Kamis, 02 Desember 2010

Kamis, Desember 02, 2010
HEGEL 

Ketika Marx masih mahasiswa, kehidupan intelektual Jerman dikuasai oleh filsafat Hegel. Pada mulanya Marx menolak, tapi kemudian ia jadi Hegelian bergairah. Walau kemudian lagi ia menolak banyak pikiran Hegel, namun seluruh jalan pikirannya secara fundamental sekali telah dibentuk oleh Hegel.

Menurut Hegel, sejarah bukanlah sembarang deretan peristiwa, tapi suatu proses yang dapat dimengerti, dikuasai oleh hukum-hukum objektif, yang hanya terfahami dengan memandang sejarah sebagai suatu keseluruhan. Ia bukanlah sebuah kisah kemajuan yang uniform satu arah, tapi suatu proses yang dialektis. Setiap tingkat perkembangannya dikarakterisasi oleh adanya pertentangan antara kekuatan yang baku lawan. Ia hanya rukun kembali dalam suatu sintesa yang lebih tinggi di tingkat selanjutnya, namun demi menghimpun pertentangan-pertentangan baru. Dalam garis besarnya, Marx memegang pandangan ini sepanjang hidupnya. Yang ia tolak dari Hegel adalah idealismenya. Idealisme dalam arti teknis filsafat adalah pandangan yang menganggap bahwa pikiran atau ide-ide adalah pimer dan benda-benda fisikal, sekunder. Menurut Hegel sejarah, pertama-tama adalah cerita tentang perkembangan akal atau roh. Setiap periode dan setiap negeri punya perangkat ide-ide sendiri yang berbeda. Dan perkembangan dialektis dari ide-ide itu adalah motor sejarah.
Tulisan-tulisan Hegel sangatlah kabur dan dapat ditafsirkan dalam banyak cara. Filsafat Jerman dalam masa 1830-an dan 40-an dibelah oleh perbedaan pendapat antar berbagai aliran kaum Hegelian. Hegel sendiri ketika itu sudah meninggal, sehingga tak serta dalam perdebatan itu. Kaum konservatif menyatakan bahwa negara Prusia merupakan bentuk tertinggi dari akal. Ia suatu titik kulminasi sejarah. Pandangan yang agak bersifak parochial ini dimengerti secara populer di kalangan birokrasi.
Marx, bergabung sementara dengan aliran Hegelian Muda , sebuah gerakan oposisi yang menekankan perubahan terus-menerus dan menggerakkan pembangkangan terhadap agama yang sudah mapan. Gaya mereka, seperti digambarkan Isaiah Berlin, “persenyawaan sok ilmiah dengan keangkuhan”, penuh paradoks dari hal-hal yang tak jelas ujung pangkalnya dan sok prasasti yang dibungkus dengan prosa aliteratif dari permainan kata (Karl Marx, 4th editor – oxford University Press, 1978- hal.53). Karya-karya marx dini sekali ditulis dalam gaya demikian dan sangat membosankan. Marx tidak pernah benar-benar mencampakan pengaruh itu, sebagai mana akan terlihat pada beberapa bagian dari DAS KAPITAL.
SOSIALISME
Marx juga dipengaruhi tulisan kaum sosilis di awal tahun 1840-an. Pada masa itu istilah sosialis dan komunis tidak punya arti yang jelas. Kini sosialisme berarti diatas segalanya, bertentangan dengan kapitalisme. Dan konsep tentang Kapitalisme sebagai suatu bentuk masyarakat tidak ada, sampai Marx menemukannya. Penulis-penulis dizaman Marx menolak masyarakat yang ada ketika itu, atas dasar moral dan mengemukakan suatu rancangan masyarakat yang lebih baik sebagai ganti. Beberapa usul dari mereka tak tersangkal amat menjengkelkan, walau bukan ini yang jadi pokok kritik Marx. Ia menolak teori-teori sosialis yang ada masa itu dan menganggapmya sebagai utopi. Ketika itu Marx telah berpandangan bahwa sejarah dikuasai oleh hukum-hukum yang objektif, yang tidak dapat dapat diubah hanya dengan mengatakan benda-benda itu seharusnya menjadi lain. Seperti apalagi air. Ia tidak dapat mendaki dengan hanya mengatakan ia harus begitu. Walau Marx membenci Kapitalisme, ia menanggap penghinaan terhadapnya sebagai tidak kena. Lebih baik menggantinya dengan memperlihatkan bahwa suatu revolusi sosialis adalah suatu keharusan yang logis yang datang dari perkembangan kapitalisme itu sendiri. Organisasi masyarakat yang akan datang ditentukan oleh rakyatnya sendiri, begitu mereka memasuki era itu, halmana tidak dapat diramalkan secara rinci kini.
Untaian berharga lainnya dari pemikiran Marx datang dari ekonomi politik ( masa itu dinamakan economics). Perkembangan dari ilmu ekonomi Marx akan diulas lebih rinci di bawah. Cukuplah untuk mencatat disini bahwa ia adalah pemula dari ilmu ekonomi pada 1844-5 dengan mengambil banyak analisis ekonomi penulis lainnya. Pikiran yang esensial yang diperolehnya dari leteratur adalah konmsepsi tentang suatu ekonomi yang sistemnya melekat padanya dan dikuasai oleh hukum-hukum objektinya. Dalam pangan baru temuan Marx itu, proses perkembangan ekonomi menggantikan “jiwa” atau “akal” Hegel sebagai motor sejarah.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda