-titik yang diletakkan secara acak di layar. Sejalan dengan semakin majunya percobaan itu, mustahillah untuk mengantisipasi di mana tiap titik akan muncul. Tapi tanpa ragu sedikitpun, gambar helai daun cemara itu muncul. Kemiripan yang nampak di permukaan antara kedua percobaan ini sangatlah jelas. Tapi kemiripan itu menunjukkan satu kesejajaran yang lebih dalam. Seperti halnya komputer itu mendasarkan pemilihan titik yang kelihatannya acak (dan bagi pengamat yang berada “di luar” komputer itu, untuk keperluan praktis, pilihan itu benar-benar acak) berdasarkan aturan matematik yang jelas, demikian juga ia menunjukkan bahwa perilaku foton (dan berimplikasi juga bagi semua kejadian di dunia kuantum) tunduk pada aturan matematik mendasar yang, sayangnya, masih berada di luar pemahaman manusia pada saat ini.
Pandangan Marxis beranggapan bahwa seluruh jagad raya didasarkan pada kekuatan-kekuatan dan proses-proses material. Kesadaran manusia, pada titik telaah terakhinya, hanyalah satu cerminan dari dunia nyata yang hadir di luar tubuhnya, satu cerminan berdasarkan interaksi fisik antara tubuh manusia dengan dunia material. Di dunia material tidak ada keterputusan dalam kesalingterhubungan fisik antar berbagai kejadian dan proses. Tidak ada ruang, dengan kata lain, bagi campur-tangan kekuatan-kekuatan metafisik atau spiritual. Dialektika material, seperti kata Engels, adalah “ilmu tentang kesalingterhubungan universal”. Lebih jauh lagi, kesalingterhubungan dunia fisik itu didasarkan pada prinsip sebab-akibat, dalam makna bahwa segala proses dan kejadian, ditentukanoleh kondisi mereka dan ketaatan pada hukum dari kesalingterhubungan mereka:
“Hal pertama yang kita lihat dalam mempelajari pergerakan materi adalah kesalingterhubungan dari pergerakan-pergerakan individual dari benda-benda yang terpisah, bahwa mereka saling menentukan satu sama lain. Tapi bukan hanya kita temukan bahwa satu gerak tertentu akan diikuti oleh gerak yang lain, kita juga menemukan bahwa kita dapat menirukan satu gerak tertentu dengan menciptakan kondisi-kondisi di mana gerak tersebut terjadi secara alami, bahwa kita bahkan dapat menciptakan gerak yang sama sekali tidak terdapat secara alami (dalam industri), setidaknya bukan dengan cara tertentu, dan bahwa kita dapat memberi pergerakan-pergerakan ini satu arah dan jangkauan yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan cara ini, melalui aktivitas manusia, ide tentang sebab-akibatditegakkan, ide bahwa satu gerak adalah sebab dari gerak lainnya.”[xx]
Kompleksitas dunia dapat menyamarkan proses sebab-akibat dan membuat yang satu tidak dapat dibedakan dari yang lain, tapi hal itu tidaklah mengubah logika yang mendasarinya. Seperti yang dijelaskan Engels,
“Sebab dan akibat adalah pandangan yang hanya membenarkan penerapan dirinya pada kasus-kasus individual; tapi segera setelah kita menempatkan kasus-kasus individual itu di dalam kesalingterhubungan umum mereka dengan jagad raya sebagai keseluruhan, mereka saling bertubrukan, dan mereka menjadi kacau ketika kita mempertimbangkan aksi-reaksi universal di mana sebab dan akibat terus saling bertukar tempat, sehingga apa yang di sini dan kini menjadi akibat akan menjadi sebab di sana pada saat mendatang, dan sebaliknya.’”[xxi]
Teori chaos tidak diragukan lagi merupakan satu kemajuan besar, tapi di sini juga ada beberapa perumusan yang dapat dipertanyakan. Efek kupu-kupu yang terkenal itu, yang menyatakan jika seekor kupu-kupu mengepakkan sayapnya di Tokyo dan menyebabkan badai bergolak seminggu kemudian di Chicago, memang satu contoh yang sangat sensasional, yang ditujukan untuk memicu satu kontroversi. Tapi, pernyataan ini tidak tepat dalam bentuknya. Perubahan kualitatif hanya dapat terjadi sebagai hasil dari sebuah akumulasi atas perubahan kuantitatif. Satu kejadian acak yang kebetulan (seekor kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya) hanya dapat menghasilkan efek yang dramatis jika semua kondisi untuk timbulnya badai telah tersedia. Dalam kasus ini, keharusan dapat menyatakan dirinya melalui sebuah kebetulan. Tapi hanya dalam kasus ini.
Hubungan dialektik antara keharusan dan peluang dapat dilihat dalam proses seleksi alam. Jumlah mutasi acak di dalam satu organisme adalah besar tak berhingga. Tapi, dalam lingkungan tertentu, salah satu mutasi ini ditemukan bermanfaat bagi organisme tersebut dan dipertahankan, sementara mutasi yang lain lenyap. Keharusan sekali lagi mewujudkan dirinya melalui perantaraan kebetulan. Dalam makna tertentu, kemunculan hidup di bumi dapat pula dilihat sebagai sebuah “kebetulan”. Tidaklah ditakdirkan bahwa bumi harus berada pada jarak yang tepat dari matahari, dengan besar gravitasi dan jenis atmosfir yang tepat, bahwa semua ini harus terjadi. Tapi, karena kejadian-lingkup yang berantai ini, reaksi kimia yang jumlahnya tak berhingga, yang terjadi dalam waktu yang sangat panjang, kehidupan niscaya akan muncul. Hal ini tidak hanya berlaku untuk planet kita saja, tapi juga pada sejumlah besar planet lain di mana kondisi yang sama juga ada, sekalipun tidak di dalam tata-surya kita. Walau demikian, sekali kehidupan muncul, ia berhenti menjadi kebetulan, dan berkembang melalui hukum-hukum internalnya sendiri.
Kesadaran itu sendiri tidaklah muncul dari sebuah rencana ilahi, tapi, dalam makna tertentu, juga muncul dari sebuah “kebetulan”, yaitu dalam bentuk bipedalisme (posisi berjalan tegak), yang membebaskan tangan, dan dengan demikian memungkinkan mahluk-mahluk hominid awal untuk ber-evolusi sebagai hewan yang dapat membuat alat. Boleh jadi bahwa kecelakaan evolusioner ini adalah hasil dari perubahan iklim di Afrika Timur, yang menghancurkan sebagian hutan yang menjadi habitat kera-kera purba yang menjadi nenek-moyang kita. Ini adalah satu kebetulan. Seperti yang dijelaskan Engels dalam The Part Played by Labour in the Transistion of Ape to Man, inilah basis bagi berkembangnya kesadaran manusia. Tapi, dalam makna yang lebih luas, kemunculan kesadaran – materi yang sadar akan dirinya sendiri – tidaklah dapat dianggap sebagai sebuah kecelakaan, tapi merupakan hasil yang niscaya dari evolusi materi, yang melaju dari bentuk-bentuk yang sederhana ke yang lebih rumit, dan yang, di mana kondisinya memungkinkan, niscaya akan melahirkan kehidupan yang memiliki intelektualitas, dan bentuk-bentuk kesadaran yang lebih tinggi, masyarakat yang kompleks, dan apa yang kita kenal sebagai peradaban.
Dalam bukunya Metaphysics, Artistoteles menyediakan ruang yang sangat besar untuk diskusi tentang hakikat keharusan dan kebetulan. Ia memberi kita satu contoh, kata-kata kebetulan yang akan membawa kita pada pertengkaran. Dalam satu situasi yang tegang, contohnya ketika perkawinan sedang mengalami krisis, bahkan komentar yang sangat tidak bermaksud apa-apa dapat memicu pertengkaran yang panjang. Tapi jelas bahwa kata-kata yang diucapkan bukanlah penyebab pertengkaran itu sendiri. Pertengkaran itu adalah buah dari satu akumulasi stres dan ketegangan, yang cepat atau lambat akan mencapai titik ledaknya. Ketika titik ini tercapai, hal yang sekecil apapun akan dapat memprovokasi sebuah ledakan. Kita dapat melihat gejala yang serupa di pabrik-pabrik. Selama bertahun-tahun, kaum buruh yang nampaknya pasrah, yang takut akan pemecatan, siap menerima segala pemaksaan – pemotongan upah, pemecatan rekan kerja mereka, kondisi kerja yang semakin buruk, dsb. Di permukaan, tidak sesuatupun yang terjadi. Tapi, pada kenyataannya, ada peningkatan yang kontinyu dalam ketidakpuasan mereka, yang, pada titik tertentu, haruslah menemukan perwujudannya. Satu hari, para buruh memutuskan: “cukuplah sudah.” Persis pada titik ini, bahkan kejadian yang paling dangkal sekalipun dapat memicu sebuah pemogokan. Seluruh situasi telah berubah menjadi kebalikannya.
Ada satu analogi yang luas antara perjuangan kelas dengan konflik antar bangsa. Di bulan Agustus 1914, Pangeran Mahkota Austro-Hungaria dibunuh di Sarajevo. Orang mengatakan bahwa inilah penyebab Perang Dunia I. Pada kenyataannya, kecelakaan sejarah ini boleh terjadi maupun tidak. Sebelum 1914, telah terjadi beberapa insiden lain (insiden Maroko, insiden Agadir) yang sama mungkinnya untuk memicu perang. Sebab sebenarnya dari Perang Dunia I adalah akumulasi dari kontradiksi yang tak tertanggungkan antara kekuatan-kekuatan imperialis utama – Inggris, Perancis, Jerman, Austro-Hungaria dan Rusia. Hal ini mencapai tahapan yang kritis, di mana semua ramuan peledaknya dapat dipicu oleh percikan kecil yang terjadi di Balkan.
Akhirnya, kita melihat gejala yang sama di dunia ekonomi. Pada saat kami sedang menuliskan bab ini, Kota London sedang terguncang oleh bangkrutnya Barings Bank. Kejadian ini dengan bersegera dipersalahkan kepada penggelapan yang dilakukan oleh salah satu pegawainya di Singapura. Tapi bangkrutnya Barings hanyalah satu gejala paling mutakhir dari satu krisis yang lebih dalam, yang terjadi dalam sistem keuangan dunia. Kepala berita dalam The Independent berbunyi “satu kecelakaan pasti akan terjadi.” Pada skala dunia, kini ada USD 25 milyar yang ditanamkan dalam berbagai saham derivatif. Hal ini menunjukkan bahwa kapitalisme tidak lagi didasarkan pada produksi, tapi pada kegiatan-kegiatan spekulatif yang makin hari makin luas. Fakta bahwa Mr. Leeson kehilangan sejumlah besar uang di bursa saham Jepang boleh dikaitkan dengan kebetulan terjadinya gempa bumi di Kobe. Tapi para analis ekonomi yang serius akan paham bahwa hal ini hanyalah satu perwujudan dari ketidakstabilan dari sistem keuangan internasional. Dengan atau tanpa Mr. Leeson, satu kejatuhan adalah niscaya. Perusahaan-perusahaan dan lembaga keuangan besar internasional, semua yang terlibat dalam perjudian tanpa kenal hitungan ini, sedang bermain api. Satu kejatuhan keuangan sangatlah implisit dalam situasi ini.
Boleh jadi bahwa ada terdapat banyak gejala yang didasari oleh proses dan hubungan sebab-akibat yang tidak dipahami sepenuhnya sehingga mereka kelihatannya bersifat acak. Untuk keperluan praktis, semuanya hanya dapat diperlakukan secara statistik, seperti roda roulet pada pemutarnya. Tapi, di dasar semua “kebetulan” ini masih ada kekuatan-kekuatan dan proses yang menentukan hasil akhirnya. Kita hidup dalam sebuah jagad raya yang diatur oleh determinisme dialektik.

Marxisme dan Kebebasan

Persoalan hubungan antara “kebebasan dan keharusan” telah dikenal oleh Aristoteles dan didiskusikan tanpa henti oleh Orang-orang Terpelajar di abad pertengahan. Kant menggunakannya sebagai salah satu “antinomi”-nya yang terkenal, di mana hal itu disajikan sebagai satu kontradiksi yang tak terpecahkan. Di abad ke-17 dan ke-18 persoalan ini muncul dalam matematik sebagai teori peluang, yang berhubungan dengan perjudian.
Hubungan dialektik antara kebebasan dan keharusan telah muncul kembali dalam teori chaos. Doyne Farmer, seorang fisikawan Amerika yang menyelidiki dinamika yang terkomplikasi, berkomentar:
“Pada tingkat filsafati, terasa bagi saya sebagai satu cara yang operasional untuk mendefinisikan kehendak bebas, dengan cara yang mengijinkan Anda mendamaikan kehendak bebas dengan determinisme. Sistemnya adalah deterministik, tapi Anda tidak dapat mengatakan dengan tepat apa yang akan terjadi kemudian. Pada saat bersamaan, saya selalu merasa bahwa persolan-persoalan yang penting di seluruh dunia selalu berhubungan dengan penciptaan organisasi, baik dalam kehidupan maupun dalam intelektualitas. Tapi bagaimana Anda dapat mempelajari hal itu? Apa yang sedang dilakukan para ahli biologi saat ini kelihatannya sangat bersifat terapan dan spesifik; apa yang dilakukan para ahli kimia tidak terlalu bersifat demikian; yang dilakukan para ahli matematika sama sekali tidak demikian, dan para fisikawan sama sekali tidak melakukannya. Saya selalu merasa bahwa kemunculan spontan pengorganisiran-diri harus menjadi bagian dari fisika. Di sini kita menemui satu keping mata uang dengan dua sisi. Di sini ada keteraturan, dengan keacakan yang muncul di mana-mana, dan selangkah berikutnya justru keacakan itulah yang mendasari segala keteraturan.”[xxii]
Determinisme dialektik sama sekali tidak mirip dengan pendekatan deterministik yang mekanistik, apalagi dengan fatalisme. Seperti adanya hukum-hukum yang mengatur materi organik dan anorganik, demikian pula ada hukum yang mengatur evolusi masyarakat manusia. Pola yang dapat diamati melalui sejarah sama sekali bukanlah satu kebetulan. Marx dan Engels menjelaskan bahwa peralihan dari satu sistem sosial ke sistem yang lain ditentukan oleh perkembangan dari kekuatan produktif, ujung-ujungnya. Ketika sistem sosial-ekonomi tertentu tidak lagi sanggup mengembangkan kekuatan produktif, ia akan masuk ke dalam krisis, menyiapkan lahan bagi sebuah pembalikan revolusioner.
Dengan hal ini, kita sama sekali tidak menyangkal peran para individu dalam sejarah. Seperti yang telah kita lihat di muka, manusia menulis sendiri sejarahnya. Walau demikian, sangatlah dungu jika kita membayangkan bahwa umat manusia adalah “agen-agen bebas” yang dapat menentukan masa depannya murni berdasarkan kehendak mereka sendiri. Umat manusia harus mendasarkan diri pada kondisi-kondisi yang telah diciptakan terpisah dan tak tergantung dari kehendak mereka – ekonomi, sosial, politik, agama, dan budaya. Dalam makna ini, ide tentang kehendak bebas adalah tidak masuk nalar. Sikap sejati Marx dan Engels terhadap peran individu dalam sejarah ditunjukkan oleh kutipan berikut dari The Holy Family:
Sejarah tidak melakukan apa-apa, ia ‘tidak memiliki kekayaan yang berlimpah’, ‘iatidak melancarkan pertempuran apapun’. Manusia-lah, manusia yang hidup, yang nyata, yang melakukan semua itu, yang memiliki dan yang bertempur; ‘sejarah’ bukanlah sesuatu yang berdiri terpisah, yang menggunakan manusia sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuannya sendiri; sejarah bukan apa-apa kecualiaktivitas manusia dalam mencapai tujuan manusia itu sendiri.”[xxiii]
Bohong besar jika dikatakan bahwa manusia hanyalah sekedar boneka-boneka mati di panggung nasib, yang tidak berdaya mengubah takdirnya sendiri. Walau demikian, manusia nyata ini hidup dalam dunia nyata, yang seperti ditulis oleh Marx dan Engels, tidak dapat dan tidak akan berdiri di luar masyarakat di mana mereka hidup. Secara sadar atau tidak, para aktor individual dalam panggung sejarah pada akhirnya akan mencerminkan kepentingan, pendapat, prasangka, moralitas dan aspirasi dari kelas atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Hal ini sebenarnya tidak perlu dibuktikan lebih lanjut bahkan dari pembacaan sejarah yang paling remeh-temeh sekalipun.
Walau demikian, khayalan tentang “kehendak bebas” bertahan terus. Filsuf Jerman, Leibniz, menyatakan bahwa sebuah jarum magnetik, jika ia dapat berpikir, tentu akan berpendapat bahwa mereka menunjuk arah utara karena mereka menginginkan demikian. Di abad ke-20, Sigmund Freud menghancurkan sama sekali prasangka bahwa manusia memegang kendali sepenuhnya atas pikiran mereka sendiri. Gejala dalam salah bicara Freudian adalah satu contoh sempurna akan hubungan dialektik antara keharusan dan kebetulan. Freud memberi berbagai contoh tentang kesalahan dalam berbicara, “kelupaan”, dan “kecelakaan-kecelakaan” lain, yang dalam banyak kasus, dipastikan mencerminkan satu proses psikologis yang lebih dalam. Mengutip Freud:
“Ketidakcukupan tertentu dalam kapasitas kejiwaan kita … dan unjuk kerja tertentu yang tidak diniatkan sebelumnya terbukti memiliki motivasi yang kuat ketika dihadapkan pada penyelidikan psiko-analisa, dan ditentukan melalui kesadaran akan motif-motif yang tidak diketahui.”[xxiv]
Satu tenet sentral dalam pendekatan Freud adalah bahwa tidak satupun perilaku manusia yang kebetulan. Kesalahan-kesalahan kecil dalam kehidupan sehari-hari, mimpi, dan gejala yang kelihatannya tak terjelaskan dari orang-orang yang sakit mental bukanlah sesuatu yang “kebetulan”. Secara definisi, pikiran manusia tidaklah menyadari proses-proses yang terjadi di bawah sadarnya. Semakin dalam motivasi bawah sadar itu, dari sudut pandang psiko-analisis, semakin jelas bahwa seseorang tidak akan menyadari motivasi itu. Sejak awal Freud telah menyadari prinsip-prinsip umum bahwa proses-proses bawah sadar ini menyatakan diri mereka (dan dengan demikian dapat dipelajari) melalui petikan-petikan perilaku yang oleh pemikiran sadar dianggap sebagai kesalahan atau kecelakaan.
Mungkinkah kita mencapai kebebasan? Jika yang dimaksudkan dengan tindakan “bebas” adalah tindakan yang tidak ada sebabnya, atau tidak ada yang menentukannya, kita harus dengan terus terang menyatakan bahwa tindakan semacam itu tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada. “Kebebasan” khayal semacam itu adalah bagian dari filsafat metafisik. Hegel menjelaskan bahwa kebebasan sejati adalah pengakuan terhadap apa yang merupakan keharusan. Sampai tingkat di mana manusia memahami hukum-hukum yang mengatur alam dan masyarakat, mereka akan berada dalam posisi menguasai hukum-hukum ini dan dapat menggunakannya untuk keuntungan mereka sendiri. Basis material sejati di mana umat manusia dapat menjadi bebas telah ditegakkan oleh perkembangan industri, ilmu pengetahuan dan teknik. Dalam sistem masyarakat yang rasional – sistem di mana alat-alat produksi dirancang secara serasi dan dikendalikan dengan sadar – kita akan benar-benar dapat bicara tentang perkembangan umat manusia yang bebas. Mengutip Engels, inilah “lompatan umat manusia dari dunia keharusan menuju dunia kebebasan.”

[i] I. Asimov, New Guide to Science, p. 375.
[ii] D. Bohm, Casuality and Chance in Modern Physics, pp. 86 dan 87.
[iii] T. Ferris, The World Treasury of Physics, Astronomy, and Mathematics, pp. 103 dan 106.
[iv] E. J. Lerner, The Big Bang Never Happened, pp. 362-3.
[v] Lenin, Collected Works (LCW), Vol. 14, p. 55.
[vi] Ferris, op. cit., pp. 95-6.
[vii] Spinoza, Ethics, p. 8.
[viii] Dikutip dalam I. Stewart, Does God Play Dice?, pp.10-2.
[ix] Engels, The Dialectics of Nature, pp. 289-90.
[x] D. Bohm, op. cit., p. 20.
[xi] J. Gleick, Chaos, Making a New Science, p. 124.
[xii] Bohm, op. cit., pp. x dan xi.
[xiii] Ibid., pp. 50-1.
[xiv] Hoffmann, op. cit., p. 152.
[xv] Bohm, op. cit., pp. 24 dan 4.
[xvi] Hegel, Philosophy of Right, p. 10.
[xvii] Marx-Engels, Selected Works (MESW), Vol. 3, pp. 338-9.
[xviii] Marx-Engels, Selected Correspondence (MESC), Marx to Kugelmann, 17 April 1871, p. 264.
[xix] Ibid., Engels to Starkenburg, 25 januari 1894, p. 467.
[xx] Engels, The Dialectics of Nature, pp. 17 dan 304.
[xxi] Engels, Anti-Dühring, p. 32.
[xxii] Dikutip dalam Gleick, op. cit., pp. 251-2.
[xxiii] Marx-Engels, Collected Works (MECW), Vol. 4, p. 93.
[xxiv] Freud, The Psychopathology of Everyday Life, p. 193.
×