Kamis, 02 Desember 2010

Kamis, Desember 02, 2010
Kaum sosialis tentu saja aktif dalam bermacam-macam kegiatan, gerakan dan organisasi. Namun satu prioritas yang tidak boleh luput dari perhatian adalah peranan organisasi sosialis sendiri.

Kelompok-kelompok di mancanegara yang berhubungan dengan “Suara Sosialis” kebanyakan tidak menamakan diri “partai”, karena masih terlalu kecil. Sebuah partai ialah sebuah organisasi yang mempunyai massa pendukung dan mampu untuk memimpin perjuangan dalam skala besar. Bahkan organisasi kami di Inggeris, yang bernama Socialist Workers Party dan mempunyai ribuan aktivis, masih belum bisa memainkan peranan ini sepenuhnya. Tugas grup-grup sosialis saat ini adalah membangun partai revolusioner.

Mengapa kita perlu partai revolusioner? Bukankah perjuangan massal bisa timbul secara spontan? Jelas bisa, dan proses radikalisasi politik juga bisa berlangsung secara spontan akibat penindasan dan eksploitasi yang dialami rakyat di mana-mana di dunia. Namun radikalisasi dan perjuangan belum pernah berkembang secara merata. Selalu ada pengikut yang lebih sadar, lebih militan, lebih radikal daripada pengikut lainnya. Sedangkan ada juga yang lebih konservatif, ragu-ragu, bahkan ada yang menentang perjuangannya dan mendukung status quo.

Akibat-akibat negatif dari ketidakmerataan tersebut kita bisa saksikan pada kerusuhan bulan Mei 1998 di Indonesia. Dalam kerusuhan massal yang terjadi kurang-lebih spontan itu, ada beberapa orang yang memiliki sikap politik progresif, misalnya dengan membakar potret Soeharto. Tetapi ada juga yang bersikap rasialis, dan unsur-unsur ini bisa dimanipulasi oleh rezim untuk membelokkan perjuangan rakyat ke arah aksi anti-Cina. Gerakan mahasiswa lebih bersatu dan efektif, tetapi juga tidak rata. Ada mahasiswa yang sangat berani dan pikiran politiknya sudah cukup radikal, namun ada juga yang ragu-ragu atau bahkan konservatif, sehingga kaum mahasiswa tidak mampu untuk memimpin perjuangan seluruh rakyat. Dan upaya beberapa kelompok lainnya, misalnya orang-orang LSM, tercabik-tercabik saja.
Dalam setiap gerakan sosial, termasuk gerakan buruh, selalu ada perdebatan dan persilisihan, serta konflik dan perpecehan. Tujuan partai sosialis adalah untuk menyatukan kelas buruh, dan menjadikannya pimpinan perjuangan seluruh rakyat di bawah program ekonomi, sosial dan politik sosialis.

Caranya bagamaina? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mungkin ada baiknya kita menegaskan terlebih dahulu apa yang tidak dimaksudkan. Ada dua pola partai yang mengaku “sosialis” namun yang samasekali tidak memadai.

Yang pertama adalah partai tipe sosial-demokrat. Pada awal abad XX ada sejumlah partai, terutama di Eropa, berdasarkan kelas buruh (dengan dukungan juga dari golongan sosial lainnya). Partai-partai ini berusaha mewakili seluruh kelas buruh, termasuk buruh yang paling konservatif.

Akibatnya program politiknya banyak terpengaruhi oleh unsur-unsur konservatif dalam gerakan buruh, sehingga menjadi partai reformis yang menghalangi perjuangan revolusioner di Eropa seusai Perang Dunia I.

Karena penghianatan itu dan berdasarkan pengalaman kaum Bolshevik di Rusia, Lenin dan Internasional Komunis menganjurkan konsep baru dari partai sosialis (atau komunis). Partai tersebut mendasarkan diri kepada unsur-unsur yang lebih radikal dalam kelas buruh dan golongan tertindas lainnya. Partai revolusioner memobilisasi lapisan “pelopor” (van guard) untuk meyakinkan dan memimpin lapisan lainnya. Karena program politiknya yang tidak mau berkompromis dalam masalah prinsip, partai “pelopor” tak urung menjadi partai minoritas sampai timbulnya situasi revolusioner. Namun dalam krisis yang mendalam seperti yang terjadi di Rusia tahun 1917, massa rakyat akan ramai-ramai menyeberang ke kubu revolusioner itu.

Sayangnya konsep partai “pelopor” tersebut di jungkirbalikkan oleh rezim Stalin. Di tahun 1930-an partai-partai komunis sedunia menjelma menjadi organisasi otoriter. Konsep “pimpinan” ditafsirkan dalam artian buruk, bahwa Komite Pusat (Central Committee) harus mendikte basis partai, dan partai harus mendikte kelas buruh. Ini adalah pola palsu yang kedua yang harus ditolak.

Suara Sosialis” menganut konsep partai bolshevik dalam artian aslinya. Partai revolusioner mesti 100% demokratis, bukan saja sebagai prinsip moral, tetapi juga karena secara praktis gagasan marxis dan strategi revolusioner seperti kami telah jelaskan dalam kolom-kolom sebelumnya (revolusi demokratis, “dari bawah”) hanya bisa diperjuangkan dengan cara demokratis. Tugas utamanya adalalah meyakinkan kebanyakan buruh dan kebanyakan rakyat tentang kebenaran teori dan praktek sosialis.

Partai revolusioner juga harus disiplin. Kadang-kadang tata karya Bolshevik ini disebut “demokrasi sentralis”. Yakni semua anggota partai mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapat dan berdebat, namum setelah mengambil sebuah keputusan, kita semua harus ikut melaksanakan keputusan tersebut. Dalam partai-partai komunis masa Stalin, prinsip ini juga mengalami distorsi sehingga pimpinan sering memperlakukan basis secara oteriter. Ini bukanlah pendekatan Lenin, dan juga bukan pendekatan gerakan kami dewasa ini. “Demokrasi sentralis” tersebut kami terapkan dengan cukup fleksibel. Jarang ada instruksi dari pimpinan, dan sangat jarang sekali ada anggota yang dikucilkan. Partai revolusioner harus mampu beraksi secara bersatu supaya efektif, namun kesatuan tersebut mesti berdasarkan konsensus politik yang tinggi, dan ini hanya mungkin terjadi sebagai akibat dari diskusi dan perdebatan yang terbuka dan bebas.
Tidak adanya partai semacam ini telah menimbulkan kekalahan yang serius bahkan tragis dalam beberapa situasi revolusioner. Contohnya krisis di Chile tahun 1973, dimana organisasi buruh dipatahkan oleh pihak militer.

Kaum buruh terlalu percaya kepada Partai Sosialis yang dipimpin Salvador Allende dan Partai Komunis (yang sebenarnya leblih moderat daripada Partai Sosialis). Pemerintah Allende berkompromi dengan para jendral, dan kelas buruh tidak mempunyai partai revolusioner yang indepen, alhasil kaum buruh bingung dan seperti lumpuh dihapadan ancaman militer.

Di Indonesia baru-baru ini (Mei 1998) kita menyaksikan bahwa rakyat kesulitan untuk bersatu secara penuh dalam perjuangan anti-rezim. Namun jika ada partai revolusioner yang memiliki kader-kader yang aktif di setiap kampung, kampus serta tempat kerja, sentimen rasis anti-Cina pasti dapat diatasi. Mahasiswa dan buruh bisa menjalin hubungun yang erat. Gerakan pro-demokrasi dapat timbul sebagai sebuah pimpinan politik yang jauh lebih konsisten dibandingkan dengan tokoh seperti Megawati (yang tidur panjang saat penggulingan Soeharto) atau Amien Rais (yang pada awal mulanya berani memberikan Soeharto kurun waktu 12 bulan untuk mengatasi krismon, dan kemudian cukup toleran juga terhadap Habibie). Dan barang tentu sebuah partai sosialis revolusioner akan menganjurkan program ekonomi, sosial serta politik yang lebih mendalam daripada yang disajikan Mega atau Amien sampai sekarang.

Seperti tercatat di atas, partai semacam ini tidak ada dimana pun di dunia, walaupun dua grup sealiran “Suara Sosialis”, di Inggeris dan Yunani, sudah berhasil membangun organisasi yang lebih besar. Selama gerakan sosialis revolusioner masih agak kecil, kita harus sangat realistis dalam menentukan tujuan serta tugas yang ingin kita laksanakan dalam waktu dekat. Jelas, kelompok-kelompok sosialis selalu ikut dalam perjuangan kelas buruh dan rakyat dimana pun kita berada, serta menjalankan kegiatan solidaritas dengan perjuangan di negeri lain.

Selain itu, tugas kita adalah untuk menyebarluaskan gagasan marxis dan program politik sosialis. Sebagian dari upaya ini adalah berdialog dengan aktivis lain, termasuk dialog dengan teman-teman di Indonesia. Untuk itu kami bukan hanya ingin menyampaikan argumentasi kami kepada orang lain, misalnya dengan majalah Suara Sosialis, tetapi juga mengundang komentar dari para pembaca yang terhormat.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar anda